[New York Series - 1]
Rafael Alexander-The perfect CEO. Tampang, harta, muda, dan berbakat, bisa membuat setiap orang jatuh hati dengan lirikannya, membuat Rafael digila-gilai seluruh wanita di penjuru kota New York.
Alexa McBride-Seseorang yang bekerja di sebuah penerbit buku kecil harus mengalami hal yang sangat dia benci, yaitu berhubungan dengan Rafael Alexander. Meskipun semua orang mencintainya, tapi Alexa tidak. Dia hanya terobsesi dan bukan mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 - Suspicious
Tangan Rafael mencari Alexa untuk dia peluk ketika dia menyadari bahwa dia tidak bisa menemukan apapun kecuali ranjang yang kosong.
Rafael langsung terjaga, melangkah cepat dari kasurnya, mengambil boxer yang dia pakai dan kemudian dia langsung turun untuk mencari keberadaan Alexa, dan berharap jangan sampai Alexa pulang ke rumahnya.
"Pagi, Mom," Rafael mendekati Brieana kemudian mengecup pipinya singkat. "Mom lihat Alexa?"
"Dia sedang lari pagi dengan Becky."
"Hanya berdua?"
Brieana hanya mengangguk, setelah selesai menyiapkan sarapan diatas meja makan, Brieana langsung menatap Rafael. "Apa kalian bermain semalam?"
Rafael hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Brieana. Dia langsung masuk kedalam kamarnya, sedangkan Brieana hanya terkekeh.
Kembali ke kamarnya, Rafael tidak bisa berhenti tersenyum saat mendapati keadaan kamarnya yang sangat berantakan akibat ulahnya semalam.
Well ... hari ini adalah hari yang terbaik dari hari sebelumnya bagi Rafael.
Rafael turun dari kamarnya setelah dia membersihkan diri, orang yang pertama dilihatnya adalah Rebecca dan Alexa yang sedang sarapan.
"Morning," Rafael mengecup pipi Alexa singkat kemudian dia duduk disamping Alexa. Rebecca yang melihat Rafael dan Alexa hanya terkikik senang saat melihatnya.
Setelah agak lama mereka sarapan, datang seorang laki-laki paruh baya yang Alexa yakin adalah Antonio Alexander, dan juga untuk pertama kalinya Alexa tidak tahu harus melakukan apa saat ada di depan orang itu.
"Pagi Rafael," Antonio duduk di depan Rafael, Alexa hanya menunduk berpura-pura fokus dengan sarapannya tanpa menatap sedikitpun Antonio. "Pagi juga, Alexa."
Alexa langsung mengangkat kepalanya, mencoba untuk tersenyum. "Pagi juga Mr. Alexander."
"Aku akan pergi," ucap Rafael yang hendak berdiri tapi ditahan oleh Alexa.
"Wait ... aku akan ikut," Alexa langsung berlari cepat ke kamarnya, mengganti baju dan kemudian dia kembali ke bawah menemui Rafael yang sudah ada di dalam mobil.
"Ada apa ini?" tanya Rafael penasaran—lebih tepatnya pura-pura penasaran. "Bukannya kau lebih suka tidak di dekatku?"
Alexa menatap jengah Rafael, "sudah, jalankan saja mobilnya. Atau tidak kau antar aku ke rumahku."
"Lebih baik ikut aku," jawab Rafael yang langsung melanjukan mobilnya menuju perusahaannya.
Saat sudah sampai di perusahaan Rafael, Alexa menatap gedung pecakar langit itu, Alexa sudah melihatnya—lihat di televisi dan majalah maksudnya.
"Kau duluan saja, Raf. Aku harus memakai make-up. Aku tidak sempat memakainya di rumahmu," ucap Alexa saat Rafael yang mengajaknya turun.
"Baiklah, kalau sudah selesai, aku berada di lantai paling atas."
Alexa hanya mengangguk paham, setelah Rafael pergi Alexa cepat-cepat memakai make-up-nya dan segera pula dia keluar dari mobil Rafael.
"Maaf, mau bertemu dengan siapa," dan ini yang Alexa malaskan, dia tidak tahu harus menjawab apa kepada orang yang bertanya dengannya itu—meskipun Alexa tahu bahwa dia mau ke ruangan Rafael.
"Hmm ... ini, saya mau ke ruangan Rafael."
"Sudah ada janji?"
Sial!
Tidak bisakah Alexa langsung saja ke ruangan Rafael saat ini? Tanpa perlu ditanya-tanya?
Alexa mengambil ponselnya kemudian menelepon Rafael. Well ... biarkan Rafael yang kesini.
"Raf, aku ada dibawah, aku tidak bisa masuk."
"Baiklah, aku segera kesana," Alexa langsung mematikan sambungan teleponnya, sambil memegang kunci mobil Rafael, Alexa tidak sabaran melihat lift yang keluarnya adalah Rafael.
"Alexa," panggilan Rafael membuat Alexa berbalik badannya, karena bosan melihat lift tadi, Alexa langsung saja menatap sekeliling di kantor Rafael.
Tersenyum manis, Alexa langsung menghampiri Rafael. "Kenapa?"
"Aku tidak bisa masuk."
"Kau tinggal bilang tunanganku."
Wow ... Alexa tercengang saat Rafael mengatakan itu. Resepsionis yang mendengar perkataan Rafael langsung menghampiri mereka dan segera meminta maaf.
"Tidak, tidak apa," Alexa jadi merasa aneh sendiri saat respsionis itu mengucapkan kata maaf berulang kali. Alexa pikir juga ini bukan salah dia.
"Kenapa Anda tidak bilang saja kalau Anda adalah tunangan Mr. Alexander," resepsionis itu bertanya dengan nada lembut. "Kalau Anda mengatakannya saya bisa mengizinkan Anda masuk. Maaf Nyonya."
What? Nyonya? Siapa? Alexa?
Sambil terkekeh garing, "jangan panggil aku Nyonya."
Rafael segera menarik tangan Alexa untuk mengikutinya masuk kedalam lift. Alexa hanya berjalan dibelakang Rafael dengan tangan yang digenggamnya.
Di dalam lift hanya ada Alexa dan Rafael, Rafael tersenyum saja saat menatap Alexa. Menjadi aneh sendiri, Alexa menolehkan wajahnya dan menaikkan sebelah alisnya seolah-olah bertanya.
"Aku masih memikirkan yang semalam," kata Rafael yang membuat Alexa tersenyum malu. "Apa kita harus mencoba hal baru? Di atas meja? Di sofa kantor? Atau di dalam lift?"
"Dasar gila!" gerutu Alexa yang masih saja menatap kebawah.
Rafael mendekat, mengangkat dagu Alexa agar menatapnya, tersenyum simpul kemudian dia mendekatnya wajahnya ke wajah Alexa, hanya sejengkal hingga suara dentingan lift membatalkan semuanya, lift yang berada di seberang meja Ariana—sekretaris Rafael—hanya menatap lurus kearah mereka berdua.
Berdeham sebentar, Rafael kembali menarik tangan Alexa agar mengikuti Rafael masuk kedalam ruangannya. Ariana yang mengetahui itu adalah Alexa—karena Rafael menyuruh Ariana mencari data tentang Alexa—hanya tersenyum simpul yang dibalas oleh Alexa dengan senyumannya juga.
"Dan sekarang, apa rencanamu?" tanya Rafael saat dia sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Tetap disini."
"Kau tidak bekerja?"
Alexa beredecak, "kau tidak menyuruhku bekerja, karena aku melarikan diri darimu. Dasar!"
Terkekeh pelan, Rafael menghampiri Alexa yang sedang duduk di sofa dan duduk di sampingnya.
"Jadi ... kau mau bekerja?"
"Tentu, aku harus membayar seluruh tagihan milikku," Alexa yang sedang memainkan ponselnya langsung terbelalak saat Rafael sudah mengangkatnya dan mendudukinya di pahanya.
"Semua itu urusanku, Alexa," kata Rafael menyeruakkan wajahnya ke leher jenjang Alexa, sambil mengirup aroma rambut dan tubuh Alexa.
"Apa maksudmu?" Alexa hampir saja berteriak saat bibir Rafael sudah menggigit kecil leher Alexa. Merasa kalau Rafael sudah melakukan sesuatu, Alexa hendak bangkit, tapi lagi-lagi seluruh tenaga yang Rafael punya digunakan hanya untuk mengunci Alexa.
Alexa terus saja menahan desahannya karena Rafael yang mengecup, mencium, bahkan menggigit kecil leher Alexa, sambil mengigit bibirnya dan mencengkaram ujung bajunya—jujur saja Alexa merasa menjadi agak aneh, dan alarm di kepala Alexa sudah memperingatkan untuk tidak bertindak lebih jauh lagi.
"Stop it, Raf!" ucap Alexa.
Rafael segera menjauhkan kepalanya saat Alexa berbicara seperti itu, dan lebih sialnya lagi Rafael sudah merasa amat sangat terangsang, segera menurunkan Alexa dari pangkuannya.
Segera pergi ke kamar mandi, Alexa berdecak kesal saat melihat semua hal yang dilakukan oleh Rafael barusan, kalau dia boleh memukuli laki-laki itu, pasti Alexa sudah akan melakukannya saat ini.
Keluar dari kamar mandi, Alexa melihat Rafael yang sudah duduk di kursi kebesarannya dan mencoba untuk fokus pada pekerjaannya, kalau tidak dia pasti sudah akan menyerang Alexa saat ini juga.
Kembali duduk diatas sofa, Alexa memainkan ponselnya. "Raf, aku akan keluar sebentar."
"Biar Robert mengantarmu."
"Tidak perlu, aku akan pergi sendiri," ucap Alexa segera pergi dari ruangan Rafael dan membuat Rafael curiga dengan Alexa.
Mengambil ponsel diatas mejanya, Rafael menekan salah satu nomor yang ada di ponselnya. "Ikuti Alexa pergi saat ini."
[TBC]
knp jd k Riyan sih marahy .