NovelToon NovelToon
Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Mafia Kejam Dan Gadis Culun

Status: tamat
Genre:Mafia / CEO / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Kaya Raya / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:4.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Fara Dela Sandi

Kisah rumit terjalin saat kepergian gadis culun menjadi TKI gelap ke Texas. Memulai dengan cara yang salah. Hingga membawa ia pada sebuah pertemuan dengan seorang Mafia Kejam. Pria yang memberikan kehidupan penuh kerumitan. Ia benci suara tembakan dan aroma alkohol yang ikut memasuki kehidupan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fara Dela Sandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11. KELAINAN ALEX FELTON

Senyum menyeramkan yang di tampilkan. Ke dua mata merah yang berkilat kala di terpa oleh lampu tidur. Hembusan napas panas dan memburu. Bahkan pangkal paha pria itu terlihat begitu keras. Dara mencoba untuk tetap waras secara pemikiran meskipun tubuh nya tidak mampu untuk berbohong. Akan rasa takut dan terancam.

Alex tersenyum kembali. Lidahnya kembali menjilat leher jenjang yang Dara. Hingga daun telinga Dara. Erangan di kerongkongan terdengar samar. Tubuh gadis ini tidak bisa berbohong. Akan rangsangan yang di peroleh.

Ia berhenti memberontak. Cengkraman tangan Alex terasa melonggar. Dara menarik napas dalam-dalam. Peluh menetes di ke dua sisi dahinya.

"Ya, beginilah mayat sejati! Tidak bergerak." Bisiknya lagi di sela jilatannya.

Bibir Dara di gigit keras. Gadis ini menghitung dalam hati. Ini tidak lah benar. Dara, gadis culun ini menangkap adanya kesalahan di diri seorang Alex Felton. Otak cerdiknya dapat menangkap gambaran secara menyeluruh.

"Ini saatnya!" gadis ini bersorak di dalam hati.

Bug!

Cras!

Gerakan cukup gesit. Paha nya menghantam keras paha Alex. Pria yang tengah bergairah cenderung kurang peka dan awas. Bukan cuma kaki saja, tangan gadis itu melayangkan vas bunga ke dahi Alex. Oke, anggap saja dia gila.

"Maafkan aku!" serunya pelan.

Tubuh Alex terkapar tidak sadarkan diri karena ulah Dara. Gadis itu dengan tangan gemetar memukul dua kali pintu.

Klik!

Kreat!

"Oh! Astaga!" teriak Emma kala pintu di buka.

Kepala Alex berdarah. Tubuh Dara merosot ke lantai. Bergetar hebat. Tom bergegas mendekati sang Bos yang kehilangan kesadaran.

"Bos!!" panggil nya panik.

Alex tidak menyahut. Tom langsung melayangkan pandangan mematikan pada Dara. Emma masih membeku, ia tidak tau bagaimana ia harus bertindak. Karena ia sesudah terbiasa dengan kematian seorang gadis di ranjang. Tapi kali ini terlihat berbeda. Tom melangkah mendekati Dara. Menarik kerah baju Dara ke atas. Membuat gadis itu berdiri dengan terpaksa.

"Kau mau membunuh Bos, hah?" Teriaknya dengan keras.

Dara yang semula menundukkan pandangan nya langsung mengangkat kepalanya. Ke dua sisi rahasia kecil itu mengerat sempurna. Pandangan mata di balik kaca mata itu tampak berbeda.

"Kau pikir aku adalah tumbal yang bisa kalian jadikan korban. Dia bukan hanya menginginkan sebuah keputusan seksual. Bos kalian menginginkan kematian lawan mainnya. Aku memang gadis lemah tapi aku bukan bodoh. Dia menderita kelainan seksual Nekrofillia bangsat!!" teriak Dara dengan nafas memburu,"ia akan puas bercinta dengan mayat. Kau pikir aku ingin mati di tangan Bosmu! Sayang sekali. Aku bertahan sejauh ini untuk hidup bukan untuk mati, brengsek. Dan Bos kalian masih hidup!!" sambungnya dengan nada murka.

Tom membeku. Tidak salah, Dara Margaretha adalah gadis pintar. Ia bahkan dapat menebak kelainan seksual dari Alex.

Bruk!

Tom menghempaskan tubuh Dara ke lantai. Gadis itu terlihat menatap nyalang ke arah Emma dan Tom.

"Bawa di ke gudang dan kurung!" titah Tom menggelegar.

Emma mengangguk. Ia menarik tangan Dara untuk keluar dari kamar. Tom memapah tubuh Alex ke tempat tidur. Dara melirik dari ekor matanya ke arah kamar Alex. Ini benar-benar gila. Bagaimana bisa pria itu benar-benar mengidap penyakit gila itu. Awalnya, Dara berpikir gadis yang telah ia gauli di Kasino waktu itu setelah bercinta dan di bunuh. Siapa sangka gadis itu mati terlebih dahulu sebelum di gauli.

...***...

Alex berdesis mengerang dahinya yang di perban. Sebelum denyutan di pangkal pahanya terasa. Ia tidak ingat dengan jelas apa yang telah terjadi. Manik mata hijau tajam itu mengedar menatap kamar yang terlihat telah rapi. Seingatnya tadi malam ia mengamuk karena hormon seksual nya bangkit.

Alex kembali dapat menebak. Jika dirinya pasti kembali menggauli tubuh mayat wanita. Membayangkan saat ini saja ia merasa muak dengan penyakit yang ia punya. Kerutan halus di dahinya terlihat. Jika ia kembali bercinta dengan mayat. Lantas kenapa dengan dahi dan adik kecilnya yang terasa ngilu.

Ia turun dari ranjang perlahan. Melangkah mendekati pintu kamar.

Kreat!

"Bos!"

Seru Tom dan Emma dengan serentak. Alex dengan mata elang nya menatap bawahan dan tangan kanannya itu dengan pandangan dalam.

"Apa yang terjadi?" serunya dengan nada menakutkan.

Emma menunduk. Tom terlihat ragu mengatakan apa yang terjadi pada dini hari tadi. Terdengar derap langkah kaki mendekati mereka.

"Oh! Kenapa kalian berada di depan pintu Alex?" Mark semakin mendekati ke tiga nya.

Alex melirik sang adik. Adiknya terlihat mengedarkan pandangannya. Seolah tengah mencari seseorang.

"Emma! Kemana Dara. Kenapa tidak ada di kamar, tidak ada di taman belakang bahkan halaman depan?" lanjut nya lagi.

Mark melihat Emma yang terlihat aneh hari ini.

"Dara keluar. Dia keluar pagi sekali, membeli perlengkapan nya dan isi kulkas," suara Tom terdengar.

Pria ini mencoba mengontrol situasi. Alex menelisik wajah bawahnya dengan pandangan aneh. Mark hanya mengganguk kecil sebelum memilih kembali melangkah entah ingin kemana. Pria itu bereaksi seakan kehilangan mainan kesayangan.

"Dimana dia?" suara bariton Alex terdengar.

"Di gudang, Bos!" jawab Emma pelan.

Alex melangkah tanpa kata. Di ikuti oleh ke duanya. Tidak ada yang berbicara. Wajah datar Alex dan aura aneh yang terasa oleh keduanya membuat mereka tidak berani angkat bicara.

...***...

Jenni mengetuk-getuk jari jemari panjang nya di atas meja. Gadis berambut pirang itu terlihat sangat kesal. Tidak satupun yang berjalan sesuai dengan keinginan nya.

"Hei! Ada apa dengan wajahmu, Jenni?" Niko mengeleng kecil melihat bagaimana ekspresi teman nya ini.

Jenni mengangkat pandangan nya. Mata itu tampak tidak memiliki semangat.

"Tidak ada yang bisa aku lakukan," keluhnya.

"Apa ini masalah kegagalan kau dan Alan menghancurkan Alex lagi?" tanyanya.

Tidak perlu mengangguk kan kepalanya. Niko jelas tau dengan ekspresi kesal yang kembali di layang kan oleh Jenni. Pria yang memiliki bar terbesar di Texas itu memilih menarik kursi. Duduk di depan Jenni. Tangannya bergerak meracik minum untuk teman cantik nya ini.

"Tidakkah kalian berhenti membalas dendam. Ini sudah berlalu cukup lama, Jenni. Kematian kekasihmu tidak bisa di hindari," nasehat Niko dengan bijak.

Jenni mengangkat pandangan nya menatap tajam wajah Niko. Pria itu malah tersenyum lugu. Seolah-olah tidak ada pandangan mematikan dari seorang Jenni Brown.

"Kau pikir mudah merelakan apa yang terjadi, Niko. Dia dan aku, kami harusnya melangsungkan pernikahan di atas altar. Tapi, dia...harus pergi selama-lamanya karena melindungi Alex. Kau pikir adakah satu kekasih pun di dunia ini yang rela akan kematian pasangan yang di cintai?" cerca Jenni dengan nada serak.

"Hah!" Niko menghela napas. Ia mendorong minuman dingin beralkohol berkadar rendah itu ke depan Jenni."Ya, aku tau dengan hal itu. Hanya saja, semua nya telah berlalu. Kita tidak bisa menyalah kan Alex sepenuh. Karena bukan dia pembunuhnya," ujar Niko mencoba untuk lebih bijak.

Kepala Jenni mengeleng."Tidak. Bukan hanya itu yang membuat aku maupun Alan geram. Saat pemakan Zain, dia tidak mengeluarkan setetes air mata kesedihan pun. Itu benar-benar membuat kami membenci nya," tukas Jenni dengan wajah memerah.

Niko kembali menghela napas. Ya, Niko akui akan hal itu. Alex memang tidak menangis akan kehilangan sahabat satu-satunya. Sahabat yang melindungi nya tanpa sadar meregang nyawa karena nya.

...***...

"Kau tau apa yang aku derita, huh!" Alex bertanya dengan nada dingin pada gadis yang kembali terikat di kursi.

Dara menatap lambat wajah Alex. Kepala nya mengangguk kecil.

"Kau takut padaku, atau jijik padaku?" kembali Alex melontarkan pertanyaan.

Dara mengerutkan pangkal hidungnya. Apakah dia merasa takut atau bahkan jijik pada pria tampan ini?

Entahlah. Dara Margaretha sendiri tidak tau bagaimana pandangan nya pada Alex Felton saat ini.

"Kenapa kau menanyakan pendapatku?" bukannya menjawab Dara malah bertanya kembali.

Dara cukup keheranan. Kenapa Alex Felton menanyakan pandangan nya. Jelas-jelas jika gadis ini tau, sudah pasti akan seorang Bos Mafia Dragon terancam dengan informasi yang di dapat kan. Tidak peduli bagaimana pandangan Dara padanya. Yang harusnya Alex lakukan adalah menghabisi Dara. Hingga rahasia itu terkubur bersama kematian Dara.

"Hanya ingin," jawab Alex,"kau takut padaku?" kembali Alex menanyakan hal yang sama.

"Tidak. Kenapa aku harus takut padamu?" ujar Dara jujur,"kelainan itu, bukan kelainan yang di inginkan. Aku yakin ada sebab yang membuat kau memiliki nya. Setidaknya, itulah yang aku pelajari dari buku," sambungnya.

Alex diam. Pria itu berdiri dari posisi duduknya.

"Tom lepaskan dia," titah Alex.

Pupil mata Alex melebar. Tidak satupun wanita bahkan siapapun bisa lolos jika tau tentang penyakit Alex. Yang bukan dari kelompok Dragon. Tentu tidak akan bisa lolos. Dara adalah yang pertama.

"Bos..."

"Lakukan perintahku!" balas Alex dengan nada dingin.

Tom menghela napas. Pria berkulit hitam itu melakukannya.

"Kenapa kau melepaskan aku?" Dara berseru cepat sebelum Alex melangkah.

"Karena kau pintar. Kau ingat bukan apa yang aku katakan. Aku menyukai wanita pintar. Karena kau begitu, tidak ada salahnya mempertahankan nyawamu," ujar Alex.

"Bagaimana kalau suatu saat aku berkhianat?"

"Tidak sulit membunuh seorang pengkhianat, bagi Alex Felton!" balas Alex. Sebelum melangkah menuju pintu keluar.

Dara menatap lambat punggung belakang Alex. Seberapa banyak rahasia gila yang di sembunyikan oleh Alex Felton di wajah dinginnya itu, Dara penasaran.

1
Arfanacaina_w
kak kenapa ya tidak ada saat aku mencarinya
Nana comel
tidak rela sudah tamat cerita nya😭😭😭😭😭
Komala Sari
Lumayan
Jennifer Jatam
Luar biasa
Jennifer Jatam
Biasa
Rifana Sitorus
Luar biasa
Winda Putri
😁😂
Arfanacaina_w
selalu suka adegan ini sih
romantis banget
Arfanacaina_w
kakak punya instagram tidak sih
untuk karya² kakak
Arfanacaina_w
candu banget sih ceritanya pen terus baca.
S
kak ga ada niat buat bikin lapak buat Zain sma Jennie kisah cinta mereka di lanjutin pengen tahu kelanjutan nya pliss😭
S
kupikir bakal ada lanjtan cerita Jennie huaa pda hal udh Penasaran sma kelanjutan cintanya kembali😭
Winsulistyowati
Mulai ada Ulernya Dara ni. Is Tessa
Winsulistyowati
Waduh..ada aja TDK Berperi keBurungn..Hhhh 😀🤭
Winsulistyowati
Dara...Dara..Braninya Ngerjain Mark adek Mafia..😀😀
Winsulistyowati
Lucu n Ngeri juga
Winsulistyowati
Nyimak aku Thor
トウジさんの奥さん💐❤️
wih ada Manurius nih😁💐
nuning 29
psikolog beda dengan psikiater.
tidak ada dokter psikologi.

S1 psikologi itu mrnjadi psikolog.

sedangkan psikiater, itu sekolah S1 Kedokteran.
setelah lulus, mengambil spesialist/S2 psikiater.
Fitra Susanti
🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!