NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:908
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Jam menunjukkan pukul delapan malam dimana Markus menghentikan mobilnya di depan rumah sakit.

Markus turun dari mobil dengan setelan jasnya yang terlihat lusuh.

Sementara itu Sarah dan dua pengacara Markus juga ikut turun.

"Ayo, kita ambil dia sekarang juga." ucap Sarah dengan senyuman sinis.

Ia sudah tidak sabar membawa adiknya kembali ke rumah dan memenjarakan nya lagi.

Petugas keamanan melihat kedatangan mereka dan lekas menghubungi Ariel kalau Markus kembali datang

"Baik, aku akan segera kesana." ucap Ariel.

Ariel yang baru saja menidurkan Relia langsung memanggil Maya

"Temani dia dan jangan sampai terbangun," pinta Ariel.

Suster Maya mengangguk cepat, wajahnya menegang melihat keteguhan di mata Ariel.

Ia segera duduk di kursi samping tempat tidur Relia, menggenggam tangan gadis itu yang masih sering berkedut dalam tidurnya.

"Jangan khawatir, Dokter Ariel. Saya tidak akan membiarkan siapa pun masuk ke sini," bisik Maya.

Setelah itu Ariel lekas masuk ke dalam lift untuk menghadapi mereka.

Ariel melangkah keluar dari lift dengan langkah yang bergema di lantai marmer lobi yang mulai sepi.

Jas putihnya yang tadi ia lepaskan, kini kembali ia kenakan, namun kancingnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan aura dominan seorang pemimpin yang sedang terusik.

Di depannya, Markus berdiri dengan angkuh, didampingi Sarah yang melipat tangan di dada dengan tatapan meremehkan, serta dua pengacara berwajah kaku yang menjinjing tas kerja kulit.

Jam besuk sudah habis," ucap Ariel datar. Suaranya tidak keras, namun cukup untuk menghentikan langkah rombongan itu tepat di tengah lobi.

Markus maju satu langkah, mencoba mengintimidasi dengan tinggi badannya.

"Saya tidak peduli soal jam besuk. Saya ke sini membawa pengacara dan hak saya sebagai wali keluarga. Bawa Relia keluar sekarang, atau kami akan menuntut rumah sakit ini karena penculikan!"

Salah satu pengacara Markus berdeham, melangkah maju sambil menyodorkan map plastik.

"Dokter Ariel, saya harap Anda kooperatif. Klien saya, Nyonya Sarah, adalah satu-satunya wali sah menurut garis keturunan. Anda menahan seorang pasien yang tidak kompeten secara mental tanpa izin keluarga. Ini adalah pelanggaran hukum berat."

Ariel tidak mengambil map itu. Ia bahkan tidak meliriknya.

Matanya hanya tertuju pada Sarah, yang tampak tidak merasa berdosa sedikit pun setelah membiarkan adiknya disiksa.

"Wali sah?" Ariel tersenyum dingin.

"Informasi Anda sudah kedaluwarsa, Tuan Pengacara."

"Apa maksudmu?!" bentak Sarah.

"Aku kakak kandungnya! Darahku mengalir di nadinya! Kamu tidak punya hak apa-apa atas dia!"

Ariel merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah dokumen asli yang masih berstempel basah dan segar.

Ia membukanya perlahan di hadapan mereka semua.

"Perkenalkan, ini adalah akta pernikahan yang sah," suara Ariel kini terdengar sangat tenang, namun menusuk.

"Tadi sore, Relia Shabrina telah resmi menjadi istri saya. Secara hukum, mulai detik ini, akulah wali utama dan penanggung jawab penuh atas segala hal yang berkaitan dengan nyawa, kesehatan, dan status hukum Relia."

Wajah Markus berubah menjadi merah padam karena murka, sementara Sarah ternganga seolah baru saja dipukul di wajahnya.

"Pernikahan?! Itu tidak sah! Kamu memanfaatkannya karena dia sedang gila!" teriak Markus, tangannya mengepal kuat hingga gemetar.

"Silakan tuntut jika Anda berani," tantang Ariel, matanya berkilat tajam.

"Tapi sebelum Anda melakukannya, biarkan saya memberi tahu Anda sesuatu. Sebagai suami Relia, saya telah memberikan izin kepada tim forensik rumah sakit ini untuk mendokumentasikan setiap luka cambukan di punggung istri saya, setiap lebam, dan setiap sisa trauma yang kalian tinggalkan."

Ariel maju mendekati Markus hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

Ia merendahkan suaranya hingga hanya bisa didengar oleh Markus dan Sarah.

"Jika kalian berani melangkah satu senti saja mendekati istriku, atau mencoba membawanya secara paksa, berkas visum dan laporan pemerkosaan akan langsung mendarat di meja penyidik Kepolisian Pusat besok pagi. Dan dengan pengaruh keluarga Arkatama, aku pastikan kalian tidak akan pernah melihat cahaya matahari lagi dari balik jeruji besi."

Sarah mundur selangkah, rasa takut mulai merayap di wajahnya yang angkuh.

Ia menarik lengan baju Markus, menyadari bahwa mereka bukan lagi berhadapan dengan seorang dokter biasa, melainkan penguasa yang memiliki segalanya.

"Mas, ayo kita pergi dulu..." bisik Sarah gemetar.

Markus menepis tangan istrinya, nafasnya memburu.

"Kamu pikir ini berakhir di sini, Arkatama? Kamu pikir bisa menyembunyikan dia selamanya?"

Ariel tidak gentar sedikit pun. "Bukan aku yang bersembunyi, Markus. Kamu yang seharusnya mulai mencari tempat persembunyian."

Ariel menoleh ke arah kepala keamanan yang berdiri di sampingnya.

"Pak Satrio, kawal orang-orang ini keluar. Jika mereka kembali atau terlihat di sekitar rumah sakit ini dalam radius satu kilometer, langsung hubungi tim pengacara pribadi saya untuk tuntutan pelecehan dan pengancaman."

"Baik, Pak CEO!" tegas kepala keamanan.

Markus menatap Ariel dengan kebencian yang mendalam sebelum akhirnya berbalik dan melangkah kasar menuju pintu keluar, diikuti oleh Sarah dan para pengacaranya yang kini tampak kehilangan taring.

Ariel berdiri mematung di lobi, menatap kepergian mereka sampai mobil mereka menghilang di kegelapan malam.

Bahunya yang tegang perlahan melonggar, namun ia tahu ini barulah awal dari perang yang sesungguhnya.

Kemudian ia kembali masuk kedalam lift dan menuju ke ruang perawatan.

Langkah kaki Ariel terasa berat namun mantap saat ia kembali menyusuri koridor bangsal VVIP yang sunyi.

Ketegangan di lobi tadi masih menyisakan sisa adrenalin di nadinya, namun begitu ia sampai di depan pintu kamar suaminya, ia menarik napas panjang dan mencoba menetralkan ekspresinya.

Ia tidak ingin Relia merasakan residu kemarahan yang ia bawa.

Maya melihat Ariel yang akan masuk ke kamar dan segera ia membuka kunci pintu.

Ceklek!

"Bagaimana keadaannya, Maya?" bisik Ariel sambil mendekat.

"Masih tertidur pulas, Dokter. Sepertinya efek sedatif ringan dan kelelahan hebat membuatnya benar-benar terlelap. Tadi ia sempat mengigau kecil, menyebut nama 'Mbak Sarah', tapi setelah saya usap tangannya, dia tenang kembali," lapor Maya dengan suara yang sangat rendah.

Ariel menatap wajah Relia yang terlelap. Dalam tidurnya, gadis itu tampak begitu rapuh, seolah hembusan angin yang sedikit keras pun bisa menghancurkannya. Namun, ada gurat ketenangan yang mulai muncul, sesuatu yang mungkin tidak pernah ia miliki selama dua tahun terakhir.

"Terima kasih, Maya. Kamu sudah bekerja melampaui tugasmu hari ini. Sekarang kamu harus istirahat. Pulanglah, saya yang akan menjaganya di sini," ucap Ariel tulus.

"Baik, Dokter. Jika terjadi sesuatu, tombol darurat langsung terhubung ke meja perawat di depan. Selamat malam, Dokter, maksud saya, selamat malam, Pak Ariel."

Setelah Maya keluar, keheningan total menyelimuti ruangan mewah itu.

Ariel berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota di bawah guyuran sisa hujan.

Pikirannya melayang pada ancaman Markus dimana pria itu adalah tipe predator yang tidak akan menyerah begitu saja.

"Aku harus memindahkan Relia ke rumah pribadiku secepat mungkin," batin Ariel.

1
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!