Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Aroma antiseptik yang khas menyambut Alano dan Ayra saat mereka melangkah masuk ke lobi Rumah Sakit Medika. Ayra masih mengenakan jaket basket Alano yang kebesaran, wajahnya sedikit pucat karena rasa gatal di punggungnya mulai berubah menjadi rasa perih yang menjalar.
"Pelan-pelan, Ay. Pegangan lengan gue kalau lemes," ucap Alano sigap. Tangannya tak lepas dari bahu Ayra, menjaganya agar tidak tersenggol orang-orang yang berlalu-lalang di koridor rumah sakit yang cukup sibuk sore itu.
Setelah mendaftar di bagian administrasi, mereka diarahkan untuk menunggu di depan ruang praktik Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin. Ayra duduk di kursi besi yang dingin, sementara Alano berdiri di depannya, sibuk mengatur arah kipas angin kecil yang ia beli tadi di minimarket agar mengarah ke punggung Ayra yang kepanasan.
"Lan, nggak usah segitunya. Malu dilihatin suster," bisik Ayra sambil mencoba menarik napas dalam.
"Biarin aja. Yang penting lo nggak garuk-garuk lagi. Gue nggak mau liat kulit lo lecet," jawab Alano tegas.
Namun, ketenangan itu terusik saat seorang gadis remaja dengan seragam sekolah yang sama—tapi dengan rok yang sengaja dibuat lebih pendek—berjalan mendekat dengan mata yang membelalak lebar.
"KAK ALANO?!"
Suara melengking itu membuat beberapa pasien lain menoleh. Ayra memejamkan matanya rapat-rapat. Ia sangat mengenali suara itu. Adinda. Siswi kelas 10 yang merupakan ketua fans club tidak resmi Alano di sekolah.
Adinda berlari kecil menghampiri mereka dengan wajah penuh binar pemujaan. "Kak Lano beneran di sini! Ih, Kakak sakit apa? Kok ke rumah sakit nggak bilang-bilang di grup fanbase? Aku kan bisa bawain buah atau bunga!"
Alano menghela napas panjang, wajahnya yang tadi lembut saat menatap Ayra, kini berubah menjadi datar dan acuh tak acuh. "Gue nggak apa-apa, Din. Nemuin dokter doang."
Adinda seolah baru menyadari keberadaan Ayra yang duduk di samping Alano. Matanya langsung tertuju pada jaket basket Alano yang menyelimuti tubuh Ayra.
"Lho? Ada Ayra juga? Kok Ayra pake jaket Kak Lano? Kan Ayra punya jaket OSIS sendiri yang kaku itu," ucap Adinda dengan nada yang sedikit meremehkan, bibirnya dikerucutkan seolah-olah ia adalah korban ketidakadilan.
Ayra hanya menatap Adinda dengan tatapan dinginnya yang khas. "Jaket aku lagi dicuci. Kenapa? Masalah buat kamu?"
Adinda mendengus. "Ih, Kak Lano, jangan mau jaketnya dipake orang lain. Itu kan jaket kebanggaan sekolah. Sini, Kak Lano, mending temenin aku aja ke kantin rumah sakit bentar, aku lagi nungguin tanteku periksa, bosen banget tau..."
Tangan Adinda mencoba meraih lengan Alano, berniat menariknya menjauh dari Ayra.
Alano dengan cepat menarik tangannya sebelum Adinda sempat menyentuhnya. Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Ayra, seolah sedang memagari wilayah kekuasaannya.
"Din, denger ya," suara Alano terdengar berat dan sangat dingin. "Gue ke sini buat nemenin Ayra. Dia lagi sakit, dan dia prioritas gue sekarang. Jaket itu? Itu emang punya Ayra. Semua yang gue punya, termasuk perhatian gue, cuma buat dia."
Adinda tertegun, wajahnya mendadak merah karena malu sekaligus kesal. "Tapi Kak... Ayra kan galak, nggak asik. Kakak mending sama fans yang selalu dukung Kakak..."
"Fans dukung gue di lapangan, itu gue hargai. Tapi di luar lapangan, cuma Ayra yang dukung gue sebagai Alano, bukan sebagai kapten basket," potong Alano telak. "Mending lo balik ke tante lo sekarang sebelum gue laporin ke bagian keamanan karena berisik di depan ruang dokter."
Ayra yang mendengar itu hanya bisa tertegun. Ia tidak menyangka Alano akan seberani dan sedingin itu kepada salah satu penggemar beratnya. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, lebih nyaman daripada bedak salisil mana pun.
"Nomor antrean 15, Ayrania Johan!" panggil suster dari dalam ruangan.
Alano membantu Ayra berdiri. Saat mereka melewati Adinda yang masih mematung dengan wajah kesal, Alano sama sekali tidak menoleh. Ia hanya fokus pada Ayra.
Di dalam ruangan, dokter memeriksa punggung Ayra. "Ini alergi protein laut ya, ditambah suhu udara yang panas. Jangan digaruk ya, Mbak. Saya kasih salep dan obat minum untuk meredakan gatalnya."
"Tuh kan, Ay. Bandel sih," ucap Alano sambil memperhatikan dokter menulis resep.
"Iya, maaf," bisik Ayra pelan.
Setelah selesai, mereka keluar dari ruangan. Adinda sudah tidak ada di sana, mungkin sudah pergi karena malu. Alano menuntun Ayra menuju apotek rumah sakit.
Sambil menunggu obat disiapkan, mereka duduk di pojok apotek yang lebih tenang. Alano mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah cokelat batangan kecil yang tadi ia janjikan.
"Nih, obat gatal paling ampuh versi gue," ucap Alano sambil menyodorkan cokelat itu.
Ayra menerimanya dengan senyum tipis. "Makasih, Lan. Dan... makasih juga buat yang tadi."
"Yang mana? Ngusir Adinda?" Alano terkekeh. "Ay, lo harus tau satu hal. Mau ada seribu Adinda, sepuluh ribu Siska, atau siapa pun yang teriak-teriak manggil nama gue, gue cuma punya satu telinga yang dengerin lo, dan satu mata yang ngeliat lo."
Ayra menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik kerah jaket Alano. "Gombal."
"Gombal tapi lo suka kan?" Alano mencolek hidung Ayra. "Ayo pulang. Habis ini minum obat, terus tidur. Besok gue jemput pagi-pagi, nggak ada penolakan dari Ibu Sekretaris."
Malam itu, Ayra menyadari bahwa rumah sakit yang tadinya terasa menakutkan dan penuh gatal, berubah menjadi tempat yang manis. Di bawah lampu neon rumah sakit, ia tahu bahwa Alano bukan hanya kapten di lapangan basket, tapi juga kapten yang menjaga hatinya dari segala gangguan "ayam kejepit" maupun fans fanatik lainnya.