NovelToon NovelToon
Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.

Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.

Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.

Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.

Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Sebuah melodi di Sampingnya

Langit di atas GOR Universitas Cakrawala sudah berubah menjadi warna ungu kemerahan yang pekat saat Liana dan Dhea melangkah keluar. Napas Liana masih sedikit memburu, sisa adrenalin dari tes free throw tadi masih terasa di ujung jemarinya.

"Gila, Li! Gue masih gemeteran liat muka Kak Justin tadi. Untung lo jago!" Dhea mengoceh sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah. "Eh, lo beneran nggak mau bareng gue? Sopir gue udah di depan gerbang tuh. Searah dikitlah, nanti gue turunin di perempatan."

Liana tersenyum sambil menggeleng pelan. "Enggak usah, Dhe. Rumah lo kan ke arah timur, gue ke barat. Jauh banget muternya kalau nganter gue dulu. Kasihan sopir lo, macet jam segini nggak main-main. Gue naik bus aja, lagian haltenya deket."

"Ya udah deh kalau maksa. Hati-hati ya, calon bintang basket!" goda Dhea sambil melambaikan tangan dan berlari kecil menuju mobil sedan putih yang sudah menunggunya. "Sampai ketemu besok di latihan perdana!"

Liana melambaikan tangan balik sampai mobil Dhea menghilang di balik gerbang kampus. Ia mengembuskan napas panjang, membetulkan letak tas ranselnya, dan mulai berjalan menuju halte bus depan kampus. Pikirannya masih melayang pada tatapan tajam Justin tadi. Apakah dia beneran bakal segalak itu besok?

Di dalam GOR, Justin dan Raka sedang membereskan sisa formulir pendaftaran. Raka tampak terburu-buru memasukkan kunci motornya ke dalam saku celana.

"Tin, gue cabut duluan ya! Nyokap gue udah neror dari tadi, ada acara keluarga katanya. Sori banget nggak bisa nemenin lo check inventaris bola," ucap Raka sambil menyampirkan jaketnya.

Justin hanya mengangguk tanpa menoleh. "Hm. Cabut aja. Gue juga udah kelar."

"Oke, Bos! Jangan lupa istirahat, besok maba-maba itu butuh asupan galak dari lo. Duluan ya!" Raka berlari menuju parkiran, tak lama kemudian terdengar suara raungan mesin motor sport-nya yang memecah keheningan sore.

Justin berdiri diam sebentar di tengah lapangan yang kini sunyi. Ia menatap ring tempat Liana melakukan tembakan tadi. Ada sesuatu pada kegigihan gadis itu yang membuatnya sedikit terusik. Ia lalu mematikan lampu GOR, menguncinya, dan berjalan keluar. Karena motornya masih di bengkel, ia kembali melangkah menuju halte bus.

Halte bus sore itu cukup ramai oleh mahasiswa dan pekerja kantoran. Liana duduk di bangku panjang pojok kanan, matanya tertuju pada layar ponsel. Ia sedang membalas pesan dari Ayahnya.

Ayah: Li, pulang jam berapa? Ayah tadi beli martabak kesukaan kamu di depan komplek.

Liana: Ini baru mau naik bus, Yah. Sebentar lagi sampai. Simpanin ya martabaknya! Hehe.

Saat jemarinya sedang mengetik, tiba-tiba sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya lampu halte yang mulai menyala. Liana merasakan kehadiran seseorang di sampingnya. Wangi kayu cendana yang familiar itu kembali tercium.

"Belum dapet bus?"

Suara berat itu membuat Liana melonjak kaget. Ponselnya nyaris terlepas dari tangan kalau saja ia tidak sigap menangkapnya. Ia menoleh ke samping dan mendapati Justin berdiri di sana, menatap lurus ke depan dengan tangan dimasukkan ke saku jaket hitamnya.

Liana mengerjapkan mata berkali-kali. Justin menyapanya? Duluan?

"Eh... i-iya, Kak. Tadi penuh banget, jadi saya nunggu yang agak kosongan," jawab Liana gugup. Jantungnya mulai berulah lagi, lebih parah daripada saat tes basket tadi.

Justin mengangguk pelan. "Besok jangan telat. Latihan perdana itu yang paling berat."

"Iya, Kak. Saya usahain nggak telat," sahut Liana pendek. Ia merasa sangat canggung. Ini adalah pertama kalinya ia berbicara empat mata dengan Justin tanpa ada Raka atau Dhea di tengah mereka.

Justin terdiam. Sebenarnya, ia sendiri heran kenapa ia tiba-tiba membuka suara. Biasanya, ia tidak peduli pada siapa pun di sekitarnya, apalagi mahasiswi baru. Tapi melihat Liana yang tampak mungil duduk sendirian di halte, ada dorongan aneh untuk sekadar memastikan keadaan.

Tak lama kemudian, bus kota berwarna biru tua datang. Penumpang berebut masuk, namun untungnya bus kali ini tidak sepadat sebelumnya. Liana dan Justin masuk melalui pintu belakang. Di dalam bus, hanya tersisa dua bangku kosong yang berdampingan di barisan tengah.

Justin memberikan isyarat dengan kepalanya. "Duduk di sana."

Ia mempersilakan Liana duduk di dekat jendela, sementara ia duduk di sampingnya. Liana merasa seperti sedang bermimpi. Di tengah riuh suara mesin bus dan obrolan penumpang lain, ia duduk berdampingan dengan Justin. Bahu mereka sesekali bersentuhan saat bus melewati jalanan yang tidak rata, dan setiap sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik bagi Liana.

Untuk mengalihkan rasa gugupnya, Liana segera mengeluarkan earphone putihnya. Ia memasangnya di telinga dan mulai memutar lagu. Pilihan jarinya jatuh pada lagu Polaroid milik Jonas Blue.

“Time moves a little slower, when I’m with you...”

Melodi ceria namun manis itu memenuhi pendengarannya. Liana menyandarkan kepalanya di jendela, menatap lampu-lampu kota yang mulai berkilauan di balik kaca yang sedikit berembun. Ia tidak berani melirik Justin, takut ketahuan kalau ia sedang salah tingkah.

Sementara itu, Justin mengeluarkan ponselnya. Ia menggeser layar Instagram-nya dengan malas. Namun, fokusnya tidak benar-benar pada foto-foto di layar. Sesekali, dari sudut matanya, ia melirik ke arah Liana. Gadis itu tampak tenang dengan musiknya, matanya mencerminkan lampu-lampu jalanan yang lewat. Ada kedamaian yang aneh saat duduk di samping gadis ini, sesuatu yang tidak ia dapatkan di rumah besarnya yang sunyi.

Bus terus berjalan, berhenti dari satu halte ke halte lain. Lagu di telinga Liana berganti, namun perasaannya tetap sama. Ia merasa waktu berjalan sangat cepat saat ia ingin menikmatinya lebih lama.

"Permisi, Kak... Saya turun di depan," bisik Liana pelan saat bus mulai mendekati halte di dekat komplek rumahnya.

Justin menoleh, lalu berdiri untuk memberikan jalan bagi Liana. "Hati-hati," ucapnya singkat.

Liana mengangguk kecil, wajahnya merona. "Terima kasih, Kak. Sampai ketemu besok."

Liana turun dari bus dengan langkah terburu-buru. Begitu kakinya menginjak trotoar, ia berbalik sejenak. Dari balik jendela kaca bus yang mulai berjalan kembali, ia melihat Justin masih duduk di sana. Laki-laki itu menatap ke arah luar, ke arahnya, namun hanya untuk sedetik sebelum bus itu menjauh dan hilang di kegelapan jalanan.

Liana berdiri mematung sebentar di pinggir jalan. Ia memegang dadanya yang berdegup kencang.

"Dia beneran bilang 'hati-hati'?" gumam Liana tak percaya.

Ia segera berjalan menuju rumahnya dengan senyum yang tidak bisa hilang. Lagu di earphone-nya masih berputar, namun di kepalanya, hanya ada gema suara Justin. Malam ini, martabak pemberian Ayahnya pasti akan terasa jauh lebih manis dari biasanya.

Di dalam bus yang menjauh, Justin menyandarkan kepalanya di kursi yang tadi diduduki Liana. Masih ada sisa aroma parfum bunga yang lembut tertinggal di sana. Ia kembali menatap layar ponselnya, namun kali ini ia tidak menggesernya. Ia hanya menatap pantulan dirinya di layar hitam, memikirkan kenapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat hanya karena sebuah perjalanan bus yang singkat.

1
nesha
🤭🤭
Yoyoh Rokayah
lanjut thor
Kostum Unik
Justin Timberlake jealous /Slight/
Kostum Unik
Justin Timberlake.. Jgn cemburu kan kamu yg minta putus. Apapun alasannya ttp kalian sudah putus. Biarkan Liana memulai hidup baru. Dan buat Liana move on jgn naif jgn baper
Azalea Qziela
mulai muncul saingan justin😄
Reni Anjarwani
cemburu justin
Elprasco
😍💪
Widya Ekaputri
semangatttt!!!😍
SarSari_
iyaa...aku pun juga sama penasarannya sama liana🫣 halo kakak ..aku mampir di novelnya kakak ..mampir juga ya di novel aku. mkasih....🤗
Celine
Keren Author, lanjut thor
MayAyunda
keren👍👍
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Azalea Qziela
bagus KK,, ditunggu crazy up nya👍
Azalea Qziela
semangat kak😍💪
Veline: Terimakasih udah Mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!