Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 – Kepingan yang Menemukan Tempatnya
Lampu-lampu ICU menyala redup, menciptakan suasana sunyi yang hampir sakral. Mesin monitor berdetak pelan, stabil. Garis hijau di layar bergerak ritmis, menjadi satu-satunya tanda bahwa kehidupan masih berjuang di dalam tubuh gadis yang terbaring itu.
Daniel berdiri di depan pintu kaca beberapa detik sebelum akhirnya mendorongnya perlahan.
Valeria masih sama.
Tenang. Diam. Rapuh.
Dua bulan lebih sejak malam penembakan itu, dan waktu terasa seperti membeku di ruangan ini.
Daniel melangkah mendekat. Ia menarik kursi, duduk di samping ranjang, lalu menatap wajah gadis yang dulu selalu penuh cahaya itu.
“Aku datang lagi,” gumamnya pelan.
Tangannya terulur, menyentuh ujung selimut, tidak berani langsung menggenggam tangan Valeria seperti biasanya.
Hari ini berbeda.
Ia datang bukan hanya sebagai dokter.
Bukan hanya sebagai pria yang dulu merasa jatuh cinta.
Ia datang untuk jujur.
Daniel menarik napas panjang.
“Aku harus mengatakan sesuatu padamu,” ucapnya pelan, suaranya hampir bergetar.
Matanya menelusuri wajah Valeria. Alisnya yang lembut. Bibirnya yang kini pucat. Rambutnya yang tergerai rapi di atas bantal putih.
“Awalnya… aku tertarik padamu.”
Ia tersenyum kecil.
“Kau berbeda. Kau berani. Kau tidak pernah takut menatap mataku ketika yang lain justru menghindar. Kau selalu menantangku.”
Kenangan itu membuat dadanya menghangat sesaat.
“Aku peduli padamu. Sangat peduli.”
Ia menunduk.
“Dan kupikir itu cinta.”
Keheningan menjawabnya.
Suara mesin tetap stabil.
“Tapi ternyata… aku salah mengartikan.”
Daniel menutup matanya sebentar.
“Kepingan-kepingan itu mulai tersusun belakangan ini. Setiap kali aku bersama Camille… rasanya berbeda.”
Ia tertawa pelan, getir.
“Aku tidak pernah merasa cemburu ketika Alexander duduk di sampingmu. Tidak pernah merasa marah ketika pria lain memperhatikanmu.”
Ia menelan ludahnya.
“Tapi tadi… ketika aku melihat Brian memeluk Camille… aku kehilangan kendali. Aku marah. Aku cemburu.”
Ia menggeleng pelan.
“Dan itu bukan perasaan seorang dokter. Bukan perasaan seorang sahabat.”
Itu perasaan seorang pria yang takut kehilangan.
Daniel menatap wajah Valeria lagi.
“Aku mencintai Camille.”
Kata itu keluar dengan jelas, tanpa ragu kali ini.
“Aku tidak tahu kapan tepatnya itu berubah. Mungkin sejak pertama kali dia menyesali perbuatannya terhadapmu. Atau sejak dia tetap berdiri tegak meski dunia terus merendahkannya.”
Ia menghela napas panjang.
“Dan kau tahu apa yang lebih aneh?”
Matanya melembut.
“Aku berharap kau benar-benar adikku.”
Ruangan terasa semakin sunyi.
Daniel menggenggam ujung ranjang lebih erat.
“Semua cerita yang Mommy dan Daddy sampaikan… semua kecocokan darah itu… semuanya seperti kepingan puzzle yang mencoba menemukan tempatnya.”
Ia menunduk, pikirannya melayang ke beberapa minggu lalu.
---
Flashback
Malam itu, rumah keluarga Daniel terasa lebih tegang dari biasanya.
Isabella duduk di sofa dengan wajah pucat. Ayahnya berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan tatapan kosong.
Daniel baru saja pulang dari rumah sakit ketika ia dipanggil untuk duduk bersama mereka.
“Ada apa?” tanyanya heran.
Isabella saling berpandangan dengan suaminya sebelum akhirnya berbicara.
“Kami harus menceritakan sesuatu tentang Valeria.”
Nama itu membuat Daniel langsung fokus.
“Apa maksud Mommy?”
Ayahnya menarik napas panjang.
“Beberapa hari lalu Daddy bertemu dengan Miguel ayah Valeria di kantor Uncel Eduardo, Daddy menanyakan bagai mana dia menemukan Valeria saat itu.”
Daniel mengernyit. cerita berjalan.
“Dia Putri kami, Adik kecilmu,” lanjut Isabella pelan. “Valentina.”
Daniel terdiam.
"Tes DNA belum keluar untuk meyakinkan hal ini, tapi Daddy percaya bahwa Valeria adalah Putri kami, Adikmu."
Daniel merasakan hawa dingin merayapi punggungnya.
“Kalian sudah Tes DNA?” tanyanya pelan.
Isabella menganguk. “Kami semua mengira bayi itu meninggal.”
"Tapi Tuhan memberi takdir yang berbeda kali ini."
Keheningan menggantung.
“Tapi beberapa minggu lalu,” lanjut ayahnya, “kami mengetahui sesuatu. Orang yang mencukik Valentina kita masih hidup. Itu akan menjadi ancaman buatnya, kalau hal ini terungkap”
Daniel menatap mereka bergantian.
“Valeria… harus dalam pengawasan ketat Dadd, aku tidak mau kehilangannya lagi.” Ujar Daniel geram.
Jantung Daniel berdetak lebih cepat.
"Ya,"
Isabella mengangguk, air matanya menggenang.
“Kami ber tiga akan merahasiakan hal ini dari siapapun."
Daniel teringat liontin yang pernah ia lihat di gelang Valeria.
suara ayahnya melemah, “golongan darah Valeria cocok dengan golongan darahku dan darahmu Niel. kemungkinan besar Valeria memang milik kita”
Daniel membeku.
“Kebetulan yang Indah?” bisiknya.
“Bisa jadi,” jawab ayahnya pelan. “Tapi terlalu banyak kebetulan.”
Isabella menggenggam tangan Daniel.
“Kami sedang menunggu hasil tes DNA.”
Daniel terdiam lama.
Jika itu benar…
Jika Valeria adalah Valentina…
Berarti selama ini—
Gadis yang ia cintai adalah saudara perempuannya.
“Apa kau siap menerima hasilnya?” tanya ayahnya pelan.
Daniel tidak langsung menjawab.
Karena saat itu, untuk pertama kalinya, hatinya terasa tidak hanya takut kehilangan—
Tapi juga takut salah mencintai. Dia merasa bersalah.
---
Kembali ke ICU
Daniel membuka matanya.
Ia masih duduk di samping ranjang Valeria.
“Sejak malam itu,” bisiknya pelan, “aku mulai melihat semuanya dengan berbeda.”
Ia tersenyum kecil.
“Aku tidak lagi takut kehilanganmu sebagai perempuan yang kucintai. Aku hanya takut kehilanganmu sebagai… keluarga.”
Kata itu terdengar lebih tulus dari apa pun yang pernah ia ucapkan sebelumnya.
“Aku ingin hasil DNA itu cepat keluar. Aku ingin semuanya jelas.”
Ia menatap wajah Valeria dengan lembut.
“Kalau kau benar Valentina… berarti selama ini Tuhan memutar jalan kita dengan cara yang sangat rumit.”
Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
“Dan mungkin… perasaanku dulu bukan cinta seorang pria pada wanita.”
Ia tersenyum tipis.
“Mungkin itu naluri seorang kakak yang belum sadar.”
Monitor tetap berdetak stabil.
Daniel akhirnya memberanikan diri menggenggam tangan Valeria.
“Bangunlah,” bisiknya lirih. “Bangun dan beri kami jawaban.”
Ia menunduk, dahinya hampir menyentuh punggung tangan Valeria.
“Aku ingin memanggilmu adik… tanpa keraguan.”
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada perubahan.
Namun untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir—
Hati Daniel terasa lebih ringan.
Kepingan-kepingan yang selama ini berserakan akhirnya menemukan tempatnya.
Ia berdiri perlahan.
Sebelum melangkah pergi, ia berbisik sekali lagi—
“Dan kalau kau memang adikku… aku akan menjagamu. Seperti aku akan menjaga Camille.”
Lalu ia keluar dari ruangan ICU, meninggalkan harapan yang menggantung di antara suara mesin dan doa-doa yang belum terjawab.