Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 : bayangan yang tercekik keheningan
Hujan turun rintik-rintik di atas Kota Daegu, menyelimuti bangunan tua Rumah Sakit Jiwa Daegu dengan kabut kelabu yang tampak seperti napas kematian. Di sektor paling terisolasi, di balik dinding-dinding beton setebal satu meter yang dilapisi timah untuk meredam mana, sebuah jeritan tanpa suara bergema di dalam frekuensi yang tidak bisa didengar oleh telinga manusia biasa. Di dalam sel nomor 099, seorang gadis kecil bernama Hana sedang meringkuk di sudut ruangan, tubuhnya bergetar dengan frekuensi yang begitu tinggi hingga udara di sekitarnya tampak distorsi, menciptakan riak-riak gelombang panas yang mematikan.
Hana tidak gila, setidaknya tidak dalam pengertian medis tradisional. Namun, dunia telah melabelinya demikian sejak fenomena 'Abyss Resonance' menghantam sistem sarafnya tiga tahun lalu. Setiap kali ia bernapas, saraf-sarafnya bergetar, mengirimkan sinyal rasa sakit yang setara dengan ribuan sengatan listrik ke otaknya. Baginya, suara tetesan air hujan di luar sana terdengar seperti ledakan meriam, dan sentuhan kain pakaian di kulitnya terasa seperti sayatan pisau bedah yang tumpul. Ia adalah tawanan dalam tubuhnya sendiri, sebuah instrumen yang terus-menerus memainkan nada penderitaan yang tak kunjung usai.
Arkan berdiri di atap gedung seberang, menatap fasilitas tersebut dengan mata merah yang menyala di balik tirai hujan. Ia bisa merasakan resonansi Hana dari jarak satu kilometer; getaran itu terasa seperti detak jantung yang panik, sebuah panggilan minta tolong yang dipancarkan melalui frekuensi darah yang tersiksa.
"Saraf yang bergerak melampaui batas ruang dan waktu," gumam Arkan, suaranya tertelan oleh suara petir yang menggelegar di langit Daegu. "Dunia ini terlalu berisik untukmu, bukan, Hana?"
Arkan tidak menggunakan pintu depan. Ia melangkah ke udara kosong, berjalan di atas butiran air hujan seolah-olah itu adalah tangga kristal. Dengan manipulasi tekanan darah pada titik-titik tumpu udara, ia meluncur menuju jendela kecil di lantai empat gedung isolasi. Pengawal di menara pengawas tidak melihat apa pun; bagi mereka, Arkan hanyalah sekelebat bayangan hitam yang tertutup oleh pekatnya badai.
Saat Arkan menyentuh jeruji besi jendela yang dialiri listrik tegangan tinggi, ia hanya tersenyum tipis. Ia mengalirkan esensi Sanguine ke telapak tangannya, menyerap seluruh energi listrik tersebut dan mengubahnya menjadi panas yang melelehkan baja tanpa suara. Ia meluncur masuk ke dalam koridor yang sunyi, di mana bau ozon dan obat penenang dosis tinggi memenuhi atmosfer yang pengap.
Di ujung koridor, dua orang penjaga bersenjata lengkap keduanya adalah Hunter Kelas B yang disewa khusus untuk menjaga 'Subjek 099'.sedang berjaga di depan pintu baja sel Hana. Mereka mengenakan penutup telinga khusus untuk meredam getaran frekuensi tinggi yang dipancarkan gadis itu.
Arkan tidak membuang waktu. Ia menjentikkan jarinya dua kali.
Sanguine Arts: Blood Stasis.
Kedua penjaga itu bahkan tidak sempat menoleh. Aliran darah di otak mereka mendadak berhenti total, membuat mereka jatuh pingsan secara instan sebelum tubuh mereka menyentuh lantai. Arkan menangkap tubuh mereka di udara dengan manipulasi tekanan udara agar tidak menimbulkan suara sekecil pun. Ia melangkah melewati mereka dan menempelkan tangannya pada panel kunci biometrik pintu baja tersebut. Darahnya merembes masuk ke dalam sirkuit elektronik, meretas sistem keamanan dalam hitungan detik hingga lampu indikator berubah menjadi hijau.
Pintu terbuka dengan desisan udara yang berat. Di dalam, ruangan itu benar-benar gelap, kecuali untuk distorsi udara yang berpendar ungu di pojok ruangan.
"Pergi... tolong... semuanya terlalu berisik..." suara Hana terdengar seperti bisikan hantu yang tercekik.
Arkan mendekat perlahan. Setiap langkahnya sengaja ia buat sangat tenang, namun ia memancarkan frekuensi darah yang stabil untuk menenangkan saraf Hana yang bergejolak. "Keheningan yang kau cari tidak ada di tempat ini, Hana. Tempat ini hanya mengurungmu agar mereka bisa mempelajari rasa sakitmu."
Hana mendongak. Matanya yang besar tampak ketakutan, namun ada secercah harapan yang muncul saat ia melihat aura merah yang menyelimuti Arkan. Bagi Hana, Arkan tidak terlihat seperti manusia; ia tampak seperti hamparan samudera merah yang tenang dan tak berujung.
"Siapa... kau? Kenapa... kau tidak berisik?" tanya Hana, getaran tubuhnya mulai sedikit mereda.
Arkan berlutut di depannya, mengabaikan gelombang frekuensi tajam yang mencoba mengoyak jubahnya. "Aku adalah orang yang akan memberimu kendali. Kau menderita karena kekuatanmu tidak memiliki wadah, Hana. Sarafmu mencoba membelah ruang, tapi tubuhmu masih terikat pada hukum bumi. Ikutlah denganku, dan aku akan menjadikanmu bayangan yang paling ditakuti. Kau tidak akan lagi merasakan suara dunia yang menyakitkan, karena kau sendiri yang akan menjadi keheningan itu."
Arkan menawarkan tangan kanannya. Di telapak tangannya, sebuah kristal darah kecil terbentuk Sanguine Core of Silence*.
"Jika kau mengambil ini, kau akan 'mati' malam ini. Kau akan menghilang dari setiap rekaman manusia. Kau tidak akan lagi memiliki orang tua yang membuangmu, atau dokter yang menyiksamu. Kau akan menjadi 'Phantom' milikku," ucap Arkan dengan nada yang mengandung janji mutlak.
Hana menatap tangan Arkan. Ingatannya kembali pada saat orang tuanya menandatangani surat pembuangannya ke rumah sakit ini sambil menangis ketakutan karena Hana hampir menghancurkan rumah mereka hanya dengan getaran sarafnya. Ia ingat rasa haus, rasa sakit, dan bagaimana ia diperlakukan seperti monster di dalam kandang.
"Bawa aku... ke tempat yang sunyi," bisik Hana. Ia menyentuh tangan Arkan, dan seketika esensi darah Sovereign meresap masuk ke dalam sumsum tulang belakangnya.
Transformasi Hana jauh lebih sunyi daripada Bastian, namun jauh lebih intens secara internal. Arkan harus memegang pundak gadis itu dengan kuat saat seluruh saraf di tubuh Hana disusun kembali menjadi serat Sanguine yang mampu bergetar dalam frekuensi sub-atomik. Hana tidak berteriak; suaranya tertahan oleh keheningan mutlak yang mulai menyelimuti ruangan itu. Dalam waktu sepuluh menit, getaran tak terkendali itu hilang, digantikan oleh aura yang begitu tenang hingga keberadaan Hana seolah-olah menghilang dari realitas.
"Cobalah melangkah," perintah Arkan.
Hana berdiri. Saat ia melangkah, ia tidak berjalan; ia seolah-olah berteleportasi dari satu titik ke titik lain tanpa melewati ruang di antaranya. Ia telah menjadi bayangan yang sesungguhnya.
"Terima kasih... Ayah," ucap Hana. Suaranya kini halus dan dingin, namun penuh dengan loyalitas yang murni.
Arkan tertegun sejenak mendengar panggilan 'Ayah', namun ia segera menyembunyikan ekspresinya di balik topeng ketenangan. "Panggil aku Tuan saat kita bertugas. Sekarang, kita pergi. Bastian sudah menunggumu di markas."
Arkan menciptakan klon darah Hana yang tampak seperti mayat yang hancur akibat ledakan frekuensi saraf yang gagal. Ia kemudian membakar seluruh sel tersebut dengan api Sanguine untuk menghilangkan jejak, menciptakan kesan bahwa Hana telah tewas dalam kecelakaan tragis.
Malam itu, laporan Rumah Sakit Jiwa Daegu menyatakan bahwa pasien 099 tewas dalam insiden 'Self-Destructive Resonance'. Pihak berwenang menutup kasus itu dengan cepat, merasa lega karena ancaman potensial tersebut sudah lenyap.
Keesokan Harinya – SMA Gwangyang, Seoul.
Arkan duduk di bangku paling belakang kelasnya, menatap ke jendela yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Di depannya, buku teks sejarah terbuka, namun pikirannya berada di gudang bawah tanah tempat Bastian dan Hana kini sedang berlatih sinergi. Ia telah memberikan instruksi dasar pada Bastian untuk menjaga 'adik barunya'.
"Arkan! Hei, kamu denger nggak?!" suara Liora mengejutkannya.
Arkan menoleh, kembali ke aktingnya sebagai murid pendiam. "Eh? Iya, Liora? Ada apa?"
Liora berdiri di depan mejanya, melipat tangan di dada dengan ekspresi kesal. "Aku sudah panggil kamu tiga kali! Kamu bengong terus sejak tadi pagi. Apa kamu sakit?"
"Aku hanya... kurang tidur, Liora. Ada banyak tugas semalam," bohong Arkan dengan lancar.
"Jangan bohong terus. Kamu selalu bilang kurang tidur," Liora duduk di kursi depan Arkan, merendahkan suaranya. "Dengar, ada berita aneh dari Daegu semalam. Katanya ada pasien tingkat bahaya yang mati meledak, tapi sensor mana di sana mendeteksi kilatan merah sebelum ledakan itu terjadi. Itu... mirip dengan apa yang terjadi di parkiran rumah sakit tempat Bastian dirawat, kan?"
Arkan merasakan jantungnya berdetak stabil, namun ia kagum pada ketajaman insting Liora. "Mungkin itu hanya kebetulan, Liora. Banyak Hunter yang memiliki kekuatan berwarna merah. Kamu terlalu banyak membaca forum konspirasi."
"Tapi rasanya aneh, Arkan. Sejak kamu masuk ke sekolah ini, banyak 'kebetulan' yang terjadi," Liora menatap mata Arkan dengan intens, mencoba mencari celah di balik kacamata tebal itu.
Tepat saat itu, Rian berjalan melewati mereka dan sengaja menabrak meja Arkan hingga tasnya terjatuh. "Ups, maaf ya, Cupu. Mejamu terlalu lebar buat orang miskin sepertimu."
Rian tertawa bersama teman-temannya. Liora sudah bersiap untuk berdiri dan memarahi Rian, namun Arkan memegang pergelangan tangan Liora, menahannya.
"Sudahlah, Liora. Tidak apa-apa," ucap Arkan tenang.
Arkan membungkuk untuk mengambil tasnya. Di dalam hatinya, ia berkomunikasi melalui Blood-Link dengan Hana yang sedang bersembunyi di atas atap sekolah.
'Hana, jangan bergerak. Ini perintah,'.tegur Arkan di dalam pikirannya saat ia merasakan niat membunuh yang sangat tajam memancar dari atap.
'Tapi Tuan... dia menyentuh Anda...' suara Hana terdengar gemetar karena menahan amarah di benak Arkan.
'Biarkan saja. Dia hanya serangga yang tidak tahu apa-apa. Fokus pada pengintaianmu di sekitar gedung Asosiasi Hunter. Aku tidak ingin ada agen yang mendekat ke sini hari ini.'
'Baik, Tuan...'
Arkan kembali duduk dan membuka bukunya kembali. Di luar, langit mulai cerah, namun Arkan tahu bahwa badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ia telah mendapatkan Vanguard-nya, ia telah mendapatkan Phantom-nya. Dunia belum menyadari bahwa raja mereka sedang duduk di antara remaja-remaja sekolah, mendengarkan ocehan guru matematika, sambil merencanakan penaklukan yang akan mengubah sejarah manusia selamanya.
"Arkan, kamu benar-benar aneh," gumam Liora sambil memperhatikannya. "Tapi entah kenapa, aku merasa kamu adalah orang paling aman di dunia ini."
Arkan tersenyum tipis tanpa menoleh. 'Kau tidak tahu, Liora. Aku adalah orang paling berbahaya yang pernah kau temui.'