Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 ~ Baju Pelayan
"Bersihkan sepatuku, akan aku pakai sekarang"
Sepasang sepatu yang terlempar tepat ke depannya. Dengan tubuh yang terasa remuk redam, namun Raina harus tetap melaksanakan perintah dari Marvin. Dia perlahan mengambil sepasang sepatu dan alat semir.
"Cepat, kau dengar aku akan memakainya sekarang! Atau kau tuli, Hah!"
Raina mengangguk pelan, dia turun dari tempat tidur dengan berjalan perlahan. Rasa sakit masih terasa di sekujur tubuhnya, sampai tidak kuat jika harus berjalan terlalu cepat.
"Siapa suruh duduk disini? Di bawah!"
Raina yang baru saja duduk di sofa samping Marvin, langsung kembali turun dan duduk di atas lantai. Melakukan perintah dari Marvin barusan. Air mata perlahan menetes mengenai sepatu di tangannya.
"Pakaikan" ucap Marvin yang menyodorkan kakinya tepat di depan wajah Raina.
Tidak banyak menjawab, Raina hanya menuruti perintah dari Marvin. Dia takut dengan kemarahan pria ini, karena semalam saja Raina terasa hampir mati jika saja Tuhan tidak memberinya kekuatan lebih besar.
"Nanti malam bersiaplah, aku akan membawamu pergi ke acara Pesta temanku"
Raina mendongak dan menatap Marvin dengan bingung. "Aku ikut?"
"Tentu, kau istriku sekarang" ucap Marvin dengan senyuman.
Raina ikut tersenyum atas ucapan Marvin barusan. Namun Raina seperti lupa apa yang membuat pernikahan ini terjadi, dia salah mengartikan akan senyuman yang diberikan oleh Marvin.
"Baik, aku akan bersiap"
Marvin tidak menjawab, dia berdiri dari duduknya dan pergi keluar dari kamar. Wajah dingin dan datarnya selalu menjadi sosok yang di lihat semua orang. Apalagi setelah kepergian Amira, yang seharusnya menjadi istrinya sekarang. Tapi, Marvin malah harus menikahi Raina.
Raina berdiri dengan susah payah, berpegangan pada meja. Punggung dan kakinya terasa sakit, perih di punggungnya masih belum hilang. Bekas-bekas luka itu cukup membuatnya terasa tidak nyaman.
"Nona, ayo makan dulu. Saya sudah siapkan makanan untuk Nona"
Raina tersenyum pada Mbak Eni yang berdiri di ambang pintu kamar yang memang tidak di tutup lagi oleh Marvin setelah keluar.
"Iya Mbak"
Mbak Eni membantu memapah tubuh Raina untuk berjalan ke dapur. Melihat keadaannya benar-benar sangat mengkhawatirkan.
"Apa sebaiknya ke Rumah Sakit saja, Nona?"
"Tidak perlu, Mbak. Aku minta obat pereda nyeri saja. Oh ya Mbak, tadi Kak Marvin minta aku bersiap untuk pergi ke Pesta temannya. Mbak tahu dimana tempatnya? Dan aku harus memakai baju seperti apa?"
Mbak Eni menggeleng pelan, dia menatap Raina dengan bingung. "Saya tidak tahu, Nona. Atau mungkin Tuan Marvin akan menyiapkan pakaian untuk Nona"
Raina tersenyum tipis mendengar itu, membayangkan jika itu adalah benar. Tapi seharusnya dia tidak berharap lebih.
Dan sore hari dia menerima paket yang di kirim untuk dirinya atas nama Marvin. Raina tersenyum karena membayangkan jika Marvin akan benar menyiapkan baju untuknya juga. Tapi, ketika membuka kotak itu, bukan sebuah baju gaun pesta yang di bayangkan. Tapi, baju pelayan.
Ponselnya tiba-tiba berdering, Raina yang masih menatap baju pelayan itu langsung meraih ponselnya. Menerima telepon dari suaminya itu.
"Pakai baju itu untuk acara nanti malam. Kau harus bekerja dengan baik di depan teman-temanku nanti"
Deg... Air mata mengalir begitu saja, ternyata niat Marvin mengajaknya pergi ke Pesta temannya hanya untuk mempermalukan diri Raina.
"Aku tidak sabar melihatmu memakai baju pelayan itu, kau memang pantas memakainya"
Raina tidak menjawab apapun, dia langsung memutuskan sambungan telepon. Menatap kembali baju dan sepatu lengkap dengan penutup kepala. Benar-benar pakaian pelayan yang lengkap.
"Baiklah, aku akan ikuti cara bermain kamu Kak. Biarkan kamu puas dengan semua yang kamu lakukan padaku"
*
Seperti sebuah lelucon yang dia ciptakan sendiri, tapi Marvin juga tidak menyangka jika Raina akan memakai baju itu dengan senyuman yang lebar padanya.
Baju pelayan berwarna hitam dengan sebuah apron kecil di bagian depannya berwarna putih, lalu penutup kepala berwarna putih juga, dan sebuah stoking hitam di kakinya. Baju pelayan itu hanya sampai di pertengahan pahanya, menunjukan sedikit kontras warna putih kulitnya di balik stoking hitam yang dia pakai.
"Ayo kita berangkat Kak"
Marvin berdehem pelan, memalingkan wajahnya yang kesal karena melihat Raina yang malah terlihat percaya diri dengan pakaian itu. Padahal dia sengaja memberikan pakaian pelayan itu agar dia merasa malu. Tapi, melihat senyumnya yang lebar, membuat Marvin merasa tidak suka.
Sampai di tempat acara, sebuah rumah yang menjadi tempat pesta malam ini. Semua orang berkumpul di halaman belakang dekat kolam renang. Pesta kali ini sepertinya memang sengaja di adakan diluar ruangan.
"Waw... Siapa yang kau bawa ini, Vin?" tanya Bayu, tatapannya sudah menunjukan jika dia tertarik pada Raina dalam hal merendahkan.
"Apa kau lupa? Dia yang menjadi istri pengganti di Pernikahan Marvin, pengganti Amira 'kan?" ucap Davin.
Marvin menanggapi dua temannya ini dengan wajah dingin dan tatapan yang tajam. "Sampai kapan pun dia tidak akan pernah menjadi pengganti Amira. Dia hanya pembawa sial dan yang menghancurkan segala rencana yang aku siapkan bersama Amira"
Raina menatap pria di sampingnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Matanya menunjukan kesedihan, namun dia tetap mencoba tersenyum dan terlihat baik-baik saja di tengah hatinya yang terkoyak begitu hancur.
"Kenapa kau diam saja disini? Cepat layani mereka, aku membawamu kesini untuk menjadikanmu pelayan di acara ini"
Meski senyumannya terlihat sangat di paksakan, tapi Raina tetap menurut saja. Dia sudah bersiap untuk mengikuti cara bermain Marvin malam ini. Berawal dari baju pelayan dan sekarang dia yang harus melayani teman-temannya yang berpesta ini.
Membawa beberapa minuman di atas nampan, Raina melangkah penuh percaya diri pada kumpulan pria yang duduk di sofa. Raina menyodorkan nampan pada mereka satu-persatu untuk mengambil minuman yang dia sodorkan.
"Davin, kau masih saja di awasi oleh pengasuh barumu itu? Haha.." ucap Bayu melihat seorang perempuan yang tetap berdiri tidak jauh dari Davin berada. Wajahnya begitu serius, dan dia benar-benar profesional dengan pekerjaannya.
"Sial, Papaku yang memintanya mengawasiku. Dan dia benar-benar menurut pada Papa, tidak bisa sedikit saja melanggar peraturannya"
"Haha.. Akhirnya seorang Davin terkekang juga oleh seorang pengasuh cantik"
"Diam kau Bay! Dia bukan pengasuh, kau pikir aku bayi yang perlu pakai pengasuh. Dia hanya Asisten pribadiku"
"Asisten pribadi yang mengekangmu dalam hal apapun. Apa bedanya dengan pengasuh yang melarang anak asuhnya makan banyak eskrim. Haha"
Semua orang menertawakan nasib seorang Davin Alveric, yang seorang pria cassanova yang bisa berganti beberapa wanita pemuas dalam satu malam, tapi sekarang kebebasannya mulai terkekang karena seorang perempuan yang di tugaskan Ayahnya untuk mengawasinya.
"Marvin, apa kau tidak kasihan melihat istrimu menjadi pelayan di acara ini?" tanya Andreas, teman Marvin yang cukup bijaksana tapi belum beruntung dalam hal cinta. Tapi setidaknya Andreas tidak seperti Bayu dan Davin yang sukanya berganti pasangan hanya untuk pemuas gairah saja.
"Aku tidak pernah menganggapnya seorang istri. Dia hanya perempuan pembawa sial yang menghancurkan semuanya"
Seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana dengan sebuah nampan kosong yang dipeluknya di dada, terdiam dengan air mata menetes begitu saja.
"Kak Amira, kenapa harus Kakak yang pergi. Kenapa bukan aku saja?"
Bersambung
Langsung baca! Awas aja pada nabung bab!
👍
pergi dari rumah Marvin,,