Udara terasa berbeda hari itu lebih berat, lebih sunyi. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang telah lama ia simpan, berharap waktu masih cukup untuk mendengarnya kembali.
Tak ada balasan.
Hanya diam yang terlalu lama untuk diabaikan.
Detik demi detik berlalu tanpa perubahan, seakan sesuatu telah bergeser tanpa bisa dikembalikan. Kata cinta itu menggantung, tidak jatuh, tidak pula sampai, meninggalkan pertanyaan yang tak terjawab.
Apakah kejujuran memang selalu datang terlambat?
Atau ada perasaan yang memang ditakdirkan untuk tak pernah didengar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Ghost in the Silk Dress
Di White Rose Mansion, Liora Elowyn merasa seperti seorang narapidana yang menunggu waktu eksekusi. Sejak ia mengetahui siapa putra Eleanor sebenarnya, setiap detak jam di dinding terdengar seperti langkah kaki kematian. Namun, Eleanor begitu menyayanginya. Wanita itu memberinya pakaian sutra, makanan mewah, dan yang paling berharga rasa hormat.
"Liora, kemari Nak," panggil Eleanor lembut dari ruang tengah. "Hari ini putraku, Leo, akan datang makan malam. Aku sudah menceritakan banyak hal tentangmu padanya. Aku ingin kau menemaniku menyambutnya."
Tangan Liora yang sedang merapikan vas bunga gemetar hebat. Kelopak bunga mawar putih yang ia pegang gugur, berserakan di lantai seperti harapan yang patah. "Nyonya, saya... saya rasa saya kurang sehat. Bolehkah saya di kamar saja?"
Eleanor mendekat dan menggenggam tangan Liora. "Hanya sebentar, Liora. Dia mungkin terlihat menakutkan, tapi dia tidak akan menyakitimu selama ada Ibu di sini."
Liora hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit. Eleanor tidak tahu bahwa putranya tidak butuh alasan untuk menyakiti seseorang.
Suara deru mesin mobil mewah terdengar di halaman mansion. Jantung Liora berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mati saat itu juga. Pintu besar terbuka, dan aura dingin yang sangat ia kenali segera memenuhi ruangan, memadamkan kehangatan perapian.
Leo Alexander Caelum melangkah masuk. Ia mengenakan setelan hitam formal yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Matanya yang kelabu tajam memindai ruangan, hingga akhirnya terpaku pada sosok gadis yang berdiri di samping ibunya.
Liora berdiri di sana, mengenakan gaun sutra berwarna biru pucat yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Rambutnya disanggul rapi, menonjolkan leher jenjang dan wajah manisnya. Lesung pipinya tidak terlihat, karena bibirnya terkatup rapat menahan ketakutan.
Hening yang mematikan menyergap.
Leo berhenti melangkah. Matanya menyipit, memandang Liora dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang bisa menghancurkan batu pualam.
"Leo, perkenalkan, ini Liora. Gadis jujur yang Ibu ceritakan padamu," Eleanor berucap dengan nada bangga, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang berkecamuk.
Leo menarik sudut bibirnya, membentuk senyum miring yang sangat kejam. "Liora?" suaranya rendah, bergetar dengan kemarahan yang tertahan. "Jadi, ini 'malaikat' yang Ibu agung-agungkan?"
Leo berjalan mendekat, setiap langkahnya seperti dentuman palu hakim bagi Liora. Ia berhenti tepat di depan Liora, menghirup aroma parfum mahal yang kini menempel di tubuh gadis itu parfum yang dibayar dengan uangnya.
"Luar biasa," bisik Leo tepat di telinga Liora, cukup pelan agar Eleanor tidak dengar, namun cukup tajam untuk menyayat jiwa Liora. "Kemarin kau bersimpuh di kakiku dengan bau selokan, sekarang kau berdiri di sini menggunakan uang ibuku untuk menutupi kemiskinanmu. Kau benar-benar parasit yang cerdas, Liora Elowyn."
Liora mendongak, matanya berkaca-kaca. "Tuan, saya tidak bermaksud..."
"Leo! Ada apa?" Eleanor mengerutkan kening melihat kedekatan mereka yang tidak wajar.
Leo berbalik ke arah ibunya, wajahnya kembali datar tanpa emosi. "Tidak ada, Ibu. Aku hanya terkejut melihat betapa cepatnya seseorang bisa berganti kulit. Kemarin dia terlihat seperti gelandangan yang hampir mati, dan sekarang dia tampak seperti putri kerajaan."
Eleanor terkesiap. "Leo! Jaga bicaramu! Liora ini gadis baik."
"Gadis baik?" Leo tertawa pendek, tawa yang penuh penghinaan. "Ibu, gadis ini adalah sampah yang aku usir dari kantor minggu lalu karena ketidakbecusannya. Dan sekarang dia masuk ke rumah ini, mencuci otak Ibu dengan akting polosnya? Berapa yang dia minta darimu, Ibu? Atau dia mengincar kalung yang lain?"
Liora merasa dunianya runtuh. Ia tidak tahan lagi. "Nyonya Eleanor, maafkan saya... saya harus pergi," tangis Liora pecah. Ia berbalik dan berlari menuju kamarnya, mengabaikan panggilan Eleanor yang bingung dan marah.
Leo hanya menatap punggung Liora yang menjauh dengan tatapan puas. Baginya, menghancurkan Liora adalah sebuah keharusan.
"Leo! Apa yang kau lakukan?! Dia menyelamatkan nyawa Ibu saat Ibu hampir pingsan di taman!" teriak Eleanor marah.
"Dia menyelamatkanmu karena dia tahu Ibu adalah seorang Caelum!" balas Leo sengit. "Aku tidak akan membiarkan parasit sepertinya menghirup udara yang sama dengan kita lebih lama lagi. Malam ini juga, dia harus keluar dari sini, atau aku yang akan menyeretnya dengan tanganku sendiri."
Leo tidak peduli pada air mata ibunya. Baginya, Liora hanyalah sebuah kesalahan yang harus dihapus. Namun jauh di dalam dadanya, ada sesuatu yang berdenyut saat melihat Liora dalam gaun itu sebuah kecantikan yang mengusik kegelapannya, dan itu membuat Leo semakin membenci gadis itu. Karena bagi Leo, segala sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan, harus ia hancurkan sampai menjadi debu.
"Bagi Leo, gaun sutra yang dikenakan Liora hanyalah bungkus cantik untuk sebuah kemiskinan yang ia benci."
"Leo tidak melihat manusia saat menatap Liora; ia hanya melihat noda yang harus dibersihkan dari garis keturunannya."
"Liora sadar, di rumah ini ia bukan asisten, melainkan hanya seekor burung yang sedang menunggu sayapnya dipatahkan oleh sang pemilik sangkar."