Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Ujian di Balik Ketenangan
Dua hari berselang, suasana kelas manajemen terasa berbeda. Airin masuk ke ruangan dengan langkah ringan, kali ini mengenakan dress selutut bermotif bunga kamboja putih dengan latar kain berwarna pastel. Rambut keritingnya dibiarkan tergerai bebas, bergoyang lembut mengikuti irama langkahnya. Seperti biasa, ia tidak banyak bicara, hanya memberikan senyum simpul yang memperlihatkan lesung pipinya kepada Thea, Dion, dan Kriss.
"Rin, kenapa setiap hari motif bunga lo nggak pernah sama? Koleksi lo ada berapa lemari sih?" celetuk Dion sambil menaruh tasnya di atas meja.
Airin hanya terkekeh lembut, hampir tak terdengar. "Hanya suka saja, Dion."
"Suaranya lembut banget, kalau di tengah keramaian begini gue musti pakai alat bantu dengar kayaknya," canda Kriss yang disambut tawa kecil oleh mereka berempat.
Kegaduhan itu mendadak sirna saat pintu kelas terbuka lebar. Jordan Abraham melangkah masuk. Aura dinginnya masih sama, namun hari ini ia terlihat lebih santai dengan kemeja abu-abu gelap yang kancing atasnya dibuka satu. Wajah sangarnya tetap datar, tanpa ekspresi ramah sedikit pun.
"Simpan semua buku kalian di dalam tas," suara berat Jordan menginterupsi gerakan mahasiswa yang baru saja hendak mengeluarkan catatan. "Sekarang kita ulangan."
"Hah? Pak, kan baru dua hari masuk!" protes salah satu mahasiswa di baris belakang.
Jordan menatap tajam ke arah sumber suara. "Dunia bisnis tidak pernah memberi tahu kapan krisis akan datang. Jika kalian tidak siap hari ini, kalian tidak akan pernah siap selamanya. Keluarkan kertas selembar."
Suasana kelas langsung berubah menjadi ricuh penuh keluhan bisik-bisik. Thea dan Dion tampak panik, mencoba mengingat kembali materi yang baru dijelaskan sekilas kemarin. Namun, Airin tetap tenang. Ia hanya mengeluarkan sebuah pulpen hitam dari tasnya dan meletakkan selembar kertas di atas meja dengan gerakan yang anggun.
Bagi Airin, membaca buku adalah pelarian. Hampir seluruh literatur manajemen di perpustakaan rumahnya sudah ia lahap habis sejak remaja. Ulasan mendadak ini bukan masalah besar baginya.
Jordan mulai mendiktekan soal-soal yang tergolong rumit untuk level semester lima. Setelah soal terakhir diberikan, ia mulai berjalan mengelilingi kelas. Langkah kakinya yang berat terdengar berirama di atas lantai keramik.
Ia memperhatikan mahasiswanya satu per satu. Ada yang menggaruk kepala, ada yang menatap langit-langit dengan putus asa, dan ada pula yang mencoba melirik jawaban teman di sampingnya. Jordan mendengus pelan, merasa sedikit kecewa dengan mentalitas mereka.
Namun, langkahnya melambat saat mendekati meja Airin.
Jordan berhenti tepat di hadapan meja gadis itu. Dari posisinya yang berdiri tegak setinggi 187 cm, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana jemari lentik Airin menari di atas kertas. Gadis itu sedang menuliskan analisis mendalam tentang struktur biaya perusahaan dengan sangat lancar, seolah soal sulit itu hanyalah pertanyaan matematika dasar.
Jordan terdiam, seolah terhipnotis oleh ketenangan yang dipancarkan Airin. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium aroma lembut bunga lily dari parfum yang dikenakan Airin. Ia memperhatikan bagaimana ujung rambut Airin menyentuh meja, dan bagaimana konsentrasi gadis itu sama sekali tidak terganggu oleh kehadirannya yang berdiri tepat di depannya.
Jordan menunduk sedikit, membaca baris demi baris jawaban Airin. Matanya sedikit melebar. Tepat sasaran, batinnya. Jawaban itu bukan sekadar hafalan buku teks, melainkan hasil pemikiran kritis yang tajam.
"Selesaikan dalam sepuluh menit," ucap Jordan tiba-tiba, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya, khusus ditujukan untuk seluruh kelas namun matanya tetap tertuju pada kertas Airin.
Airin sedikit tersentak. Ia baru menyadari bahwa dosennya itu berdiri begitu dekat. Ia mendongak sedikit, membuat netranya beradu dengan mata tajam Jordan. Hanya sesaat, karena Airin segera menunduk kembali dengan sopan dan melanjutkan coretannya.
"Sudah selesai, Pak," bisik Airin lembut setelah beberapa saat.
Jordan mengangkat alisnya sebelah. "Sudah?"
Airin mengangguk pelan, menyodorkan kertasnya. Jordan mengambil kertas itu, jari mereka sempat bersentuhan tak sengaja selama sepersekian detik. Sebuah sengatan halus seolah menjalar di tangan Jordan, namun ia tetap memasang wajah cuek.
Ia membolak-balik kertas itu di depan Airin. Benar-benar sempurna. Sementara teman-teman Airin masih berjuang mati-matian, gadis ini sudah menyelesaikan segalanya dengan tenang.
"Kamu boleh keluar lebih dulu kalau mau," ujar Jordan datar, meski dalam hati ia merasa sangat terkesan.
"Terima kasih, Pak. Saya menunggu teman-teman saya saja di luar," jawab Airin sesantun mungkin.
Jordan tidak membalas lagi. Ia melanjutkan langkahnya kembali ke depan kelas, namun pikirannya tertinggal di meja tadi. Siapa sebenarnya Airin Rodriguez? Bagaimana bisa seorang gadis yang tampak begitu rapuh dan pendiam memiliki pemikiran sekuat itu?
Di kursinya, Airin hanya menatap lurus ke depan, mencoba mengabaikan tatapan iri dan bingung dari teman-temannya. Ia tidak sadar bahwa sejak detik itu, perhatian seorang Jordan Abraham telah terkunci sepenuhnya pada dirinya.