Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.
Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Han Feng membuka mata. Sinar keemasan melintas di pupil matanya sebelum menghilang kembali ke dalam kegelapan iris hitamnya.
"Pembentukan Tubuh Tingkat 2," gumam Han Feng sambil mencengkeram batu tempatnya duduk.
Dengan sedikit remasan, batu granit keras itu retak dan hancur menjadi kerikil di telapak tangan Han Feng.
"Kekuatan fisikku sekarang setara dengan kekuatan Lima Banteng," analisis Han Feng. "Kultivator biasa di Tingkat 2 hanya memiliki kekuatan Dua Banteng. Sutra Hati Naga Purba benar-benar mengerikan. Basis fondasiku dua setengah kali lebih kuat dari manusia normal."
Han Feng berdiri dan meregangkan tubuhnya. Sendi-sendinya meletup seperti petasan. Han Feng merasa seringan kapas namun sekuat beruang.
Han Feng menatap langit yang mulai terang. Sudah waktunya kembali. Menghilang semalaman dari gubuk mungkin tidak akan dicurigai karena tidak ada yang peduli padanya, tetapi Han Feng tidak ingin mengambil risiko bertemu dengan Tetua Klan yang mungkin lewat di sekitar tebing.
Han Feng mengumpulkan beberapa tanaman herbal beracun yang belum sempat diserapnya dan membungkusnya dengan kain robek dari lengan bajunya. Ini akan menjadi cadangan energi darurat.
Dengan langkah kaki yang mantap, Han Feng mulai mendaki tebing curam itu kembali ke kediaman Keluarga Han. Dinding tebing yang licin dan vertikal itu sebelumnya adalah tantangan maut, namun sekarang, jari-jari Han Feng bisa menancap ke dalam batu seperti pisau menembus tahu. Han Feng memanjat dengan kecepatan seekor kera lincah.
Perjalanan kembali ke gubuk Han Feng melewati jalur belakang yang sepi, yang memisahkan area pembuangan dengan asrama para murid cabang.
Biasanya, Han Feng yang lama akan berjalan menunduk, berusaha menyembunyikan keberadaannya agar tidak terlihat oleh siapa pun. Tapi hari ini, Han Feng berjalan tegak, langkahnya tenang dan berirama.
Namun, seperti hukum alam yang klise, masalah selalu mencari mereka yang mencoba menghindarinya.
Saat Han Feng berbelok di sebuah tikungan jalan setapak yang dikelilingi hutan bambu, tiga sosok pemuda muncul dari arah berlawanan. Mereka mengenakan seragam latihan Keluarga Han berwarna abu-abu muda—tanda bahwa mereka adalah murid dari keluarga cabang.
Pemimpin kelompok itu adalah seorang pemuda berwajah kasar dengan hidung bengkok. Namanya Han Tong. Dia adalah salah satu pengikut setia Han Lie dan memiliki hobi menyiksa Han Feng setiap kali mereka berpapasan. Kultivasi Han Tong berada di Pembentukan Tubuh Tingkat 2 Pertengahan, sedikit lebih tinggi dari Han Feng secara tingkatan, namun Han Tong adalah kultivator biasa yang menggunakan teknik standar keluarga.
"Hei, lihat siapa ini?" Han Tong berhenti, matanya menyipit melihat sosok Han Feng yang berantakan. "Tuan Muda Sampah kita baru saja pulang dari mana pagi-pagi begini? Tubuhmu bau sekali, apa kau baru saja tidur di kandang babi?"
Dua teman Han Tong tertawa terbahak-bahak, suara mereka memecah ketenangan pagi hutan bambu.
Han Feng tidak berhenti. Han Feng bahkan tidak menoleh. Tatapan Han Feng lurus ke depan, seolah-olah Han Tong dan teman-temannya hanyalah udara kosong yang tidak layak mendapat perhatian. Han Feng terus berjalan, berniat melewati mereka begitu saja.
Sikap dingin dan pengabaian total ini membuat tawa Han Tong terhenti seketika. Urat di dahi Han Tong berkedut. Sejak kapan sampah ini berani mengabaikannya? Biasanya, Han Feng akan gemetar ketakutan dan memohon untuk dibiarkan lewat.
"Berhenti!" bentak Han Tong. Dia melangkah ke tengah jalan, memblokir jalur Han Feng. "Apa kau tuli? Aku sedang bicara padamu, Sampah!"
Han Feng akhirnya berhenti. Jarak mereka hanya tinggal dua meter.
Han Feng mengangkat wajahnya perlahan, menatap Han Tong dengan ekspresi datar yang membosankan. "Minggir. Kau menghalangi jalan."
Kalimat itu singkat, padat, dan diucapkan dengan nada memerintah yang alami.
Han Tong ternganga sejenak, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Kemudian, wajahnya memerah padam karena amarah. Di depan anak buahnya, diremehkan oleh sampah nomor satu di keluarga adalah penghinaan terbesar.
"Kau... Kau cari mati!" Han Tong meraung. "Mentang-mentang kau masih hidup setelah dipukuli Tuan Muda Han Lie, kau pikir kau sudah hebat? Biar kuberitahu posisimu yang sebenarnya!"
Tanpa peringatan, Han Tong menyerang.
Tubuh Han Tong melesat maju, tangan kanannya membentuk cakar elang—sebuah teknik dasar Keluarga Han, Cakar Elang Pemecah Batu. Ujung jari-jarinya dialiri sedikit Energi Qi, mengincar bahu Han Feng untuk meremukkan tulangnya.
Teman-teman Han Tong menyeringai, menunggu momen di mana Han Feng akan menjerit kesakitan dan berlutut memohon ampun.
Namun, skenario itu tidak pernah terjadi.
Saat cakar Han Tong hendak mendarat, Han Feng tidak menghindar. Han Feng juga tidak menangkis. Han Feng melakukan sesuatu yang gila. Han Feng memajukan bahunya, menyambut serangan itu dengan tubuh fisiknya secara langsung.
DUK!
Suara benturan terdengar tumpul, seperti palu yang memukul ban karet tebal.
Jari-jari Han Tong menghantam bahu Han Feng, tetapi bukannya meremukkan tulang, jari-jari Han Tong justru terasa sakit luar biasa, seolah-olah dia baru saja mencakar dinding besi yang dilapisi kulit manusia. Kekuatan pantulan dari otot Han Feng yang padat membuat jari-jari Han Tong terkilir.
"Apa?!" Han Tong berteriak kaget, matanya melotot horor. "Tubuhmu... kenapa keras sekali?!"
"Hanya itu?" tanya Han Feng dingin.
Sebelum Han Tong sempat menarik tangannya kembali, tangan kanan Han Feng sudah bergerak. Gerakannya sederhana, tanpa teknik bunga-bunga. Han Feng hanya mengayunkan telapak tangannya secara horizontal.
Sebuah tamparan.
Tapi ini adalah tamparan dengan kekuatan fisik setara lima banteng yang mengamuk.
PLAAAK!
Suara tamparan itu terdengar seperti letusan petasan di hutan bambu yang sunyi.
Kepala Han Tong tersentak ke samping dengan kekerasan yang mengerikan. Tubuh pemuda itu berputar di udara seperti gasing sebelum akhirnya terhempas ke tanah berdebu sejauh tiga meter. Darah segar menyembur dari mulutnya, disertai dengan tiga buah gigi geraham yang rontok.
"Ugh..." Han Tong mengerang, matanya berputar ke belakang, dan dia langsung pingsan di tempat. Wajah kirinya bengkak seketika, membentuk cetakan tangan merah yang mengerikan.
Keheningan total menyelimuti hutan bambu.
Dua teman Han Tong yang tadinya tertawa, kini berdiri mematung dengan mulut ternganga lebar. Wajah mereka pucat pasi, kaki mereka gemetar hebat. Mereka menatap Han Feng seolah-olah sedang melihat hantu atau monster yang menyamar menjadi manusia.
Satu tamparan.
Han Feng mengalahkan kultivator Tingkat 2 Pertengahan hanya dengan satu tamparan biasa? Tanpa menggunakan teknik bela diri? Tanpa memancarkan gelombang Qi?
Han Feng mengibaskan tangannya seolah baru saja menampar lalat yang mengganggu. Han Feng kemudian menoleh ke arah dua murid yang tersisa.
"Kalian," panggil Han Feng pelan.
"Y-Ya! Ya, Tuan Muda!" Kedua murid itu tersentak kaget, hampir melompat dari kulit mereka sendiri. Rasa takut merayapi tulang punggung mereka.
"Bawa sampah ini pergi dari hadapanku," kata Han Feng sambil menunjuk tubuh Han Tong yang tidak sadarkan diri. "Dan satu hal lagi..."
Han Feng melangkah mendekati mereka. Kedua murid itu mundur selangkah dengan panik, tetapi aura intimidasi Han Feng membuat mereka terpaku.
"Keluarkan semua yang kalian punya," perintah Han Feng sambil mengulurkan tangan.
"A-Apa?" Salah satu murid tergagap.
"Uang. Pil. Batu Roh. Apa saja yang ada di kantong kalian," jelas Han Feng dengan nada datar, seolah perampokan di siang bolong adalah hal yang paling wajar di dunia. "Anggap saja itu biaya kompensasi karena telah mengganggu jalan pagiku."
Kedua murid itu saling berpandangan dengan putus asa. Mereka ingin melawan, tapi melihat kondisi Han Tong yang menyedihkan, keberanian mereka langsung menguap. Dengan tangan gemetar, mereka merogoh saku jubah mereka.
Beberapa keping koin perak dan dua botol kecil berisi Pil Penyembuh Luka Tingkat Rendah diletakkan di telapak tangan Han Feng.
"Hanya ini?" Han Feng mengangkat alisnya, sedikit kecewa dengan kemiskinan mereka.
"I-Itu semua harta kami, Tuan Muda! Sumpah!" seru mereka hampir menangis.
"Baiklah. Pergi. Jika aku melihat wajah kalian lagi di jalanku, pastikan kalian membawa lebih banyak uang," usir Han Feng.
Kedua murid itu tidak perlu disuruh dua kali. Mereka segera memapah Han Tong yang pingsan dan berlari menyeretnya pergi secepat mungkin, takut Han Feng berubah pikiran dan mematahkan tulang mereka juga.