Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Tessa masih memegang sendok kecil itu ketika suara nick kembali terdengar,
“Kenapa kau berhenti makan?” tanya nick dengan suara datar, tapi cukup tajam untuk membuat beberapa pelayan diruangan itu menegakkan punggungnya.
Tessa menatap nick ragu-ragu, “Aku… sudah cukup kenyang, nick,"
“Kau bahkan belum menghabiskan setengahnya.”
“Ini terlalu banyak untuk porsi makanku.” tessa mulai merasa udara disekitarnya menipis,
Nick meletakkan cangkir kopinya sedikit lebih keras dari sebelumnya. Bunyi porselen beradu terdengar jelas di ruangan yang terlalu hening itu.
“Aku tidak suka orang membuang makanan.”
“Aku tidak bermaksud membuang..." jawab tessa sebelum nick kembali memotong kalimatnya,
“Aku belum selesai bicara.” ucap nick tegas.
Tessa langsung diam.
Beberapa detik berlalu terasa begitu lama,
Nick menatapnya tajam, bukan marah besar, tapi tatapan yang menuntut kepatuhan.
“Habis kan sekarang.” ucap nick tegas, itu bukan permintaan tapi perintah yang mau tidak mau harus tessa lakukan,
Tessa menelan ludah pelan. Ia kembali mengambil sendoknya dan mulai makan, meski sebenarnya sudah tidak berselera karena perutnya terasa penuh,
Nick tidak lagi melihatnya. Ia kembali membaca laporan di ponselnya, seolah perdebatan kecil tadi tidak penting.
Namun bagi Tessa, itu jelas, nick sedang mengujinya,
Beberapa menit kemudian, seorang pelayan wanita mendekat dengan ragu.
“Tuan… gaun untuk malam ini akan dikirim sebelum pukul lima sore, Apakah Nyonya ingin melihat referensi pilihannya terlebih dahulu?”
Tessa hampir menjawab refleks.
“Aku tidak terlalu...."
“Dia tidak memilih dari referensi gambar.” suara Nick kembali memotong.
Pelayan itu langsung menunduk. “Baik, Tuan.”
Tessa menggenggam ujung serbetnya.
“Aku bisa memilih sendiri,” ucapnya pelan, mencoba terdengar tenang.
Nick menoleh perlahan menatap tessa,
“Memilih apa?”
“Gaunku.”
Hening.
Tatapan Nick berubah lebih dingin.
“Kau pikir aku mengatur semua ini agar lebih mudah atau untuk kau perdebatkan?” suara nick pelan tapi tajam,
“Aku hanya....” belum sempat tessa selesai menjawab, tapi suara nick sudah meninggi,
“Aku tidak suka dibantah.”
Suasana ruang makan membeku.
Para pelayan menunduk lebih dalam.
Tessa bisa saja mundur.
“Aku tidak membantahmu nick,” katanya hati-hati. “Aku hanya ingin tahu apakah aku boleh punya pilihan atau tidak saat bersama denganmu,” tessa pikir Itu kalimat paling berani yang ia ucapkan sejak menikah.
Dan efeknya langsung terasa.
Nick berdiri dari kursinya,
Kursinya bergeser keras di lantai marmer.
“Aku sudah memberi posisimu. Aku sudah memastikan tidak ada yang meremehkanmu. Dan kau masih mencari celah untuk menentangku?”
“Aku tidak bermaksud menentang.....”
“Cukup!!" satu kata dari nick terdengar keras dan tegas,
Nick melangkah mendekat. Berhenti tepat di samping kursinya. Tidak menyentuhnya. Tapi kehadirannya terasa menekan.
“Selama kau berada di rumah ini,” ucapnya rendah, “kau belajar dulu bagaimana dunia ini bekerja. Setelah itu, baru bicara soal pilihan.” jawab nick dengan kata-katanya yang membuat tessa hampir terisak,
Tessa menahan napas.
Bukan karena takut sepenuhnya.
Tapi karena ia mulai mengerti sesuatu.
Nick tidak hanya keras.
Ia terbiasa mengendalikan semuanya.
Dan siapa pun yang tidak sejalan, akan dipotong.
Nick meraih jasnya dari sandaran kursi.
“Aku sudah selesai sarapan.”
Ia berjalan keluar lebih dulu tanpa menoleh.
Para pelayan tetap diam sampai pintu tertutup.
Tessa masih duduk di kursinya.
Tangan kecilnya masih memegang sendok.
Jantungnya berdetak keras.
Ia tidak tahu apakah yang ia rasakan itu takut atau justru tantangan.
Karena satu hal kini jelas.
Jika ia ingin benar-benar berdiri di samping Nick,
ia tidak bisa selamanya hanya mengangguk.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna