NovelToon NovelToon
CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

CUMA DIBACA DOANG: Perjalanan Jauh, Endingnya Cuma Centang Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.

Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.

Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."

Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Obrolan Canggung

Bab 19: Obrolan Canggung

Bus telah melewati Simpang Kawat, meninggalkan aroma khas pasar tumpah dan mulai membelah jalanan aspal yang dikepung perkebunan. Di dalam kabin, deru mesin diesel seolah menciptakan tembok suara yang mengisolasi Rafi dan Nisa. Secara statistik, dua puluh menit pertama dalam sebuah perjalanan kencan adalah zona kritis. Jika komunikasi gagal dibangun di sini, sisa perjalanan menuju Kisaran akan terasa seperti hukuman penjara kelas ekonomi.

Rafi berdehem, mencoba membersihkan tenggorokannya yang terasa kering karena debu terminal yang sempat terhirup tadi. Ia melirik Nisa. Gadis itu masih menatap ke luar jendela, namun jemarinya sesekali mengetuk tas kecil di pangkuannya. Itu adalah sinyal kecemasan mikroskopis yang ditangkap oleh radar analitis Rafi.

"Nis," panggil Rafi. Suaranya sedikit kalah oleh bunyi decit rem bus.

Nisa menoleh, matanya yang jernih menatap Rafi dengan rasa ingin tahu. "Ya?"

"Tadi di sekolah... eh, maksudku, tugas Pak Rahman yang jurnal itu, kamu udah selesai semua?"

Rafi mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Tugas sekolah? Serius, Rafi? Kau membawa dia jalan-jalan hanya untuk membahas jurnal akuntansi?

Nisa tersenyum kecil, sebuah ekspresi yang menurut Rafi adalah campuran antara geli dan sopan santun. "Sudah, tinggal bagian penyesuaian aja yang agak bingung. Kamu sendiri? Bukannya kamu yang paling cepat kalau soal angka?"

"Ya... sudah sih. Tapi ya gitu, laptopku sering hang kalau buka file berat. Jadi ngerjainnya cicil-cicil," jawab Rafi jujur. Ia teringat Bab 4, saat ia harus begadang dengan laptop tua yang suhunya bisa digunakan untuk menggoreng telur.

"Oh iya, aku lupa. Kamu kan sibuk ngetik tugas orang juga ya?" Nisa bertanya dengan nada yang terdengar tulus, tanpa ada kesan merendahkan.

Rafi merasakan sedikit sengatan di dadanya. Apakah Nisa tahu dia melakukan itu demi uang kencan ini? Secara logis, hampir seluruh kelas tahu Rafi adalah 'joki' tugas yang handal dengan tarif bersahabat.

"Yah, hitung-hitung tambah uang jajan, Nis. Di Tanjungbalai ini kalau nggak kreatif, dompet bisa kerontongan," ujar Rafi mencoba melucu, meski tawanya terdengar sedikit hambar.

Nisa tertawa kecil. "Betul juga sih. Aku juga pengen kerja sampingan sebenarnya, tapi jadwal SMK kan padat kali, pulang sore terus."

Percakapan terhenti sejenak saat bus melindas lubang besar. Tubuh mereka berguncang hebat.

Rafi secara refleks memegang pinggiran kursi di depannya agar tidak terjerembap ke arah Nisa. Bau minyak angin dari penumpang depan kembali menyengat, merusak momen tipis yang baru saja terbangun.

Rafi mencari topik lain. Ia harus menjauh dari topik sekolah. Sekolah adalah realitas yang membosankan; kencan adalah pelarian.

"Tadi malam... aku lihat statusmu, Nis. Kamu lagi dengerin lagu-lagu lama ya?" tanya Rafi. Ini adalah hasil riset digitalnya dari Bab 6.

Mata Nisa sedikit membulat. "Eh, kamu perhatikan ya? Iya, lagi suka aja. Rasanya lebih santai dengarnya pas lagi ngerjain tugas. Kamu suka musik apa, Rafi?"

Rafi terdiam sesaat. Secara selera, ia tidak punya kemewahan untuk memilih genre. Ia mendengarkan apa saja yang diputar di radio warung kopi atau apa yang sedang viral di TikTok agar tidak terlihat ketinggalan zaman.

"Aku? Apa aja sih, asal enak di telinga. Tapi kalau lagi ngetik tugas orang, biasanya aku dengerin yang instrumental, biar fokus," jawabnya diplomatis.

"Wah, serius banget ya," sahut Nisa sambil merapikan helai rambutnya yang terbang tertiup angin dari jendela. "Eh, itu... lihat! Itu kan yang jualan kerang di pinggir jalan yang viral itu ya?"

Nisa menunjuk ke arah deretan warung di pinggir jalan lintas. Rafi mengikuti arah telunjuknya. "Iya, itu Kerang Rebus Tanjungbalai. Tapi kalau jam segini biasanya belum buka. Mereka ramainya pas malam."

"Kapan-kapan pengen deh nyoba di situ," guman Nisa pelan.

Hati Rafi mencelos. Kapan-kapan. Secara semantik, itu adalah kata yang penuh harapan namun juga penuh ketidakpastian finansial bagi Rafi. Ia mulai menghitung cepat di kepalanya: harga satu porsi kerang rebus, ongkos parkir, dan minuman. Total mungkin 50 ribu. Ia harus menyimpan 50 ribu lagi dari hasil ngetik bulan depan jika ingin mewujudkan "kapan-kapan" itu.

"Nanti ya, kalau ada waktu... dan ada rezeki, kita coba ke sana," balas Rafi dengan nada yang ia usahakan tetap stabil.

Keheningan kembali turun. Kali ini terasa sedikit lebih canggung. Rafi merasa setiap kalimat yang ia ucapkan selalu berujung pada kalkulasi biaya di otaknya. Ia ingin sekali bercerita banyak hal, tentang ambisinya, tentang novel-novel yang sering ia baca secara online, atau tentang bagaimana ia mengagumi cara Nisa tertawa. Namun, lidahnya terasa kaku.

Ia takut jika ia bicara terlalu banyak, ia akan keceplosan tentang betapa sulitnya ia mengumpulkan 315 ribu ini. Ia takut Nisa akan merasa terbebani jika tahu bahwa setiap teguk Coca-Cola yang akan mereka minum di Irian nanti adalah hasil dari butiran keringatnya yang dikonversi dari tarif ketikan per halaman.

"Rafi," panggil Nisa tiba-tiba, memecah lamunan skeptisnya.

"Ya, Nis?"

"Makasih ya sudah ajak aku jalan hari ini. Sebenarnya aku lagi suntuk kali di rumah. Bapak lagi sering marah-marah gara-gara tangkapan ikan lagi sepi di gudang."

Rafi menoleh, menatap profil samping wajah Nisa. Ada gurat kelelahan yang sama dengan yang ia miliki di sana. Di Tanjungbalai, nasib ekonomi hampir semua orang bergantung pada laut dan perdagangan. Jika laut sedang tidak bersahabat, suasana di meja makan setiap rumah akan berubah menjadi tegang.

"Sama-sama, Nis. Aku juga suntuk kok. Makanya, sesekali kita harus keluar dari rutinitas, biar otak nggak berasap," kata Rafi dengan nada yang jauh lebih empati.

Untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini, Rafi merasa mereka berada di frekuensi yang sama. Bukan sebagai siswa populer atau joki tugas, melainkan sebagai dua remaja yang sama-sama sedang mencari sedikit ruang bernapas di tengah tekanan hidup kota kecil.

Obrolan itu berlanjut, meski tetap dengan jeda-jeda panjang yang canggung. Mereka membahas tentang cuaca yang makin panas, tentang guru-guru yang menyebalkan, hingga tentang impian Nisa yang ingin bekerja di bank agar bisa memakai seragam rapi dan duduk di ruangan ber-AC setiap hari.

Rafi mendengarkan dengan seksama. Setiap informasi yang keluar dari mulut Nisa ia simpan dalam memori jangka panjangnya, seolah itu adalah data intelijen yang sangat berharga. Secara bawah sadar, ia mulai menyusun rencana jangka panjang yang bahkan melampaui Bab 25.

Namun, di tengah obrolan itu, mata Rafi tak sengaja melirik ke arah kaki Nisa. Nisa memakai sepatu kets putih yang tampak masih baru dan sangat bersih. Lalu ia melirik kakinya sendiri. Sepatunya yang hitam kusam dengan bekas lem yang sedikit mengintip di pinggiran sol.

Kontras itu kembali menghantamnya. Rasa bangga karena bisa mengajak Nisa ngobrol beradu dengan rasa malu karena kondisi fisiknya.

"Rafi? Kok bengong?" tanya Nisa sambil melambaikan tangan di depan wajah Rafi.

"Eh, enggak. Itu... tadi ada burung bagus lewat," bohong Rafi sambil menunjuk ke langit yang kosong.

Nisa tertawa, kali ini lebih keras. "Burung apa? Nggak ada apa-apa juga."

Tawa Nisa membuat Rafi ikut tersenyum. Biarlah obrolan ini canggung, biarlah sesekali ia terlihat bodoh. Yang penting, Nisa masih ada di sampingnya, masih mau menanggapi kalimat-kalimat sederhananya di dalam bus yang makin lama makin terasa seperti oven raksasa ini.

Dua puluh menit pertama telah berlalu. Mereka sudah lebih dekat ke Kisaran daripada ke Tanjungbalai. Rafi mengecek saku celananya lagi. Dompet aman. Kepercayaan diri, meski tertatih-tatih, masih bisa dipertahankan.

Bus mulai melambat karena antrean kendaraan di sebuah jembatan yang sedang diperbaiki. Rafi mengambil botol air mineral yang ia bawa dari rumah—salah satu upaya penghematan—dan menawarkannya pada Nisa.

"Minum, Nis? Biar nggak haus kali."

Nisa menerima botol itu, dan saat jari mereka bersentuhan singkat, Rafi merasakan denyut jantungnya kembali berpacu, mengalahkan bisingnya mesin bus di bawah kaki mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!