NovelToon NovelToon
Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Ruang Rahasia Sang Pembantu: Aku Bukan Lagi Debu Di Kakimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.

Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.

"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."

Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.

Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.

Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.

"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.

Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.

"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."

Ruang itu bersinar.

Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - TIGA TAHUN YANG BOHONG

Gagang pintu itu berputar. Tapi Lily tidak ikut masuk. Bukan karena tidak mau, tapi karena tiba-tiba dari luar gudang ada suara gerendel yang digeser, dan cahaya senter masuk dari celah pintu sebelum Lily sempat bereaksi. Dia reflek mundur, menyingkir ke sudut, dan dalam dua detik sudah berdiri dengan punggung menempel di dinding batu yang dingin.

Pintu gudang terbuka.

Bibi Rah, pembantu tua yang sudah bekerja di rumah ini lebih lama dari usia Nindi masuk dengan senter di satu tangan dan nampan di tangan yang lain. Di atas nampan ada segelas air putih dan sepotong roti tawar tanpa apa-apa.

Bibi Rah tidak banyak bicara. Dia tidak pernah banyak bicara. Dia letakkan nampan itu di lantai dekat pintu, menatap Lily sebentar dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. Bukan kasihan, bukan dingin, mungkin di tengah-tengahnya ... lalu pergi lagi.

Gerendel dipasang kembali dari luar.

Lily berdiri di kegelapan yang kembali penuh.

Dia lirik ke sudut belakang. Ke arah tumpukan kardus yang sudah dia singkirkan sebagian. Ke pintu kecil yang tadi gagangnya berputar sendiri.

Sekarang pintu itu tertutup rapat. Tidak ada cahaya dari bawahnya. Seperti tidak pernah ada.

Lily menghela napas panjang. Dia ambil gelas air putih dari nampan, minum setengah, lalu duduk bersandar di dinding dengan dengkul ditekuk ke dada. Roti tawarnya tidak dia sentuh.

Otaknya tidak mau diam. Dan karena gelap di sini tidak menawarkan hal lain untuk dilihat, pikirannya pergi ke tempat yang sudah lama ingin dia hindari.

Ke Dimas.

Lily kenal Dimas Arya tiga tahun lalu di pasar tradisional yang jaraknya dua kelurahan dari rumah.

Bukan pertemuan yang istimewa. Lily sedang milih cabai, Tante Sari minta yang merah tua, bukan yang oranye, dan penjualnya tidak mengerti bedanya. Dan Dimas berdiri di sebelahnya sedang kebingungan dengan daun bawang.

"Ini daun bawang atau bawang daun?" katanya ke dirinya sendiri, tapi keras.

Lily tanpa mikir menjawab. "Sama aja. Tapi kalau buat soto, pakai yang ini." Dia tunjuk yang lebih tipis.

Dimas menatapnya. Lalu senyum dengan cara yang membuat Lily sadar dia sudah ikut campur urusan orang asing.

"Kamu sering masak?"

"Tiap hari."

"Chef?"

Lily hampir tertawa. "Pembantu rumah tangga."

Dimas tidak berubah ekspresinya. Tidak ada oh yang canggung, tidak ada jarak yang tiba-tiba muncul. Dia cuma mengangguk dan bilang, "Berarti kamu yang paling tahu soal ini. Kasih yang bagus ya, Bu," katanya ke penjualnya sambil menunjuk pilihan Lily.

Mereka ngobrol sampai Lily ingat cabainya belum dibayar.

Bertukar Nomor telepon di parkiran pasar, di atas kertas bon yang Dimas robek dari kantong celananya.

Tiga bulan pertama, Lily tidak cerita ke siapa-siapa.

Bukan karena malu. Tapi karena dia tahu dengan kepastian yang sudah dibangun bertahun-tahun hidup di rumah itu. Bahwa kalau Tante Sari atau Nindi tahu ada yang memperhatikan Lily, mereka akan mencari cara untuk membuat itu jadi masalah.

Jadi Lily menyimpan Dimas seperti menyimpan sesuatu yang berharga di tempat yang tidak ada orang tahu. Rapat-rapat, di bagian yang paling tidak mencolok.

Mereka ketemu di tempat-tempat yang tidak ada hubungannya dengan rumah Lily. Warung kopi di jalan raya yang bangkunya plastik dan wifi-nya sering mati. Taman kota yang sorenya ramai tapi sudut tertentu selalu sepi. Sekali-sekali bioskop kalau Lily berhasil dapat waktu luang yang cukup.

Dimas tidak pernah protes soal lokasi. Tidak pernah tanya kenapa mereka tidak pernah ke tempat yang lebih bagus, kenapa Lily selalu buru-buru pulang sebelum jam delapan, kenapa dia tidak pernah diajak ke rumah.

Lily pikir itu karena Dimas mengerti.

Sekarang, duduk di lantai gudang yang dingin, Lily memikirkan kemungkinan lain. Mungkin Dimas tidak protes karena memang tidak merasa perlu. Karena hidupnya yang utama ada di tempat lain. Dan Lily adalah bagian yang mudah untuk dijaga tetap rapi di pinggir.

Dimas bekerja sebagai staf di perusahaan keluarga Hartono. Keluarga besar yang rumahnya persis, menjadi rumah tempat tinggal Lily jadi pembantu. Lily tahu itu dari awal karena Dimas cerita di pertemuan ketiga mereka, santai, sambil minum kopi yang terlalu manis.

"Kantor aku dekat sini," katanya. "Jalan kaki juga bisa."

"Perusahaan apa?"

"Properti. Punya keluarga besar, aku cuma staf biasa." Dia senyum. "Tapi gajinya lumayan. Cukup buat beli kopi yang lebih enak dari ini."

"Kopi ini enak," kata Lily.

"Kamu bilang begitu karena kamu yang pilih tempatnya."

Lily tidak menyangkal.

Yang Lily tidak tahu waktu itu adalah bahwa kantor Dimas juga tempat Nindi magang, program dari universitas yang dibiayai ayah Lily itu dan bahwa mereka sudah kenal jauh lebih lama dari yang Dimas pernah sebut dalam percakapan mana pun.

Tidak sekali pun.

Lily mengingat-ingat malam ini dengan teliti, seperti membaca ulang buku yang sudah khatam untuk mencari halaman yang terlewat. Apakah pernah ada momen Dimas menyebut nama Nindi? Apakah pernah ada yang terasa aneh?

Ada.

Tentu ada. Sekarang terlihat jelas.

Setahun lalu, waktu Nindi mulai magang dan tiba-tiba sering pulang larut malam dengan alasan "lembur, teman-teman kantor seru," Lily pernah iseng cerita ke Dimas.

"Saudara tiriku mulai kerja," katanya. "Kantor properti di deket sini katanya."

Dimas mengangkat alis. "Oh ya? Namanya siapa?"

"Nindi."

Satu detik jeda yang terlalu sebentar untuk Lily perhatikan waktu itu.

"Hmm. Nggak kenal kayaknya. Kantornya luas, banyak orang."

Lily percaya begitu saja.

Sekarang dia ingat jeda satu detik itu dan perutnya mual.

Yang lebih menyakitkan dari pengkhianatannya bukan soal Dimas tidur dengan Nindi.

Yang lebih menyakitkan adalah betapa konsisten Dimas berbohong.

Bukan sekali... tapi ratusan kali, selama setahun penuh, dalam obrolan kecil yang tidak kelihatan berbahaya. Lily ingat Dimas pernah bilang dia tidak suka perempuan yang terlalu bergantung. Pernah bilang dia menghargai kejujuran di atas segalanya. Pernah bilang, suatu sore di taman kota waktu angin lagi bagus, "Aku nggak ngerti orang yang bisa bohong ke orang yang sayang sama mereka. Kayak gimana caranya bisa hidup kayak gitu."

Lily ingat waktu itu dia mengangguk dan merasa menemukan seseorang yang punya nilai yang sama dengannya.

Sekarang dia tahu kalimat itu diucapkan oleh orang yang sudah berbulan-bulan menyembunyikan perempuan lain.

Lily menekan punggung kepalanya ke dinding batu.

Bukan menangis. Sudah tidak ada yang mau keluar.

Lebih ke jenis rasa sakit yang kering, yang tidak butuh air mata karena sudah terlalu lelah untuk itu.

Satu hal yang terus muter di kepalanya bukan soal Dimas. Bukan soal Nindi.

Tapi soal rasa bersalah yang aneh yang masih ada di sudut dadanya.

Lily tidak mengerti kenapa. Dia yang dikhianati. Dia yang dikurung. Dia yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Tapi tetap saja ada bagian kecil dari dirinya yang bertanya, apakah ada yang bisa aku lakukan?

Apakah kalau dia lebih perhatian, lebih hadir, lebih...

Lily memotong pikirannya sendiri.

Tidak.

Dia tidak akan pergi ke sana. Dia sudah terlalu lama menyalahkan dirinya untuk hal-hal yang bukan salahnya. Kuliah yang tidak dibiayai, salahnya karena tidak cukup layak. Kamar yang dipindah, salahnya karena tidak cukup berguna. Perhatian ayah yang berpindah, salahnya karena tidak cukup menarik.

Tidak lagi.

Lily berdiri dari lantai. Tulang punggungnya berbunyi. Lututnya masih sedikit nyeri dari jatuh tadi.

Dia berjalan ke sudut belakang. Menyingkirkan sisa kardus yang masih menghalangi. Berdiri di depan pintu kecil itu lagi.

Kali ini dia tidak ragu.

Tangannya memegang gagang besi berkarat itu, dan sebelum dia sempat menarik ... pintu itu terbuka dari dalam.

Cahaya keemasan membanjiri wajahnya.

Hangat. Seperti sore hari yang tidak pernah Lily betul-betul punya waktu untuk menikmatinya.

Lily melangkah masuk.

Dan di dalam ruang yang ukurannya tidak masuk akal untuk sebuah gudang tua, lebih luas dari yang seharusnya muat di balik dinding itu. Dia melihat sesuatu di tengah ruangan yang membuat napasnya berhenti sebentar.

Sebuah kursi kayu tua menghadap ke meja kecil. Di atas meja, ada cermin bundar tanpa bingkai yang mengambang setinggi mata.

Dan di permukaan cermin itu ... bukan pantulan wajah Lily.

Yang muncul di sana adalah wajah Dimas. Lalu Nindi. Lalu ayahnya.

Satu per satu. Seperti kartu yang dikocok perlahan.

Lalu semuanya menghilang, dan yang tersisa hanya satu kalimat yang muncul seperti tulisan tangan di permukaan cermin itu... perlahan, huruf demi huruf.

Kamu mau mulai dari mana?

1
sunaryati jarum
Semoga tidak membayakan dirimu , Lyli
sunaryati jarum
Itu berita untuk membuat kamu goyah Lyli, teruslah maju
WeGe
kenapa ruang rahasia di gudang jadi nggak aman? semoga memindahkan dokumen ke kantor pak Syarif bukan sebuah jebakan. 😐
WeGe
ya karena ketahuan. coba kalau Lily diam sj, kan keenakan punya pembantu gratis. hukum juga sari ini lah Thor. enak aja lolos gitu doang/Smug/
WeGe
semoga
WeGe
aku masih nggak percaya padanya Lily. jangan lengah.
WeGe
pasti ada saja rencana jahat nya. hati" Lily.
asih
sudah masuk 40 bab .. mau ngejar baca tp waktunya g ada .. sudah sampai 70 bab sekarang ..Thor jangan ngebut updatenya
Erchapram: Gpp santai saja, baca kalo ada waktu. Aku kejar mau tamat sebelum lebaran. Terima kasih.
total 1 replies
sunaryati jarum
Sudah ada firasat bahwa gugatan Lyli akan berhasil
sunaryati jarum
Reynaldo selalu mengawasi Lyli,Lyli jadi semakin kuat dan tangguh serta selalu waspada
sunaryati jarum
Reynaldo mulai takut kalah ,semua nego untuk Lyli ditolak, orang tamak kini saatnya kau kalah dari generasi ketiga Nenek Suwarni
sunaryati jarum
Semakin menarik namun berat bagi emak
sunaryati jarum
Ayah pengecut tidak bisa melindungi istri dan putrinya pilih meyelamatkan diri, sekarang waktunya kau menebus Suharto walau kau masuk bui lakukan!!!
sunaryati jarum
Banyak dokumen resmi untuk mengambil hak Lyli yang diklaim orang lain, semoga bermanfaat,Lyli dan ada titik terang
sunaryati jarum
Ayah durhaka putri kandung dijadikan pembantu anak tiri dijadikan ratu, diakhir cerita ayah Lyli, Sari dan Nindi harus mendapatkan karma.Untuk Reynaldo dan kroninya harus dapat balasan setimpal
sunaryati jarum
Segera selesai dengan selamat, semua hak Lyli dapat dimilikinya
WeGe
ya ampun kapan selsainya😭
Lily 💪💪💪
WeGe
😐sudah kuduga.
sunaryati jarum
Semakin cerdik Lyli .Emak yang sudah lansia mengikuti perjalanan Lyli ala detektif
Erchapram: Buat hiburan dikala menunggu buka puasa Mak... Terima kasih sudah mampir baca.
total 1 replies
WeGe
tanah warisan yang ruwet prosesnya.
WeGe: betul kak, katanya semua bukti bisa diputarbalikkan. membaca Lily ini rasanya seperti nyata. 😐
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!