NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / One Night Stand / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Jarum jam menunjuk angka sembilan malam. Lampu kamar temaram, selimut sudah setengah menutupi tubuh Senja. Ia hampir terlelap, sampai ponselnya bergetar di atas nakas, nama seseorang muncul di layar.

Ibu.

Senja menatapnya beberapa detik, jantungnya berdetak tidak beraturan. Ia jarang mendapat telepon dari rumah sejak pergi. Apalagi setelah semua kata-kata pahit itu.

Dengan ragu, ia menggeser layar. “Halo, Bu…”

Nada Winarti terdengar lebih lembut dari yang ia ingat. Terlalu lembut, bahkan. “Kamu sehat, Ja?” Dia tak terlebih dahulu di mana Senja sekarang tinggal, antara memang sudah tahu, atau mungkin tidak peduli.

“Iya…” jawab Senja pelan.

“Kandunganmu bagaimana?”

Pertanyaan itu membuat Senja terdiam sejenak. Bukan karena terharu, tapi karena merasa ada sesuatu yang janggal. Ibunya tak pernah benar-benar peduli pada perasaannya, apalagi kesehatannya.

“Baik, Bu. Sudah periksa.”

Winarti menghela napas, seolah sedang memikul beban teramat besar. “Kamu harus pulang sebentar.”

“Pulang?” Senja spontan duduk.

“Iya. Ada yang perlu dibicarakan.”

Senja menggenggam ponsel lebih erat.

“Apa?”

“Soal wali nikah. Bagaimanapun juga kamu harus menikah untuk menutup aib 'kan. Orang-orang harus tahu kalau keluarga kita masih punya martabat." Kalimatnya pelan tapi menusuk, seakan Senja adalah segala biang beban keluarga.

"Ayahmu itu wali sahmu. Tidak baik kalau orang luar yang mengurus semuanya," lanjut Winarti lagi.

Nada bicara Winarti terdengar seperti orang yang sedang mengatur sesuatu, bukan seorang ibu yang ingin berdamai dengan anaknya.

“Ayah kan bilang tidak mau jadi wali…” suara Senja nyaris berbisik.

“Itu bisa dibicarakan. Tapi ada syaratnya,” jawab ibunya cepat. “Kamu pulang dulu. Kita ketemu. Nanti ibu jelaskan.”

Telepon ditutup dengan kalimat yang masih terdengar manis, namun Senja mematung lama. Ia memandangi layar yang sudah gelap. Dadanya terasa sempit. Bukan karena rindu, tapi karena sadar, keluarganya tidak lagi menjadi tempat yang aman untuknya.

Ada sesuatu yang ingin diambil dari dirinya. Bukan dirinya sebagai anak. Tapi sebagai alat.

Sagara...

Nama itu secara otomatis muncul dibenak pikirannya, seolah itu adalah alarm peringatan. Pelan-pelan, Senja bangkit dari ranjang. Ia mengenakan cardigan tipis, lalu berdiri di depan pintu kamar Sagara. Tangannya terangkat, lalu ragu, turun lagi. Ia menghela napas, menguatkan diri, lalu mengetuk.

Tok. Tok.

Beberapa detik berlalu. Langkah kaki terdengar dari dalam. Pintu terbuka.

Sagara berdiri di ambang pintu dengan piyama hitam yang kancing atasnya terbuka dua. Rambutnya sedikit basah, seolah baru mencuci muka. Posturnya tegap, bahunya lebar, dada dan lehernya terlihat jelas dalam cahaya lampu koridor.

Senja refleks menunduk. Napasnya tertahan satu detik lebih lama. Potongan ingatan nakal itu datang tanpa permisi. Ingatan pada malam terlarang yang tak seharusnya terjadi.

Tubuh yang sama. Hangat yang sama.

Dan rasa aman yang bercampur dengan kesalahan.

“Senja?” panggil Sagara pelan.

Sagara menyadari penampilannya. Alisnya mengernyit tipis, lalu tangannya cepat meraih kancing, merapikannya satu per satu tanpa komentar. Tidak terburu-buru, tapi jelas ia ingin menjaga jarak yang semestinya.

“Ada apa?” tanyanya setelah rapi.

Senja masih belum mengangkat wajah. “Maaf… aku ganggu.”

“Kamu tidak pernah mengganggu,” jawabnya singkat.

Kalimat itu sederhana. Tapi membuat Senja mengangkat kepalanya perlahan. “Ibu menelpon,” katanya.

Sagara langsung membuka pintu lebih lebar. “Masuk.”

Senja menggeleng kecil. “Di sini saja… sebentar.”

Sagara mengangguk. "Apa katanya?"

“Mereka minta aku pulang. Katanya… soal wali nikah. Soal adat, supaya semua terlihat pantas di mata orang.” Napas Senja sedikit bergetar. “Orang tuaku katanya mau bicara… tapi ada syarat.”

“Syarat apa?”

“Aku belum tahu. Tapi rasanya…” Senja menelan ludah, “rasanya bukan karena mereka ingin menerimaku kembali. Lebih seperti… ingin memanfaatkan.”

Sagara terdiam sejenak. Tatapannya turun, berpikir, lalu kembali menyorot tenang calon istri kecilnya itu. “Dan kamu tidak merasa aman dengan itu.”

Senja mengangguk pelan. “Om… kalau ayahku tiba-tiba mau jadi wali, tapi bukan karena ikhlas… itu masih benar, ya?”

Sagara tidak langsung menjawab. “Wali bukan hanya soal sah di mata hukum atau agama. Wali juga soal niat, soal menjaga, bukan menjual.”

Kalimat itu membuat dada Senja sedikit menghangat, sekaligus sesak. “Jadi… Om tidak mau aku pulang?”

Sagara mengangguk pelan. “Kamu tidak wajib pulang.” Kalimatnya jatuh tenang, tanpa tekanan. “Ini tubuhmu. Ini hidupmu. Dan ini pernikahanmu. Tidak ada satu pun yang bisa memaksa. Tapi… wali itu penting.” Sagara mengakui. "Dan harga dirimu tidak kalah penting," lanjutnya.

Senja menelan ludah. “Kalau aku pulang… itu berarti aku menyerahkan diriku lagi pada mereka.”

“Dan kalau kamu tidak pulang,” Sagara menatapnya, “itu berarti kamu mulai berdiri sebagai dirimu sendiri.”

Senja terdiam lama.

“Om…”

“Ya?"

“Kalau ayah menolak jadi wali…?”

“Kita cari jalan yang sah dan bermartabat,” jawab Sagara tegas. “Tanpa menjual dirimu. Tanpa tawar-menawar.”

Mata Senja menghangat. “Om tidak marah…?”

“Tidak. Ini bukan soal marah. Ini soal melindungimu.”

Hening kecil menyelimuti mereka. Hening yang tidak berat. Hening yang terasa seperti sandaran.

Senja sedikit mundur selangkah. “Maaf… aku mengganggu Om malam-malam.”

Sagara menggeleng. “Kamu datang ke tempat yang benar.”

Kalimat itu membuat Senja tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia besar, lebih ke senyum lega.

Saat ia berbalik, langkahnya sedikit goyah. Bukan karena lemah, tapi karena emosi yang belum sepenuhnya stabil. Dan di saat itu suara Sagara kembali terdengar.

“Senja.”

Gadis itu menoleh.

“Kalau mereka berniat menjual peran ayahmu sebagai wali,” suara Sagara rendah, “itu bukan kehormatan. Itu transaksi. Dan kamu bukan barang.”

Senja mengangguk. “Kali ini… aku tidak akan akan diam dan menurut begitu saja.”

Untuk pertama kalinya, kata-kata itu keluar tanpa ragu.

Sagara menatapnya dengan tenang. “Itu keputusan yang dewasa.”

Senja kembali ke kamarnya. Jantungnya masih berdebar, tapi bukan karena takut. Melainkan karena ia baru saja berdiri di titik yang berbeda. Ia bukan lagi gadis yang pasrah. Dia perempuan muda yang sedang belajar menjaga dirinya sendiri.

Sagara menutup pintu pelan. Bersandar sebentar pada daun pintu, menarik napas panjang. Bukan karena canggung semata, tapi karena ia sadar, malam ini bukan hanya tentang wali. Ini tentang bagaimana dunia mulai menguji apakah Senja akan dijual, atau berdiri sebagai manusia utuh. Dan tugasnya bukan menyelamatkan. Melainkan memastikan, Senja bisa memilih dengan kepala tegak.

Sementara di tempat lain...

Di rumah kecil itu, malam terasa lebih pengap dari biasanya. Lampu ruang tengah menyala redup, menyorot dinding kusam dan sofa yang sudah kehilangan empuknya.

Winarti duduk dengan ponsel di tangan, mondar-mandir gelisah sejak teleponnya dengan Senja berakhir. Pandi masih di kursi rotan, kakinya selonjor, rokok tinggal sepuntung di sela jari. Ia tidak banyak bicara, tapi matanya memperhatikan setiap gerak gerik istrinya.

“Dia bakal pulang,” gumam Winarti.

“Siapa?” tanya Pandi singkat.

“Si Senja. Pasti.”

Pandi mendengus kecil. “Kamu yakin? Kemarin kamu bilang dia sudah bukan anak kita.”

Winarti berhenti melangkah. Menoleh tajam. “Jangan sok ingat. Aku bilang begitu karena emosi. Sekarang situasinya beda.”

“Bedanya apa?”

Winarti menatap ponselnya, lalu mengangkat wajah. “Tadi sore Bu Rukinah dari ujung gang mampir.”

“Terus?”

“Katanya dia lihat Senja turun dari mobil mewah warna hitam, mengkilap. Laki-laki yang bersamanya mirip dengan laki-laki yang mengaku Sagara waktu itu. Tapi... dia 'kan miskin. Kesini saja naik motor butut.”

Pandi mengangkat alis sedikit. “Mobil bisa sewaan.”

“Bisa,” sahut Winarti cepat.

“Tapi kata Bu Rukinah cara laki-laki itu berdiri, cara dia buka pintu, cara orang-orang di sekitar menoleh… itu bukan gaya orang miskin.”

Pandi terdiam. Asap rokoknya menipis.

“Bu Rukinah bilang Senja kelihatan dijagain banget. Bukan kayak perempuan simpanan. Tapi kayak… calon istri.”

Kalimat Winarti membuat Pandi meluruskan punggungnya sedikit.

“Jadi?”

“Jadi mereka pasti mau menikah. Dan kalau mereka menikah, pasti perlu wali,” tegas Winarti sangat yakin.

Pandi menyeringai tipis. “Bukannya kamu melarangku menjadi walinya?"

“Kemarin,” balas Winarti cepat. “Waktu aku kira laki-laki yang menghamili Senja cuma orang biasa. Sekarang kita tahu, dia bukan.”

“Lalu?”

“Lalu peran ayahnya Senja itu jadi berharga.”

Pandi menatap istrinya lama. “Berharga buat siapa?”

Winarti tersenyum tipis. Senyum yang tidak hangat, melainkan licik. “Buat kita.”

Pandi mematikan rokoknya. “Kamu mau minta apa?”

“Bukan minta. Kita berhak dapat kompensasi. Kita membesarkan dia. Kita menjaga nama baik keluarga," jawab Winarti.

“Nama baik?” Pandi tertawa kecil, sinis.

“Bukannya kita yang mengusir dia karena hamil?”

“Itu supaya dia tahu diri,” bantah Winarti. “Sekarang justru terbukti. Dia bisa dapat laki-laki berada.”

Pandi menyandarkan tubuh. “Jadi rencananya?”

“Kita panggil dia pulang. Bikin seolah-olah kita mau berdamai. Mau mengakui lagi. Mau jadi wali.”

“Dan?”

“Dan kita ajukan syarat.”

Pandi terdiam beberapa detik, lalu berkata. “Uang.”

Winarti mengangguk tanpa ragu. “Uang. Atau bantuan. Atau jaminan hidup. Terserah bentuknya apa.”

“Kalau Senja menolak?”

“Senja tidak akan. Karena dia itu anak yang takut durhaka. Takut dianggap tidak tahu balas budi,” jawab Winarti yakin.

Pandi menyeringai kecil. “Kalau ternyata laki-laki itu tidak mau?”

“Justru itu,” suara Winarti merendah, “kita akan tahu seberapa berharganya Senja di mata laki-laki itu.”

Pandi terdiam lama. “Kalau dia benar orang kaya, dia pasti ingin urusan pernikahan rapi.”

“Dan wali yang sah adalah kita,” sahut Winarti cepat.

Pandi menghela napas pendek. “Jadi kamu tadi nelpon Senja bukan mau ajak pulang sebagai anak.”

“Tidak. Aku manggil dia sebagai jalan ” jawab Winarti jujur.

“Sebagai apa?”

“Sebagai pintu rezeki.”

Pandi tersenyum kecil, hambar. “Keji juga caramu.”

Winarti mengangkat bahu. “Hidup ini tidak pernah adil. Kita cuma mengambil kesempatan.”

Pandi bangkit dari kursinya. “Kalau nanti dia nangis?”

“Biar,” jawab Winarti dingin. “Air mata tidak bisa bayar listrik. Tidak bisa bayar hutang. Tidak bisa beli beras.”

Pandi melangkah ke kamar. “Dan kalau nanti dia benar-benar membenci kita?”

Winarti menatap punggung suaminya. “Yang penting kita tidak miskin.”

Di ruang tamu yang sempit itu, rencana tentang wali nikah tidak lahir dari cinta orang tua. Melainkan dari kabar tentang mobil mewah. Tentang kekayaan. Tentang peluang. Dan sejak detik itu, Senja tidak lagi dilihat sebagai anak. Tapi sebagai jembatan.

Bersambung~~

1
Ayuwidia
Wkkkk, mewakili gueeee. Makasih, Mak
Ayuwidia
Aku penasaran, kenapa Winarti dan Pandi bisa setega itu memperlakukan Senja. Beda banget sama perhatian mereka ke Rian 🤔
Ayuwidia
Baru diakui. Telat, terlambat!!!!
Ayuwidia
Ealah, adek nggak ada akhlak. Kok bisa, Senja punya adek semenyebalkan gini. Hidup lagi
Ayuwidia
Salah sendiri. Terlalu jumawa, sombong
Ayuwidia
Winarti serasa ditampar keras. Dan aku, tersenyum membayangkan wajahnya
Ayuwidia
Alhamdulillah, ikut senang. Semoga sakinah, mawadah, warahmah 🥰
Ayuwidia
Meski sederhana, tapi tulus dari dalam hati 🥰
NA_SaRi
kok bru diakui ya mak
NA_SaRi
lambene😩
NA_SaRi
klo Pengen dihormati, belajarnya caranya menghargai bapak🙃
NA_SaRi
Alhamdulillah 😍
NA_SaRi
netizen ya awooooohhh jempolnya kebangetan, bibirnya semoga kepedesan😩
NA_SaRi
betul, aku prnh mengalaminya
NA_SaRi
gengsi ga usah ditinggiin Napa mak😩
NA_SaRi
dari bab ini aku belajar bahwa ilmu tenang itu mahal, bahkan ga bisa dibeli dgn uang, membuat karakter seseorang jd elegan tanpa harus meninggi, aku harus banyak belajar dr om sagara
Ayuwidia
Kalimat penutup yg sangat mewakili orang2 sefrekuensi dgn Senja, keren 👍🏻
Ayuwidia
Ini selalu berlaku di kampung/ kompleks. Apalagi klw dihuni emak2 yang demen banget gibah. Ibarat kata, nggak gibah--nggak hidup
Nofi Kahza: iya, kalau nggak ada bahan gibah hidup mereka kurang seru..
total 1 replies
Ayuwidia
Part ini pasti ada yang menginspirasi
Nofi Kahza: hush! diem.
total 1 replies
Ayuwidia
Pfttttt jatuhnya pingin ngakak
Nofi Kahza: kampungnya ngampung banget🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!