Ada batasan, ada aturan, namun juga ada cinta yang menggoda Dalilah sewaktu SMA. Bisakah ia menjalaninya mengingat dia bukan remaja biasa yang sanggup bertindak semaunya.
“Berikan aku sedikit kebebasan, Ayahanda!”
“Tidak, putriku. Aturan sudah mendarah daging dalam aliran darahmu sebelum kamu lahir.”
Mujurkah Dalilah menjalani kisah cinta pertamanya dengan Revi, ketua OSIS yang mengajaknya menikmati gejolak masa remaja? Beranikah dia menentang aturan yang mengakar di darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Gamelan adalah alat musik tradisional yang tidak bisa lepas dari kehidupan kami para penari tradisional. Tabuhan kendang, ketukan kenong, dan paduan alat musik lainnya kadang membuatku terlena saat menari.
Irama musik ini indah, musik ini mahal, namun musik ini nyaris langka. Dan, entah kenapa musik yang dihasilkan oleh alat tradisional gamelan ini juga dibilang supra rasional.
Aku tersenyum simpul saat Bimo tersenyum kepadaku. Kenapa Bim? Tidakkah kamu takut tersesat, seperti aku yang kini sedang tersesat dilabirin yang aku ciptakan sendiri.
Bimo tersenyum lagi. Sumpah, senyumannya itu memabukkan.
Jarang-jarang ia tersenyum manis sekali seperti itu. Tiga tahun lebih, mataku hanya menangkap sekelebat senyuman kaku karena perangainya yang cool dan cuek. Kini senyuman itu membuatku salah tingkah, salah kaprah. Gerakan tarianku menyalahi aturan pakem-pakem dalam menari.
***
Aku duduk bersimpuh di hadapan Ibunda sembari mengatupkan kedua tanganku di atas kepala.
"Maaf Ibunda, Lilah melakukan kesalahan."
Ibunda tersenyum lalu mengelus bahuku, menenangkan.
"Tidak apa-apa. Melakukan sekali kesalahan itu wajar. Gerogi ya karena ada mas Bimo?"
Aku menggigit bibirku dan mengangguk, "Malu. Bimo bikin salting!"
Ibunda tersenyum senang dengan bibir yang masih mengatup rapat.
"Memang kenapa kalau Bimo bikin Mbak Lilah salting. Mbak sedang berbunga-bunga?"
Berbunga-bunga? Yang ada aku ini adalah bunga kamboja yang masih menguncup dan belum merekah sempurna.
Aku menggeleng sambil berkata dengan lirih, "Bagaimana rasanya jatuh cinta Ibunda?" tanyaku setelah mengedarkan pandangan dan memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan ini. Karena beberapa sepupuku masih ada di sekitar bangsal keraton, beberapa sinden dan abdi dalem masih berada di belakang alat musik gamelan.
"Berbunga-bunga." jawab Ibunda. Mata Ibunda berbinar senang.
"Hanya itu saja?" tanyaku tak percaya.
"Jatuh cinta dan patah hati itu satu paket komplit Mbak. Mbak Lilah siap jatuh cinta, artinya Mbak juga siap patah hati. Ibaratnya, bunga yang sedang merekah itu seperti tanda cinta. Wangi, indah, dan menggoda. Sedangkan bunga yang sudah layu itu seperti cinta yang sudah tamat, berakhir dan kering."
Mendengar kata itu aku jadi pusing sendiri. Mana Ibunda ada-ada saja mengibaratkan cinta seperti bunga.
Aku mengangguk saja, setelahnya aku berpamitan dengan Ibunda untuk menemui Bimo.
"Hati-hati Mbak."
"Hati-hati kenapa, Bun?"
"Hati-hati nanti jatuh hati."
Ibunda mengulum senyum. Beruntung aku punya Ibunda yang sok gaul ini. Jadi aku tidak sungkan untuk menanyakan hal-hal yang tak kasat mata seperti cinta.
Aku keluar dari bangsal keraton. Ku lihat, Bimo masih berdiri mengenakan busana ageman seperti abdi dalem. Ia berbincang-bincang dengan Suryawijaya dan beberapa sepupuku yang lain. Termasuk si kembar, bule Ausie.
"Jadi gak, Bim?" tanyaku setelah berada didekatnya.
"Jadi. Tapi apa aku boleh mengambil foto kalian dulu? Jarang-jarang aku bertemu dengan bule yang bisa menari. Tadi bagus sekali."
"Keluarga kami memang banyak bulenya, tepatnya bule Australian. Dia, Arkananta dan Mahardika. Anak Om Sadewa dan Tante Irene, terus yang kembar cewek tadi, yang aku tabrak saat nari itu anak Om Nakula. Sherina dan Shenina."
Bimo mengangguk paham. Kalau aku jabarkan dengan baik keturunan Eyang Kakung pasti Bimo bingung. Karena anak Eyang ada sebelas dan aku tahu kenapa bisa banyak.
Eyang kakungku memang hanya satu, tapi Eyang putriku empat. Setahuku hanya itu, karena hanya empat orang yang kadang mengunjungiku di sini.
"Aku heran sama kamu, Bim! Kenapa sih setiap kamu kesini pasti slalu bawa kamera. Minta foto, terus di unduh di sosial media. Mau pansos karena dekat dengan kami!"
"Ow... ow... Jangan galak-galak sister!" sahut Mahardika. Mata silver dan pemilik rambut coklat ikal itu mengerjap usil.
"Kami bakal ikut kok Mbak. Lagian papa sama mama baru rembukan dengan Kanjeng Sultan di ruang keluarga. Kami juga tau kalau Mbak Lilah gerogi berduaan dengan mas Bimo."
Aku mendengus kesal. Si kembar ini tersenyum jenaka. Begitu juga Suryawijaya. Mereka menggodaku terang-terangan di hadapan laki-laki itu langsung.
"Huh!"
"Boleh enggak?" tanya Bimo sekali lagi.
Aku menatap Bimo. Tatapannya membuatku tersipu. Aku menunduk.
Ku lepas selendang yang masih aku kenakan.
"Simpan saja selendangku sebagai ganti dari foto bersama. Fotomu saja yang my little poem sudah membuat gosip miring. Apalagi foto bersama keluarga yang lainnya." Aku menaruh selendang ku yang berwarna kuning ke bahu Bimo.
Bimo menariknya, mengendus aromanya lalu diamati baik-baik motif selendang yang aku berikan. Selendang atau sampur memang benda keramat yang tidak bisa jauh dari seorang penari. Maka, selendang itu lebih penting ketimbang foto bersama. Lagipula yang diperlukan Bimo jika ingin berlatih menari adalah selendang. Dan, selendang itu aku anggap restu dariku agar ia giat berlatih menarinya.
"Terimakasih, aku akan menggunakannya nanti." Seulas senyum terbit di bibir Bimo. Seulas senyum usil juga terbit di bibir adik dan sepupuku.
Aku melangkah terlebih dahulu melewati jalanan konblok, memutari sebuah taman, pancuran air, pohon Angsana, dan tibalah aku di sanggar tari.
Aku berbalik.
Suryawijaya dan si kembar menahan senyum saat melihatku, "Ada apa?"
"Mbak cocok jadi tour guide." ujar Arkananta riang.
"Tadi adalah jalanan paling rumit yang kita lalui. Bahkan kita tinggal mengikuti jalanan konblok juga pasti akan sampai ke sini. Tidak perlu memutari pohon dan pancuran air. Buang-buang waktu saja!" timpal Suryawijaya.
Aku menatap Bimo, "Disini kamu bisa berlatih menarinya, ada Eyang Surati, ada Bu Dibyo, atau Mas Wahyu. Penggiat budaya juga seorang mahasiswa."
Bimo mengangguk paham, "Terimakasih sudah membantuku. Nanti aku akan menemui salah satunya."
Aku tersenyum, "Oke, aku harus kembali ke rumah. Ada tugas sekolah yang harus aku kerjakan."
Bimo mengangguk tanpa berkata-kata lagi. Dengan langkah pasti, aku menghindar dari hadapan mereka berempat. Biarlah, ia ngobrol dengan Suryawijaya dan si kembar. Lagipula, aku ingin tahu dimana laki-laki yang membuatku dongkol seharian. Dan, kedongkolan itu benar-benar terjadi keesokan harinya. Di sekolah.
Masih gak nyangka ya Revi...
Kalau sdh berjodoh, semesta merestui, berpisah 7 tahun pun akhirnya dipertemukan dan menjalani hari2 yg takpasti, akhirnya ijab kabul terlaksana. Selamat bercanggung-canggung ria mas Jati dan dik Lilah dlm menjalani MP.