Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Retakan yang Menjadi Fondasi
Suasana di lobi kantor masih menyisakan sisa-sisa ketegangan yang menggantung di udara, seperti aroma parfum menyengat yang tertinggal lama setelah pemakainya pergi. Hana kembali ke mejanya dengan langkah yang sengaja dibuat tenang, meski di dalam dadanya, jantungnya bertalu-talu menghantam tulang rusuk. Jemarinya yang ramping menyentuh permukaan meja kerja yang dingin, mencari sandaran untuk menenangkan gejolak adrenalin yang mulai surut.
Dia tahu, rekan-rekan kantornya—terutama tim administrasi yang terkenal gemar bergunjing—sedang menatap punggungnya dengan ribuan pertanyaan yang tak terucap. Tatapan mereka adalah campuran antara rasa kasihan yang merendahkan dan rasa ingin tahu yang haus akan drama. Hana menarik napas panjang, menyesap oksigen yang terasa tipis di ruangan ber-AC itu, lalu mulai menyalakan kembali layar komputernya.
Dia tidak akan memberikan mereka kepuasan dengan melihatnya menangis atau tampak hancur.
"Hana," sebuah suara rendah dan stabil memanggilnya.
Hana menoleh sedikit. Adrian berdiri tidak jauh dari bilik kerjanya, memegang beberapa dokumen. Wajah pria itu datar, hampir tidak terbaca, namun matanya memberikan jenis dukungan yang tidak bersifat mengasihani—sebuah tatapan yang mengakui bahwa apa yang baru saja Hana lakukan adalah sebuah pencapaian, bukan sebuah aib.
"Ikut saya ke ruangan sebentar. Ada revisi anggaran untuk proyek BSD yang perlu kita bicarakan segera," ujar Adrian, memberikan alasan profesional yang sempurna bagi Hana untuk menarik diri dari tatapan publik.
Hana mengangguk, mengambil buku catatannya, dan mengikuti Adrian menuju ruangan kaca di ujung lorong. Begitu pintu tertutup dan kesunyian menyelimuti mereka, Hana merasa bahunya merosot beberapa sentimeter. Dia bersandar pada meja rapat yang panjang, menutup matanya sejenak.
"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Hana," ucap Adrian pelan. Dia tidak duduk di kursinya, melainkan berdiri di dekat jendela, memberikan Hana ruang untuk bernapas. "Menghadapi orang seperti Aris di depan umum membutuhkan keberanian yang tidak dimiliki banyak orang. Kamu baru saja merobek skenario yang dia buat sendiri."
"Rasanya menjijikkan, Adrian," bisik Hana. "Melihat dia menggunakan penyakit ibunya sebagai senjata... itu membuat saya bertanya-tanya, pria seperti apa yang saya cintai selama lima tahun ini? Atau apakah saya benar-benar pernah mencintainya, atau hanya mencintai bayangan tentang sebuah keluarga yang ideal?"
Adrian memutar tubuhnya, menatap Hana dengan serius. "Manusia sering kali jatuh cinta pada potensi seseorang, bukan pada kenyataannya. Kamu mencintai sosok 'suami' yang kamu harapkan darinya, bukan Aris yang sebenarnya. Dan hari ini, kamu akhirnya melihat kenyataan itu tanpa filter. Itu menyakitkan, tapi itu adalah awal dari kesembuhan."
Hana menatap buku catatannya yang masih kosong. "Dia tidak akan berhenti. Saya tahu Aris. Dia adalah tipe pria yang lebih memilih menghancurkan mainannya daripada melihat orang lain memainkannya—atau melihat mainan itu bisa bergerak sendiri tanpa dia."
"Maka dari itu, kita harus bergerak lebih cepat dari dia," sahut Adrian. Dia meletakkan sebuah kartu nama di atas meja. "Itu adalah kontak pengacara keluarga saya. Namanya Baskara. Dia ahli dalam hukum keluarga dan tidak bisa disuap. Hubungi dia hari ini. Kita perlu memastikan aset-asetmu terlindungi sebelum Aris menyadari bahwa 'istri yang penurut' ini sudah benar-benar menghilang."
Sementara itu, di pinggiran Jakarta yang padat, Aris membanting pintu mobilnya dengan keras hingga kendaraan itu bergoyang. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. Dia merasa seperti pecundang yang ditelanjangi di depan umum. Bayangan wajah Hana yang dingin dan tenang, tatapan rekan-rekan kerja Hana yang mengejek, terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Dia melangkah masuk ke rumah ibunya. Suasana di dalam rumah itu terasa suram. Ibunya, seorang wanita paruh baya dengan raut wajah yang selalu tampak menderita, sedang duduk di sofa sambil mengompres dahinya dengan handuk basah.
"Mana Hana? Kamu tidak membawanya pulang?" suara ibunya terdengar lemah, namun ada nada tuntutan yang tajam di sana.
"Dia sudah gila, Bu! Dia berteriak di depan semua orang di kantornya, bilang ingin cerai," Aris melempar kunci mobilnya ke atas meja kopi. "Dia pasti sudah dicuci otaknya oleh bosnya itu. Siapa lagi kalau bukan pria kaya itu yang memberinya keberanian untuk melawan suaminya sendiri?"
Ibu Aris menurunkan kompresnya, matanya membelalak. "Cerai? Dia pikir dia siapa? Selama lima tahun ini dia makan dari uangmu, tinggal di rumah ini, dan sekarang dia mau pergi begitu saja saat dia sudah punya posisi bagus di kantornya? Tidak bisa, Aris! Kamu harus mengambil kembali apa yang menjadi hakmu."
"Apa lagi yang bisa kulakukan, Bu? Dia memblokir nomor teleponku. Dia tidak mau bicara," keluh Aris, duduk dengan frustrasi sambil meremas rambutnya.
Wanita tua itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan kelicikan yang dibungkus oleh rasa benar sendiri. "Hana itu lembut, Aris. Dia punya satu kelemahan: dia sangat peduli pada reputasi dan perasaan orang tua. Kalau dia tidak mempan dengan ancaman kesehatan Ibu, gunakan uang. Ingat tabungan bersama yang kalian buat untuk cicilan rumah baru? Dan sertifikat tanah peninggalan ayahnya yang dia simpan di lemari kamar kalian? Ambil semuanya. Buat dia merasa tidak punya apa-apa lagi selain kembali kepadamu."
Aris mendongak. Pikiran licik mulai merayapi benaknya. Benar. Hana mungkin merasa kuat karena punya pekerjaan, tapi dia tidak tahu seberapa jauh Aris bersedia pergi untuk mempertahankannya—atau lebih tepatnya, mempertahankan kenyamanan yang diberikan Hana selama ini.
Sore harinya, Hana kembali ke apartemen Adrian. Namun, kali ini tujuannya bukan untuk bersembunyi. Dia telah menghabiskan waktu dua jam di jam istirahat untuk berbicara dengan Baskara, sang pengacara.
"Saya harus mengambil barang-barang saya, Adrian," ujar Hana saat mereka bertemu di ruang tengah yang luas. "Bukan hanya baju, tapi dokumen-dokumen penting. Paspor, ijazah, dan yang paling utama, sertifikat tanah peninggalan Ayah di kampung. Itu satu-satunya harta yang saya miliki secara pribadi."
Adrian mengerutkan kening. "Kamu ingin kembali ke rumah itu? Sekarang? Itu berbahaya, Hana. Aris pasti menunggu di sana."
"Saya tidak akan pergi sendiri. Saya akan meminta bantuan dua orang satpam dari kantor yang saya kenal baik untuk menemani saya berdiri di depan pagar. Saya hanya butuh sepuluh menit untuk masuk, mengambil tas dokumen yang sudah saya siapkan di bawah tumpukan baju, dan pergi," jawab Hana dengan logis. "Jika saya menunda, saya takut Aris akan menghancurkannya atau menggunakannya untuk memeras saya."
Adrian menatap Hana cukup lama, menimbang-nimbang risiko yang ada. Dia melihat kekuatan baru di mata wanita itu—bukan lagi keputusasaan, melainkan ketajaman seorang pemikir strategis.
"Saya ikut," ujar Adrian singkat. "Saya akan menunggu di mobil tepat di depan rumahmu. Satpammu bisa berjaga di teras. Saya tidak akan membiarkanmu masuk ke kandang singa tanpa pengawasan."
Hana ingin menolak, ingin membuktikan bahwa dia bisa melakukannya sendiri. Tapi dia juga sadar bahwa dalam situasi ini, martabat tidak lebih penting daripada keamanan. "Baiklah. Terima kasih, Adrian."
Perjalanan menuju rumah lamanya terasa seperti perjalanan menuju masa lalu yang kelam. Saat mobil Adrian berhenti di depan pagar besi yang catnya mulai mengelupas, Hana merasakan mual yang hebat di perutnya. Rumah itu tampak sama, namun kini terasa seperti penjara yang baru saja dia tinggalkan.
Dua orang petugas keamanan kantor yang mereka sewa berdiri dengan sigap di dekat pintu pagar. Hana turun dari mobil, menarik napas dalam, dan melangkah masuk.
Pintu depan tidak dikunci. Suasana di dalam rumah remang-remang. Bau rokok yang kuat menyengat hidung Hana—tanda bahwa Aris sedang di sana dan sedang gelisah.
"Jadi, kamu pulang juga akhirnya," suara Aris terdengar dari arah ruang makan. Dia muncul dengan botol minuman di tangan, matanya merah. "Aku tahu kamu tidak akan tahan lama tinggal di tempat orang lain. Sudah siap minta maaf pada Ibu?"
Hana tidak berhenti. Dia terus berjalan menuju kamarnya. "Saya ke sini hanya untuk mengambil dokumen saya, Aris. Tidak kurang, tidak lebih."
"Dokumen?" Aris tertawa sinis, langkahnya limbung saat mengikuti Hana ke kamar. "Maksudmu surat-surat tanah ayahmu? Atau buku tabungan kita? Sayang sekali, Hana. Semuanya sudah kupindahkan ke tempat yang aman. Kamu tidak akan mendapatkan sepeser pun atau selembar kertas pun dari rumah ini kalau kamu tidak mencabut niat cerai-mu itu."
Hana berhenti tepat di depan pintu lemari. Dia berbalik, menatap Aris dengan tatapan yang membuat pria itu sedikit mundur. "Kamu mencuri dokumen pribadi saya, Aris? Itu tindak pidana."
"Pidana? Di rumah ini, aku hukumnya!" bentak Aris, suaranya mulai naik. "Kamu itu milikku! Semuanya yang kamu punya adalah milikku!"
Tepat saat Aris melangkah maju untuk mencengkeram lengan Hana, pintu kamar terbuka lebih lebar. Adrian berdiri di sana, sosoknya yang tinggi dan berwibawa memenuhi ambang pintu. Di belakangnya, dua petugas keamanan berseragam tampak bersiap.
"Saya rasa perbincangan ini sudah cukup jauh, Pak Aris," ujar Adrian dengan suara dingin yang mematikan. "Menahan dokumen pribadi orang lain tanpa izin adalah pelanggaran hukum tentang penggelapan. Dan jika Anda menyentuh Hana sedikit saja, saya punya cukup saksi di sini untuk memastikan Anda menghabiskan malam ini di sel penjara."
Aris terperangah. Dia menatap Adrian, lalu menatap Hana, dan beralih ke dua petugas keamanan yang tampak jauh lebih kuat darinya. Nyalinya menciut seketika. Pria yang berani berteriak pada istrinya sendiri itu kini tampak seperti anak kecil yang tertangkap basah berbohong.
"Kamu... kamu membawa orang asing ke rumahku?" suara Aris bergetar.
"Mereka bukan orang asing. Mereka adalah saksi," sahut Hana tenang. Dia berjalan menuju laci meja rias yang ternyata sudah dirusak kuncinya. Kosong. "Di mana dokumennya, Aris? Berikan sekarang, atau saya akan membiarkan Pak Adrian menelepon polisi."
Dengan tangan gemetar dan wajah yang memucat karena malu sekaligus takut, Aris berjalan ke arah dapur dan mengambil sebuah tas plastik dari dalam lemari piring. Dia melemparnya ke arah Hana.
"Ambil! Pergi dari sini! Kamu pikir kamu hebat karena punya pelindung? Kita lihat seberapa lama dia akan peduli padamu setelah dia bosan!" teriak Aris, mencoba mencari sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur di lantai.
Hana memeriksa isi tas tersebut. Paspor, sertifikat tanah, ijazah. Semuanya ada. Dia memeluk tas itu di dadanya—itu adalah kunci masa depannya.
Hana menatap Aris untuk terakhir kalinya. Bukan dengan kemarahan, tapi dengan rasa kasihan yang mendalam. "Terima kasih, Aris. Karena hari ini, kamu baru saja melepaskan satu-satunya hal yang membuat saya ragu untuk meninggalkanmu: rasa iba saya."
Hana berbalik dan melangkah keluar dari kamar itu, keluar dari rumah itu, dan keluar dari kehidupan Aris untuk selamanya. Saat dia masuk kembali ke dalam mobil Adrian, udara malam Jakarta yang berpolusi sekalipun terasa seperti oksigen paling segar yang pernah dia hirup.
"Sudah semuanya?" tanya Adrian lembut saat dia mulai menjalankan mobilnya.
Hana mengangguk, menyandarkan kepalanya di jok mobil yang empuk. Dia memejamkan mata, merasakan getaran mesin mobil yang membawanya menjauh. "Sudah. Sekarang, saya benar-benar bebas."
Di kursi belakang, tas dokumen itu adalah fondasi barunya. Besok, dia tidak akan lagi menjadi Hana yang sabar. Dia adalah Hana yang berdaulat atas dirinya sendiri.