NovelToon NovelToon
Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".

Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.

"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.

Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tinju Penghancur Sihir

BOOM!

Ledakan dahsyat memekakkan telinga. Api bersuhu ribuan derajat menelan tubuh Zian bulat-bulat. Tanah batu di bawah kaki mereka langsung meleleh menjadi kaca cair. Gelombang panas menyapu bebatuan sungai hingga retak dan meledak karena perubahan suhu yang drastis. Pusaran api itu menjulang tinggi, menerangi seluruh area Air Terjun Hitam seperti siang hari.

"Hahaha! Mati kau, Sampah!" teriak Tian Ao kegirangan. Dia melompat-lompat dari balik punggung Tetua Wu. Ketakutannya seketika hilang melihat musuhnya tertelan api. "Bakar dia sampai jadi abu, Tetua! Jangan sisakan satu tulang pun! Biar dia tahu rasa berhadapan dengan Jenderal Sekte Api Emas!"

Tetua Wu tersenyum puas. Napasnya sedikit terengah karena baru saja merapal sihir tingkat tinggi dengan kecepatan penuh. Dia mengusap jenggot putihnya dengan bangga.

"Sudah kubilang, Tuan Muda. Kekuatan otot rendahan tidak akan bisa menahan suhu murni dari elemen—"

WUSSS!

Kata-kata Tetua Wu terpotong paksa di kerongkongannya.

Dari tengah pusaran naga api yang mengamuk liar itu, sebuah kepalan tangan menembus keluar. Kepalan tangan itu sama sekali tidak memancarkan energi kultivasi warna-warni, tapi membawa tekanan angin sonik yang begitu padat hingga merobek ruang hampa.

Brak!

Naga api raksasa itu terbelah menjadi dua bagian. Pusaran apinya meledak ke arah luar dan padam seketika, tertiup habis oleh gelombang angin dari tinju Zian.

Dari balik kepulan asap tipis yang tersisa, Zian melangkah keluar dengan langkah sangat santai. Pakaian kainnya memang hangus di beberapa bagian, tapi kulitnya sedikit pun tidak melepuh. Tidak ada keringat, tidak ada luka bakar. Tubuhnya hanya memancarkan uap panas tipis seperti pedang baja yang baru diangkat dari tungku tempa.

Zian menatap Tetua Wu dengan senyum meremehkan.

"Kau menyebut percikan ini api?" Zian menepuk-nepuk sisa abu di bahunya dengan santai. "Mandi air hangat di rumahku bahkan terasa lebih panas dari mainanmu ini."

Mata Tetua Wu melotot hampir melompat dari kelopaknya. Jantungnya berdegup sangat kencang.

"M-Mustahil! Tidak mungkin!" Tetua Wu melangkah mundur tanpa sadar. Telunjuknya gemetar menunjuk ke arah Zian. "Kau menahan Sihir Naga Api tingkat Jenderal langsung dengan tubuhmu?! Kulit macam apa yang kau miliki, Monster?!"

"Kulit yang akan mengantarmu ke neraka," jawab Zian sedingin es.

"Kau bukan manusia! Kau iblis!" Tetua Wu berteriak panik. Nalurinya sebagai petarung veteran menjeritkan tanda bahaya paling tinggi.

Pria tua itu langsung menggigit ujung ibu jarinya sampai berdarah dan menggambar pola segel di udara dengan sangat cepat. Sebuah tameng emas raksasa yang tebal dan bercahaya menyilaukan muncul dari tanah, melindungi tubuhnya dan Tian Ao secara penuh.

"Perisai Emas Penahan Langit!" teriak Tetua Wu. Wajahnya bersimbah peluh. "Ini pusaka tingkat tinggi sekte kami! Jangan harap kau bisa merusaknya dengan otot rendahanmu itu!"

Tian Ao yang tadinya tertawa kini kembali pucat pasi. Dia memukul punggung Tetua Wu dengan kalap. "Tetua! Bunuh dia! Kenapa kau malah memasang perisai?! Cepat serang dia lagi!"

"Diam, Tuan Muda! Bocah cacat ini aneh!" bentak Tetua Wu gusar. Tangannya terus mengalirkan sisa energi untuk mempertebal perisai emas di depan mereka.

Zian tertawa pelan. Tawa yang sangat kering dan mencekam, menggema jelas mengalahkan suara air terjun.

"Perisai Emas? Kebanggaan tertinggi kalian hanya sebuah tempurung kura-kura?" Zian memiringkan kepalanya menatap perisai itu. "Mari kita lihat berapa pukulan yang bisa ditahan mainanmu ini sebelum hancur."

Zian menekuk lutut kanannya. Tanah pijakannya hancur seketika menjadi serpihan batu. Dia melesat membelah jarak seperti peluru meriam, mengabaikan semua hukum pergerakan, dan langsung berada tepat di depan perisai emas itu. Zian menarik lengan kanannya jauh ke belakang bahu. Otot-otot lehernya mengeras kaku.

"Satu."

Bugh!

Tinju Zian menghantam keras permukaan perisai emas itu. Gelombang kejut meledak dahsyat. Tanah di sekitar perisai langsung amblas satu meter. Perisai emas itu bergetar hebat berdengung nyaring. Sebuah retakan kecil seukuran jari langsung retak di titik hantaman.

Mata Tetua Wu membelalak ngeri. "P-Perisaiku... retak?! Hanya dengan satu pukulan tangan kosong?!"

Zian tidak memberinya waktu untuk mencerna rasa kagetnya. Dia memutar pinggangnya, memanfaatkan momentum tarikan Tulang Asuranya, dan kembali melayangkan pukulan kedua. Kali ini jauh lebih padat dan lebih berat.

"Dua."

Brak!

Retakan di perisai emas itu menjalar cepat seperti jaring laba-laba raksasa. Bunyi logam yang mau pecah terdengar menyayat telinga. Cahaya emas pelindung itu meredup drastis.

"Ukh!" Tetua Wu memuntahkan seteguk darah segar ke tanah. Energi pusakanya terhubung langsung dengan organ dalamnya. Hantaman murni Zian menembus perisai dan melukai jantungnya secara paksa.

"T-Tahan! Berhenti! Jangan pukul lagi!" teriak Tetua Wu putus asa. Kesombongannya sebagai tetua agung sekte hancur lebur seketika. "Tuan Zian, kita bisa bicarakan ini baik-baik! Aku punya banyak pil obat tingkat—"

"Bicara pada tinjuku," desis Zian memotong permohonannya.

Zian melompat kecil, memusatkan seluruh kekuatan Tulang Asura murni di lengan kanannya, dan melepaskan pukulan ketiga dengan tenaga paling maksimal yang dia miliki saat ini.

"Tiga."

BOOM! KRAAAK!

Perisai emas pusaka kebanggaan Sekte Api Emas itu meledak berkeping-keping. Serpihan energinya berubah menjadi serbuk cahaya pelangi yang tersapu angin. Gelombang hanturannya menghempaskan udara di sekitar mereka hingga membentuk ruang hampa sesaat.

Serpihan pelindung itu menyapu wajah Tetua Wu dan Tian Ao, menggores pipi mereka. Tapi sebelum Tetua Wu sempat berkedip, sesuatu yang jauh lebih menakutkan sudah berada di depan wajahnya.

Tangan kanan Zian melesat kilat menembus serbuk cahaya dan langsung mencekik leher Tetua Wu dengan sangat erat. Zian mengangkat tubuh pria tua itu ke udara seperti mengangkat seekor ayam sakit yang lemah.

"L-Lepaskan..." Tetua Wu meronta-ronta di udara. Kakinya menendang-nendang angin. Wajahnya membiru kehabisan napas karena saluran udaranya dikunci total oleh cengkeraman Zian.

Dalam keputusasaannya, Tetua Wu berusaha mengangkat kedua tangannya untuk merapal sihir kutukan elemen api jarak dekat. Dia ingin meledakkan tangannya sendiri untuk melukai Zian.

Zian menyipitkan matanya melihat gerakan jari pria tua itu. "Tanganmu terlalu banyak bergerak."

Krak! Krak!

Zian menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk mematahkan kedua lengan Tetua Wu dengan kecepatan brutal. Tulang lengan pria tua itu patah dan melipat ke arah belakang dengan sudut yang mengerikan.

Jeritan kesakitan yang sangat melengking keluar dari mulut Tetua Wu yang tercekik. Suara jeritannya menenggelamkan gemuruh air terjun di dekat mereka. Matanya nyaris melompat keluar merasakan rasa sakit fisik yang belum pernah dia alami seumur hidupnya.

"Kalian dari Sekte Api Emas sangat suka meremehkan orang tanpa energi," bisik Zian tepat di telinga Tetua Wu. Suaranya sangat pelan, tapi mematikan. "Sekarang, rasakan sendiri bagaimana rasanya kehilangan semua energi yang kau banggakan itu."

Zian menarik lutut kanannya jauh ke belakang, lalu menghantamkannya dengan tenaga paling buas tepat ke area perut bawah Tetua Wu, tempat inti kultivasinya bersarang.

Bugh! SPLAT!

Daya hancur dari lutut baja Zian menembus langsung kulit dan daging, menghantam telak pusat energi Tetua Wu. Inti kultivasi tingkat Jenderal yang sudah dilatih puluhan tahun itu meledak hancur berkeping-keping di dalam tubuhnya. Punggung Tetua Wu sampai menonjol ke luar menahan tekanan lutut Zian yang mengerikan.

Pria tua itu memuntahkan darah hitam kental dalam jumlah besar. Matanya mendelik putih. Seluruh urat nadinya terputus, dan napasnya langsung berhenti selamanya.

Zian melepaskan cengkeramannya dari leher Tetua Wu.

Bruk.

Mayat Tetua tingkat Jenderal yang sangat ditakuti dan dihormati di Kota Daun itu jatuh berdebum ke tanah bagai tumpukan sampah tak berguna. Darah segar menggenang cepat di bawah tubuhnya.

Zian berdiri tegak di tempatnya. Dia mengibaskan darah yang menempel di punggung tangannya dengan santai. Dia membiarkan angin malam meniup sisa-sisa uap panas di sekitarnya.

Tidak ada lagi sihir naga api. Tidak ada lagi perisai emas pelindung. Yang tersisa di area itu hanyalah kekuatan fisik murni Zian yang berdiri kokoh di puncak rantai makanan Hutan Hitam.

Setelah menenangkan ritme napasnya sejenak, Zian perlahan memutar tubuhnya.

Tatapannya yang segelap jurang neraka kini tertuju lurus pada satu-satunya nyawa yang tersisa di tepi air terjun berdarah itu.

Tian Ao jatuh terduduk di atas tanah berlumpur. Wajahnya hancur oleh ketakutan yang mutlak. Air mata dan ingus membanjiri wajahnya yang sombong. Celana sutra emasnya basah kuyup karena dia mengompol tanpa bisa dikendalikan.

Pelindung terkuatnya, pusaka sektenya, dan tetua agungnya baru saja diremukkan murni dengan tiga pukulan tangan kosong di depan mata kepalanya sendiri. Otaknya tidak sanggup memproses kenyataan mengerikan ini.

"Sekarang..." Zian melangkah pelan mendekati Tian Ao. Sepatunya menginjak pecahan perisai emas dan bebatuan kerikil hingga berderak tajam. Suara langkahnya terdengar seperti ketukan palu maut pencabut nyawa.

"Tinggal kita berdua, Tuan Muda Tian Ao."

Tian Ao merangkak mundur dengan panik. Bibirnya bergetar hebat mencoba merangkai kata. Tangannya mengais-ngais tanah berlumpur di belakangnya, berusaha menjauh dari iblis yang sedang tersenyum menatapnya. Kematian kini benar-benar merayap naik mencekik kerongkongannya.

1
Dian Pravita Sari
hal fa satupun cerita yg tamat ini novel toon penipu aplikasinya abal. abal
Dian Pravita Sari
tolong pats pembaca kasih tshi says no yelp lembaga konsumen Indonesia brp mau laporkan len pulsanya dimakan to. penyajian ceritanya smbirsgdul gak da tanggung jawab hu least konyrsk
Bucek John
wadauuu.. kantong penyimpanan musuh.. sia sia gak dipunggut, harta buat mdp..
M. Zayden: hahaha iya bosku😅
total 1 replies
Joe Maggot Curvanord
ga adapake jurus apaaa tu thor
cuma tinju asal ajaaa
M. Zayden: iya bosku🙏
total 1 replies
Nanik S
Lasaanjuuuuut
M. Zayden: siap bosku kami akan up setiap hari 2 bab terimakasih🙏
total 2 replies
Nanik S
Hadir
M. Zayden
​"Halo semuanya! Terima kasih banyak ya buat yang sudah antusias minta update. Biar kualitas ceritanya tetap terjaga dan aku bisa rutin nemenin kalian, jadwal update-nya adalah 2 bab setiap hari. Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya! ❤️"
Gege
mantabb
Gege
gasss thoor 10k kata tiap update
M. Zayden: siap bosku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!