"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.
"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.
"Baiklah, kalian jaga pintu depan."
Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.
Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.
Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.
Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.
"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."
UPDATE SETIAP HARI!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Teman Lama
Tidak hanya uang 200 ribu yang Dira berikan pada warga yang membantunya bersih bersih rumah.
Tapi...
"Bu... Apa di sini ada yang jual makanan enak?" Tanya Dira menghela nafas pendek. Karena meskipun hanya membantu sedikit, sudah menggunakan masker juga yang namanya debu masih bisa menyelinap masuk ke hidung dan mulutnya.
"Mau makanan seperti apa? Di sini kampung, ya makanan enaknya gak seperti yang di Jakarta." Ucap seorang Ibu bernama Wati.
"Tidak masalah Bu Wati, saya bukan pemilih makanan." Ucap Dira lalu menyerahkan sepuluh lembar uang seratus ribu kepada Bu Wati.
"Beli nasi dan lauk pauknya untuk kita semua makan." Lanjutnya.
"Walah Mbak niki nggih kekathahen." Kemudian Bu Wati mengembalikan tujuh lembar dan dibawanya tiga lembar.
"Niki lo taseh wonten wangusulanipun." Ucap Bu Wati lagi membuat Dira terbengong karena tidak paham.
"Maaf Bu saya tidak mengerti." Ucap Dira sambil tersenyum malu.
Pluukkk
"Ya Ampun, maaf Mbak saya lupa." Jawab Bu Wati.
"Tiga ratus ribu sudah cukup Mbak, nanti juga masih ada kembaliannya." Ucap Bu Wati lagi.
"Baiklah terserah Ibu saja, beli lauk yang lengkap ya Bu. Sekarang sudah sore, Ibu Ibu semua pasti capek membantu saya. Kalau bisa beli lauk yang banyakan biar bisa dibawa pulang jika ada lebihnya." Ucap Dira.
Dengan semangat 45, Bu Wati perempuan bertubuh gempal itu berjalan cepat menuju warung nasi yang ada di ujung jalan kampung.
Saat melewati rumah Juragan Karsa, Bu Wati melihat Bu Ningsih istrinya Juragan Karsa mau pergi.
"Sungeng Sonten Bu Ningsih, njenengan badhe tindakan teng pundi niki? (Selamat Sore Bu Ningsih, Anda mau pergi ke mana ini?)" Tanya Bu Wati dengan sopan.
"Bukan aku yang mau keluar, tapi Erlangga dan Mirna yang mau ke kota membeli kebaya untuk acara pernikahan mereka nanti." Ucap Bu Ningsih berwajah angkuh.
"Mereka jadi nikah kapan Bu?" Tanya Bu Wati mendadak kepo.
"Bulan depan." Jawab Bu Ningsih.
"Nggih sampun Bu Ningsih, kulo riyin badhe tumbas sekul kathah. (Ya sudah Bu Ningsih, saya duluan mau beli nasi banyak.)" Ucap Bu Wati langsung ngacir.
"Dasar wong mlarat. (Dasar orang miskin.)" Maki Bu Ningsih sombong.
Kemudian, Bu Ningsih memanggil Erlangga dan Mirna yang tak kunjung keluar padahal mobil sudah siap.
"Angga... Mirna... Kalian mau pergi jam berapa? Sekarang sudah jam 4 sore, belum perjalanan ke Kota bisa lama karena jalanan yang rusak." Teriak Ibu Ningsih.
"Iya Bu." Jawab datar Erlangga.
Tanpa bicara lagi pria berkulit sawo matang dengan wajah manis itu masuk ke dalam mobil disusul oleh Mirna di sampingnya.
"Mas Angga, kamu sepertinya tidak suka menikah denganku." Ucap Mirna.
Erlangga tetap diam dengan mempertahankan wajah datar di depan Mirna.
"Padahal apa kurangnya aku, sudah cantik, perawat, dan yang jelas harta warisanku banyak. Kamu beruntung bisa menikah denganku. Jadi... Jangan pernah menampakkan wajah datarmu di hadapan keluarga besarku." Sambung Mirna.
"Apalagi Pria sepertimu, yang tidak punya latar belakang keluarga yang jelas sudah seharusnya membalas budi Budhe Ningsih dan Pakdhe Karsa yang telah memungutmu."
Ciittt...
Erlangga tiba-tiba mengerem mobil mendadak, membuat Mirna terkejut melihat kemarahan calon suaminya yang terlihat menakutkan. Karena ucapan Mirna sudah melukai harga diri seorang Erlangga Aditya.
Dengan gerakan kasar Erlangga keluar mobil, tapi sebelum pergi Dia menatap tajam Mirna lalu berkata. "Jangan pernah bicara keterlaluan, karena aku tidak pernah minta dipungut. Jika darahku bisa membalas budi keluargamu, maka bunuh saja aku."
Usai mengucapkan kalimat yang menyakitkan, Erlangga lalu pergi berjalan kaki. Meninggalkan Mirna yang berteriak kesal.
"Erlangga... Kamu mau pergi ke mana? Kembali Brengsek!" Marah Mirna.
Mirna bingung di dalam mobil, pasalnya dia tidak bisa menyetir. Sedangkan mobil diberhentikan Erlangga tepat di jalanan tengah kebun jagung. Mana langit sudah mendekati senja, di Kampung waktu seperti ini sering disebut surup yang akan sepi dari aktivitas para warga.
"Kurang ajar beraninya dia meninggalkanku. Aku harus memberi dia pelajaran. Hanya Pakdhe Karsa yang ditakuti, aku harus membuat Pakdhe menghukumnya. Supaya Erlangga tahu, posisinya di Keluarga Kusumo apa?" Ucap Mirna.
Kemudian Mirna menelpon Juragan Karsa dan membuat cerita penuh kepalsuan. Terdengar suara Pakdhe Karsa marah, dan itu cukup membuatnya senang.
Sementara itu Erlangga terus berjalan dengan hati yang mulai gelap. Bertahun-tahun hidup dengan keluarga angkat yang menganggapnya bukan keluarga. Terus menerus mengungkit hutang budi, padahal dia tidak minta dipungut. Erlangga tidak minta dibelas kasihi jika pada akhirnya dijadikan tumbal. Harus menikahi wanita yang sama sekali tidak pernah dia cintai.
Kebetulan mobil Dira melewati Erlangga. Tapi, karena tidak kenal dan takut jika Erlangga orang jahat yang sengaja ingin mencari korban. Dira ingin tetap mengabaikan Erlangga.
"Tunggu..." Erlangga berlari mengejar mobil Dira sambil melambai-lambaikan tangan.
Dira melihatnya dari kaca spion, "Apa pria itu sengaja mengejarku? Apa dia memang mencari tumpangan?"
Jiwa sosial Dira meronta-ronta, tidak tega jika melihat ada orang yang sedang meminta bantuannya. Kemudian Dira memelankan laju mobilnya supaya pria itu bisa menyusulnya.
Erlangga berlari begitu melihat jika mobil Dira sengaja memelankan lajunya.
"Mas mau ke mana? Mau ke kota ya?" Tanya Dira.
"Dira... Kamu beneran Dira kan?"
"Mas mengenalku? Nanti kita bicara lagi, masuk mobil dulu mas." Ucap Dira ramah, ketakutan yang sempat mampir langsung hilang setelah melihat wajah Erlangga yang teduh. Tidak mungkin pria sepertinya akan berbuat jahat, itu pemikiran Dira.
Kemudian perlahan Dira kembali menginjak pedal gas supaya mobilnya bergerak lebih cepat daripada laju sebelumnya.
"Dira... Kamu Candira Anandini kan? Mahasiswi Managemen Bisnis Universitas Indonesia?" Tanya Erlangga dengan wajah penasaran.
"Kok kamu kenal aku? Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Padahal aku baru sehari sampai Yogyakarta."
"Aku Erlangga Aditya kakak tingkatmu waktu kuliah dulu, tapi kita beda jurusan. Kita kenal karena pernah satu organisasi." Ucap Erlangga.
Sambil mengemudikan mobil, Dira mengingat masa kuliah beberapa tahun lalu.
"Apa kamu Kak Elang?" Akhirnya Dira bisa mengingat siapa Erlangga.
Wajar jika Dira melupakan Erlangga, karena selain penampilannya yang berubah. Erlangga yang sekarang berkulit gelap, sedangkan dulu Erlangga berkulit bersih. Tidak berkacamata dan rambutnya tidak serapi sekarang. Sangat jauh berbeda.
"Iya aku Elang, Dira apa kabar?" Suara Erlangga sedikit tercekat. Ada rasa sesak bertemu Dira di saat yang tidak tepat.
"Kenapa dulu setelah wisuda, Kakak tiba-tiba menghilang?" Tanya Dira.
Dulu, Erlangga dan Dira cukup dekat. Tapi karena suatu hal, mereka terpisah jarak dan waktu. Hingga takdir mempertemukan mereka kembali.
Pada dasarnya, perilaku impulsif dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti saat sedang menghadapi stres atau situasi genting yang memerlukan respons cepat.
Namun, jika perilaku ini dilakukan secara terus-menerus atau telah menjadi bagian dari kepribadian seseorang, perilaku ini bisa menjadi gejala dari suatu gangguan mental.
Berpikir panjang sebelum berkata atau bertindak adalah kunci untuk menghindari penyesalan di kemudian hari.
Banyak masalah muncul dari kata-kata atau tindakan yang dilakukan tanpa pertimbangan matang.
Sebuah kata yang diucapkan dalam emosi, atau tindakan impulsif, dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk meluangkan waktu sejenak sebelum berbicara atau bertindak, merenungkan apa dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dengan bersikap lebih hati-hati, kita bisa menjaga hubungan, menghindari konflik yang tidak perlu, dan menjadi pribadi yang lebih dewasa.
please thor jodohin elang sama dira🫶
kl g jodoh harus di jodohkan, kan author yang buat cerita😂