Aruna, dokter bedah jenius dari masa depan, terbangun di tubuh Lin Xi, seorang putri terbuang yang dihukum mati karena fitnah. Di dunia yang memuja kekuatan kultivasi, Lin Xi dianggap "sampah" karena jalur energinya hancur.
Namun, bagi Aruna, tak ada yang tak bisa disembuhkan oleh pisau bedahnya. Menggunakan ilmu medis modern, ia memperbaiki tubuhnya sendiri dan bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas dendam.Takdir mempertemukannya dengan Kaisar Yan, penguasa kejam yang sekarat karena kutukan darah. Dengan satu tusukan jarum, Aruna menyelamatkannya dan memulai kontrak berbahaya: Aruna menjadi tabib pribadinya, dan sang Kaisar menjadi tameng bagi balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panen Obat
Setelah Kaisar Yan, begitu aku memanggilnya di dalam hati—memutuskan untuk beristirahat sejenak guna memulihkan sisa energinya, aku tidak mau membuang waktu. Tubuhku yang sekarang memang sudah lebih baik, tapi untuk benar-benar menghancurkan keluarga Lin, aku butuh "modal". Dan di dunia kultivasi ini, modal terbaik selain kekuatan adalah obat-obatan langka.
"Kaisar Yan, aku mau keliling sebentar cari tanaman obat. Jangan mati dulu sebelum kita sampai ke kota," kata Lin Xi santai sambil menepuk bahunya.
Pria itu hanya melirikku dengan tatapan datar yang dingin. "Hutan Terlarang ini penuh dengan binatang buas tingkat tinggi. Jangan salahkan aku kalau kau jadi camilan mereka."
Lin Xi hanya nyengir. "Tenang saja. Aku ini dokter, aku tahu mana yang bisa dimakan dan mana yang bisa membunuh."
Lin Xi melangkah masuk lebih dalam ke area hutan yang belum terjamah. Hawa di sini jauh lebih dingin, dan kabut tipis mulai menutupi pandangan. Tapi bagi Lin Xi, ini bukan hutan seram, ini adalah ladang obat gratis. Sebagai ahli medis dari masa depan, Lin Xi bisa mendeteksi tanaman berharga bahkan dari jarak jauh.
Srekk... srekk...
Lin Xi menyibak semak berduri dan mataku langsung berbinar. "Wah, ini kan Rumput Embun Surga!"
Tanaman kecil berwarna biru bening itu tumbuh di sela-sela akar pohon tua. Di pasar gelap, satu helai daun ini bisa dihargai ratusan keping emas karena fungsinya yang hebat untuk membersihkan racun di dalam darah. Tanpa ragu, aku mencabutnya dengan hati-hati agar akarnya tidak rusak.
"Satu... dua... lima helai! Lumayan buat persediaan," gumam Lin Xi puas.
Lin Xi terus berjalan menyusuri tebing curam. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang lebih besar di bawah sana. Benar saja, di dekat sebuah air terjun kecil yang tersembunyi, ia melihat cahaya kemerahan yang sangat terang.
"Gila! Itu Teratai Api Sembilan Kelopak?" jantung Lin Xi berdegup kencang.
Teratai itu tumbuh tepat di tengah kolam air panas yang berasap. Tanaman ini adalah harta karun bagi para kultivator berelemen api. Jika ia bisa meraciknya menjadi pil, kekuatan fisikku bisa naik satu tingkat secara instan.
Tapi, Lin Xi tahu hukum alam di dunia ini: di mana ada harta, di situ ada penjaga.
Benar saja, saat kakinya baru mau melangkah mendekati kolam, air meledak ke atas. Sesosok ular raksasa dengan sisik berwarna hijau tua muncul. Matanya yang kuning vertikal menatapku dengan haus darah. Ini adalah Ular Sanca Hijau, binatang tingkat dua yang racunnya bisa melumerkan daging manusia dalam hitungan detik.
"Sssshhh!" ular itu menjulurkan lidahnya, bersiap menyerang.
Lin Xi menarik napas dalam-dalam. Kalau ia pakai otot, pasti kalah. Lin Xi masih lemah dalam hal tenaga kasar. Tapi, ia punya otak. Ia melihat ke sekeliling dan menemukan tanaman Bunga Tidur yang tumbuh liar di dekat kakiku. Bunga ini punya serbuk sari yang bisa bikin pingsan bahkan gajah sekalipun kalau dibakar.
"Oke, ular cantik. Mari kita main pintar," bisiknya.
Lin Xi mengambil korek api darurat (sebenarnya sebuah batu api yang ia temukan di saku baju Lin Xi yang lama) dan membakar tumpukan bunga kering bersama serbuk sari bunga tidur itu. Angin bertiup tepat ke arah si ular.
Ular itu awalnya bingung, tapi saat dia menghirup asap harum itu, gerakannya mulai melambat. Matanya yang tajam mulai terlihat layu. Di saat itulah, aku bergerak secepat kilat. Aku tidak menyerang badannya yang keras, tapi aku melempar sebilah kayu tajam yang sudah aku olesi getah pohon beracun tepat ke arah lubang pernapasan di dekat matanya.
Jlep!
"Ssssaaaaakkk!" ular itu menggelepar hebat sebelum akhirnya ambruk ke tanah dan pingsan.
"Maaf ya, ular. Aku cuma butuh bunganya, bukan nyawamu," kata Lin Xi sambil buru-buru memetik Teratai Api itu.
Rasanya panas sekali saat menyentuh tangannta, tapi ia segera membungkusnya dengan daun lebar agar energinya tidak menguap. Selain teratai, aku juga memanen beberapa Jamur Lingzhi Ungu yang menempel di pohon-pohon sekitar. Jamur ini bagus untuk memperkuat tulang dan otot.
Setelah merasa tas kain buatan(yang ia bikin dari robekan baju luar) sudah penuh, Lin Xi mutusin buat balik ke tempat Yan. Tapi di tengah jalan, aku mencium bau harum yang sangat manis, tapi menusuk.
Tunggu... ini bau Buah Rohani Penembus Batas!
Buah ini sangat langka. Fungsinya sesuai namanya: membantu kultivator yang macet di satu tingkat untuk langsung tembus ke tingkat berikutnya. Lin Xi menemukannya di atas pohon tinggi yang dilingkari tanaman merambat.
Lin Xi memanjat pohon itu dengan lincah. Setelah berhasil memetik buahnya, aku mencoba memakannya satu gigitan kecil.
BOOM!
Energi panas langsung menjalar dari kerongkongannya ke seluruh pembuluh darah. Rasanya seperti ada aliran listrik yang menari-nari di nadiku. Lin Xi segera duduk bersila di atas dahan pohon itu dan mulai bermeditasi.
"Gila, energinya kuat banget!" ucap Lin Xi berkeringat dingin.
Lin Xi fokus mengarahkan energi itu menuju Dantian (pusat energi di perut). Ia bisa merasakan jalur energiku yang tadinya tipis sekarang mulai menebal dan menguat. Suara krak terdengar dari dalam tubuhnya—tanda bahwa ia baru saja berhasil menembus ke Tingkat Penguatan Otot.
Sekarang, ia merasa sepuluh kali lebih kuat dari sebelumnya. Gerakannya lebih ringan, dan pandangannya lebih tajam. Lin Xi turun dari pohon dengan sekali lompat tanpa merasa sakit sedikit pun.
Saat ia kembali ke gua tempat Yan berada, ia melihat dia sudah berdiri tegak. Wajahnya tidak sepucat tadi, tapi matanya masih terlihat waspada.
"Kau lama sekali. Aku hampir mengira kau sudah jadi kotoran binatang," kata Kaisar Yang dengan nada ketus, tapi Lin Xi bisa melihat dia sedikit lega melihatnya balik.
Lin Xi melemparkan salah satu Jamur Lingzhi ke arahnya. "Nih, makan. Bagus buat memulihkan tenaga dalem lo yang berantakan itu."
Yan menangkap jamur itu dengan satu tangan. Dia melihat jamur itu, lalu melihatku dengan heran. "Jamur Lingzhi Ungu? Kau tahu betapa mahalnya ini di luar sana?"
"Tahu. Tapi nyawa kita lebih mahal, kan?" Lin Xi duduk di depannya sambil mulai menyusun hasil panenku. "Besok pagi kita keluar dari hutan ini. Aku sudah punya cukup 'bahan' buat bikin keributan di rumah Jenderal Lin."
Yan duduk di depan Lin Xi, memperhatikan ia yang sibuk menghancurkan tanaman obat menggunakan batu. "Kau benar-benar berbeda dari Lin Xi yang aku dengar dalam laporan."
Lin Xi berhenti sejenak, menatap matanya yang berwarna merah gelap itu. "Dunia ini keras,Kaisar. Kalau aku tetap jadi Lin Xi yang dulu, aku pasti sudah jadi kerangka di dalam peti itu sekarang. Aku memilih untuk hidup, dan siapa pun yang mencoba membunuhku lagi, mereka akan tahu rasanya dikubur hidup-hidup."
Yan terdiam. Dia melihat api unggun yang memantul di mataku yang tajam. Untuk pertama kalinya, sang Kaisar tiran ini merasa bahwa gadis di depannya bukan sekadar "tabib sampah", tapi seorang dewi yang baru bangun dari tidurnya.
"Baiklah, Lin Xi. Aku akan melihat sejauh mana kau bisa mengguncang dunia ini,dan panggil aku Yang saja, " ucap Yan pelan.
Malam itu, di tengah Hutan Terlarang yang mematikan, Lin Xi merasa sangat puas. Ia punya obat, aku punya kekuatan baru, dan ia punya sekutu yang sangat kuat (meskipun dia agak menyebalkan).
Beberapa hari lagi, keluarga Lin akan melihat hantu yang mereka ciptakan sendiri datang untuk menagih hutang darah. Dan akan aku pastikan operasi balas dendam ini berjalan sangat mulus tanpa cacat.
"Tunggu aku, Jenderal Lin. Putri 'sampahmu' ini pulang membawa jarum maut."