NovelToon NovelToon
Lelaki Manipulatif

Lelaki Manipulatif

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Duda / Berbaikan
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Silviriani

Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.

Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.

Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adel.

Guno masih terbaring lemah di atas kasur yang ia sewa sebesar lima ratus ribu rupiah, tatapannya menatap langit kamar dan bibirnya senyum merekah seperti sudah mendapatkan undian. Perlahan matanya ia pejamkan, dia membayangkan kembali gambaran Tama yang liar diatasnya tadi " Belajar darimana dia? " Tanyanya pada diri sendiri.

Deburan air dari dalam kamar mandi terdengar begitu keras sampai ke telinganya dan itu membuat hasrat ia naik lagi.

" Dasar perempuan licik! Maunya main aman, mahkota mu harus ku rebut suatu saat nanti "

Itu janji Guno pada dirinya sendiri, tak lama Tama keluar dari kamar mandi dia sudah berpakaian lengkap dan rapih. Guno melirik " Mau kemana sudah rapih? " Pun Tama menjawab sembari membereskan tasnya " Mau pulanglah, masa tidur disini ".

Guno kembali memejamkan kedua matanya.

" Ibu mu bakal curiga kalau pulang rambut basah habis keramas "

" Enggak dong! Kan aku pakai hair dryer "

" Pakai tapi dirumahmu kan? "

" Iya, aku lupa gak bawa "

Guno tersenyum

" Mau makan diluar dulu gak? "

" Makan apa? "

" Apa saja yang kamu mau "

" Misalnya nasi goreng? "

" Boleh! "

Tama tersenyum kemudian dia menganggukkan kepalanya.

" Baiklah, aku mau! "

Pun mereka bersiap untuk cek out dari penginapan.

" Kamu keluar lebih dulu, ini kunci mobilnya. Kamu tunggu disana aku mau ke resepsionis " ucap Guno sembari memberikan kunci mobil.

Tama mengangguk tegas pun dia langsung pergi dari hadapan Guno. Kini saatnya Guno untuk cek out. Dia berjalan menuju resepsionis, rupanya perempuan dengan tinggi 160cm, memakai pakaian seragam serba hitam, dengan rambut diikat cepol tengah berdiri menerima telpon yang Guno sendiri tidak tahu dari siapa.

Terpaksa Guno pun harus menunggu resepsionis tersebut sampai selesai menerima teleponnya. Mungkin sekitar tiga menit berlalu barulah resepsionis itu menyimpan telepon dan pandangannya beralih ke wajah Guno.

" Iya ada yang bisa saya bantu pak? "

" Saya mau cek out kak "

" Baik atas nama bapak? "

" Guno, kamar 100! "

Pun resepsionis itu langsung mengetik namanya untuk mengecek apakah benar Guno cek in dengan kamar tersebut, tak lama menunggu namanya muncul, resepsionis itu langsung mengatakan.

" Oh iya pak, sisa waktu lima jam lagi. Apakah tidak sayang untuk mengakhiri? "

" Sebenarnya sayang sih tapi mau bagaimana lagi, lama - lama dikamar juga untuk apa? "

" Untuk beristirahat dong pak "

" Pacar saya gak mau, jadi... "

Guno memonyongkan mulutnya kemudian resepsionis itu tersenyum dan ternyata senyumannya menembus ke hati Guno! Dia sempat terpesona memandang cantiknya perempuan itu, mata Guno beralih dari wajah ke tanda pengenal yang tertempel di dada milik resepsionis tersebut.

" A... del... " Guno membacanya.

Pun Adel langsung membulatkan matanya dan melihat tanda pengenal sekilas.

" Pak... " Ucapnya malu.

" Kamu cantik Adel, saya suka "

Pipi Adel merah merona dan senyumannya semakin merekah.

" Boleh saya minta nomor handphone mu? "

" Ah! Tidak pak, maaf "

Guno tersenyum

" Baiklah, tidak apa. Namanya juga pertama kali ketemu, terimakasih ya. Permisi "

Adel menganggukkan kepalanya sembari tersenyum dan kedua tangannya menyatu. Guno menghembuskan nafas beratnya, sembari melangkah dia jadi kepikiran soal Hana " Hana kalau masih hidup, dia bakalan marah nggak ya kalau lihat gue kayak tadi? " Tanya Guno kepada dirinya sendiri sembari sesekali melihat ke langit seolah Hana sedang berada di sana melihatnya.

Hati yang tadinya bahagia karena hasrat sudah dipuaskan oleh Tama kemudian dia juga sempat merayu wanita lain tiba-tiba menjadi sedih dan wajahnya jadi murung.

Mungkin Guno merasa bersalah karena dia telah memainkan perempuan, pun Guno mengingat janji yang dianjurkan Hana waktu itu sebelum dirinya berpulang. Guno masuk kedalam mobilnya, dia memandang jalanan dengan sedikit mendongakan wajah untuk menahan air matanya yang perlahan menggenang dimatanya.

Tama yang sedang memainkan handphone-nya bertanya " Kita mau makan nasi goreng yang dimana? " Namun Guno tak bergeming dia masih dengan posisinya yang itu. Tentu hal tersebut membuat Tama langsung memandang wajahnya " pak, kita mau... Bapak kenapa? " Tama terkejut kalau ternyata Guno sedang menangis. Sehebat apapun Guno menahan pada akhirnya tangis Guno pecah juga.

" Pak! " Tama memegang lengan Guno.

Tama mengambil beberapa tisu yang ada di tasnya lalu di usapkan ke wajah Guno.

" Pak, bapak kenapa? " Tanya Tama lagi.

Kini Guno menundukkan wajahnya

" Saya malu Tam sama kamu "

" Malu, Malu kenapa? "

" Gak tahu saya malu! "

Tama hanya bisa mengusap kedua bahu Guno.

" Daripada kita makan diluar mending kita pulang saja ya, supaya dirumah bapak bisa lebih tenang "

" Gak kita harus tetap makan "

" Gak pak, bapak harus pulang "

" Kita makan! Kita habiskan nasi goreng Simpang "

Tama tentu terheran dengan keputusan Guno, dia jadi bingung sendiri karenanya.

" Kenapa sih? Aneh banget! Pikirannya gak bisa ditebak " ucap Tama didalam hati.

Guno membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi tentu itu membuat Tama semakin kebingungan dengan sikap Guno. Tangannya memegang pegangan yang tertera di atap mobil, hatinya seolah tengah melayang diatas awan. Pun, sesekali Tama memejamkan matanya.

" Ya tuhan!!! Aku belum kawin jangan dulu mati!! " Teriak Tama.

Kening Guno menekuk, matanya tajam menatap jalan, bantingan setirnya terlihat sangat handal sekali. Tapi tetap, sepandai apapun Guno membawa mobilnya itu kesialan datang juga. Dia menyerempet pengendara lain untungnya tidak sampai terjatuh hanya oleng saja. Guno tidak turun untuk meminta maaf atau melihat keadaan pengendara itu, Dia terus melaju dan sampai ke tempat yang dituju.

Rem pun mendadak dan itu membuat tubuh mereka sedikit memantul kedepan. Rambut Tama sudah tak karuan sedangkan Guno perasaanya sedikit lega bisa melampiaskan kesedihannya dijalanan.

Tama melemahkan dirinya dikursi mobil sembari sesekali membuang nafas ke udara.

" Gimana? " Tanya Guno tiba - tiba.

Tama melambaikan tangannya, dia menyerah dengan sikap Guno yang arogan dijalan.

" Bapak kenapa sih? "

" Saya? Saya hanya melampiaskan kekesalan saya saja "

" Kenapa tiba - tiba kesal, gara - gara saya? "

Guno hanya menyunggingkan bibirnya pun Tama membenarkan duduk lalu menyisir rambut menggunakan jari - jarinya.

" Hari ini kita makan sepuasnya disini! Harus sampai habis kalau gak habis... Kamu... Akan saya hukum! " Ucap Guno yang kemudian dia membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari dalam mobil tanpa menunggu Tama terlebih dahulu.

Tama melihat tubuh pria itu berjalan menemui kasirnya " langsung pesan? Fuck! " Ucap Tama pada dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!