Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tuduhan
Elena dan Theor berdansa dengan indah di tengah aula, setelah selesai berdansa mereka kembali ke pinggir bergantian dengan yang lain. Elena ingin langsung pergi, kembali pada Roxane tapi Isabella dan Daniel menahannya.
"Elena, apa kau dekat dengan Lady Roxane?." Ucap Isabella.
"Bisakah kau memanggilku dengan sopan?." Elena tersinggung.
"Ah maaf, aku pikir kita sudah cukup dekat karena sudah beberapa kali bertemu. Apa Lady Elena dekat dengan Lady Roxane?." Ucap Isabella malu.
"Ya, kami berteman dekat. Memangnya kenapa?." Elena jujur.
"Bukan apa-apa, hanya saja hubungan kami tidak baik." Ucap Isabella sendu.
"Aku tidak ikut campur untuk urusan itu, aku berteman dengan siapapun yang aku mau. Jika kau tidak menyukai Lady Roxane, maka bukan berarti aku juga harus membencinya." Ucap Elena.
"T-tidak, bukan begitu maksudku." Isabella gemetar, dia akan menangis.
"Maaf Lady Denilen, sepertinya ucapanmu keterlaluan. Mungkin kau tidak mengetahui ini, tapi Roxy memang sering kali membuat masalah dengan Bella." Ucap Daniel membela.
"Lalu apa dengan itu aku di larang berteman dengan Lady Roxane? saya rasa anda pun tidak berhak ikut campur dalam pertemanan orang." Elena merasa tidak nyaman.
"Tentu tidak, maaf menyinggung mu." Daniel merasa tidak enak hati karena Elena ketus.
"Anda tidak sopan dengan yang mulia putra mahkota, seharusnya anda bisa menjaga batasan dan rasa hormat pada yang mulia." Isabella yang kesal.
"Lantas? bagaimana denganmu yang mulia Isabella?, apa anda pernah sekalipun memberi salam pada saya? saya tidak pernah mempermasalahkan itu karena berpikir anda tidak sengaja melakukan nya. Tapi sepertinya anda memang tidak mau melakukannya, perlu saya tegaskan sekali lagi, meskipun anda adalah KEKASIH yang mulia putra mahkota, saya juga putri dari Duke Van Denilen. Apa kau masih mempermasalahkan tentang status sosial?." Elena habis kesabaran.
"B-bukan... maaf.. saya tidak bermaksud menyinggung anda." Isabella menangis terisak.
"Lady Denilen...
"Aku tidak peduli, apa yang mulia berpikir kesalahan Isabella bisa di maklumi?. Dia mempermasalahkan tentang etika sopan santun, tapi dia sendiri tidak memiliki itu. Dia boleh tersinggung, tapi aku tidak boleh?." Elena melawan Daniel dengan berani.
"Aku mengerti Lady, tolong tenangkan diri anda. Isabella, meminta maaf lah." Daniel menjadi penengah, karena kemarahan Elena mengatakan fakta.
"M-maaf... saya.. akan belajar lebih baik lagi." Isabella meminta maaf dengan terisak.
"Lagi-lagi aku terlihat seperti orang jahat, lain kali aku juga akan menangis saat kau tidak memberi salam padaku." Sinis Elena.
"Maaf." Isabella menunduk, badannya gemetar bukan karena menangis tapi karena marah.
Elena menarik nafas dalam-dalam, berusaha menekan emosi dalam dadanya. Sebenarnya dia bisa saja mengabaikan sikap Isabella, tapi lama-lama dia merasa dongkol juga.
"Elena." Duke Denilen datang, karena mendengar Elena membuat kekacauan.
"Ayah, apa kita sudah bisa pulang?." Elena terlihat menahan kesal dan tangis.
"Tentu, ayo kita kembali." Duke menatap tajam pada Theor, yang sudah berani berdansa dengan Elena.
"Yang mulia Duke, saya benar-benar minta maaf. Ini semua kesalahan saya yang kurang belajar sopan santun, tolong jangan menghukum Lady Elena terlalu keras." Ucap Isabella, masih bisa bicara.
"Apa menurut Lady saya adalah Ayah yang kejam?, saya mengenal putri saya dengan sangat baik." Duke melirik dingin.
"Maaf atas ketidak nyamanan ini Duke, saya akan mengirimkan hadiah permohonan maaf ke mansion Duke." Daniel harus profesional.
"Terimakasih atas keluasan hati yang mulia." Duke dan Elena memberi salam, lalu berpamitan pada Kaisar dan keluar dari aula.
Elena dengan langkah lebar menuju kereta kuda, di sana Merida sudah menunggu dengan cemas. Pelayan tidak di perbolehkan masuk ke aula utama, jadi Merida hanya bisa melihat pertengkaran dari jauh.
"Nona!! apa anda baik-baik saja." Merida menghampiri Elena.
"Ya, aku ingin minum coklat panas sebelum tidur." Ucap Elena manja.
"Tentu, saya akan membuatkan yang paling enak." Merida tersenyum.
Elena naik ke atas kereta, saat Duke hendak naik suara seseorang menghentikannya. Duke merasa kesal karena Theor berani menghadangnya.
"Apa yang kau inginkan?." Duke bicara dengan datar.
"Maaf Tuan Duke, saya ingin bicara sebentar dengan Lady Elena." Ucap Theor.
"Aku tidak memberikanmu izin." Tolak Duke.
"Maaf, ini penting." Ucap Theor.
"Enyahlah, kau bahkan tidak bisa melindungi nya dengan benar." Duke memilih pergi meninggalkan Theor disana.
Sebenarnya alasan Theor menghentikan Duke karena baru saja terjadi kegaduhan di aula karena Isabella pingsan. Tuduhan mengarah pada Elena, mengatakan Elena diam-diam memberikan Isabella racun karena merasa kesal.
Tuduhan semakin memberat saat Elena memilih pulang lebih dulu, Theor berusaha menghentikan agar Elena terbebas dari tuduhan itu. Tapi sayangnya, Duke tidak mau diajak kerja sama atau Theor lah yang tidak pandai bicara.
"Yang Mulia Grand Duke, yang mulia Putra mahkota memerintahkan anda untuk segera menangkap Lady Elena dan Duke Denilen." Ucap prajurit istana.
"Apa katamu?." Theor mendingin.
"Terkait dugaan pemberian racun, tuduhan mengarah pada Lady Elena dan Lady Roxane. Saat ini Lady Roxane sudah diamankan, tapi Lady Elena terlepas." Ucap prajurit itu.
Theor tidak langsung percaya, dia pergi menemui Daniel secara langsung. Sampai di kamar, Daniel terlihat sangat marah karena Isabella masih belum sadarkan diri setelah memuntahkan racun.
"Kenapa kau masih disini Theor!!." Bentak Daniel.
"Apa anda sungguh mencurigai Lady Elena? saya datang untuk meminta buktinya." Ucap Theor tenang.
"Bukti?!! di saat seperti ini pun kau masih meminta bukti?!!." Teriak Daniel marah besar.
"Sebagai putra mahkota dan calon Kaisar, hendaknya anda tidak melupakan aturan istana. Jika anda ingin menangkap seseorang perlihatkan bukti tuduhan, jika anda menangkap orang berdasarkan prasangka tanpa bukti nyata. Maka anda sama saja dengan pemimpin tidak bertanggung jawab, saya mengatakan ini agar anda tidak menyesal di kemudian hari." Ucap Theor tegas.
Daniel terdiam, dia mulai menggunakan logikanya lagi. Dia terduduk dengan lemas, meremas rambutnya pusing. Terlihat sangat kacau sekali, Theor masih setia berdiri di sana menunggu jawaban.
"Sialan." Daniel mengumpat.
"Saya akan mencari dalang sesungguhnya jika anda memerintah kan, tapi jika menangkap Lady Elena tanpa bukti. Saya akan membantah perintah anda kali ini." Ucap Theor, dia membela Elena.
"Apa karena kau menyukainya?." Ucap Daniel melirik.
"Saya bicara dengan pikiran yang dingin, jika saya menangkap Duke Denilen dan Lady Elena tanpa bukti. Tentu saja Duke tidak akan terima dan berbalik menyebrang anda, jika anda bermusuhan dengan Duke maka posisi anda terancam." Ucap Theor.
"Bukankah posisimu bisa membungkamnya?." Ujar Daniel.
"Saya tidak akan melakukan nya." Tegas Theor.
"THEOR!!!." Teriak Daniel frustasi.
"Pilihan di tangan anda yang mulia, tolong pikirkan baik-baik." Ucap Theor.
"Haahhh... pergi lah, cari dalang yang kau maksud itu. Jika memang Elena pelakunya, maka aku akan menghukumnya dengan berat dan kau tidak bisa menghalangiku." Ucap Daniel tajam.
"Tentu." Theor pergi dengan cepat, bersiap mencari dalang utama dari keracunan ini.
semangat othorrrr....moga sehat selalu 😘😘