NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Di luar, meriam uap Thorne melepaskan proyektil granit ketiganya. Tanpa daya dari turbin yang stabil, sistem Intersepsi Sentrifugal Jatmika akan kehilangan kecepatan putarnya.

"Suro! Tembakkan sekarang! Jangan tunggu putaran maksimal!" teriak Jatmika melalui pipa suara yang berlumuran oli.

Suro menarik tuas. Piringan sentrifugal yang mulai melambat itu melepaskan bola baja terakhirnya. Proyektil itu melesat, namun karena kecepatan putarnya berkurang, ia tidak menghantam peluru granit Thorne tepat di tengah, melainkan hanya menyerempetnya.

Peluru granit itu pecah di udara, namun bongkahan besarnya tetap meluncur jatuh dan menghantam gudang penyimpanan Kalsium Karbida di pinggir pelabuhan.

BOOOOOMMMM!

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh kota. Gas asetilena yang terbentuk dari karbida yang terkena air laut menciptakan bola api raksasa yang menerangi malam. Jatmika, yang masih berada di ruang mesin, terlempar akibat gelombang kejut.

Ia terengah-engah, tubuhnya tertutup oli dan debu. Ia melihat sang penyusup sudah tewas tertimpa reruntuhan pipa. Namun, saat Jatmika merangkak keluar, ia menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan: Ledakan itu telah menghancurkan dinding laut (seawall). Air laut mulai masuk ke dalam kompleks ruang bawah tanah yang berisi ribuan baterai sel volta.

"Jika air laut menyentuh asam baterai... gas klorin akan memenuhi seluruh kota," bisik Jatmika dengan wajah pucat.

Air laut yang asin mulai menderu masuk melalui retakan dinding beton yang hancur akibat ledakan kalsium karbida. Di ruang bawah tanah, air tersebut mulai merendam ribuan sel volta raksasa yang berisi asam sulfat. Jatmika terbatuk saat mencium bau tajam dan menusuk—campuran hidrogen dan Gas Klorin yang mulai terbentuk akibat proses elektrolisis air laut oleh arus sisa dari baterai.

"Yusuf! Jangan turun ke lantai bawah tanpa masker arang!" teriak Jatmika sambil menarik tuas isolasi sirkuit utama. "Jika gas ini naik ke ventilasi, seluruh rakyat di bunker akan tewas dalam hitungan menit!"

Jatmika tahu bahwa gas klorin ($Cl_2$) lebih berat daripada udara dan akan mengendap di lantai bawah, namun konsentrasinya yang terus meningkat akan segera meluap. Ia harus melakukan Netralisasi Kimia dengan cepat.

"Suro, lupakan turbin! Bawa semua stok Natrium Hidroksida (Soda Api) dari gudang kimia!" perintah Jatmika.

Dengan mencampurkan Natrium Hidroksida ke dalam air laut yang teroksidasi, Jatmika mencoba mengubah gas klorin yang mematikan menjadi Natrium Hipoklorit (zat pemutih) yang jauh lebih aman dalam bentuk cair. Ia bekerja di tengah air setinggi pinggang, beradu cepat dengan maut yang tidak terlihat.

Sementara itu, di celah dinding laut yang hancur, Kolonel Thorne melihat peluang emas. Ia tidak lagi menunggu artilerinya diperbaiki. Ia menghunus pedangnya dan menunjuk ke arah lubang menganga di pertahanan Kendal.

"Pasukan pendarat! Maju melalui celah air! Mereka sedang sibuk dengan gas di dalam, mereka tidak akan sempat menjaga lubang ini!" raung Thorne.

Dua ratus serdadu infanteri laut Inggris, yang terlatih bertempur di rawa dan air, mulai melompat dari sekoci. Mereka membawa senapan yang telah dibungkus kain berminyak agar tetap kering. Mereka hanya perlu melewati seratus meter air dangkal untuk masuk ke jantung teknis kota.

Suro, yang baru saja mengirimkan soda api ke Jatmika, melihat pergerakan musuh dari celah ventilasi atas. Ia tidak punya cukup orang untuk menahan dua ratus serdadu. "Raden! Infanteri laut mereka sudah masuk ke area mesin bawah! Saya hanya punya lima orang!"

Jatmika, yang masih berlumuran cairan kimia, melihat ke arah kabel transmisi utama yang menjuntai di dekat air yang merendam lantai. Sebuah ide gila muncul di kepalanya. Ia tidak akan menggunakan senjata api, melainkan Diferensial Potensial.

"Suro, evakuasi orang-orangmu ke tangga atas! Sekarang!"

Jatmika mengambil kabel tembaga besar yang terhubung ke kapasitor cadangan yang belum terendam. Ia menyambungkannya ke sebuah lempengan seng lebar yang diletakkan di ambang pintu masuk air.

"Jika mereka ingin masuk lewat air, mereka harus merasakan hukum Konduktivitas Elektrolit," bisik Jatmika.

Saat pasukan Inggris pertama menginjakkan kaki ke dalam air di ruang mesin, Jatmika menyentuhkan kabel bertegangan tinggi itu ke lempengan seng. Air laut, yang merupakan konduktor listrik yang sangat baik karena kandungan ion natrium dan kloridanya, seketika menjadi medan maut.

BZZZZZZTTTTTT!

Tanpa ada percikan api yang terlihat, para serdadu Inggris itu tiba-tiba kaku di tempat. Otot-otot mereka mengalami kontraksi hebat (tetany) akibat arus listrik yang mengalir melalui air ke tubuh mereka yang basah kuyup. Mereka tumbang satu per satu ke dalam air, tidak mampu bergerak bukan karena luka, melainkan karena sistem saraf mereka "terkunci" oleh arus Jatmika.

Thorne yang melihat dari kejauhan melalui teropongnya hanya bisa ternganga. Pasukannya tumbang tanpa suara tembakan. "Apa lagi ini?! Apakah air pun memihaknya?!"

Jatmika berhasil menghentikan serbuan pertama, namun ia tahu ini hanya solusi sementara. Soda api yang ia tuangkan mulai habis, dan gas klorin masih terus terbentuk di sudut-sudut ruangan yang tidak terjangkau.

"Yusuf, kita harus memompa air ini keluar, tapi pompa listrik kita terendam," Jatmika menyeka keringat yang bercampur air asin di wajahnya. "Kita harus menggunakan Pompa Ejektor Uap. Gunakan sisa tekanan dari boiler turbin yang tadi kita selamatkan!"

Jatmika mulai merakit pipa-pipa uap darurat. Ia memanfaatkan Efek Venturi: uap berkecepatan tinggi dilewatkan melalui pipa sempit untuk menciptakan vakum yang akan menghisap air laut keluar kembali ke pantai.

Saat uap mulai menderu, air yang terkontaminasi klorin mulai tersedot keluar. Namun, di saat yang sama, sebuah ledakan kecil kembali terdengar dari arah gerbang depan. Kali ini bukan artileri, melainkan Zat Peledak Nitrogliserin yang dibawa oleh unit sabotase kedua Thorne yang berhasil memanjat tembok lewat jalur lain.

Jatmika menyadari bahwa ia terjepit. Di bawah ada gas dan banjir, di atas ada sabotase peledak, dan di luar, Thorne sedang menyiapkan serangan pamungkas dengan sisa pasukannya.

"Kita tidak bisa bertahan secara pasif lagi," ucap Jatmika, matanya berkilat penuh tekad. "Suro, siapkan Baterai Portabel. Kita akan membawa perang ini ke tenda komando Thorne."

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!