NovelToon NovelToon
Gaze Of The Heart

Gaze Of The Heart

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏

Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akad

Pernikahan itu tidak seperti pesta pora yang biasa digelar di hotel bintang lima Jakarta. Meskipun mewah, kemeriahan yang hadir di kediaman besar keluarga Ameera terasa begitu sakral dan syahdu.

Taman belakang rumah yang luas disulap menjadi lorong cahaya dengan ribuan bunga melati yang wanginya semerbak, menyatu dengan aroma kayu gaharu yang dibakar di sudut-sudut ruangan.

​Ameera Nafeeza tampak begitu anggun. Ia mengenakan gaun pengantin berwarna putih bersih yang longgar namun elegan, dengan hijab yang menutupi dada secara sempurna. Tidak ada riasan yang berlebihan, hanya kecantikan alami yang memancar dari wajah seorang wanita yang telah menemukan kedamaian batinnya.

​Di tengah kerumunan tamu yang hadir dengan pakaian santun, Liam Al-Gazhi duduk di depan Pak Bramantyo. Liam mengenakan jas formal berwarna putih gading dengan peci hitam yang membuatnya tampak begitu berwibawa. Tangannya yang biasa memegang pisau bedah itu kini menjabat erat tangan ayah Ameera.

​"Saya terima nikah dan kawinnya Ameera Nafeeza binti Bramantyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

​Suara Liam menggema, tegas, dan tanpa keraguan dalam satu tarikan napas. Saat para saksi menyerukan kata "Sah!", air mata Ameera jatuh di balik tirai pembatas. Di sinilah puncak dari segala penantian dan prasangka. Pria yang dulu menolak menatapnya demi menjaga kesucian, kini telah resmi menjadi pelindungnya.

​Saat Ameera dibawa keluar untuk menemui suaminya, suasana menjadi sangat hening. Liam berdiri menanti. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama menjaga pandangan, Liam mengangkat wajahnya sepenuhnya. Ia menatap Ameera yang kini berdiri hanya sejarah langkah darinya.

​Tatapan itu kini berbeda. Tidak ada lagi beban dosa yang menghalangi. Liam menatap Ameera dengan binar kasih sayang yang begitu dalam, seolah-olah seluruh dunia baru saja ia temukan di balik jilbab putih itu.

​Liam melangkah mendekat, lalu dengan lembut ia meletakkan telapak tangannya di atas kepala Ameera. Ia memejamkan mata, membisikkan doa keberkahan yang panjang, sebuah doa yang membuat bahu Ameera bergetar karena haru.

​"Dulu aku menunduk karena aku takut kehilangan Allah saat menatapmu," bisik Liam saat mereka bersanding di pelaminan. "Sekarang, aku menatapmu karena setiap inci wajahmu mengingatkanku pada betapa baiknya Allah kepadaku."

​Pesta itu dimeriahkan oleh lantunan Hadrah dan doa-doa dari para santri yang datang jauh-jauh dari pesantren Syifa. Syifa hadir dengan senyum paling lebar, menggendong bayi Arshad yang kini sudah sehat dan ikut meramaikan suasana dengan celotehannya.

​Kedua orang tua Ameera berdiri dengan bangga. Mereka tidak pernah menyangka bahwa kebahagiaan sejati putri mereka bukan datang dari tumpukan harta, melainkan dari seorang pria yang membawa mereka semua kembali ke jalan Tuhan.

​Malam itu, di bawah langit yang bertabur bintang, kemeriahan itu ditutup dengan keheningan yang indah.

Harum bunga melati yang menghiasi kamar pengantin berpadu lembut dengan aroma minyak wangi oud yang menjadi ciri khas Liam.

Ameera duduk di tepi ranjang, jari-jarinya yang halus masih sedikit gemetar. Meskipun mereka sudah sah secara agama dan negara, ada rasa canggung yang manis menyelimuti hatinya.

Baginya, Liam masihlah sosok Dokter yang selalu menunduk yang selama ini ia kagumi dari kejauhan.

Pintu terbuka pelan. Liam masuk setelah memastikan seluruh tamu dan keluarga sudah beristirahat. Ia telah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung sedikit. Saat mata mereka bertemu, Liam tersenyum, senyuman yang kini sepenuhnya milik Ameera.

Liam tidak langsung menghampiri Ameera untuk bicara. Ia berjalan menuju sudut ruangan, membentangkan dua sajadah yang saling berdampingan.

"Ameera," panggilnya lembut. "Sebelum kita memulai segalanya, maukah kau menemaniku menghadap-Nya sejenak? Sebagai bentuk syukur bahwa takdir-Nya begitu indah mempertemukan kita kembali."

Ameera mengangguk tanpa ragu. Ia mengambil mukena putih bersihnya. Di dalam kamar yang tenang itu, untuk pertama kalinya, Ameera berdiri di belakang Liam sebagai makmum. Shalat dua rakaat itu terasa begitu khusyuk. Suara Liam saat melantunkan ayat suci dalam shalat mereka terdengar lebih indah dari Azan Subuh yang pernah Ameera dengar di pesantren dulu.

Setelah salam, Liam berbalik. Ia meraih tangan Ameera, membimbingnya untuk mendekat, lalu kembali meletakkan tangannya di ubun-ubun Ameera seraya melangitkan doa

"Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi..."

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan tabiat yang Engkau watakkan kepadanya..."

Ameera memejamkan mata, merasakan ketulusan yang mengalir dari telapak tangan suaminya. Air mata haru kembali menetes. Ia merasa sangat terlindungi, sangat dicintai, dan sangat dihormati.

Setelah berdoa, mereka duduk berhadapan di atas sajadah. Liam masih memegang jemari Ameera, mengelusnya dengan ibu jari dengan penuh kasih.

"Terima kasih, Ameera," ucap Liam pelan. "Terima kasih sudah bersabar dalam setahun, dan terimakasih juga seminggu yang penuh prasangka itu. Terima kasih sudah menjaga dirimu dan Al-Qur'an mu."

Ameera menunduk malu, namun kali ini ia memberanikan diri menatap mata Liam. "Aku yang berterima kasih, Mas. Kalau bukan karena keteguhanmu untuk tidak menatapku dulu, aku mungkin tidak akan pernah belajar bagaimana cara menghargai diriku sendiri."

Ameera terdiam sejenak, lalu teringat sesuatu yang mengganjal. "Jadi... soal Arshad dan Kak Farah. Kau sengaja ya membiarkanku cemburu selama seminggu di rumah sakit?"

Liam tertawa kecil, suara tawa yang selama ini jarang Ameera dengar. "Bukan sengaja, Ameera. Saat itu Arshad memang sedang butuh penanganan cepat. Tapi aku juga ingin melihat, apakah Alif-ku ini masih memiliki perasaan yang sama atau sudah hilang ditelan waktu. Ternyata, cemburu mu itu sangat terlihat."

Ameera mencubit pelan lengan Liam, membuat suasana menjadi cair dan hangat.

Malam itu bukan hanya tentang penyatuan dua insan, tapi tentang janji dua jiwa untuk saling membimbing. Liam mengambil Al-Qur'an beludru milik Ameera yang diletakkan di meja nakas.

"Ameera, mulai malam ini, aku bukan hanya suamimu. Aku adalah teman diskusimu, guru mengaji mu, dan orang yang akan berdiri paling depan untuk menjagamu. Kita akan belajar bersama, jatuh dan bangun bersama dalam iman."

Ia membuka lembaran Al-Qur'an itu, lalu mulai membacakan satu ayat dengan nada yang sangat teduh. Ameera menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Liam, mendengarkan setiap huruf yang keluar dari bibir suaminya.

Di kamar itu, cahaya lampu yang redup menjadi saksi bahwa cinta yang dimulai karena Allah, akan berakhir dengan ketenangan yang tak sanggup dilukiskan kata-kata. Ameera akhirnya benar-benar pulang. Bukan ke rumah mewahnya, bukan ke pesantrennya, tapi ke pelukan seorang pria yang menjadi jawaban atas segala doa-doa rahasianya.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰

1
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
😂😂😂😂😩
💗 AR Althafunisa 💗
Nyesel kan kamu Ay 😩😭
💗 AR Althafunisa 💗
Sudah kuduga pasti salah paham 😌
💗 AR Althafunisa 💗
ninggalin jas lab, perasaan dipake ya 😅
ros 🍂: Mohon Maaf Lupa author lupa🤭😭
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 🥰🥰🥰
💗 AR Althafunisa 💗
Aamiin Allahumma Aamiin...
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah... 😍
💗 AR Althafunisa 💗
dan sejarah pun terulang 😁
💗 AR Althafunisa 💗
🥺🥺🥺🥺
💗 AR Althafunisa 💗
Ceritanya bagus 👍😍
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
💗 AR Althafunisa 💗
Ini cerita nya bagus koq pembacanya ga ada ya 🥺
Titik Sofiah
lanjut Thor 😍
💗 AR Althafunisa 💗
Alhamdulillah...
💗 AR Althafunisa 💗
Aku baca novel ini seperti kembali pulang 🥺🥺🥺
ros 🍂: Terharu aku kak 😭😍
total 1 replies
Sweet Girl
Naaah kesempatan... kamu bisa belajar sama Liam...
Selvia Sihite
aku suka alurnya, keren, tidak betele tele, semangat 💪
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor
falea sezi
lanjut
falea sezi
baru nyimak moga bagus ampe ending dan g ribet atau bertele tele
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!