Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Hidup
Manusia mana yang pagi-pagi sekali sudah keluar dari rumahnya dan pergi ke sekolah? Siapa lagi kalau bukan Shahinaz Zerrin Johara. Tepat pada pukul lima pagi, Shahinaz sudah mengunci gerbang rumahnya. Dia memilih untuk berjalan kaki, demi menghindari Dreven Veir Kingsley dan menjaga kewarasannya untuk sementara.
Memakai masker, topi, dan jaket untuk menyamarkan dirinya. Kali ini, Shahinaz akan berusaha menghindari dari sorotan dan rasa penasaran publik mengenai dirinya. Apalagi selama diganggu oleh Kevin Arzam Latucie kemarin, dirinya benar-benar dibuat trending topik setiap hari.
Bagaimana jika Shahinaz ternyata lebih terkenal lagi karena Dreven Veir Kingsley? Itu yang membuat Shahinaz was-was sejak semalam tadi.
"Auretheil aja semakin nggertak gue gara-gara Kevin, apalagi kalau tau gue lebih deket sama Dreven. Apa nggak makin menyala tuh bocah?" kata Shahinaz sambil tertawa terbahak, "Heran gue, apa yang membuat dia berpikir kalau dia bisa menjadi segalanya diantara yang lain?"
Dia berjalan dengan santai, dengan earphone yang terhubung ponsel, dia bersenandung sepanjang jalan tanpa beban. Sesampainya di sekolah pun, tempat dia menempuh pendidikan ini masih terkesan sepi. Dan bukannya pergi ke ruang kelas, Shahinaz justru mencari jalan menuju arah rooftop. Dia berniat untuk menghabiskan bekal sarapannya di sana.
"Rooftop gedung IPA. Oke Belok kanan, terus nemu tangga dan naik sampai dilantai tiga, setelah itu ambil jalur yang paling ujung buat sampai ke rooftop. Oke, gue ngerti sekarang." kata Shahinaz setelah membaca denah yang ada di papan sekolah itu.
Shahinaz mengikuti petunjuk denah dengan teliti. Berbelok kanan setelah merasa ada perempatan di sekitar koridor, lalu menemukan tangga di sana. Dia mulai mendaki satu persatu anak tangga, melewati lantai-lantai hingga akhirnya mencapai lantai tiga sesuai deskripsi sebelumnya.
Shahinaz langsung berjalan menuju paling ujung, terlihat ada anak tangga lagi di depan sana dengan pintu kecil seperti mengarah ke rooftop langsung. Dengan hati-hati, Shahinaz berjalan pelan ke arah dan dan membuka pintu tersebut tanpa beban.
"Yesss, merdeka! Akhirnya gue bisa menghirup nafas dengan tenang!" ucap Shahinaz dengan penuh semangat.
Tidak seperti gedung sekolah yang terlihat menawan dan megah sejauh mata memendang. Di rooftop ini justru pemikiran Shahinaz langsung terbelah, dia merasa tempat ini tidak jauh berbeda dengan rooftop yang ada sekolah negeri. Banyak barang-barang tidak terpakai yang diletakkan di sini. Cukup berantakan tidak sesuai ekspetasi Shahinaz sebelumnya.
"Untung gue udah terbiasa nangkring di tempat-tempat mirip gudang kayak gini. Jadi it's okay sih." kata Shahinaz sambil melangkah menuju ke arah sudut tempat itu, dia akan duduk dan sarapan di sana.
Shahinaz asal duduk di tempat yang sekiranya cukup bersih. Tempatnya duduk sekarang juga relatif tertutup, orang lain tidak akan ada yang mengira jika ada orang lain selain mereka yang berada di sini. Selanjutnya, dia berdoa terlebih dahulu sebelum menikmati makanan dengan rasa nyaman. Angin pagi yang sejuk membawa ketenangan tersendiri, dan Shahinaz merasakan betapa baiknya berada di tempat ini tanpa gangguan.
Namun, tidak lama setelah Shahinaz duduk dan mulai makan, dia mendengar suara langkah kaki dari arah tangga. Tidak hanya satu, mungkin dua atau entahlah. Apa Shahinaz perlu menyembunyikan diri sebaik mungkin? Takutnya yang datang ke sini adalah Dreven dan para anak buahnya. Dia masih perlu waktu sendiri untuk menormalkan otaknya!
"Kan aku udah bilang, aku nggak sengaja ngelukain Lynelle sampai berdarah begitu sayang, itu juga udah satu minggu yang lalu kan? Kenapa masih dibahas? Lagian aku cuma mau Leena kena getahnya karena aku nggak suka sama dia."
Shahinaz melotot, apa dia tidak salah melihat? Matanya masih normal dan sehat wal'afiat. Tapi kenapa yang dilihat olehnya sekarang adalah Auretheil Verya Roswyn? Lalu lawan bicaranya, bukankah itu tokoh utama pria, Naveen Salvaris Argyle?!
Naveen tampak frustrasi, wajahnya memerah, "Gue tau lo cuma mau Leena kena getahnya, tapi kenapa lo nggak ngerti juga kalau tindakan lo bakalan berdampak buruk buat gue? Lynelle adalah target gue untuk merangkak lebih tinggi lagi! Sedangkan Leena, mau lo hancurin hidupnya juga gue nggak bakalan peduli!"
Shahinaz menggelengkan kepalanya, harusnya ceritanya bukan seperti ini. Naveen dan Lynelle akan menjadi pasangan dan hidup bahagia di masa depan kelak. Kenapa sekarang jadi seperti ini? Apa dia sudah terlalu banyak mengacau?
Auretheil menatap Naveen dengan kesal. "Aku ngerti kalau kamu ingin mendapat status sosial lebih tinggi, tapi bukannya dengan aku aja udah cukup? Aku nggak jauh berbeda dengan Lynelle kan? Emang aku kurang apa sampai kamu lebih milih Lynelle sih? Semuanya udah aku berikan demi kamu."
Melihat Auretheil dengan entengnya mengalungkan tangannya di leher Naveen Salvaris Argyle dengan mesra, entah kenapa membuat otak Shahinaz langsung mendidih ditempat. Auretheil bahkan lebih jahat dari yang ia bayangkan sebelumnya. Terlebih andai Leena Qinra Wranydark tau kelakukan teman satu gengnya, apa dia tidak menangis di tempat?
Naveen merespons dengan nada angkuh, "Bagi gue, lo cuma simpenan aja, kalau lo mau pergi dari gue sekarang juga silahkan. Demi cinta, lo dengan entengnya ngasih tubuh indah lo ke gue. Cowok mana yang nggak mau ngelihat tubuh polos cewek secara gratis? Murahan!"
Shahinaz membekap mulutnya rapat-rapat, dia terlalu syok dengan fakta yang baru saja dia dengar. Rasa jijik dan marah menghimpit hatinya, bagaimana bisa Auretheil memberikan kesucian dirinya hanya karena cinta? Bukankah itu terlalu bodoh.
"Kamu nggak boleh giniin aku Naveen, aku udah ngasih semuanya ke kamu. Kamu harusnya milih aku, tunangan sama aku, dan batalin pertunangan kamu juga dengan Leena." kata Auretheil sambil menggelengkan kepalanya. Dia yakin, Naveen tidak serius mengatakan hal itu tadi.
Naveen merespons dengan nada sinis,
"Pilihannya cuma dua. Lo mau pergi sekarang juga atau lo mau terus jadi simpenan murahan? Gue udah bilang sebelumnya kan, lo nggak lebih dari sekedar mainan buat gue."
Auretheil, dengan wajah memerah dan penuh air mata, menarik napas dalam-dalam. "Naveen, aku udah ngelakuin semuanya untuk kamu. Ngerusak sahabatku sendiri hingga depresi demi mengobati patah hati kamu dulu juga pernah aku lakuin. Cuma kamu, harapan bahagia satu-satunya yang aku punya sekarang."
Auretheil tampak sangat hancur, air matanya mulai jatuh deras. Mendengar pernyataan Naveen yang semakin menyinggung perasaannya, dia merasa semakin tak berdaya. Namun, Naveen tetap tidak menunjukkan rasa penyesalan.
Naveen mengangkat bahu dengan acuh, "Harapan bahagia lo? Gue udah bilang, gue nggak butuh lo selagi lo masih terus ngehancurin rencana gue. Lo cuma gangguan, lo buat rencana gue jauh dari kata matang."
Menghapus air matanya secara kasar, dengan marah, Auretheil membanting tasnya ke lantai, "Jadi semua yang aku lakuin selama ini, semua usaha dan cinta yang aku berikan, nggak ada artinya buat kamu? Aku bener-bener nggak pernah dianggap begitu? Bahkan aku ngehancurin sahabat aku sendiri demi bisa bersanding dengan kamu Naveen!"
Naveen tertawa terbahak, cukup terhibur dengan tangisan dan amarah yang baru saja dia dengar dari gadis penganggu itu, "Secantik apapun lo sekarang, bagi gue, lo cuma cewek gendut yang dulu cuma bisa berlindung di belakang Shahinaz. Luar dan dalam lo tetep jelek, dan yang paling penting nggak ada sesuatu dalam diri lo yang buat gue tertarik dan akhirnya milih lo."
Namanya disebut-sebut juga di dalam pertengkaran mereka, apa mereka dulunya pernah saling berhubungan satu sama lain? Jika iya, seperti apa hubungan mereka sebelumnya? Kenapa tidak ada jejak ingatan sedikitpun di dalam otaknya?
"Itu karena kamu Naveen! Kamu yang bilang akan mencintai aku, setelah aku berhasil ngebuat Shahinaz dikucilkan dari semua orang. Kamu patah hati, karena cinta kamu ditolak sama dia. Apa kamu melupakan faktanya?" seru Auretheil pada akhirnya.
Deg.
Jantung Shahinaz berdegup dengan cepat setelah mendengar semua itu. Auretheil Verya Roswyn, mengingkari persahabatan mereka karena cinta butanya terhadap Naveen Salvaris Argyle? Lalu kenapa Auretheil tidak berpikir dua kali? Padahal selama ini yang menemani gadis itu hanyalah Shahinaz saja!
Auretheil, dengan air mata yang kembali mengalir, mengangkat wajahnya dengan penuh kemarahan, "Dan kamu bilang aku hanya gangguan! Setelah semua yang aku lakukan untukmu, semua pengorbanan yang aku buat untuk mendapatkan perhatianmu? Jahat kamu Naveen! Jahat!"
Naveen tampak tidak terpengaruh, sebaliknya dia tersenyum sinis sambil menatap gadis itu dari atas ke bawah, "Gue nggak peduli. Mau nangis sebanyak apapun, bagi gue lo cuma mainan murahan gue aja! Oh ya btw, Shahinaz kayaknya kembali bersinar dan trending topic lagi kayak di SMP dulu. Kalau lo bisa buat Shahinaz jatuh cinta sama gue, gue bisa pertimbangin lo di dalam hidup gue lagi."
Shahinaz merasa seolah-olah dia baru saja tersentak dari mimpi buruk. Semua yang dia dengar mengerikan, terutama saat Naveen mengungkit namanya dan mengaitkannya dengan rencana jahat mereka. Jantungnya berdegup kencang, tetapi dia tahu dia harus tetap tenang dan tidak ketahuan.
"Aku nggak bisa Naveen! Aku nggak bisa! Kamu milik aku Naveen!" seru Auretheil sambil menggelengkan kepalanya.
"Oke, ke apartemen gue malem ini. Karena gue milik lo, harusnya kita bersenang-senang bukan?" ujar Naveen sambil membelai pipi Auretheil dengan kasar, "Gue harus pergi, urusan OSIS gue lebih penting daripada lo."
Tinggalah Auretheil di sana dengan tangan yang mengepal erat. Matanya penuh kemarahan, dia benar-benar membenci Shahinaz, benar-benar membenci Leena, benar-benar membenci semua yang berani mengambil Naveen darinya.
Tiba-tiba saja Auretheil berteriak mengeluarkan emosinya, "Shahinaz sialan! Gue udah bilang jangan menampakkan diri sedikitpun di depan publik! Lo parasit terbesar yang harus gue musnahkan tau nggak! Karena lo, hidup gue jadi kayak gini!"
Auretheil menendang semua barang-barang yang ada di sana dengan brutal. Sedangkan Shahinaz, dia tidak akan keluar dari persembunyiannya sebelum Auretheil pergi dari tempat ini. Auretheil semakin membabi buta, botol kaca entah milik siapa di tempat itu juga dia lempar ke sembarang arah, dan naasnya itu terkena kepala Shahinaz yang notabennya sedang bersembunyi dan merapatkan mulutnya untuk tidak bertindak dulu.
Shahinaz merasa kesakitan yang tajam saat botol kaca menabrak kepalanya. Tubuhnya langsung terjatuh dan dia merasakan pusing yang cukup hebat. Dia berusaha untuk tenang, tetap berbaring di tempat tersembunyi itu sambil memegangi kepalanya yang berdarah. Telinganya berdenging dan semua yang dia lihat menjadi samar.
"Lihat aja lo Shahinaz, gue bakal buat lo lebih menderita lagi! Nantikan aja obat yang gue kasih ke lo besok, lo pasti akan mati secara perlahan-lahan karena obat itu!"
Auretheil, yang masih marah dan tidak sadar bahwa dia telah melukai seseorang, terus mengamuk sampai sekarang. Suara teriakan dan barang-barang yang dilempar membuat suasana semakin kacau.
Shahinaz merasakan darah masih mengalir dari kepalanya dan sedikit demi sedikit, rasa nyerinya menjadi semakin parah.
"Sial, lo kapan perginya?!" desis Shahinaz lirih, sambil menahan rasa nyeri yang semakin menjadi-jadi.
Akhirnya, Auretheil mulai tenang setelah melempar barang-barang di sekelilingnya. Dengan napas tersengal-sengal dan wajah merah, dia mulai berjalan keluar dan meninggalkan tempat ini.
Sedangkan Shahinaz yang tau dia tidak bisa tinggal lebih lama lagi, dan harus segera mendapatkan pertolongan dan meninggalkan tempat ini, perlahan-lahan akhirnya keluar dari persembunyiannya. Shahinaz memejamkan matanya sebentar sebelum berjalan dengan langkah terseok-seok. Namun akhirnya dia terjatuh juga, dia tidak mampu menopang tubuhnya sendiri.
"Gue harus minta tolong sama siap? Venelattie nggak ada di dunia ini, dan gue hanya hidup sendirian di sini ya Tuhan!" frustasi Shahinaz sambil memegangi kepalanya yang semakin berat.
Dari rasa frustasi yang ia dapatkan sekarang, entah kenapa ada sekelebat seseorang yang bisa dimintai bantuan. Dreven Veir Kingsley, Laki-laki yang sedang dihindarinya, apa laki-laki itu akan membantunya setelah banyak penolakan yang dia lakukan kepadanya?
Buru-buru, dia merogoh ponselnya dari dalam saku, dan mencari nomor Dreven yang sepertinya belum dia simpan didalam kontaknya. Meski penglihatannya mulai samar dan tidak bisa diajak kompromi, dia tidak ingin mati kedua kali dengan sia-sia. Tapi jika Dreven tidak mau mengangkat panggilannya, ya itu tandanya Shahinaz pasrah saja dengan hidupnya itu.
"Dreven, cuma lo harapan gue satu-satunya." kata Shahinaz yang dengan susah payah menggenggam ponselnya, meski tangannya bergetar saat ia menekan tombol dial.
Semoga saja Dreven segera menjawabnya. Tapi penglihatannya semakin berkunang-kunang dan telinganya semakin berdengung saja tidak mendengar apapun lagi. Bahkan ketika Dreven menjawab panggilannya, Shahinaz sudah tidak mampu merespon lagi.
Apa ini akan menjadi akhir hidupnya yang kedua kali?!