Aneska Maheswari ratu bisnis kelas kakap yang di bunuh oleh rekan bisnisnya tapi dengan anehnya jiwanya masuk pada gadis desa yang di buang oleh keluarganya kemudian di paksa menikahi seorang pria lumpuh menggantikan adik tirinya .
Mampukah aneska membalaskan semua dendam dan menjalani kehidupan gadis buangan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila julia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.Penghinaan
HAPPY READING!!!
.
.
.
Arumi menyerahkan buku nikah serta beberapa berkas pernikahan lainnya kepada Raline sebelum mereka berangkat menuju rumah besar kediaman keluarga Pranoto.
Ya… akhirnya Raline ikut bersama Hendra setelah membuat kesepakatan dengannya saat di kampung. Ia bersedia ikut ke kota asalkan Hendra mau menyewa seorang perawat yang dapat menjaga Nenek Dewi selama kepergiannya. Nenek Dewi sudah renta dan sering sakit-sakitan. Meskipun di dalam tubuh ini bukan jiwa cucunya, tetapi Raline masih memiliki hati untuk menjaganya. Hendra menyetujuinya, dan setelah itu Raline membujuk Nenek Dewi agar mengizinkannya pergi ke kota bersama Hendra. Berkat bujukan Raline, Nenek Dewi pun akhirnya mengizinkannya.
“Enak sekali ya hidupmu. Datang ke kota langsung tercatat sebagai istri sah anak sulung keluarga kaya raya. Kamu tidak perlu lagi beternak sapi, kambing, atau ayam di kampung. Tinggal duduk manis, uang akan datang dengan sendirinya menghampirimu,” ejek Arumi sambil menekan gagang pintu mobilnya.
Namun sebelum Arumi masuk, Raline sudah lebih dulu menarik gagang pintu mobil dan menghempaskannya cukup kasar sebelum duduk di dalamnya.
“Ya… pelan-pelan lah. Ini mobil mahal,” teriak Arumi begitu masuk, lalu menatap Raline dengan tatapan tajam.
Namun Raline justru membalas tatapan itu lebih tajam, menusuk, seolah enggan kalah. “Sorry,” ucap Raline datar.
“Cih… tidak perlu berbicara layaknya anak kota. Gadis kampung sepertimu tidak pantas bicara seperti itu. Jangan karena kamu sekarang istri sah Tuan Raka kamu mengira dirimu adalah princess. Gadis kampung tetaplah gadis kampung,” ketus Arumi, kemudian menginjak gas dan melajukan mobilnya.
“Kenapa? Apa kamu iri karena derajatku sekarang lebih tinggi darimu? Pasalnya aku sudah menjadi bagian dari keluarga Pranoto, dan perusahaannya bahkan lebih besar dari perusahaan ayahmu,” ucap Raline tenang, namun menusuk.
“Cih… dia ayahmu juga. Lagi pula tidak perlu bersikap sombong, Raline. Kamu tidak tahu kalau pria yang kamu nikahi itu pria lumpuh. Dia tidak bisa apa-apa, dia tidak berguna. Bahkan, selain tidak berguna, orang-orang juga bilang kalau alat vitalnya pun tidak berguna karena kecelakaan yang dia alami,” jelas Arumi, kembali mengejeknya tanpa ampun.
"Apa keadaan pria itu separah yang dikatakan wanita ini? " batin Raline. Aku tidak pernah bertemu dengannya setelah dia berhasil mengalahkanku di tender perusahaan waktu itu, batinnya lagi, terasa getir.
“Kalau begitu, harusnya kamu tidak perlu iri. Kamu cukup melihat bagaimana enaknya hidupku di keluarga Pranoto setelah ini,” lanjut Raline dingin.
“Cih… aku yakin tidak butuh waktu sebulan. Tuan Raka pasti akan menceraikanmu dan mengusirmu dari keluarga Pranoto.”
“Baiklah, kalau begitu kita lihat saja nanti,” jawab Raline, suaranya tenang namun tegas.
"Sial, kata-katanya sangat menyebalkan. Kenapa dia bisa percaya diri seperti ini? Bahkan bertemu dengan Tuan Raka pun dia tidak pernah. Lihat saja, Raline. Kamu akan menyesal dan menarik kata-katamu setelah ini, "batin Arumi, penuh kebencian yang menggerogoti dadanya.
____
Brakk!
Arumi menutup pintu mobilnya dengan kasar, diikuti oleh Raline yang juga turun sambil menenteng satu tas dan tote bag berisi barang-barangnya.
“Bersikaplah baik. Jangan sampai keluarga Kusumawardani dicap jelek oleh keluarga Pranoto karena ulahmu,” ucap Arumi memperingatkan, nada suaranya dingin dan menusuk.
“Aku tahu itu, Arumi. Karena sikapku jauh lebih baik dibandingkan dirimu,” jawab Raline singkat. Ia melangkah berlenggok masuk ke dalam mansion mewah keluarga Pranoto, sama sekali tidak menghiraukan umpatan Arumi yang masih saja meneriakinya dari belakang.
Begitu memasuki rumah, Raline langsung disambut dengan ramah oleh kedua orang tua Raka.
Ratna Ayuningtyas merangkul bahu Raline dengan senyuman hangat, lalu menyuruhnya duduk di ruang tamu. Sentuhan itu membuat dada Raline terasa hangat, tetapi juga asing.
“Jadi kamu adalah anak pertama dari Hendra yang bertahun-tahun tinggal di desa itu?” tanya Gunawan begitu Raline duduk di kursi tamu.
“Benar, Pak,” jawab Raline sopan.
Namun Ratna segera menegurnya lembut.
“Mulai sekarang panggil kami berdua Mama dan Papa, ya. Karena sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Pranoto. Tenang saja, kami akan memperlakukanmu dengan baik. Kamu hanya perlu menjadi istri yang bisa menemani Raka dalam proses penyembuhannya,” jelas Ratna.
Raline mengangguk pelan. Ada rasa haru yang menelusup di dadanya, namun belum sempat kata-kata itu mendarat, dua saudara Raka datang dan sambutan hangat berubah menjadi pisau.
Prukk… prukk… prukk.
“Ohhh… jadi ini gadis kampung yang menjadi istri Kak Raka? Mama, lihatlah… penampilannya saja tidak pantas untuk menjadi bagian dari keluarga kita,” ucap Kirani Putri Pranoto, adik bungsu Raka yang masih berusia dua puluh satu tahun. Tatapannya menelusuk dari ujung kaki hingga kepala Raline, penuh penghinaan.
“Hei, gadis kampung! Jangan harap kami berdua mau mengakuimu sebagai kakak ipar kami. Melihat kamu berada di sini saja sudah membuatku muak dan ingin segera mengusirmu!” cecar Farel Mahesa Pratono, kepala divisi pemasaran di perusahaan Pranoto Corporation.
“Farel, Kania! Jaga ucapan kalian. Dia adalah istri kakak kalian!” tegas Gunawan, suaranya berat, memecah ketegangan.
“Papa jangan membela dia! Lagipula apa yang Papa harapkan dari menantu kampungan itu? Memangnya Papa tidak malu jika rekan bisnis Papa tahu Papa mengambil wanita kampungan untuk dijadikan menantu di keluarga Pranoto yang terhormat ini?” Farel masih saja melawan, nada suaranya meninggi.
“Dia adalah anak sulung dari keluarga Kusumawardani, Farel. Dia bukan gadis kampung biasa,” ucap Ratna tegas, namun tetap terkontrol.
“Tapi tetap saja, sekali gadis kampung tetap gadis kampung. Lihat saja pakaiannya, sama sekali tidak mencerminkan keeeganan keluarga kita, Ma,” saut Kania dengan tatapan merendahkan.
Raline memilih mengabaikan perdebatan itu. Ia justru sibuk memperhatikan deretan guci yang berjajar rapi di lemari kaca dekat ruang tamu. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya di sana lebih menarik daripada hinaan yang dilemparkan kepadanya.
Kania yang merasa diabaikan langsung mendorong Raline cukup keras hingga gadis itu sedikit terhuyung dan terhempas ke sisi sandaran kursi.
“Kamu mendengarkan aku atau tidak sih? Atau jangan-jangan selain kampungan, indra pendengaranmu juga bermasalah?” cecar Kania. Raline menghela napas kasar, menahan diri agar tidak terpancing.
“Aku mendengarmu. Tapi apa yang harus aku jawab? Perkataanmu bahkan tidak melukai harga diriku sedikit pun,” ucap Raline tenang. Ia kembali memalingkan wajah, mendekati guci yang sejak tadi mencuri perhatiannya. Tangannya terulur, menyentuh permukaan guci itu.
“Hey! Gadis kampung! Apa yang kamu lakukan? Itu guci hadiah ulang tahun Mama yang aku beli dari pacarku. Tangan dekilmu nanti bisa merusak keantikan guci itu!” seru Kania kesal.
“Benarkah ini barang antik?” tanya Raline, suaranya tenang, matanya tetap fokus pada guci itu.
“Tentu saja! Lagi pula, gadis kampung sepertimu mana mungkin mengerti barang-barang antik seperti ini. Kamu kan hanya tahu mengurus kambing, sapi, dan ayam. Hahaha…” tawa Kania pecah, dan Farel ikut tertawa mengejek.
Namun lagi-lagi Raline mengabaikannya.
“Ini bukan barang antik, Ma. Jika benar-benar antik, alasnya pasti kasar dan banyak bekas goresan karena pemakaian. Tapi guci yang Mama punya alasnya terlalu halus untuk disebut barang antik. Ditambah lagi warnanya terlalu terang. Seharusnya, jika ini antik, warnanya sedikit memudar termakan usia,” ucap Raline tenang, jelas, dan mantap.
“Jadi maksudmu pacarku menipuku? Mana mungkin! Jangan sok tahu kamu, gadis kampung!”
“Jika kamu meragukan penilaianku, bagaimana jika kita memanggil ahli barang antik? Aku yakin penilaianku benar.”
“Baiklah. Jika penilaianmu terbukti salah, kamu harus keluar dari rumah ini,” ucap Kania menantang, dagunya terangkat angkuh.
"Yaa.. aku juga ikut bertaruh. kamu pikir adikku bodoh sampai bisa tertipu. Dia bahkan jauh lebih pintar darimu yang hanya gadis kampung yang tidak kuliah. "saut Farel.
“Lalu jika penilaianku benar, bagaimana?” tanya Raline, tatapannya lurus tanpa gentar.
“Mama akan membekukan ATM, kartu kredit, dan semua fasilitas yang dimiliki Kania dan Farel akan Mama tarik selama satu bulan. Dan tentunya untuk kamu kania kamu harus putus dengan pacarmu itu,” saut Ratna tenang.
Kania langsung terbelalak, wajahnya memucat , begitupun dengan Farel.
.
.
.
💐💐💐Bersambung💐💐💐
Kira - kira gimana nih guys penilaian Raline bener atau salah nih?
Lanjut Next Bab ya guys😊
Lope lope jangan lupa ya❤❤
Terima kasih sudah membaca bab ini hingga akhir semuanya. jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like👍🏿 komen😍 and subscribe ❤kalian sangat aku nantikan 🥰❤