"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."
Karya ini berisi Novel dalam Novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suasana Kantor yang bahagia
Azeus turun dari mobil mewah itu dengan gaya maskulin yang luar biasa. Begitu kaki panjangnya memijak lobi gedung pencakar langit milik ayahnya, ia langsung disambut oleh barisan karyawan dan beberapa staf protokol kantor yang bertugas mengiringi langkah sang Ceo Muda.
Namun, ada yang aneh hari ini. Azeus yang biasanya berwajah dingin sedingin es dan sangat kaku, kini berjalan dengan bibir yang tak henti-hentinya tersenyum. Sepanjang koridor menuju lift eksekutif, Azeus menebar senyum ke siapa saja, bahkan ke tanaman hias di pojok lobi pun ia beri senyuman narsisnya. Mood-nya sedang naik 1000 persen gara-gara Asupan rindu semalam di apartemen.
"Selamat pagi, Pak Azeus," sapa resepsionis dengan ragu.
"Pagi! Hari ini cerah banget ya? Secerah masa depan saya," jawab Azeus sambil terus melangkah, membuat para karyawan berbisik-bisik, mengira bos mereka sedang hilang ingatan atau ketempelan jin ramah.
Sesampainya di ruang kerjanya yang megah, Azeus langsung melemparkan jasnya ke sofa dan duduk di kursi kerja kebesarannya. Bukannya langsung memeriksa tumpukan dokumen Manajemen Strategis di depannya, ia malah menyandarkan punggung dan kembali tersenyum gila menatap langit-langit ruangan.
Dalam otaknya, Azeus sudah menyusun rencana nakal. Besok-besok, Nana harus aku bawa ke sini. Masa CEO ganteng kayak aku kerja sendirian? Harusnya ada sekretaris pribadi yang bisa dipeluk kapan aja, batinnya penuh obsesi. Ia membayangkan Nana duduk di pangkuannya sambil ia memeriksa laporan bulanan. Benar-benar definisi kerja sambil bucin.
Irwan, asisten pribadi ayahnya yang super kaku, masuk ke ruangan sambil membawa map laporan. Langkahnya terhenti saat melihat Azeus sedang senyum-senyum sendiri sambil memutar-mutar pulpen mahal di tangannya.
"Den Azeus... Anda sehat?" tanya Irwan sambil menggeleng-gelengkan kepala heran.
"Sangat sehat, Wan! Lebih sehat dari atlet lari mana pun," sahut Azeus tanpa menghilangkan senyum mengerikannya.
"Ada laporan apa hari ini? Cepetan kasih tahu, Aku mau kerjain secepat kilat biar bisa pulang nemuin 'nyawa' ku."
Irwan hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu betul, perubahan drastis ini hanya bisa disebabkan oleh satu orang: Aluna. Azeus benar-benar sudah menjadi budak cinta yang paling tidak tertolong di dunia korporat ini.
"Ini laporan dari Perusahaan Cabang, Den. Ayah Anda sudah menunggu diruang rapat, beliau ingin melihat apakah senyum Anda ini bisa menghasilkan profit atau malah bikin saham anjlok," sindir Irwan halus.
Azeus tertawa renyah, sebuah suara yang sangat jarang terdengar di kantor itu.
"Bilang sama Papa, hari ini Aku bakal bikin rekor baru. Semangat ku lagi di puncak dunia"
^^^
Azeus melangkah menuju ruang rapat utama dengan langkah tegap, namun senyum narsis yang menghiasi bibirnya benar-benar kontras dengan ketegangan di area boardroom. Di sana, sang Ayah duduk di kursi kebesaran, didampingi jajaran direksi dan pemegang saham yang tampak kaku.
Begitu Azeus duduk, semua mata tertuju padanya. Irwan yang berdiri di samping meja sudah menyiapkan proyektor.
"Oke, semuanya. Mari kita bahas Strategi Ekspansi Kuartal Ketiga untuk cabang utama," buka Azeus dengan suara bariton yang mantap.
Anehnya, setiap kata yang keluar dari mulut Azeus diiringi dengan senyum tipis yang tak kunjung hilang. Ia menjelaskan grafik profit, analisis kompetitor, hingga risk management dengan sangat lancar dan profesional. Meskipun hatinya sedang berbunga-bunga karena bayangan Aluna di apartemen, otaknya tetap bekerja dengan presisi sebagai seorang CEO muda.
"Kita akan mengakuisisi beberapa vendor lokal untuk memotong biaya logistik sebesar 15%. Dengan begitu, Arus Kas Perusahaan akan tetap stabil meski kita melakukan investasi besar di bidang teknologi," lanjut Azeus sambil menatap ayahnya dengan tatapan penuh kemenangan.
Ayah Azeus hanya terdiam, alisnya terangkat sebelah. Beliau bingung melihat putranya yang bicara soal angka-angka rumit tapi mukanya mirip orang yang baru menang undian seratus miliar. Para direksi lain saling berbisik, kagum dengan ketajaman analisis Azeus, meski mereka merasa suasana rapat hari ini jadi agak "mistis" karena bos mereka terlalu ramah.
"Ada pertanyaan? Kalau tidak, saya harap keputusan ini segera dieksekusi sebelum jam makan siang berakhir. Saya ada... urusan mendesak yang menyangkut 'masa depan' saya," ucap Azeus sambil melirik jam tangan Rolex-nya.
Ayahnya berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawa di ruangan itu.
"Analisis yang bagus, Azeus. Tapi bisakah kamu berhenti tersenyum seperti itu? Kamu membuat para pemegang saham merasa sedang berada di acara lamaran, bukan rapat bisnis."
Azeus tertawa renyah, menutup map laporannya dengan suara plak yang mantap.
"Maaf, Pa. Habisnya, prospek bisnis kita secerah senyum seseorang yang sedang menunggu saya di rumah. Sulit untuk tidak bahagia."
Irwan hanya bisa membuang muka, sementara Ayah Azeus memijat pangkal hidungnya. Beliau sadar, Azeus memang sudah menjadi Pemimpin yang Kompeten, tapi sifat bucin-nya benar-benar di luar kendali.
.
Azeus berdiri di ujung meja rapat, membetulkan letak dasinya dengan gaya narsis yang sangat kental. Padahal rapat baru saja dimulai, tapi ia sudah sibuk berkaca di layar televisi besar yang menampilkan slide presentasi.
"Gimana, Wan? Pantulan saya di layar ini udah cukup buat naikin harga saham kita belum? Kayaknya kegantengan saya hari ini agak mengganggu konsentrasi para direktur," celetuk Azeus sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan jari.
Seketika, ruangan yang tadinya tegang itu mendadak sunyi. Beberapa direktur tua saling lirik, mencoba memproses apakah pimpinan muda mereka ini sedang serius atau sedang kesurupan.
"Oke, serius. Mari kita bahas Laporan Arus Kas. Angka profit kita naik 20%, hampir setinggi rasa percaya diri saya pagi ini," lanjut Azeus dengan wajah yang tetap profesional, namun senyum miringnya tak pernah hilang.
"Kalau grafik ini terus naik, saya rasa kita nggak perlu sewa artis buat iklan. Pasang aja foto saya di papan reklame seluruh Jakarta, dijamin ibu-ibu komplek langsung borong produk kita."
Seorang direktur keuangan di pojok ruangan sampai harus menutup mulutnya dengan tangan, bahunya bergetar hebat karena menahan tawa yang nyaris meledak.
"Pak Azeus, tolong fokus ke target audiens kita," tegur Ayahnya dengan nada berat, mencoba menjaga wibawa sebagai Pemimpin Utama.
Azeus terkekeh renyah.
"Tenang, Pa. Audiens kita itu butuh penyegaran mata. Lihat, bahkan Pak Dirman di pojok sana sampai gemetaran, mungkin terpesona atau emang lagi nahan tawa karena saya terlalu lucu buat jadi bos yang kaku."
Mendengar itu, Irwan yang berdiri di belakang Azeus langsung memalingkan wajah ke arah dinding. Punggung Irwan bergetar hebat; ia menunduk sedalam mungkin, berusaha mati-matian agar suara tawanya tidak pecah di depan sang penguasa perusahaan. Ia belum pernah melihat Azeus se-ajaib ini selama tiga tahun terakhir.
"Pokoknya, strategi saya simpel: kerja keras, untung besar, dan jangan lupa bahagia kayak saya sekarang. Karena orang yang bahagia itu produktif, apalagi kalau di rumah ada yang nunggu buat dipeluk," tutup Azeus tanpa dosa, membuat suasana rapat yang biasanya mirip pemakaman itu berubah jadi panggung komedi tunggal.
Ayah Azeus hanya bisa memijat pangkal hidungnya, pasrah melihat putranya yang kini menjadi CEO paling narsis sekaligus paling kompeten yang pernah ada.
^^^
Pintu ruang rapat tertutup dengan sisa-sisa tawa tertahan dari para direksi, tapi Azeus sudah melesat lebih dulu menuju ruang kerjanya. Dengan gaya narsis yang tak hilang, ia sempat mengerling ke arah cermin lobi sambil membenarkan kerah jasnya. "Sempurna," gumamnya.
Begitu sampai di kursi kebesarannya, Azeus langsung merogoh ponsel dari saku jas. Ia sudah membayangkan suara lembut Aluna menyambutnya di telepon. Namun, saat jemarinya menyentuh layar, senyum di bibir Azeus luntur seketika.
Ia baru sadar akan satu hal yang sangat fatal.
"Sial... aku nggak punya nomor dia yang sekarang," desis Azeus frustrasi. Ponsel yang ia berikan tiga tahun lalu ditinggalkan Aluna di ranjang, dan selama tiga tahun ini, ia hanya berkomunikasi dengan "detektif palsu" alias anak buah ayahnya.
Azeus mendengus kasar, wajah maskulinnya berubah mendung dalam sekejap. Tanpa pikir panjang, ia beranjak dari kursi, menyambar jasnya, dan melangkah lebar menuju ruangan CEO Utama. Masa bodoh dengan etika mengetuk pintu, Azeus langsung menerjang masuk ke ruangan ayahnya.
"Pa! Nomor Aluna!" tuntut Azeus tanpa basa-basi.
Ayahnya yang sedang menyesap kopi di balik meja jati mewahnya hanya mengangkat alis, menatap putra bucin-nya itu dengan tatapan datar.
"Tadi di rapat tertawa-tawa seperti orang gila, sekarang wajahmu sudah seperti mau menelan orang. Kenapa?"
"Zeus mau telepon Nana! Papa kan yang bayar apartemen dan kuliahnya, nggak mungkin Papa nggak punya nomor teleponnya!" seru Azeus, berdiri tegap di depan meja kerja sang Ayah dengan aura Dominan yang mendesak.
Ayah Azeus terkekeh pelan, seolah sangat menikmati penderitaan kecil putranya itu. Beliau sengaja diam beberapa saat, membiarkan Azeus berdiri gelisah sambil memutar-mutar ponselnya.
"Papa punya," jawab ayahnya santai.
"Tapi ingat syaratnya, Azeus. Kerja profesional. Jangan sampai Papa dengar kamu malah asyik teleponan berjam-jam saat jam kerja."
"Iya, iya! Janji! Mana nomornya?!" desak Azeus yang sudah tidak sabar ingin mendengar suara nyawanya itu.