Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.
Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.
*
Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Hari itu, seluruh kota dihebohkan oleh kabar kematian Naya Rivera Niellonso.
Bukan hanya karena ia adalah putri dari salah satu pengusaha ternama, Tuan Tuqman Niellonso, tetapi juga karena statusnya sebagai istri dari pewaris keluarga Altarex, Tuan muda Lucio. Kombinasi dua nama besar itu membuat berita kematiannya menyebar dengan sangat cepat, menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan.
Menurut laporan yang beredar, kebakaran hebat terjadi di kamar Naya pada pagi hari. Api disebut-sebut muncul secara tiba-tiba saat ia sedang tertidur, hingga menyebabkan wanita itu tidak sempat menyelamatkan diri. Setidaknya, itulah keterangan yang diperoleh media dari beberapa anggota keluarganya.
“Menurutku, nggak mungkin dia mati begitu saja,” ujar seseorang yang sedang makan siang di sebuah kafe, kebetulan televisi di dinding sedang menyiarkan berita kematian Naya.
“Apa maksudmu?” sahut temannya penasaran.
“Ah, jangan pura-pura nggak ngerti. Keluarga kaya selalu penuh konspirasi. Bisa saja kematiannya disengaja sama seperti kematian ibunya dulu.”
“Benar juga,”
“Dia kan putri Nyonya Silvya, kan? Warisan dari ibunya pasti nggak sedikit. Sekarang aku mulai paham…”
Tepat di meja belakang mereka, seorang wanita berpenampilan tertutup duduk membelakangi dua orang yang sedang berbincang tentang kabar tersebut.
Ia diam dan mendengarkan dengan seksama. Tangannya yang semula memegang sendok perlahan terhenti.
Setelah beberapa saat, wanita itu menghabiskan makanannya tanpa banyak gerakan. Ia kemudian menurunkan topinya lebih dalam, menutupi sebagian wajahnya, lalu mengenakan masker dengan kepala sedikit tertunduk.
Gerakannya cepat, seolah tidak ingin menarik perhatian siapapun.
Ia berjalan menuju kasir, membayar makanannya, lalu segera keluar dari kafe dengan langkah tergesa.
Tanpa menoleh ke belakang.
Ting! Ting!
Di sebuah persimpangan jalan, sebuah mobil hitam berhenti mendadak dan membunyikan klakson dua kali.
Wanita itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh sekilas ke arah mobil tersebut, memastikan sesuatu, sebelum akhirnya berjalan cepat dan membuka pintu, lalu masuk ke dalam tanpa ragu.
“Sialan, Naya!” Si pengemudi mengumpatnya sembari menarik topinya hingga memperlihatkan wajah wanita yang kematiannya di perbincangkan oleh semua orang.
Jika semua orang melihatnya, mereka akan sangat terkejut mendapatinya masih sangat sehat dan tidak ada tanda-tanda dia terbakar.
“Kamu membuatku hampir menghabiskan waktu seharian untuk menangis. Aku sangat terkejut mendengar kabar kematianmu dan lebih terkejut lagi saat mendapatkan telepon darimu tetapi bukan dari nomormu.” Si pengemudi mengomel panjang lebar sambil melajukan mobil.
“Astaga, Rebecca, jangan berlebihan!” Naya mendengus dan memutar bola matanya mendengar omelan sahabatnya.
Rebecca adalah satu-satunya sahabat yang Naya punya, mereka sudah bersahabat sejak kecil. Namun, karena Rebecca tinggal di negara yang berbeda selama beberapa tahun ini sehingga mereka jarang bertemu.
“Aku tidak berlebihan, apa yang kamu lakukan benar-benar konyol.” Rebecca masih belum puas, ia melanjutkan. “Kamu membakar kamarmu dengan sengaja untuk memanipulasi kematianmu sendiri. Apa yang kamu pikirkan? Kamu tidak kasihan pada ayahmu atau pada suamimu, mereka mungkin akan sangat terpukul atas apa yang terjadi.”
Naya tersenyum kecut saat menjawab. “Aku melakukan ini karena mereka hampir membunuhku—”
Cittttttt!
Mobil berhenti mendadak saat Rebecca menekan rem dengan keras, beberapa kendaraan di belakang mereka mengumpat marah.
“Maaf, maafkan saya.” Rebecca menurunkan sedikit kaca mobil dan meminta maaf, lalu dengan cepat meminggirkan mobilnya.
“Naya, apa maksudmu?” Tanya Rebecca, ia terkejut untuk kesekian kalinya hari ini. “Siapa yang hendak membunuhmu? Lucio? Dan… jangan bilang yang kamu maksud ayahmu, itu nggak mungkin.”
Bahkan Rebecca pun tidak percaya, Naya juga tidak akan percaya jika ia tidak membuktikannya sendiri.
Naya mengeluarkan bekas bungkusan plastik dari dalam sakunya, dan memperlihatkan pada Rebecca. “Papa memberi perintah pada Lice untuk memberikan bubuk dalam bungkusan ini padaku. Lice sudah bersamaku sejak kecil, aku pikir dia satu-satunya orang selain papa dan kamu yang benar peduli padaku. Tapi dia bahkan mematuhi perintah papa dan memasukkan bubuk ini ke dalam makanan kesukaanku.”
“Dan kamu sudah tahu apa bubuk itu?” Tanya Rebecca setelah terdiam cukup lama. Ia mengambil bungkusan plastik tersebut dari tangan Naya, di dalamnya masih tersisa sedikit bubuknya.
“Karena itu tidak bekerja saat aku menahan sepotong kecil daging ayam dalam mulutku, aku curiga itu arsenik.” Ujar Naya.
“Tapi kenapa papamu ingin membunuhmu? Kamu tahu ini nggak masuk akal, Nay.” Kata Rebecca mengembalikan plastik ke tangan Naya, kemudian kembali melajukan mobilnya.
“Karena itu aku butuh bantuanmu Bec.” Ucap Naya pelan.
“Aku akan membantumu sebisa mungkin.”
Itu sudah cukup. Naya hanya perlu mengetahui satu hal dan setelah itu ia akan mendapatkan jawabannya.
*
Sore itu, langit di atas cakrawala tampak muram. Awan kelabu menggantung tebal, seolah menahan hujan yang siap jatuh kapan saja. Angin berembus cukup kencang, menerbangkan daun-daun kering yang berputar di atas tanah pemakaman yang sepi.
Di tengah suasana yang dingin dan sunyi itu, Lucio masih berdiri di depan sebuah makam yang tanahnya masih tampak baru. Taburan bunga di atasnya belum layu, aromanya masih samar tercium.
Naya Rivera Niellonso.
Nama itu terukir jelas di batu nisan. Nama wanita yang baru saja ia nikahi, istri yang bahkan belum genap satu bulan bersamanya.
“Tuan, sudah satu jam Anda berdiri di sini. Sebaiknya kita pulang,” ujar Mario dari belakang, suaranya pelan hati-hati.
Namun tidak ada jawaban.
Lucio tetap diam. Tubuhnya tegak, nyaris tak bergerak, seperti patung yang berdiri di tengah makam. Tatapannya terpaku pada makam itu, seolah mencoba memahami sesuatu yang tak bisa ia terima.
Di wajahnya, tidak ada ekspresi yang jelas. Tapi justru itu yang membuatnya terlihat lebih kosong dari biasanya.
Sementara itu, tak jauh dari sana, di balik batang pohon kamboja yang rindang, dua sosok berdiri dalam diam.
Naya.
Ia menatap Lucio dari kejauhan, dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
“Kamu tidak akan menemuinya?” tanya Rebecca pelan, berdiri di sampingnya.
Naya menggeleng perlahan.
“Nggak sekarang,” jawabnya lirih. “Aku masih belum tahu dia musuh atau bukan.”
Meski begitu, ada bagian dalam dirinya yang bergejolak.
Bagian yang ingin berlari ke arah pria itu. Memeluknya. Dan mengatakan bahwa ia masih hidup.
Namun Naya menahan diri.
Ia menggenggam jemarinya erat, berusaha menahan perasaannya yang tidak seharusnya ada, atau setidaknya belum saatnya ada.
...***...