NovelToon NovelToon
Milik Sang Penguasa

Milik Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:34k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Arabelle keluar dari kamar mandi dengan rambut yang sudah disisir dan pakaian berganti, training abu-abu yang nyaman, parfum tipis yang disemprotkan di pergelangan tangan. Lorenzo duduk di balkon dengan rokok di antara jarinya, matanya ke arah cakrawala kota Roma.

"Aku ganti pakaian setengah jam sebelum teman-temanmu datang," kata Arabelle berdiri di ambang pintu balkon.

"Baik."

"Kamu tidak mau siap-siap lebih awal?"

Ia mengembuskan asap pelan. "Tidak sekarang."

Arabelle memandanginya sebentar, cara ia bersandar di pagar balkon, cahaya sore yang menyentuh sisi wajahnya, lalu memilih tidak melanjutkan argumen itu.

"Aku lapar."

"Minta tolong salah satu asisten."

"Aku bisa masak sendiri."

Lorenzo menoleh ke arahnya. Rahangnya sedikit mengeras.

"Aku bukan anak kecil," kata Arabelle sebelum ia sempat bicara. Ia berbalik masuk ke kamar, menuruni tangga menuju dapur.

**

Di dapur, Arabelle membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa sayuran. Ia sedang mencuci paprika ketika tangan Lorenzo melingkar di pinggangnya dari belakang.

"Apa?" tanyanya tanpa menoleh.

"Asisten sedang bebersih ruang tamu untuk nanti malam. Jadi kali ini biarkan saja." Nada suaranya tidak marah, lebih ke penjelasan yang tidak biasa keluar darinya. "Tapi lain kali aku tidak mengalah."

Arabelle memutar tubuhnya ke arahnya. "Aku tidak suka diperlakukan seperti tidak bisa melakukan apa-apa."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kamu selalu--"

"Karena putri sepertimu tidak seharusnya repot." Ia menyentuh pipinya sebentar. "Itu saja." Lalu ia berbalik pergi.

Arabelle menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu, lalu kembali ke kompor dengan ekspresi yang tidak bisa ia definisikan sendiri.

**

Frittata dengan paprika dan zucchini keluar cukup baik. Arabelle makan sambil berdiri di meja dapur, menuangkan jus jeruk ke dalam gelas, dan baru menyuap suapan ketiga ketika layar ponselnya menyala.

Video call. Catherine.

Arabelle tersenyum dan mengangkat.

"Hei, Bu."

"Hai sayang! Apa kabar? Kamu makan?" Catherine langsung memperhatikan piring di hadapan Arabelle. "Bagus, bagus. Tapi, itu bukan dapur rumah kita."

"Aku di tempat Lorenzo."

Wajah Catherine berubah menjadi campuran khawatir dan penasaran. "Kamu baik-baik saja?"

"Sangat baik." Arabelle menyuap lagi. "Santai, Bu."

Sesaat kemudian, Lorenzo muncul dari arah kulkas, mengambil botol iced coffee, melirik layar ponsel Arabelle, lalu berjalan ke arahnya.

"Selamat siang, Bu." Ia mencium pipi Arabelle sekali di depan kamera, lalu pergi begitu saja.

Catherine tertegun sebentar. Lalu, "...Jadi ini serius?"

"Sepertinya."

"Arabelle." Nada Catherine berubah menjadi nada yang biasa ia gunakan untuk percakapan penting. "Hati-hati ya, sayang. Bukan berarti Ibu tidak percaya kamu--"

"Aku tahu, Bu." Arabelle tersenyum. "Aku juga mau bilang, besok malam aku terbang ke Venezia."

"Apa?!"

"Bersama Lorenzo."

"Naik pesawat? Kamu?!"

"Ibu tidak perlu mengingatkan aku soal itu."

Catherine tertawa. "Pergi, sayang. Nikmati. Kapan lagi. Ayah juga pasti senang kalau dengar ini." Ekspresinya melunak. "Usaha Daniel di sini sedang berjalan baik, kami pulang tidak lama lagi."

Arabelle menelan ludah. Tiba-tiba matanya memanas tanpa peringatan.

"Cepat pulang ya, Bu."

"Iya, sayang. Belle jangan lupa jaga diri."

Nama panggilan itu, yang sudah tidak ia dengar dari mulut siapapun selain keluarganya sendiri, membuat satu tetes jatuh sebelum Arabelle sempat mencegahnya.

"Iya." Ia mengusapnya cepat. "Bye, Bu."

Layar mati.

Arabelle meletakkan ponsel di meja dan menghela napas panjang. Dapur besar itu tiba-tiba terasa sangat sepi.

"Dia sudah tutup?" Lorenzo masuk, kali ini tanpa iced coffee di tangan, hanya berdiri di dekat pintu, memandanginya.

"Ya." Arabelle berdiri dan membawa piring ke wastafel. "Aku rindu mereka."

"Mereka pulang kapan?"

"Sekitar seminggu lagi." Ia membilas piring. "Lebih kurang."

Lorenzo tidak berkata apa-apa. Tapi ia berdiri di sana sampai Arabelle selesai, dan itu sudah cukup untuk menjadi semacam jawaban.

**

Beberapa jam berlalu dengan tenang. Arabelle rebahan di kasur, membuka media sosial, memainkan beberapa game ringan di ponselnya yang terasa bodoh tapi mengalihkan pikiran dengan cara yang efisien.

Pintu kamar mandi terbuka.

Lorenzo keluar dengan handuk di pinggang, dan Arabelle memutuskan untuk sangat memperhatikan layar ponselnya.

"Setengah jam lagi mereka datang. Siap-siap kalau mau."

"Iya." Arabelle turun dari kasur dan berjalan ke cermin. Rambutnya dikasih sedikit krim ringan yang beraroma lembut, disisir sampai terlihat rapi tapi tidak dibuat-buat. Maskara tipis, blush on, lip gloss bening.

Ia melihat ke bayangannya di cermin dan merasa sudah cukup.

"Kamu terlihat bagus." Lorenzo berdiri di belakangnya, kini sudah berpakaian, training hitam, tanpa kaos. Tato di lengan dan perutnya terlihat jelas, dan Arabelle dengan cepat memindahkan pandangan ke wajahnya di cermin.

"Aku tidak perlu ganti yang lebih rapi?"

"Tidak." Ia mengambil sesuatu dari laci meja rias. "Mereka bukan tamu bisnis. Mereka teman lama."

"Oke."

**

Mereka duduk di sofa ruang tengah yang besar ketika bel pintu berbunyi.

Asisten membuka pintu, dan beberapa orang masuk sekaligus, laki-laki sebagian besar, beberapa perempuan, semua dengan ekspresi yang langsung mencair begitu melihat Lorenzo berdiri di ruang tamu.

Pelukan. Tepukan bahu. Tawa yang terdengar akrab.

Lorenzo memperkenalkan mereka satu per satu Ander, Dylan, Harry, Jackson, Nick, Will dan Arabelle berjabat tangan dengan masing-masing, tersenyum, mengingat nama dengan cara yang ia tidak yakin berhasil sepenuhnya.

"Arabelle." Lorenzo melingkarkan tangannya di punggung bawahnya ketika tiba di depan Jackson. "Ini Jackson."

Jackson menyodorkan tangan. Lalu, dengan nada santai yang mungkin tidak ia pikirkan terlalu dalam, berkata, "Lorenzo cerita soal kamu, tapi tidak bilang sebagus ini."

Tatapan Lorenzo beralih ke arahnya, tidak ada amarah yang nyata, tapi cukup jelas untuk membuat Jackson segera menambahkan, "Maksudku, bagus ceritanya. Bukan, ya intinya senang ketemu."

Arabelle membersihkan tenggorokannya untuk menyembunyikan tawa.

Perempuan-perempuannya lalu diajak oleh Lorenzo, dengan cara yang terasa seperti keputusan yang sudah ia buat sebelumnya, untuk ke kamar tamu di lantai atas.

"Kalian ngobrol dulu," katanya.

**

Ada lima perempuan. Arabelle duduk di atas kasur kamar tamu sementara mereka menyebar di kursi dan sudut ruangan.

"Aku Britney." Perempuan berambut gelap di kursi pojok mengulurkan tangan. "Pacarnya Dylan."

"Anna." Yang lain melambai. "Dan ini Sharon, Samantha--" Ia menunjuk dua perempuan yang duduk di tepi jendela. "Addison dan El." Kedua perempuan itu tersenyum dari arah kasur satunya.

"Aku Arabelle."

"Kami sudah tahu." El, rambutnya pirang, matanya ramah, tersenyum lebar. "Lorenzo menyebut namamu."

"Oh."

"Jadi kalian serius?" tanya Sharon.

"Sepertinya iya." Arabelle mengelus ujung bantal di pangkuannya. "Aku merasa bahagia bersamanya. Lebih dari yang pernah aku rasakan sebelumnya."

"Awww," kata El.

Arabelle tertawa kecil dan memalingkan muka.

"Dari mana kalian kenal?" tanya Samantha.

"Dari klub yang dia punya. Tidak langsung, awalnya karena urusan lain. Agak panjang ceritanya."

Mereka mengangguk dengan ekspresi orang-orang yang terbiasa dengan cerita yang tidak bisa sepenuhnya diceritakan.

"Kamu cantik," kata Samantha tiba-tiba.

"Kalian lebih cantik," balas Arabelle dan semua orang di ruangan itu tertawa bersama, dan Arabelle menyadari bahwa ini adalah jenis tertawa yang tidak membutuhkan usaha.

Yang terasa mudah.

Yang terasa seperti mungkin ini akan baik-baik saja.

1
Amoyy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!