NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.

Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.

Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Serigala

Siapa lagi kalau bukan Noah?

Tubuh baru Onad, yang kini bernama Noah, adalah wujud fisik yang selalu ia impikan dan anggap ideal. Tingginya sekitar 190 sentimeter, dengan warna kulit putih normal seperti di kehidupan sebelumnya.

Rahangnya tegas dan sedikit lebar. Wajahnya proporsional dan tampan. Otot-ototnya menonjol dengan perut six pack yang jelas.

Berbeda dari kehidupan lamanya, kali ini warna rambutnya hitam pekat, bukan cokelat. Rambut itu halus, lembut, dan sedikit bergelombang, disisir dari sisi kanan menurut sudut pandangnya.

Panjangnya tidak pendek, tapi juga tidak sampai sebahu. Matanya pun hitam, tidak lagi biru seperti dulu. Ia sengaja memilih itu agar tidak terlalu mencolok atau dianggap berasal dari wilayah tertentu, karena mata biru sering kali langsung diasosiasikan dengan negara atau daerah tertentu. Rambut dan mata hitam jauh lebih universal.

Postur tubuhnya sangat seimbang. Bagian atas tubuhnya memiliki bahu lebar dan lengan besar, dengan dada yang proporsional dengan keseluruhan bentuk tubuhnya. Lengan bawahnya juga pas, sementara kakinya menyerupai kaki seorang atlet.

Dari penampilannya, ia terlihat berusia sekitar dua puluh lima atau dua puluh enam tahun. Seseorang yang tampak seperti punya latar belakang binaraga atau pelatihan militer.

Struktur wajahnya akan terlihat mencolok di mana pun ia berada. Ia memilih memadukannya dari gambaran dua karakter fiksi paling tampan yang pernah ia kenal di kehidupan lamanya, Bruce Wayne alias Batman dan Dick Grayson alias Nightwing.

Tidak terlalu sangar, tapi juga tidak terlalu tampan berlebihan. Dengan begitu, ia terlihat seperti orang yang tidak boleh diremehkan, tapi juga tidak terlalu muram atau serius.

Baik orang muda maupun yang lebih tua masih bisa mendekatinya tanpa sungkan.

Ia memilih usia dan bentuk tubuh ini dengan banyak pertimbangan. Terutama karena ia tidak suka, atau lebih tepatnya muak, dengan cerita-cerita di mana tokoh utama bereinkarnasi ke tubuh anak lima belas tahun yang entah bagaimana bisa melawan orang dewasa dan mereka yang telah berlatih seumur hidupnya, hanya berkat plot armor.

Ia berusia tiga puluh tahun di kehidupan lamanya. Tentu saja ia tidak ingin terlihat seperti anak kecil lagi. Tapi usia tiga puluh ke atas juga akan membuatnya tampak seperti orang setengah baya, yang bisa menghalanginya masuk ke tempat tertentu atau berbaur dengan kalangan muda.

Jadi menurutnya, dua puluh lima adalah usia tampilan yang paling ideal.

Noah dipenuhi rasa hidup dan kegembiraan. Ia akhirnya bisa merasakan sensasi memiliki tubuh lagi. Ia merasakan udara dingin menyentuh kulitnya dan angin sepoi-sepoi yang melewatinya.

Ia mencium aroma tanah dan dedaunan di udara. Saat itu masih pagi, matahari baru terbit dan menerangi sekelilingnya. Ia menarik napas dalam-dalam dan akhirnya ia merasa benar-benar hidup. Ia tidak tahu sudah berapa lama sejak ia mati di Bumi.

Mungkin bertahun-tahun, mungkin puluhan tahun, atau bahkan ribuan tahun.

Tapi sekarang itu tidak penting. Dunia inilah tempat ia akan hidup mulai sekarang. Ini adalah kesempatan hidup keduanya.

“Tunggu, gue telanjang bulat?” seru Noah, lalu mendongak ke langit dan berteriak, “Dewa sialan! Pelit banget sih Lo! Lo bahkan nggak bisa ngasih gue baju? Dewa Kegelapan apaan! Mending sekalian dipanggil Dewa Pengemis!”

Noah meluapkan kekesalannya. Dewa Kegelapan benar-benar tampak menyedihkan.

Namun ia cepat menenangkan diri. Itu bukan hal terpenting saat ini.

“Baiklah, berdasarkan pola umum cerita novel dan manga reinkarnasi,” gumamnya dalam hati, “Sebentar lagi gue pasti bakal ketemu musafir yang sendirian di hutan yang lagi dikejar monster, atau seorang putri yang diserang bandit atau ....”

Atau orang-orang yang mengejarnya.

Pilih yang mana ya?

Noah bergumam sendiri sambil mulai mengamati sekeliling.

Namun sesaat kemudian, terdengar geraman yang sangat suram dan mematikan dari belakangnya.

Seketika, kemampuan Insting Bertahan Hidup aktif, membuat seluruh tubuhnya merinding.

Geraman itu jelas milik binatang buas. Seekor predator. Noah menoleh dan melihat apa yang berdiri hanya lima meter di belakangnya.

Tiga serigala raksasa, masing-masing setinggi sekitar dua meter lebih.

Mata mereka merah menyala, pupilnya terkunci penuh pada mangsanya. Dua di antaranya memiliki bulu campuran hitam dan putih, sementara yang berdiri paling depan berbulu merah sepenuhnya. Jelas dialah pemimpin kawanan itu.

Ketiga serigala itu mengamati Noah, menilai seberapa kuat sarapan pagi mereka. Yang tidak mereka duga, keringat sudah menetes dari dahi Noah. Ia hanya mampu mengucapkan satu kata.

“ANJING!”

Di tengah hutan hijau gelap yang luas, seorang pria telanjang berlari tanpa peduli siapa pun yang mungkin melihatnya, seperti seorang ekshibisionis yang nekat.

Bukan karena ia mau. Ia hanya tidak punya waktu untuk mencari pakaian atau penutup apa pun.

Di belakangnya, berlari tiga Golden Retriever. Eh, maksudnya tiga serigala.

Noah berlari mati-matian sementara tiga serigala raksasa mengejarnya dengan niat membunuh yang jelas terpancar dari mata mereka dan rasa lapar yang menggerogoti perut mereka.

Ini sama sekali bukan sambutan yang dibayangkan Onad, yang kini bernama Noah.

“Gila! Ini bukan cara ngenalin protagonis ke dunia baru! Bajingan itu malah ngirim gue tepat di depan kawanan serigala!” Noah mengumpat dalam hati, menyalahkan Dewa Kegelapan atas timing yang benar-benar buruk.

Tapi tak ada gunanya. Yang bisa ia lakukan hanya terus berlari demi nyawanya.

Noah sempat berpikir membunuh monster akan gampang seperti di novel atau manga. Tapi sialnya, monster-monster ini sama sekali tidak mudah.

Tiga serigala yang mengejarnya jelas sudah berpengalaman. Setiap kali ia mencoba berbelok, satu dari mereka langsung menutup jalur pelariannya, sementara yang lain menutup kemungkinan arah berikutnya.

Pemimpin mereka bahkan lebih buas. Serigala merah itu tak pernah berhenti mencoba membunuhnya.

Setiap serangan diarahkan untuk mengakhiri hidup mangsanya dalam satu gerakan. Kerja sama mereka begitu rapi sampai Noah benar-benar terpojok.

Sekarang ia paham betapa mematikannya kawanan serigala. Jauh berbeda dari gambaran di novel, manga, atau anime, di mana tokoh utama yang belum berpengalaman bisa saja membantai satu kawanan hanya dengan satu ayunan pedang atau skill sihir receh.

Jelas makhluk-makhluk ini tahu cara berburu.

Kalau bukan karena tubuhnya yang kekar, penuh otot, dan lincah, Noah pasti sudah jadi santapan panggang sejak tadi.

Kejar-kejaran itu terus berlangsung. Serigala-serigala itu mengejar, dan Noah berlari seperti Usain Bolt (Pelari Jamaica) kerasukan. Baru ketika ia mendekati sebuah tebing, ia berhenti.

“Sial. Nggak ada jalan lain. Tunggu, jangan-jangan mereka sengaja ngegiring gue ke sini?” pikir Noah.

Strateginya memang sempurna. Entah serigala-serigala itu yang akan membunuhnya, atau ia melompat ke bawah, hasilnya tetap sama. Noah mati, dan serigala-serigala itu dapat makanan enak.

Noah menatap tajam kawanan itu, terutama serigala merah yang jelas-jelas alpha mereka. Ia tahu dirinya punya aura Dominasi Perang untuk menakuti musuh, berkat Berkah dari Khelgar, sang Dewa Perang.

Tapi ia tidak tahu seberapa kuat dirinya sekarang, atau seberapa kuat para pemburunya. Tidak ada jendela status yang menunjukkan level atau statistik apa pun.

“Gue harus ngapain? Loncat aja?” batinnya sambil melirik ke belakang tebing.

Angin kencang menerpa tubuh telanjangnya, dan ia melihat betapa tingginya tebing itu menjulang di atas tanah di bawah sana.

1
Amir Machmud
thor..ayo dilanjut..aku tambah penasaran...tak tunggu..
Amir Machmud
lanjut bab...beli coin atau lihat seponsor...
Amir Machmud
gimana kelanjutannya...
azizan zizan
sudah lah buang aja lah dari rak baca.... cerita tah apa2 tah ini...
azizan zizan
Thor kau bercerita apa kau menjelas...??????🤔🤔
DityaR: Oh, maksudnya Pacing cepat,
aku sengaja ga pakai itu. Feel-nya kurang dapet, lagian itu monolog dari persepsi Noah kok, biar konflik batin dia dapet. kan dia udah ga pingin hidup itu, sekalian jelasin latar belakang dia sama motif dia. itu di bab awal broo, kalau aku kasih sat set, gak dapat latar belakangnya si Noah itu karakternya gimana, soalnya ga cukup kalau cuma di tulis 1 paragraf buat jelasin Noah itu kek gimana, jadinya kek formulir pendaftaran ekskul wkwkwk.
jadi aku sampirin di monolog, di narasinya.

Iya paham novel online pembacanya suka yang sat set alias Pacing cepat kan?

Coba kita buat vibe yang beda ....

Jadi kalau lagi buru-buru, gpp skip aja.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!