Alina Grace tumbuh sebagai putri keluarga Kalingga. Hidup dalam kemewahan, pendidikan terbaik, dan masa depan yang tampak sempurna.
Namun semua itu runtuh seketika begitu kebenaran terungkap.
Ia bukanlah anak kandung keluarga Kalingga
Tanpa belas kasihan, Alina dikembalikan ke desa asalnya, sebuah tempat yang seharusnya menjadi rumah, tetapi justru menyisakan kehampaan karena kedua orang tua kandungnya telah lama meninggal dunia.
Dari istana menuju ladang, dari kemewahan menuju kesunyian, Alina dipaksa memulai hidup dari nol.
Di tengah keterpurukan, sebuah Sistem Perdagangan Dunia Pararel terbangun dalam dirinya.
Sistem misterius yang menghubungkan berbagai dunia, membuka peluang dagang yang tak pernah dibayangkan manusia biasa.
Dengan kecerdasan, kerja keras, dan tekad yang ditempa penderitaan, Alina perlahan bangkit, mengubah hasil bumi desa menjadi komoditas bernilai luar biasa.
Dari gadis yang dibuang, ia menjelma menjadi pemain kunci dalam perdagangan lintas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemandangan Yang Menggelikan
Alina baru saja selesai menata barang-barang yang baru ia beli saat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya.
Sudah tau lebih dulu siapa yang datang mengunjunginya, ia tak buru-buru keluar dari rumah.
“Kalau mereka ingin bertamu, biarkan mereka datang dan mengetuk pintu.” Alina bergumam dengan kedua tangan bergerak menata barang belanjaan ke dalam kulkas barunya.
Hampir satu menit lamanya belum terdengar suara ketukan pintu, tapi Alina sama sekali tidak peduli.
“Masih saja arogan seperti biasanya.”
Alina sempat mengintip keluar, dan ia melihat keluarga Kalingga hanya diam di depan rumah, belum juga mengetuk pintu.
“Berdiri saja di tempat itu sampai aku selesai dengan urusanku,” ucapnya lirih sembari tersenyum miring.
Satu menit~ Dua menit~ Bahkan sampai lima belas menit lamanya, Alina masih belum mendengar adanya suara ketukan pintu, dimana kini ia telah selesai dengan urusannya.
Krieet!!
Pintu rumah kayu perlahan terbuka dari dalam.
“Oh, ternyata ada tamu,” ucap Alina memperlihatkan reaksi biasa-biasa saja.
“Cih, apa seperti ini cara kamu memperlakukan tamu? Membuat kami menunggu lama baru membukakan pintu!” seru Martha.
“Aku tidak mendengar suara ketukan pintu. Jadi bagaimana aku bisa tau kalau kalian ada di sini?” ujar Alina tenang.
Hendra dan Martha yang mendengar itu tampak kesal, sedangkan Elena yang ikut dengan keduanya memanjangkan leher mengintip situasi di dalam rumah kayu.
“Wanita itu terus mengintip apa yang ada di dalam rumah Nona.”
Suara menggemaskan milik Luna terdengar, membuat Alina tersenyum kecil merasa gemas.
“Biarkan dia mengintip sampai puas,” ucap Alina melalui transmisi suara.
“Ini untukmu!” Hendra memberikan buah-buahan yang dibeli anak buahnya di pasar pada Alina, “aku yakin sejak pindah ke tempat ini kamu jarang memakan buah, jadi aku membelikan buah-buahan ini untukmu!”
“Nona, itu semua buah-buahan kualitas terburuk yang hanya akan menimbulkan penyakit jika dikonsumsi.”
“Pantas saja baunya menyengat, mirip bau kotoran!” balas Alina.
Setelahnya ia menatap kantong plastik yang disodorkan Hendra padanya, lalu tersenyum.
“Lebih baik Tuan bawa kembali buah-buahan ini! Aku sama sekali tidak membutuhkan buah-buahan busuk!” ucap Alina tegas.
“Kau!! Beraninya kau menghina pemberianku! Sepatutnya kau berterimakasih karena aku masih berbaik hati membelikan buah-buahan segar ini untukmu!” teriak Hendra.
Bukannya terintimidasi. Alina yang mendengar teriakan Hendra, ia justru tersenyum lalu kembali membuka suara, “kalau begitu, bagaimana kalau Tuan mencicipi salah satu buah yang sebelumnya ingin Tuan berikan padaku?!” tantangnya.
Mendengar itu, tanpa ragu Hendra merogoh ke dalam kantong plastik, mengambil acak buah di dalamnya karena yakin walau kualitas buah kurang baik, itu masihlah buah yang bisa dimakan.
Tetapi anak buahnya yang ingin mendapatkan keuntungan untuk diri mereka sendiri apalagi setelah tau apa yang mereka beli akan diberikan pada Alina. Sengaja mereka membeli buah-buahan busuk, membuat Hendra hampir memuntahkan isi perutnya begitu melihat buah busuk di tangannya, ditambah bau busuk yang sangat menyengat.
‘Sialan! Pantas saja seka tadi aku mencium bau busuk!’ batin Hendra, dimana sebelumnya ia yakin bau busuk yang tercium berasal dari tempat tinggal Alina, dan itu benar-benar membuatnya merasa jijik.
Namun begitu tau darimana asal bau itu, seketika Hendra menatap anak buahnya, membuat orang yang disuruh membeli buah-buahan ke pasar hanya bisa menundukkan kepala.
Sementara itu Alina yang melihat semuanya, ia menunjukkan senyuman kecil, sama sekali tak peduli pada apa yang dirasakan oleh Hendra.
“Sudahlah, sebaiknya kalian langsung katakan padaku apa tujuan kalian datang menemuiku!” ucap Alina langsung ke intinya.
“Kami ingin kamu kembali ke kota dan tinggal bersama kami, menjadi bagian dari keluarga Kalingga!” ucap Hendra cepat, sementara tangannya sedang dibersihkan menggunakan tisu oleh Martha.
“Aku tidak memiliki alasan untuk kembali. Lagipula aku senang tinggal di tempat ini. Tenang, tidak ada aturan yang melarangku ini itu, dan yang jelas semua yang ada di tempat ini adalah milikku, bukan milik orang lain!” balas Alina penuh ketegasan.
“Senang? Aku orang paling tidak percaya kalau kamu bisa senang hidup di tempat ini tanpa kemewahan yang diberikan keluarga Kalingga!” ungkap Martha.
Alina tersenyum kecil. “Aku tidak membutuhkan rasa percaya Nyonya! Lagipula, kemewahan yang kalian tawarkan bukanlah milikku, semua itu milik kalian, sama sekali tak ada hubungannya denganku!” ucapnya santai.
Mendengar itu Martha mulai kehabisan kata-kata, tapi cepat ia memikirkan hal lain.
“Ah iya, tentang pendidikanmu. Kalau kamu bersedia kembali tinggal bersama kami, bukan hanya fasilitas mewah yang akan kami berikan, tapi kami juga akan memberikan pendidikan terbaik untukmu! Jadi, hari ini juga aku berharap kamu bersedia kembali bersama kami!” tawar Martha.
“Nyonya Martha sangat tau apa yang aku inginkan, tapi sayangnya aku sudah memiliki jalan keluar sendiri untuk memenuhi semua keinginanku, termasuk keinginan melanjutkan pendidikan yang sempat tertunda~”
“jadi setelah aku pikir-pikir, aku tidak akan pernah kembali bersama kalian, apalagi kembali menjadi bagian dari keluarga Kalingga!” Sejenak Alina menjeda ucapannya, “satu lagi, aku tau dengan pasti apa tujuan kalian yang sebenarnya, dan saat kalian kembali, jangan lupa bawa dua orang yang terikat di pohon belakang rumah!”
Alina menunjukkan lokasi dimana anak buah Hendra yang sebelumnya tak lagi memberikan informasi, dan bersamaan dengan itu datang Raka bersama beberapa orang yang akan memasang CCTV pengawas di sekitar rumah Alina, termasuk di beberapa titik jalanan Desa.
Melihat Raka datang, nyali Hendra seketika menciut, dan walau pria itu tidak melakukan apa-apa padanya, saat ini keringat dingin telah membuat tubuhnya basah.
“Apa mereka kembali datang untuk mengganggumu?” tanya Raka lembut pada Alina, membuat sosok Elena yang melihat semua itu merasa iri, apalagi ia sudah mengenal sosok Raka sangat lama, tetapi sekalipun ia tak pernah berkesempatan mengobrol dengan pria itu.
Jangankan untuk mengobrol, ia menyapa saja tak pernah ditanggapi oleh Raka, senantiasa diabaikan seolah keberadaannya tak pernah ada.
“Kak Raka tenang saja! Mereka tidak menggangguku, hanya mereka ingin aku kembali ke kota bersama mereka,” jawab Alina.
“Lalu apa keputusanmu?” Lagi Raka bertanya.
Alina tersenyum, kali ini sebuah senyuman tulus, dan setelahnya ia menjawab, “aku tidak akan kembali karena sudah terlanjur menyukai kehidupan di Desa ini, dan nantinya aku bisa melanjutkan pendidikan secara online, hanya datang saat ujian.”
Raka mengangguk puas, dan kini pandangannya tertuju ke arah Hendra. “Tuan Hendra, saya rasa keputusan Alina sudah jelas, jadi silahkan Tuan pergi, dan jika tidak ada urusan lainnya, jangan lagi datang ke tempat ini!” ucapnya, sengaja ia menekankan kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya.
“Baik, kami akan pergi!” Menarik isteri dan putrinya, buru-buru Hendra pergi, membuat Alina tak kuasa menahan senyuman geli melihat pemandangan itu.
“Sungguh pemandangan menggelikan!” gumam Alina.