8 tahun yang lalu, seorang anak perempuan menatap penuh binar bahagia pada pangeran impiannya. Selalu mengingat apa yang pria idaman nya itu katakan.
"Tumbuh lah menjadi wanita cantik, karena aku tidak suka wanita jelek!!!"
Wanita itu pun tumbuh dengan baik, bahkan terlalu baik. Tumbuh yang ia yakini malah menjadi salah arti, setiap hari ia mengkonsumsi makanan yang menurutnya mempercepat pertumbuhan. Ya... Ia tumbuh... Tapi tumbuh menjadi besar dan lebar.
"You know me?"
Erlangga Saputra.
"Om Ganteng..."
Mia Sophia Adinata.
follow my ig @ismi_kawai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Kawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CBT 13
Kediaman Haris Bintara
Haris termenung di meja makan, makanan di depannya hanya di aduk-aduk tanpa ada niatan untuk memakannya. Waktu makan malam sudah lewat, dan dia masih setia duduk sendiri di kursinya.
BRAK
"Kampret nempel di tembok!!!" Seru Haris.
Suara meja di gebrak membuyarkan lamunan Haris, hampir dia melompat karena kaget.
"Kamu ngatain Mami kampret?" Mami nya Haris melotot.
Haris meringis, Mamp*s gue
"Mami apaan seh, ngapain juga gebrak-gebrak meja. Bikin Haris kaget, mau anaknya ini mati muda sebelum nikah gitu Mi?"
Maminya Haris menyipitkan mata, tangannya menyambar telinga haris dan menariknya.
"Nih anak malah ngomong aneh-aneh, kenapa makanannya di mainin? Gak menghargai Mami masak capek-capek!"
Rasa sakit dan perih pun dirasakan Haris di telinganya.
"Aduuh.... Aduh ampun Mami, iya Haris makan sekarang. Lepasin... Lepasin!"
Jeweran maut pun terlepas, namun raut wajah sang Mami belum bersahabat. Tiba-tiba muncul ide briliant di kepala Haris.
"Maaf deh Mi, jangan marah lagi ya! Haris punya sesuatu buat Mami,"
Haris segera berlari mengambil sesuatu di tasnya, detik kemudian sudah berdiri di depan Maminya. Haris menyodorkan buku yang tadi di belinya bersama Mia.
"Ini Haris beliin buat Mami, biar Mami makin jago masak!"
Mata wanita setengah baya itu berbinar, buku yang diberikan anaknya adalah limited edition incarannya. Ia tampak membolak-balik buku dan kembali membaca sekilas.
"Ya ampun, ini inceran Mami dari minggu lalu. Mami belum sempet ke toko buat beli, makasih ya!"
Haris tersenyum bangga, ternyata gak salah minta bantuan Mia gadis pujaan memilih buku untuk Maminya.
"Iya Mi, itu pilihan Mia,"
"Mia? Temen SD kamu itu? Emang kamu 1 sekolah sekarang sama dia? Kenapa gak diajak main kerumah? Nyonya Maya orangnya baik banget loh, kamu pacaran sama anaknya?" Pertanyaan beruntun keluar dari mulut sang Mami membuat Haris pusing sendiri. Ia beranjak mengambil piring di meja dan membawanya ke kamar menghindari Maminya yang tidak henti bertanya.
"Eh, kamu mau kemana? Kamu belum jawab pertanyaan Mami, Haris!"
Haris langsung mengunci kamar, takut Maminya menerobos masuk dan menginterogasinya. Haris lupa, Maminya adalah fans rahasia Nyonya Maya. Mereka cukup akrab saat anak-anak mereka masih Sekolah Dasar, mereka sering bertemu jika diadakan rapat orang tua murid.
Huft, kenapa keceplosan tadi? Hadeuuhhh makin runyam deh.
Haris hampir melupakan apa yang menyebabkan ia termenung tadi.
🌷🌷🌷
Flashback on
"Klo gue bilang, gue suka dia gimana?"
Kata-kata Farel sontak membuat Haris menggeram, ia lantas beranjak dari sofa dan mencengkeram kerah baju Farel.
"Lo mau mainin dia lagi? Belum puas lo? Lo udah punya Raisa, main aja terus sama dia. Jangan rusak anak orang!!!" Kata Haris penuh penekanan.
"Apa yang gue rasain ke Raisa gak sama kayak yang gue rasain ke Mia," Farel berkata datar.
"Lo harap gue percaya? Sama brengsek macam lo, udah berapa kali lo having sex sama tuh cewe, kita tuh baru kelas 2 SMA!" Haris menghempas Farel. "Damn it! Gak akan gue biarin lo nyentuh Mia, lo udah rusak parah, jauhin dia klo lo gak mau berurusan sama gue!!!" Haris beranjak pergi.
Farel menjambak rambut, hatinya nyeri saat Haris mengatakan betapa rusak dirinya. Sahabat yang biasa mensupport dan tidak pernah menghakimi kini membuka aibnya.
Farel hanya mengikuti Gelora gairah anak muda yang tidak bisa dikontrol, apa itu salah? Sekarang dia baru tau itu salah dan berdampak pada masa depannya. Saat orang terdekat sendiri tidak percaya padanya, apa yang bisa ia harapkan dari orang lain?
Farel sebenarnya anak yang baik, latar belakang keluarga yang kurang harmonis mungkin penyebabnya. Orang tuanya terlalu sibuk mencari materi, ia bergelimang harta tapi minim perhatian.
Diasuh oleh baby sitter bukan lah bekal yang baik untuk seorang anak tumbuh, kasih sayang orang tua yang harusnya menjadi pondasi kepribadian tidak ia dapatkan. Sehingga membangun karakter diri sesuka hatinya, karena tidak ada yang mengingatkan akan baik buruknya pilihan.
Raisa bukan yang pertama, sebelum itu ia dibawa geng motornya untuk main ke sebuah club malam. Disana awal ia terjerat oleh nikmat surga dunia. Apa ia bisa terlepas? Entah lah. Hatinya kini kacau tidak karuan. Ia butuh sandaran, butuh orang yang mendukungnya.
Flashback Off
btw ceritanya seruu....