Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akad Nikah (Atau Sidang Isbat Paling Absurd)
Malam sebelum akad, Nara duduk di jendela kamarnya. Ia menatap bintang-bintang, menyadari bahwa besok hidupnya akan berubah total. Ia akan menikah dengan pria yang menyebut cinta sebagai
"variabel yang bisa dimanipulasi".
Ponselnya bergetar, sebuah pesan dari Arga.
Arga:
Istirahatlah. Besok adalah hari di mana kita resmi memulai kontrak ini. Jangan telat bangun, saya tidak suka jadwal yang bergeser karena mempelai wanitanya kesiangan
Nara tersenyum masam.
"Dasar robot, nggak ada manis-manisnya dikit."
Ia mengetik balasan.
Nara:
Iya, Pak Audit. Siapin aja mental kamu. Karena setelah besok, hidup kamu yang rapi itu bakal aku bikin berantakan seberantakan-berantakannya!
Nara menutup ponselnya.
Di tempat lain, Arga membaca pesan itu sambil berdiri di balkon apartemennya. Ia menatap langit malam, lalu melirik ke arah kertas kontrak mereka yang tergeletak di meja.
"Satu miliar, ya?" gumam Arga pelan.
"Sepertinya saya harus mulai menyiapkan dana cadangan."
Besok adalah awal dari segalanya. Pernikahan yang dimulai karena paksaan foto viral, dijalani demi kewajiban, dan diikat oleh kontrak kemesraan yang absurd. Nara dan Arga tidak tahu, bahwa di antara aturan-aturan kaku yang mereka buat, ada satu variabel yang tidak pernah bisa diaudit oleh siapa pun yaitu Takdir.
***
Gedung sudah didekorasi dengan bunga lily putih yang elegan. Arga duduk di depan meja akad dengan jas yang begitu rapi hingga semut pun mungkin terpeleset jika mencoba berjalan di bahunya. Di sampingnya, Nara duduk dengan kebaya yang sangat cantik, namun ekspresinya lebih mirip orang yang sedang menunggu antrean cabut gigi.
Saat Pak Penghulu mulai memeriksa berkas, Arga mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya yaitu sebuah kalkulator ilmiah.
"Sebentar, Pak," potong Arga saat penghulu hendak memulai khutbah nikah.
"Saya perlu memastikan nilai mahar yang saya berikan sudah sesuai dengan laju inflasi hari ini dan tidak merugikan neraca keuangan keluarga kami di masa depan."
Nara menyikut rusuk Arga dengan tajam.
"Arga! Ini akad nikah, bukan audit tahunan! Simpen nggak kalkulatornya, atau aku minta maharnya ganti jadi saham perusahaan multinasional sekarang juga!"
Penghulu berdehem canggung.
"Ehem... Mas Arga, maharnya sudah tertulis di sini. Seperangkat alat salat dan emas batangan. Sudah sah menurut syariat, tidak perlu dihitung pakai rumus trigonometri."
Nara, di sisi lain, berusaha menenangkan diri dengan teknik napas yang dia pelajari dari YouTube. Tapi karena terlalu gugup, suaranya terdengar seperti kompresor rusak.
"Huuu... haaa... huuu... haaa..."
"Nara," bisik Arga tanpa menoleh.
"Volume napas kamu mencapai 60 desibel. Kamu mengganggu konsentrasi saya untuk menghafal kalimat kabul dalam satu tarikan napas yang efisien."
"Diem kamu, Kulkas! Ini aku lagi berusaha biar nggak pingsan di depan kamera! Kamu enak, jantungnya kan dari baterai litium, nggak bakal deg-degan!" balas Nara lewat sela-sela gigi yang rapat.
Ayah Nara menjabat tangan Arga, suasana mendadak hening. Nara menahan napas.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Arga Wiratama bin..." Ayah Nara menyelesaikan kalimatnya dengan mantap.
Arga menjawab dengan kecepatan cahaya,
"Saya terima nikahnya Nara Amelinda binti Bambang dengan mas kawin tersebut dibayar tunai, lunas, tanpa potongan pajak, dan sudah melalui verifikasi internal!"
Saksi pertama diam. Saksi kedua melongo. Penghulu berkedip tiga kali.
"Gimana para saksi? Sah?" tanya Penghulu ragu.
"Interupsi, Pak," kata saksi dari pihak Arga.
"Tadi ada tambahan 'tanpa potongan pajak', apakah itu masuk dalam rukun nikah?"
Nara menelungkupkan wajahnya ke meja.
"Sah-in aja, Pak... Tolong... saya udah nggak kuat malu."
"Sah! Sah!" seru para tamu undangan yang sudah lapar ingin makan prasmanan.
Setelah Ijab Kabul yang lebih mirip penutupan audit kuartal itu dinyatakan sah, Pak Penghulu memberikan instruksi terakhir sebelum mereka bergeser ke sesi ramah tamah.
"Silakan, Mbak Nara mencium tangan suaminya sebagai tanda hormat, dan Mas Arga mencium kening istrinya sebagai tanda kasih sayang."
Nara mendadak merasa seolah-olah seluruh sendinya membeku. Mencium tangan Arga? Tangan pria yang tadi malam masih ia panggil "Kulkas Berjalan" di WhatsApp.
Nara meraih tangan kanan Arga dengan ragu. Namun, baru saja ujung hidungnya mendekat, ia mencium aroma yang sangat menyengat.
"Arga, sumpah ya," bisik Nara sambil menahan napas di depan tangan suaminya.
"Ini bau alkoholnya kencang banget. Kamu habis celupin tangan ke wadah sterilisasi rumah sakit?"
"Saya baru saja mengoleskan hand sanitizer konsentrasi 70% di bawah meja tadi," jawab Arga tanpa menggerakkan rahang, tetap menatap kamera dengan senyum formal yang kaku.
"Tadi saya bersalaman dengan dua puluh orang saksi dan kerabat. Secara statistik, ada jutaan kuman di sana. Saya tidak mau kamu pingsan karena infeksi bakteri saat prosesi ini."
"Tapi hidung aku bisa rontok, Arga!" keluh Nara.
Dengan pasrah, Nara menempelkan keningnya di punggung tangan Arga yang sedingin es dan sewangi apotek.
Cekrek!
Fotografer mengabadikan momen itu. Di foto, Nara terlihat seperti istri yang sangat patuh, padahal aslinya ia sedang menahan bersin karena uap alkohol.
"Sekarang, Mas Arga, silakan cium kening istrinya. Yang lama ya, buat difoto," instruksi fotografer sambil mengatur pencahayaan.
Arga berdehem. Ia berdiri tegak, lalu melangkah satu tahap lebih dekat. Nara bisa merasakan aura "dominasi logis" Arga menyelimutinya. Arga menunduk, namun gerakannya sangat mekanis, seolah sedang melakukan kalibrasi alat berat.
"Nara, turunkan sedikit dagu kamu. Sudut kemiringan wajahmu membuat saya sulit menemukan titik tengah kening yang presisi," bisik Arga tepat di depan wajah Nara.
"Ya ampun, Arga! Tinggal cup gitu aja susah banget sih! Nggak usah pakai busur derajat!" balas Nara gemas, wajahnya sudah merah padam antara malu dan ingin marah.
Arga mengabaikan protes itu. Ia memegang kedua bahu Nara sebuah sentuhan yang membuat jantung Nara mendadak melakukan freestyle lalu perlahan mendaratkan bibirnya di kening Nara.
Namun, karena Arga terlalu fokus pada "presisi", ia tidak memperhitungkan bahwa Nara sedang memakai hiasan kepala (siger) yang cukup tinggi dan tajam.
Takk!
"Aduh," desis Arga pelan saat bibirnya justru membentur salah satu ornamen perak di siger Nara.
"Arga! Kamu nggak apa-apa?" Nara hampir tertawa tapi ditahan.
"Ornamen kamu... melanggar ruang gerak saya," gumam Arga sambil meringis kecil, namun ia tetap bertahan di posisi itu demi instruksi fotografer.
Bukannya mencium kening dengan lembut, Arga malah terlihat seperti sedang membisikkan instruksi rahasia negara di dahi Nara.
"Mas Arga, jangan tegang gitu mukanya! Istrinya dicium, bukan mau diaudit!" teriak fotografer dari kejauhan.
Akhirnya, Arga memejamkan mata, mengabaikan segala logika dan rasa sakit di bibirnya, lalu menekan kening Nara dengan kecupan yang lebih lama. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti mereka di tengah hiruk-pikuk gedung. Nara bisa merasakan napas hangat Arga dan aroma kayu manis yang kini mengalahkan bau alkohol tadi.
Nara terdiam. Ada rasa hangat yang aneh menjalar dari keningnya ke seluruh tubuh. Oke, ini nggak ada di kontrak, tapi kenapa rasanya nggak seburuk itu?
Setelah Arga menjauh, ia berbisik sangat pelan di telinga Nara,
"Poin nomor sepuluh dalam catatan saya hari ini bahwa Siger kamu adalah senjata tajam. Tapi... kening kamu cukup hangat."
Nara membuang muka, mencoba menyembunyikan senyumnya.
"Dasar robot rusak!"