NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: ANCAMAN DARI AYAH ISMI

#

Sabtu pagi. Dyon bangun jam tiga kayak biasa—meskipun tidurnya cuma sejam. Semalam dia nggak bisa tidur—mikirin Ismi, mikirin sumpahnya, mikirin masa depan.

Tapi pagi ini... dia harus kerja.

Kerja kuli bangunan—proyek yang sama di pinggir kota. Upahnya penting—buat makan, buat bayar listrik gubuk yang nunggak.

Dyon mandi air dingin—cepat. Pakai baju kaos lusuh sama celana jeans compang-camping. Keluar gubuk—jalan ke tempat kerja yang jaraknya sejam jalan kaki.

Sampai di proyek. Pak mandor—Pak Joko namanya, bapak-bapak gondrong yang galak tapi baik—udah nunggu.

"Pagi, Dyon," sapa Pak Joko sambil ngerokok.

"Pagi, Pak."

"Hari ini kerjaan banyak. Kau siap?"

"Siap, Pak."

Dyon mulai kerja—angkat batu bata, aduk semen, beresin puing. Tangannya masih sakit—bekas retak belum sembuh total. Tapi dia paksa. Uang itu penting.

Jam sembilan pagi. Istirahat sebentar. Dyon duduk di bawah pohon—ngos-ngosan, minum air putih dari botol bekas yang dia isi ulang dari keran.

Terus...

Ada mobil datang.

Mobil sedan hitam—mengkilap, mahal. Parkir di depan proyek.

Pintu terbuka. Turun dua orang—cowok gede-gede, pakai jas hitam, kacamata item. Kayak bodyguard di film-film.

Mereka jalan ke arah Dyon—pelan, tapi auranya... ngancam.

Dyon berdiri—cepat. Jantung dag-dig-dug. *Ini... ini pasti suruhan Pak Hendra.*

Cowok pertama—yang paling gede, ada bekas luka di pipi kiri—berhenti di depan Dyon. Jarak cuma sejengkal.

"Dyon Syahputra?" tanya cowok itu—suara berat, kayak gemuruh.

"I... iya," jawab Dyon—gemetar.

"Ikut kami. Sebentar aja."

"Kenapa? Aku... aku lagi kerja—"

"Ikut," cowok kedua—lebih pendek tapi lebih nyeremin, mata tajam kayak elang—potong. Nggak ada nada tanya. Ini perintah.

Dyon nggak ada pilihan. Dia ikut—jalan ke belakang proyek, tempat sepi, nggak ada orang.

Cowok gede nyender di tembok—santai. Cowok pendek berdiri di samping Dyon—ngawasin.

"Dengerin baik-baik," kata cowok gede sambil nyalain rokok. "Kami disuruh Pak Hendra Anisah. Lo kenal kan?"

Dyon angguk—pelan.

"Bagus," cowok gede hembusin asap rokok—kena muka Dyon, bikin mata perih. "Pak Hendra punya pesan buat lo. Pesan yang... sangat jelas."

Dyon diam—menunggu.

"Tinggalin Ismi," kata cowok gede—tegas. "Ninggalin dia. Jangan ketemu lagi. Jangan ngomong lagi. Jangan ada kontak sama sekali. Ngerti?"

"Tapi... tapi aku mencintai—"

"KAMI NGGAK PEDULI!" cowok pendek teriak—tiba-tiba. Suaranya nyaring, bikin burung-burung di pohon pada terbang. "Kami cuma nyampein pesan! Lo... lo tinggalin Ismi, atau..."

Cowok gede senyum—senyum yang kejam. "Atau... kami pastiin lo nggak bisa kerja di mana pun. Di kota ini. Di kota lain. Di mana aja. Pak Hendra punya koneksi. Dia bisa blacklist lo dari semua tempat kerja. Lo... lo bakal jadi pengangguran selamanya."

Dyon terdiam. Napasnya sesak.

"Tapi itu belum semuanya," lanjut cowok gede—senyum makin lebar. "Andra. Temen lo kan? Anak tukang becak. Bapaknya narik becak di Pangkalan Jaya."

Jantung Dyon berhenti.

"Kalau lo nggak ninggalin Ismi," kata cowok gede pelan—tapi setiap kata kayak pisau. "Kami akan usir bapaknya Andra dari pangkalan. Kami punya orang di sana. Preman-preman yang... yang bisa bikin hidup mereka sengsara. Bapaknya Andra... nggak akan bisa kerja lagi. Keluarganya... bakal kelaparan."

"JANGAN!" Dyon teriak—reflex. "Jangan... jangan libatin Andra! Dia... dia nggak ada hubungannya sama ini!"

"Justru itu," cowok pendek nyelonong—senyum jahat. "Makanya lo harus ninggalin Ismi. Sekarang. Atau... atau temen lo yang kena."

"Tapi... tapi aku—"

"Nggak ada tapi," cowok gede buang rokok—injak pakai sepatu mahal. "Lo punya waktu sampai Senin. Senin depan, lo harus udah putus sama Ismi. Kalau nggak... bapaknya Andra yang kena. Ngerti?"

Dyon nggak bisa ngomong. Tenggorokannya kayak dicekik.

"Ngerti nggak?!" cowok pendek ngedeketin—mukanya cuma sejengkal dari muka Dyon.

"...Ngerti," bisik Dyon—suaranya hancur.

"Bagus," cowok gede senyum—puas. "Jangan coba-coba ngadu. Jangan coba-coba lawan. Lo... lo cuma sampah. Kami... kami bisa ngelakuin apapun sama lo. Dan nggak ada yang peduli."

Mereka pergi—jalan santai ke mobil sedan hitam. Masuk. Mobil jalan—pergi, ninggalin Dyon sendirian di belakang proyek.

Dyon jatuh berlutut—lemas. Tangan ngepal di tanah—keras, kuku nusuk kerikil.

"Bajingan... bajingan..." bisiknya—suara gemetar. Air mata keluar. "Kenapa... kenapa harus Andra? Kenapa... kenapa harus libatin dia?"

Dia nangis—diam, air mata jatuh ke tanah.

*Pilihan paling kejam adalah ketika kau harus memilih antara cinta atau orang yang kau sayangi.*

Ismi... atau Andra.

Cinta... atau sahabat.

Kebahagiaan... atau keselamatan orang lain.

"AKU BENCI DUNIA INI!" Dyon teriak—keras, lepas. Suaranya ngegema di area proyek yang sepi.

Tapi nggak ada yang jawab.

Cuma angin.

Cuma kesepian.

---

Dyon balik kerja—tapi pikirannya nggak di sana. Tangannya gerak otomatis—angkat batu bata, aduk semen. Tapi kepala... kosong.

Mikir terus.

*Gimana... gimana aku harus milih?*

Kalau dia pilih Ismi... Andra kena. Bapaknya Andra diusir. Keluarga Andra sengsara.

Kalau dia pilih Andra... Ismi gimana? Ismi yang udah rela kabur dari rumah. Ismi yang udah bilang "aku pilih kamu". Ismi yang... yang mencintainya.

*Nggak adil... ini nggak adil...*

Jam empat sore. Kerja selesai. Pak Joko kasih upah—enam puluh ribu.

"Kau hari ini nggak fokus," kata Pak Joko sambil liatin Dyon. "Ada masalah?"

"Nggak... nggak ada, Pak," bohong Dyon.

Pak Joko diem sebentar. Terus tepuk bahu Dyon—lembut. "Kalau ada masalah, cerita aja. Aku... aku nggak bisa bantu banyak. Tapi paling nggak... paling nggak kau nggak sendirian."

Dyon senyum tipis—paksa. "Makasih, Pak."

Jalan pulang ke gubuk—pelan. Kepala berat. Kaki terseret.

Sampai gubuk. Masuk. Duduk di kasur—lemas.

Lihat foto orang tua yang ditempel di dinding—foto keluarga yang laminasinya udah kuning.

"Mama... Papa..." bisiknya. "Aku... aku nggak tau harus gimana. Kalau... kalau Mama Papa masih ada, kalian... kalian bakal bilang apa?"

Foto diam—cuma senyum keluarga bahagia yang udah nggak ada lagi.

Dyon tidur—atau nyoba tidur. Tapi matanya nggak bisa merem. Pikiran terus berputar.

Ismi.

Andra.

Pilihan.

Pilihan yang... nggak ada jawaban benar.

Apapun yang dia pilih...

Seseorang akan terluka.

Dan dia...

Dia yang bakal ngerasain sakitnya.

---

**BERSAMBUNG**

**HOOK:** *Tapi aku nggak tau... pilihan yang akan aku ambil justru akan membawa kehancuran yang lebih besar. Kehancuran yang nggak bisa diperbaiki lagi.*

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!