Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 2 bagian 7
Tidak sesuai rencana sebelumnya Bima dan Stevani melakukan pertemuan di Restoran Roses di pagi hari. Alasan utamanya memilih restoran ini adalah pemiliknya, dan alasan mengapa ia mengubah jamnya dikarenakan ini hari libur. Restoran ini hanya berjarak 15 menit dari stasiun dan berasa di dekat pusat perbelanjaan, tentu akan ramai di jam-jam menjelang sore. Apalagi di hari libur, keramaian pasti akan berlangsung lebih lama.
Bima yang datang lebih awal memperhatikan lalu lalang pejalan kaki dari balik jendela, sebatang rokok yang kini tinggal separuh terselip diantara jari-jarinya. Ia menatap keluar tapi pikirannya tidak sedang ada di tempat ia duduk. Ia ingat Restoran ini merupakan salah satu usaha yang dibangun oleh Sarah sebelum masa pensiunnya, dulu tempat ini hanya sepetak ruko kecil yang menjual kopi namun saat ini sudah berkembang menjadi semakin besar. Tampaknya membuat bisnis sebelum pensiun memang menarik, tapi bisnis apa yang akan ia jalani? Menjalankan pekerjaan intinya saja terkadang malas.
Hari ini libur, dan dia masih harus membahas pekerjaan. Tidak hanya satu tapi tiga kasus. Kasus Wijaya Kusuma yang dibawa oleh Sarah, rokok ilegal yang dibawa Stevani, dan yang terakhir kasus baru yang dibawa Andre. Ia tidak tahu apa yang mempengaruhi anak itu untuk ikut campur dalam masalah orang lain, dan sejak kapan ia peduli pada kasus-kasus yang bahkan tidak ia ketahui awal mulanya.
Tepat saat Bima menyulut rokok keduanya, Stevani datang bersama dengan Sarah. Ia tidak mengerti mengapa mereka datang bersamaan, apakah sebenarnya mereka diam-diam mengatur jadwal juga.
“Selamat pagi Pak Bima, kami kebetulan datang di jam yang sama jadi masuk bersama” ucap Stevani sebelum Bima sempat bertanya.
“Jika aku tahu kau akan disini, aku akan membawa beberapa surat lain yang telah aku terima sejak kunjungan terakhirku” ucap Sarah. Ia memanggil seorang pelayan dan memesan beberapa makanan kecil dan kopi.
“Apakah suratnya terus bermunculan?” tanya Bima heran.
“Ya, aku sempat mencurigai salah satu ART di rumahku, namun jelas dia tidak punya kepentingan untuk hal-hal seperti itu. Kemungkinan terbesar adalah tukang pos, tapi setiap kali surat itu datang tukang posnya juga selalu berganti” jawab Sarah.
Stevani yang tidak mengerti keadaan hanya diam. Dia datang untuk memberikan informasi tentang rokok ilegal, tapi mengapa mereka membahas tentang surat.
“Maaf membuatmu bingung dokter, kami sedang membicarakan surat-surat kaleng yang selalu datang ke kotak posku. Surat itu bervariasi, terkadang berisi permohonan, permintaan tersirat atau bahkan potongan surat kabar lama tentang kasus orang hilang yang terjadi beberapa tahun terakhir” ucap Sarah setelah menyadari kebingungan Stevani.
“Apakah ini bisa dikategorikan sebagai teror? Tolong panggil aku Stevani, aku sedang tidak bertugas saat ini” ucap Stevani ragu.
“Tentu tidak. Tidak ada sedikit pun ancaman dalam surat-surat itu” jawab Sarah.
“Sebelum membahas dugaan kasus rokok ilegal yang kau laporkan, Bu Sarah telah melaporkan sesuatu yang sedikit tidak menyenangkan kemarin. Ini berkaitan dengan kasus yang kami tangani 6 bulan yang lalu, tepatnya sebagai tugas terakhir Bu Sarah. Namun akhirnya kasus itu dilimpahkan kepada Indira dan seorang rekan kerjanya, dan kami ditugaskan untuk mengurus kasus lain. Padahal kami sudah menemukan titik terang kasusnya” ucap Bima menjelaskan situasi.
“Kasus 6 bulan yang lalu, itu sudah cukup lama. Apakah aku tahu kasusnya?” tanya Stevani. Ia memperhatikan bagaimana Bima dan Sarah melempar pandang.
“Sebelum kami menceritakan kasusnya, apakah kamu bersedia menyembunyikan apa yang kami ucapkan jika itu tidak berkenan di hatimu?” tanya Sarah.
“Ya aku bersedia. Jika aku bisa membantu demi keadilan kenapa tidak” jawab Stevani.
Bima mendengus kecil mendengarnya. Beberapa waktu yang lalu Stevani mengirimkan beberapa email yang berisi protes kepadanya karena melibatkannya dalam kasus yang tidak berizin, mengapa tiba-tiba ia berubah?
“Oke bagus. Apa kau tahu kasus Wijaya Kusuma?” tanya Sarah.
“Ya, itu kasus terakhir yang ditangani dokter senior sebelum akhirnya pensiun dini. Ia melimpahkan tugas dan posisinya kepadaku, dan pindah ke luar negeri. Memangnya kenapa? Bukankah kasus itu sudah selesai dan korban juga sudah dikembalikan ke keluarga?” Bukankah dia bunuh diri?” jawab Stevani mencoba mengingat.
“Ya itu yang tertulis di dokumen resmi kepolisian. Tapi surat yang ku terima akhir-akhir ini adalah permohonan untuk kasus ini. Kemungkinan besar keluarga korban lah yang mengirim semua surat kaleng yang aku terima. Mereka mencurigai jasad yang diserahkan kepada mereka bukanlah Wijaya Kusuma yang asli, tapi hanya mayat yang kebetulan mati disaat itu. Bukankah pihak keluarga tidak diperbolehkan melihat langsung jasadnya?” jelas Sarah lagi.
“Ya, jasad di kirim dengan peti mati yang sudah dipaku dari pihak Rumah Sakit. Aku tidak tahu mengapa seperti itu, dokter senior bilang itu karena jasadnya terlalu hancur dan tidak ingin pihak keluarga terlalu terpukul” jawab Stevani, ia berusaha mengingat sesuatu.
“Tapi ada yang janggal dalam kasus ini. Aku tidak tahu apakah aku yang terlalu lelah atau memang sampelnya diambil dari orang yang berbeda. Aku ingat betul korban yang tergeletak di ruang otopsi itu berambut keriting dan tidak terlalu panjang, namun sampel rambut yang dikirim ke laboratorium itu sangat panjang dan lurus. Saat itu dokter senior juga tidak memperbolehkan koas untuk masuk ke dalam ruangan dengan alasan jasadnya terlalu hancur, padahal sebagai dokter forensik itu sudah sewajarnya” sambung Stevani.
“Ingat Bima kau tidak boleh berprasangka apa pun!” tegur Sarah begitu melihat mata Bima yang sudah melotot dan hendak berteriak marah.
“Hanya itu kejanggalan yang kau temukan?” tanya Bima.
“Tidak bukan hanya itu. Sejak awal aku ditugaskan sebagai asisten dokter senior, ia selalu memberikan tugas membuat laporan padaku. Ia hanya akan mengoreksi kesalahan di akhir. Tapi saat kasus ini diselidiki, aku tidak melakukan tugas apa pun. Dokter senior melakukan semuanya sendiri, dari mengambil sampel, mengirimkannya ke lab, mengambil hasil, bahkan membuat laporan pun ia kerjakan sediri. Di ruang otopsi pun yang aku kerjakan hanya mengambil peralatan dan menonton, ia tidak memperbolehkan aku menyentuh jasadnya. Saat itu aku berpikir mungkin karena ini kasus terakhirnya, jadi ia sangat bersemangat” jawab Stevani lagi.
“Bersemagat untuk pensiun dini, melakukan slow living. Apakah suaminya bos besar hingga bisa dengan mudahnya pensiun dini?” tanya Bima sarkasme.
“Aku tidak terlalu paham, dia sangat tertutup” jawab Stevani malas.
Sarah yang melihat mereka hendak berseteru segera menengahi.
“Stevani, kau satu-satunya Dokter Forensik yang melihat dengan jelas kasus ini, mau kah kau terlibat kembali? Demi keadilan dan ketenangan keluarga korban. Jika Indira dan mantan atasamu benar-benar bersekongkol untuk kasus ini, kemungkinan ada kasus lain yang ditutupi. Itu artinya ada kasus yang tidak terlaporkan.”
“Bagaimana caranya aku terlibat, kasus ini sudah selesai?” tanya Stevani bingung.
“Jika kau setuju, kita akan menyelidiki kasus ini diam-diam, dan aku pastikan tidak ada satu orang pun yang akan menyadari kita sedang menyelidiki kasus ini. Jika memang ada kebocoran informasi, aku akan pastikan posisimu tidak akan tergeser dan namamu tidak akan disebut” jawab Bima malas.
“Oke, aku setuju. Tapi Pak Bima kita disini untuk membicarakan kasus rokok ilegal, bagaimana dengan kasus itu?”
Sarah tersenyum kecil, dia pergi untuk meninjau pekerjaannya sendiri, membiarkan 2 petugas muda itu melakukan pekerjaan mereka
“Aku sudah meminta Andi untuk mencari informasi, jika memang benar penangkapan akan dilakukan paling cepat hari Senin. Sebenarnya ada satu kasus lagi yang ingin aku katakan, kasus ini tidak terlapor namun cukup mencurigakan. Korbannya adalah salah satu teman keponakanku, namun dia sudah meninggal 6 bulan yang lalu karena kecelakaan. Mau kah kau membantuku?” Tanya Bima sedikit ragu.
“Kasus apa itu? Apakah melibatkan arwah lagi?” tanya Stevani sedikit takut.
“Ya dan tidak. Aku bingung harus menjelaskannya dari mana, karena tidak ada satu laporan pun yang melibatkan kepolisian” jawab Bima.
“Intinya apa yang kau inginkan Pak Bima?” tanya Stevani agak kesal.
“Aku ingin kau mengotopsi jasad gadis itu, dan memastikan penyebab kematiannya” ucap Bima akhirnya.
“Ya itu tidak masalah, asalkan aku dilindungi dan dibayar” ucap Stevani sedikit geli.
“Tentu saja kau akan dibayar untuk kasus ini” ucap Bima tidak terima.
“Aku juga ingin bayaran lebih untuk kasus rokok ilegal yang aku laporkan kepada Pak Bima, jangan lupa itu. Oke ini sudah hampir jam makan siang senang berbisnis dengan Anda Pak Bima. Hubungi aku setelah kau mengatur bagaimana caranya mendapatkan sampel dari tubuh korban” ucap Stevani. Dia meminum sisa kopi di cangkirnya, membereskan bawaannya dan pamit. Tidak memedulikan protes Bima.
Setelah kepergian Stevani, Bima menghela nafas pelan. Apakah ada yang menunggu kepulangan nya? Dunianya terasa hancur setelah ibunya tiada, dan semakin hancur begitu kakak perempuannya diperlukan secara tidak adil oleh keluarga suaminya. Rasanya ia tidak lagi punya rumah yang nyaman untuk pulang. Dulu ia selalu menganggap kantornya adalah tempat ternyaman nya, tapi saat ini itu terlihat lebih hancur dari rumah yang ia tinggalkan.
Tepat setelah makan siang, ia mengendarai mobilnya menuju pinggiran kota. Ia berharap orang tua Wijaya Kusuma belum kembali ke kampung halaman mereka atau pindah ke luar kota itu akan mempermudah pekerjaannya. Jika ia tidak salah ingat rumah mereka terletak tidak jauh dari pintu air di pinggiran kota. Tepat setelah ia berbelok ke tikungan terakhir gang, ia melihat seorang laki-laki paruh baya yang tengah beristirahat di halaman rumahnya. Secangkir kopi yang masih mengepul tersaji di meja, dengan sebatang rokok yang menyala di asbak dan sepiring roti potong.
Bima mengamati sekitar dan turun begitu tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Tempat ini masih sama dengan ingatan terakhirnya. Lembab, redup dan sunyi. Bukan hanya karena musim hujan, tapi karena tempatnya yang tidak jauh dari pintu air. Bima dapat mendengar suara air yang mengalir deras dari tempatnya berdiri saat ini.
“Selamat siang Pak Hadi Kusuma, perkenalkan nama saya Bima. Mungkin bapak masih mengingat saya” sapa Bima sopan.
Pria paruh baya itu memperhatikan penampilan Bima. Tampak mencoba mengali sesuatu yang terkubur dalam ingatannya. Tidak berapa lama dia tersenyum dan berdiri dengan semangat.
“Bukankah Bapak adalah orang yang menyelidiki kasus putri saya 6 bulan yang lalu? Apakah kepolisian sudah menerima surat-surat yang aku kirim?” tanyanya bertubi-tubi. Dengan tatapan penuh harap ia memegang kedua pundak Bima. Dia mempersilahkan Bima duduk dan meminta istrinya untuk menyiapkan teh hangat.
“Ya, saya memang orang yang menyelidiki kasus putri Bapak sebelum dilimpahkan kepada seorang rekan saya. Untuk pertanyaan kedua, sebenarnya bukan pihak kepolisian yang menerima surat-surat Bapak, namun seorang anggota kami yang sudah purna. Dia menugaskan saya untuk melakukan peninjauan ulang untuk kasus ini” jawab Bima. Ia berusaha berbicara dengan penuh wibawa dan diplomatis, seolah ia adalah utusan terpilih yang akan mengubah dunia.
“Apakah pihak kepolisian menolak untuk melakukan penyidikan ulang?” tanya Hadi kecewa.
“Ada begitu banyak kasus yang belum terpecahkan terjadi akhir-akhir ini, jadi kami berusaha menyelesaikan apa yang sedang terjadi dan menyimpan kasus-kasus yang sudah dianggap selesai. Namun saat ini kami akan secara pribadi menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada putri bapak. Bisakah bapak katakan semua yang bapak ketahui dan mengapa bapak mencurigai jasad itu bukan putri bapak?” tanya Bima. Dia memperhatikan istri Hadi yang meletakkan secangkir teh hangat pada meja.
“Sebenarnya kami sudah merasa curiga sejak awal putri kami di temukan. Tempat itu adalah tempat yang sangat ia takuti, bagaimana caranya dia sampai di sana? Lalu saat tiba, kami tidak boleh melihat jasadnya, yah sebagai orang bodoh kami percaya kalau jasadnya sudah hancur dan kami menguburnya tanpa curiga. Namun 7 hari sejak pemakamannya, dia selalu datang ke mimpi kami, bahkan terkadang hadir di tempat yang biasa ia kunjungi. Awalnya kami berpikir itu hanya imajinasi atau rasa rindu kami, hingga suatu hari sebuah surat kaleng datang. Surat itu tidak panjang, namun isinya kurang lebih sama dengan surat yang aku kirim. Pada awalnya kami mencoba untuk mengirim laporan pada kepolisian, tapi tidak ada respon. Jadi kami mengirim surat-surat kaleng kepada polisi yang pernah memberi kami kartu nama.”
Hadi menjeda ceritanya, dia menatap ke sembarang arah asal tidak ke mata Bima. Tampak mencoba menyembunyikan air matanya yang mulai menetes.
“Hampir setiap bulan kami mengunjungi makam putri kami, dan beberapa bulan yang lalu kami menemukan batu nisannya telah diganti dengan batu yang bertuliskan bukan Wijaya Kusuma. Itu membuat kami resah” ucap sang istri menyambung cerita suaminya.
“Jadi kemungkinan besar orang yang mengganti nisan itu tahu kebenaran” gumam Bima.
“Pak, kami hanya ingin kasus ini diselidiki ulang. Apa pun hasilnya tidak masalah, asal kami tahu itu putri kami atau bukan” ucap sang istri dengan air mata.
Bima termenung sejenak. Jika ada orang yang mengganti nisan dengan tulisan seperti itu artinya ada orang yang tahu apa yang terjadi pada Wijaya Kusuma yang asli. Dokumen otopsi mencatat bahwa korban bunuh diri, tapi mengapa jasadnya bisa hancur?
“Baiklah, aku akan memberikan jalan tengah untuk kasus ini. Kami akan membongkar makam putri bapak, namun dengan beberapa catatan. Yang pertama, kalian akan mengatakan bahwa pembongkaran ini dilakukan untuk memindahkan makam ke tempat yang lebih layak dengan alasan yang boleh kalian buat sendiri. Kami akan mengambil sampel dari jasad dan akan mengujinya secara diam-diam jadi pastikan ini hanya rahasia kita. Yang kedua, kalian tidak akan menuntut aku atau tim ku jika hasilnya tidak seperti yang kalian inginkan. Yang terakhir kami akan berusaha untuk mengungkap tabir dalam kasus ini, tapi jika kami tidak bisa melakukannya mohon untuk tidak mengacaukan dan menebar teror apa pun” ucap Bima pada akhirnya. Dia tahu kalimatnya terdengar sangat pesimis, namun dalam hatinya ia yakin dengan apa yang ia lakukan.
“Bapak terdengar tidak niat menangani kasus putri kami” ucap Hadi ragu.
“Maafkan aku pak, kami harus melakukan hal ini secara diam-diam karena polisi yang menutup kasus ini sebelumnya adalah orang yang saat ini menjadi atasan saya. Ia pasti tidak akan memperbolehkan kami mengungkit kasus yang membuat jabatannya naik. Lagipula dengan menyelidik nya secara diam-diam, Anda tidak akan mendapatkan masalah jika penyelidikan sebelumnya itu benar” jawab Bima mencoba memberi pengertian.
“Tampaknya ada perpecahan di tumbuh kepolisian. Tapi aku tidak peduli, aku hanya ingin putriku beristirahat dengan tenang. Aku akan melakukan apa yang Anda katakan pak, dan aku ingin penggalian segera dilakukan” ucap Hadi. Tatapannya menerawang, tidak ingin melihat Bima.
“Baik, kami akan melakukan penggalian besok pagi. Tolong pastikan tidak ada satu pun orang yang tahu itu kepolisian, atau semuanya akan kacau” ucap Bima.
Hadi dan istrinya hanya mengangguk setuju dan tersenyum.
Setelah menemui keluarga Wijaya Kusuma, Bima pergi untuk menemui keluarga Yuan. Dia melakukan hal yang sama. Beruntung keluarga yang satu ini lebih mudah diatasi dari yang sebelumnya, kalau tidak Bima bisa meledak kapan saja.