Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Halaman rumah itu luas. Elena mendorong pintu gerbang dan melangkah masuk dengan Evan di sampingnya.
Pintu utama sudah terbuka sebelum mereka sampai. Seorang perempuan paruh baya muncul dengan seragam hitam putih, rambut disanggul rapi.
"Selamat sore. Saya Lastri. Silakan masuk, sudah ditunggu."
Evan berbisik ke ibunya. "Bu, kita sudah ditunggu? Sama siapa?"
Elena tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam rumah yang besar itu.
Ruang tamunya luas dan bersih. Evan langsung tertarik ke sudut ruangan yang ada lemari pajangan berisi miniatur mobil.
"Bu lihat! banyak miniatur mobil!"
"Jangan pegang apapun."
Bi Lastri meletakkan nampan di meja. "Silakan duduk, Bu. Bapak bilang mungkin agak malam baru bisa pulang."
Elena duduk di pinggir sofa. "Bi, ini rumah siapa?"
"Rumah Ibu Clara, Bu. Pemilik PT. Claresta Mitra Utama."
"Ibu Clara tinggal di sini?"
"Iya, Bu."
"Hanya Ibu Clara?"
Bi Lastri diam sebentar. Tangannya sedikit mengencang di depan perutnya.
"Bapak Adrian juga tinggal di sini, Bu." Suaranya turun satu nada. "Sudah hampir setahun."
Elena terdiam seperti mencerna jawaban dari Bi Lastri. Hampir setahun. Suaminya tinggal di rumah perempuan lain sementara ia di kampung menghitung sisa beras, bekerja keras sendirian untuk menafkahi anak-anaknya.
"Baik." Suara Elena keluar sangat tenang. "Terima kasih, Bi."
Bi Lastri membungkuk dan pergi ke dapur.
Evan datang dari sudut ruangan, duduk di samping ibunya, langsung mengambil gelas jus. "Enak." Lalu menatap ibunya. "Bu, ayah tinggal di sini juga?"
"Iya."
"Berarti ini rumah ayah juga dong?"
"Minum jusnya, Evan."
"Tapi..."
"Evan."
Evan menurut meskipun sambil cemberut.
Mereka duduk dalam diam. Elena menatap ke depan dengan pikiran yang berputar pelan. Evan menghabiskan jus dan kue kering dengan tenang, sesekali melirik ibunya lalu memilih diam karena ada sesuatu dalam cara ibunya duduk yang memberitahunya bahwa ini bukan saat yang tepat untuk banyak bicara.
Satu jam berlalu. Pintu depan terbuka. Langkah kaki masuk dan Elena mendongak.
Bukan Adrian yang datang tapi seorang perempuan.
Perempuan itu berdiri di ambang pintu dan Elena tidak langsung berkata apapun karena ia sedang memperhatikan.
Perempuan yang sangat cantik, tapi bukan cantik yang mencolok. Lebih seperti cantik yang tenang, wajahnya lembut, kulitnya terawat, rambutnya tertata dengan cara yang terlihat sederhana tapi jelas menghabiskan waktu untuk menatanya. Ia memakai dress panjang berwarna krem yang mengalir dengan elegan saat ia berjalan masuk di padukan dengan blazer berwarna senada yang di.sampirkan di bahunya. Tidak ada yang berlebihan dari penampilannya. Semuanya terlihat seperti perempuan yang tahu persis bagaimana cara menampilkan dirinya.
Matanya menemukan Elena dan senyum itu muncul, senyum yang hangat, lembut, dan tulus kelihatannya.
"Kamu pasti Elena." Suaranya lembut, tutur katanya sopan. Ia melangkah masuk dan mengulurkan tangan. "Maaf baru sampai. Aku Clara."
Elena berdiri dan menyambut tangannya. "Elena."
"Perjalanan jauh ya? Pasti capek sekali." Clara duduk di sofa seberang, memandang Evan dengan senyum yang sama hangatnya. "Ini Evan? Ganteng sekali."
Evan menatapnya sebentar. "Ibu ini siapa?"
"Tante Clara. Teman kerja ayahmu."
"Oh." Evan kembali ke kue kering di tangannya.
Clara tertawa kecil, tawa yang tidak berlebihan, tidak dibuat-buat kelihatannya. Lalu ia menatap Elena kembali. "Maaf ya, Elena. Aku tahu ini situasi yang tidak mudah. Tapi selama kamu di sini, anggap saja rumah sendiri. Bi Lastri bisa bantu apapun yang kamu butuhkan."
"Terima kasih." Elena tersenyum tipis. "Maaf jika saya merepotkan anda."
"Ah tidak." Clara menggeleng pelan. "Sudah sewajarnya."
Mereka mengobrol ringan atau lebih tepatnya Clara yang mengobrol dan Elena yang menjawab dengan secukupnya. Clara bertanya tentang perjalanan, tentang kampung, tentang Evan dengan cara yang terasa tulus dan perhatian. Tidak ada yang salah dari caranya berbicara. Tidak ada yang bisa langsung ditunjuk sebagai kepalsuan.
Tapi Elena memperhatikan. Memperhatikan dengan cara yang tidak terlihat seperti memperhatikan.
Dan ada sesuatu, sesuatu yang sangat kecil, yang mungkin tidak akan tertangkap oleh orang yang tidak sedang mencarinya dalam cara Clara sesekali melirik ke arah pintu depan. Cara yang terlihat santai tapi terlalu sering untuk sekadar kebiasaan.
Elena sangat yakin Clara sedang menunggu Adrian pulang.
Satu jam mereka duduk bersama di ruang tamu itu, Clara yang lembut dan sopan, Elena yang tersenyum dan menjawab dan mencatat semuanya di dalam kepalanya sampai akhirnya suara mobil terdengar dari luar.
Clara tidak berpaling ke arah pintu. Tapi bahunya sedikit bergerak.
Pintu depan terbuka dan Adrian masuk, berhenti seketika saat melihat Elena dan Clara duduk berhadapan di ruang tamunya dengan Evan yang tertidur di samping ibunya dengan kepala bersandar di lengan sofa.
"Adrian." Clara yang pertama bersuara. Suaranya tetap lembut. Tetap tenang. "Elena sudah lama menunggu."
Adrian menatap Clara sebentar. Lalu menatap Elena.
Di dalam satu tatapan itu Elena membaca semuanya, rasa bersalah, kepanikan yang ia sembunyikan, dan sesuatu yang lain yang jauh lebih menyakitkan dari keduanya.
Ketergantungan. Cara Adrian menatap Clara sebelum menatapnya, cara yang singkat, yang mungkin tidak ia sadari sendiri adalah cara seseorang menatap orang yang pendapatnya paling penting baginya.
Bukan cara seseorang menatap rekan kerja. Dan bukan cara seseorang menatap teman biasa.
"Elena." Adrian akhirnya bersuara.
"Ya." Elena menjawab dengan senyum yang tipis.
"Kita perlu bicara." kata Adrian tanpa basa-basi lagi.