Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam dan Ujung Belati
Malam telah jatuh di The Golden Coast. Michael berdiri di balkon mension pribadinya, memegang gelas kristal berisi cairan amber. Angin laut yang dingin menerpa wajahnya, namun pikirannya jauh lebih dingin.
"Rans," panggil Michael tanpa menoleh.
"Sudah saya siapkan, Tuan," sahut Rans yang muncul dari balik pintu geser. "Laporan tentang kejadian sore tadi. Nona Shaneen bertemu dengan Nona Clara di jalan protokol dekat butik bunga. Terjadi adu mulut singkat. Dari rekaman CCTV jauh, Nona Shaneen tampak terpojok dan hampir menangis, sementara Nona Clara terlihat sangat agresif."
Michael menyesap minumannya, alisnya bertaut. "Hampir menangis? Shaneen?"
"Benar, Tuan. Tapi ada satu hal yang janggal," Rans menyodorkan sebuah foto hasil pembesaran dari kamera pengintai. "Lihat pergelangan tangan Nona Shaneen saat dia menyentuh kerah baju Nona Clara. Itu bukan gerakan orang yang sedang ketakutan. Itu adalah pressure point yang bisa melumpuhkan saraf bahu jika ditekan lebih keras sedikit saja."
Michael menatap foto itu dengan intens. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang berbahaya. "Gadis itu... dia benar-benar aktris yang luar biasa. Dia membuat Clara terlihat seperti penjahat di depan publik, padahal dia sendiri yang sedang memegang kendali."
Michael meletakkan gelasnya. "Siapkan mobil. Kita ke mension utama Tizon. Aku ingin menagih 'janji' sarapan yang tertunda tadi pagi."
***
Mension Utama Keluarga Tizon
Shaneen baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra berwarna maroon saat Damian mengetuk pintu kamarnya.
"Nona, Tuan Michael ada di bawah. Beliau ingin bertemu. Nyonya Sera dan Nyonya Martha sudah menyambutnya di ruang tamu."
Shaneen mendesah, ia menatap cermin. "Malam-malam begini? Dia benar-benar tidak bisa membiarkanku tenang ya."
Shaneen segera memulaskan sedikit pelembap bibir dan mengacak rambutnya sedikit agar terlihat seperti orang yang baru bangun tidur—mode "kucing rumahan" diaktifkan kembali.
Begitu turun ke bawah, ia melihat Michael sedang duduk santai sambil berbincang dengan Nenek Martha. Aura Michael sangat mendominasi ruangan itu, kontras dengan kelembutan Ibu Sera yang duduk di seberangnya.
"Michael? Kok malam-malam ke sini?" tanya Shaneen dengan suara serak yang dibuat-buat, sambil mengucek matanya pelan.
Michael berdiri, matanya menatap Shaneen dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Aku merasa bersalah karena melewatkan sarapan kita tadi pagi, Shaneen. Jadi, aku pikir makan malam bersama di dermaga pribadi mungkin bisa jadi penggantinya."
"Dermaga? Sekarang? Tapi ini kan sudah dingin banget!" rengek Shaneen.
"Aku akan meminjamkan jasku," potong Michael cepat. Ia mendekati Shaneen, tangannya terangkat—bukan untuk menjentik dahi kali ini, tapi untuk merapikan helaian rambut di wajah Shaneen. "Ayo. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Sekalian membahas tentang tanggal pernikahan kita."
Tanggal pernikahan? Suasana di ruangan itu mendadak cair. Ibu Sera tampak tersenyum, sementara Nenek Martha hanya menyesap tehnya dengan tenang, matanya mengawasi Michael dengan penuh selidik.
Shaneen terdiam sesaat. Ia tahu Michael sedang memancingnya ke tengah laut, jauh dari jangkauan perlindungan Damian. Tapi, ini juga kesempatannya untuk tahu sejauh mana Michael mau menggali rahasianya. Apalagi mendengar laporan Damian tentang penyusup yang ingin mengetahui tentang seluk-beluk keluarga Tizon. Tentu saja Shaneen tahu kalau itu ulah Michael, jadi dia membiarkannya.
"Baiklah. Tapi kamu harus janji nggak akan menjentik dahiku lagi ya!" Shaneen tertawa manja, lalu ia meraih lengan Michael.
Saat mereka berjalan menuju mobil, Michael berbisik tepat di telinga Shaneen. "Kau tahu, Shaneen... bau bunga mawar putih dari butik tadi sore masih tertinggal di bajumu. Tapi anehnya, ada bau lain yang bercampur di sana."
Shaneen berjengit pelan. "Bau apa?"
"Bau adrenalin," jawab Michael dingin. "Bau yang sama dengan yang aku rasakan di dermaga tadi malam."
Michael membukakan pintu mobil untuk Shaneen, tatapannya seolah ingin menembus langsung ke dasar rahasia gadis itu. "Ayo pergi, Nona Tizon. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang untuk kita berdua."
Dermaga pribadi milik keluarga Miguel itu diterangi oleh lampu-lampu gantung temaram yang bergoyang tertiup angin laut. Sebuah meja kecil sudah tertata rapi di ujung dek, menjorok ke arah laut yang gelap. Michael sengaja memilih tempat ini karena di sini tidak ada tempat bagi siapa pun untuk bersembunyi.
Michael menarikkan kursi untuk Shaneen. "Silakan, Nona Tizon."
"Dingin sekali, Michael," rengek Shaneen, ia merapatkan kardigan tipisnya ke tubuh.
Tanpa banyak bicara, Michael melepas jas hitamnya dan menyampirkannya ke bahu Shaneen. Jas itu hangat, beraroma kayu cendana dan maskulinitas yang kuat. "Lebih baik?"
"Sedikit," sahut Shaneen dengan senyum malu-malu yang sangat manis.
Makan malam berlangsung dengan tenang, namun setiap kata yang keluar dari mulut Michael terasa seperti sebuah jebakan. Michael sesekali menyuapi Shaneen sepotong cokelat truffle, sebuah gerakan yang sangat romantis bagi orang yang melihat, namun bagi Shaneen, ia merasa Michael sedang memeriksa denyut nadinya melalui sentuhan jarinya.
"Kau tahu, Shaneen..." Michael menggenggam tangan Shaneen di atas meja, mengelusnya lembut. "Kadang aku merasa kau adalah teka-teki yang paling sulit dipecahkan oleh perusahaan riset mana pun di The Golden Coast."
"Kenapa begitu? Aku kan cuma gadis biasa yang suka cokelat," jawab Shaneen, matanya berbinar polos.
Michael mendekatkan wajahnya, menatap bibir Shaneen yang merah. "Biasa? Kau lulusan terbaik The Grey Citadel, tapi kau lebih suka berpura-pura tidak mengerti soal angka saat di depanku. Apa yang kau sembunyikan di balik senyum ini, Sayang?"
Wajah Shaneen memerah. Untuk sesaat, ia merasa jantungnya benar-benar berdegup kencang karena jarak mereka yang sangat dekat. Michael benar-benar manusia kaku yang berbahaya jika sedang bersikap romantis.
Namun, di tengah suasana panas itu, insting "naga" Shaneen menangkap sesuatu. Suara desingan angin yang tidak wajar dari arah gudang kontainer di sisi kiri dermaga.
Zhinggg!
Sebuah pisau lempar perak meluncur cepat menembus kegelapan, mengarah tepat ke punggung Michael yang sedang membelakangi arah serangan.
Michael, dengan refleks pemimpin yang sudah terbiasa dengan ancaman, mencoba menarik Shaneen untuk berlindung di bawah meja. "Shaneen, tunduk—!"
Tapi Michael terlambat. Sebelum tangan Michael sempat menarik bahu Shaneen, tangan lembut yang tadinya ia elus itu sudah bergerak lebih cepat dari kilat.
Srak!
Shaneen bahkan tidak berdiri dari kursinya. Dengan gerakan tangan yang begitu tenang dan santai—seolah-olah ia hanya sedang menangkap sehelai tisu yang terbang—jarinya yang lentik dan halus menjepit bilah pisau itu tepat di depan hidung Michael. Hanya berjarak dua inci dari mata Michael.
Michael membeku. Napasnya tertahan.
Shaneen tidak menoleh. Matanya masih menatap Michael dengan sisa-sisa binar polos, namun sudut bibirnya terangkat membentuk seringai yang sangat tipis.
"Michael... ada nyamuk nakal di belakangmu," bisik Shaneen dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat rendah dan berbahaya.
Tanpa melihat ke belakang, Shaneen menjentikkan pergelangan tangannya. Pisau perak yang tadi ia tangkap meluncur kembali ke arah asalnya dengan kecepatan dua kali lipat lebih tinggi.
Jleb!
Terdengar teriakan tertahan dari kegelapan, diikuti suara tubuh yang jatuh ke air laut. Byur!
Hening.
Michael melepaskan napasnya yang sempat tertahan. Ia menatap tangan Shaneen yang kini kembali tenang, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Jari-jari itu tetap terlihat halus, mulus, tidak ada kapalan, namun baru saja melakukan aksi yang bahkan Rans pun butuh latihan bertahun-tahun untuk melakukannya.
Michael berdecak kagum, sebuah tawa getir keluar dari mulutnya. Ia kembali menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Shaneen dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara gairah, kekaguman, dan rasa ngeri.
"Jemari yang lembut nan halus..." Michael bergumam, ia meraih kembali tangan Shaneen dan mengecup ujung jari yang baru saja menangkap pisau itu. "Kau baru saja mematahkan teoriku tentang 'gadis manja Oxford' dalam satu detik, Shaneen."
Shaneen kembali ke mode manjanya, ia memanyunkan bibirnya. "Michael! Tuh kan, baju aku jadi kena cipratan air! Pelakunya jahat banget deh merusak makan malam kita!"
Michael tertawa, kali ini tawa yang tulus. "Jangan berakting lagi di depanku, Shaneen. Aku sudah melihatmu. Dan jujur saja... aku tidak tahu apakah aku harus melindungimu, atau aku harus meminta perlindungan darimu."
Shaneen yang ditanya hanya diam seribu bahasa, dia tidak tahu harus menjawab apa lagi.
Di dermaga yang sunyi itu, Michael menatap Shaneen seolah gadis itu adalah makhluk dari planet lain. Sisa pisau perak yang tadi jepit Shaneen masih tergeletak di atas meja, menjadi bukti bisu yang tak terbantahkan.
"Shaneen," Michael memulai lagi, suaranya berat dan penuh selidik. "Bagaimana bisa jemari yang biasanya cuma dipakai buat milih tas mewah ini, bisa menangkap belati secepat itu? Kau bahkan tidak menoleh."
Shaneen mengerjapkan mata, wajahnya mendadak pucat dan bibirnya bergetar dan mencoba untuk tetap tenang. "Michael, tadi itu... itu refleks karena aku kaget! Kamu tahu kan, aku sering main game tangkap koin di ponsel? Mungkin itu gara-gara aku sering menang level dewa di game itu!"
Michael memijat pelipisnya. Pertanyaan konyol mulai bermunculan di benaknya: Apa kurikulum di Oxford sekarang termasuk latihan menangkap pisau? Atau jangan-jangan dia ini cyborg?
"Refleks game ponsel tidak bisa membuatmu melempar balik pisau itu tepat ke sasaran, Shaneen," desak Michael, mendekatkan wajahnya. "Katakan yang sejujurnya. Siapa yang melatihmu?"
Shaneen mulai terisak palsu, ia menutupi wajahnya dengan tangan. "Kamu kok bentak aku sih? Tadi itu keberuntungan tahu! Aku cuma asal lempar karena takut kena kamu! Kalau kamu mau interogasi aku terus, mending aku pulang sama Damian aja! Hiks..."
Michael menghela napas panjang. Ia tahu gadis ini sedang berakting, tapi aktingnya begitu konsisten sampai Michael merasa seperti orang gila jika terus mendebatnya. Michael akhirnya mengalah, ia menarik Shaneen ke pelukannya.
"Oke, oke. Maafkan aku. Mungkin benar... itu cuma keberuntungan tingkat tinggi," ucap Michael terpaksa mengikuti permainan Shaneen, meski otaknya mencatat: Aku tidak percaya sepatah kata pun.