Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Dekat
Maya menatap jam di dinding rumah kontrakan Raka. Pukul enam sore. Sudah tiga minggu sejak ia mulai datang ke sini setiap hari, dan sekarang ia bisa membaca setiap sudut ruangan ini seperti rumahnya sendiri.
Di sebelah kanan pintu masih ada rak sepatu Kinan. Tiga pasang sandal jepit, satu sepatu kets putih yang sudah menguning, dan satu pasang sepatu hak rendah yang ia pakai saat mereka jalan-jalan ke mall terakhir kali—sebelum diagnosis kanker itu datang.
Maya menghela napas, lalu membuka kulkas. Kosong, kecuali setengah botol air mineral dan satu bungkus roti tawar yang sudah berjamur di pojok. Ia menggeleng, membuang roti itu, lalu mulai menata bahan-bahan yang ia bawa dari pasar: telur, sayur bayam, tahu, dan daging ayam giling.
"Lagi masak apa?"
Suara Raka terdengar dari kamar. Lemah. Maya sudah terbiasa dengan suara itu—suara orang yang bangun tidur tapi belum benar-benar bangun dari mimpinya.
"Tahu isi," jawab Maya sambil memotong daun bawang. "Lo masih punya nasi dari kemarin?"
Raka muncul di ambang pintu kamar. Rambut berantakan, kaos oblong longgar milik Kinan—Maya kenal bau parfum vanila samar yang masih menempel di bahu kanan. Raka mengusap matanya.
"Ada. Di rice cooker."
Ia mengangguk, terus dengan pekerjaannya merasakan tatapan Raka di punggungnya, tapi tidak menoleh. Tiga minggu ini ia belajar: jangan menatap terlalu lama. Jangan. Nanti ia akan mulai melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat—garis rahang yang tajam meski kurus, cara Raka mengatupkan bibir saat berusaha kuat, atau mata coklat kosong tapi tetap hangat.
"May."
"Hmm?"
"Makasih ya."
Maya menghentikan gerakan pisaunya. Satu detik. Dua detik. Lalu ia melanjutkan memotong.
"Jangan berterima kasih setiap hari. Gue capek dengernya."
Raka tertawa kecil, pertama kali Maya dengar sejak... ia tidak ingat kapan. Suara itu membuat tangannya bergetar sedikit, hampir memotong ujung jari.
\=\=\=
Mereka makan di meja makan kecil berdua. Raka melahap tahu isi dengan lahap—pertanda baik. Minggu pertama, ia hanya bisa menyuap nasi nasi seperti robot. Sekarang setidaknya ada rasa lapar.
"Minggu ini gue kerja lagi " kata Raka tiba-tiba.
Maya mengangkat alis. "Lu kemarin udah masuk kam?"
"Hehe..ia...entah napa gue harus lapor ma lo."
" Ya harus, mau lo pengangguran?"
Raka mengedarkan pandangannya, matanya menyipit, " Gue mesti nyari uang banyak untuk kontrakan tiga bulan lagi."
Maya ingin bilang: Gue bisa bantu. Gue punya tabungan. Tapi ia menelan kata-kata itu. Ia tahu batasannya. Sahabat Kinan. Itu posisinya. Bukan lebih.
"Nanti gue antar," kata Maya akhirnya.
"Nggak usah—"
"Gue antar naik motor gue, Atau gue kasih tau Ibu Rini lo masih lemah mengendarai."
Raka menatapnya. Ia menatap balik. Dalam diam, mereka berdua tahu siapa yang akan menang.
"Ya udah," Raka menyerah. "Tapi jangan tiap hari, ntar lu capek, gue masih bisa naik angkot."
"Gue yang nentuin capek atau nggak, Raka, bukan Lo."
\=\=
Malam setelah Raka tidur, gadis itu duduk di teras kecil depan rumah membuka buku catatan kecil yang selalu ia bawa untuk menulis resep masakan, daftar buku yang ingin dibaca, atau sekadar curhatan random.
Halaman terakhir yang Kinan tulis masih ada di sana, hurufnya miring ke kanan karena tangannya mulai lemah saat itu:
"Resep brownies kukus anti gagal: 2 telur, 150gr gula, 100gr tepung... Raka suka yang agak moist, jangan terlalu kering ya May."
Maya menutup buku perlahan mengambil gelas teh hangat yang ia siapkan sendiri, menatap langit terlalu cerah malam kota. Bintang-bintang tertutup polusi cahaya. Kinan selalu bilang langit kampungnya lebih indah—bintangnya begitu banyak sampai ia pusing menghitung.
"Nan," bisik Maya ke udara. "Lo denger gue nggak?"
Tidak ada jawaban. Tidak pernah ada.
"Gue jagain dia. Janji. Tapi... gue takut."
Uap teh mengepul perlahan di udara malam.
"Gue takut gue mulai minta lebih. Dan gue nggak boleh. Kan?"
Sebuah kupu-kupu night moth terbang mendekati lampu teras. Kecil, coklat, tidak mencolok. Ia berputar-putar di sekitar bola lampu, terus-menerus, meski pasti terbakar.
Maya menutup buku catatannya. Ia mengerti perasaan kupu-kupu itu.
\=\=\=
Sabtu pagi, mereka pergi ke makam.
Raka membawa mawar putih seperti biasa. Maya membawa air mineral dan tisu—pengalaman mengajarinya bahwa Raka akan menangis, dan ia harus siap.
Jalan ke makam hampir setengah jam dengan motor butut Raka. Maya duduk di belakang, menjaga jarak tubuh meski angin mendorongnya untuk mendekat. Ia bisa mencium bau sabun cuci baju yang Raka pakai—sama seperti yang Kinan beli dulu, merek favoritnya.
"Lo ingat nggak," Raka bicara di tengah perjalanan, suaranya hampir terbawa angin, "waktu kita pergi ke Pantai Parangtritis?"
Maya tersenyum di belakang punggungnya "Ingat. Lo nyemplung ke laut mikir Kinan tenggelam, padahal dia cuma nyari kerang."
"Gue panik."
"Gue juga panik panik lihat lo panik."
Raka tertawa getaran tubuhnya terasa di punggung Maya. Untuk satu momen, ia memejamkan mata berpura-pura ini perjalanan biasa tiga sahabat bukan dua orang yang ditinggal satu.
Raka berlutut. Maya berdiri sedikit menjauh, di bawah pohon akasia yang rindang.
"Nan," Raka mulai bicara seperti biasa "Mas kangen. Mas bawa mawar dari tukang bunga dekat kantor, bukan yang mahal itu."
Ia mengatur posisi bunga di vas kecil yang menempel di nisan.
"Minggu depan mas kerja lagi. Maya yang maksa. Dia bilang mas harus hidup. Tapi mas nggak tahu cara hidup tanpa mu."
Maya meremas tisu di saku celana. Jari-jarinya dingin.
"Maya baik," lanjutnya "Dia sering datang. Masakin, bersihin. Mas nggak minta, tapi dia datang terus. Kayak kamu dulu, Nan. Dulu kamu juga seperti itu sama mas."
Maya menahan napas sesak.
"Mas bingung, Nan. Mas harus bilang apa?"
Angin bertiup. Daun-daun ketapang, akasia bergoyang, seperti bisikan. Raka diam, seolah menunggu jawaban. Lalu menangis pelan, teratur, seperti orang yang sudah kehabisan suara untuk berteriak.
Maya tidak mendekat. Ia tahu batasannya. Tapi matanya juga berkaca-kaca.
Akhirnya mereka duduk berdampingan di bangku batu dekat makam. Raka menghabiskan air mineral. Maya menatap awan.
"Lo pernah nggak," tanya Raka tiba-tiba, "merasa bersalah karena masih hidup?"
Maya menoleh. "Sering."
"Gue nggak ngerti kenapa gue masih di sini. Kenapa bukan gue yang..."
"Jangan." Maya memotong. Suaranya lebih keras dari maksudnya. "Jangan pernah bilang gitu. Lo hidup karena memang harus hidup. Bukan pilihan. Bukan kesalahan."
Raka menatapnya. Mata coklatnya basah, mencari-cari sesuatu di wajah.
"Lo kenapa baik banget sama gue, May?"
Maya ingin berdiri. Ingin lari. Tapi tubuhnya membeku di bangku batu yang panas.
"Karena Kinan," jawabnya. Itu setengah benar. "Dia temen gue. Lo orang yang dia cinta. Gue nggak bisa biarin lo hancur."
"Cuma itu?"
Maya merasakan detak jantungnya di tenggorokan. "Maksud lo?"
Raka menggeleng, menatap kembali ke makam. "Nggak apa. Lupakan aja."
Tapi Maya tidak bisa melupakan pertanyaan itu. Malamnya, di kamar sendiri, ia terbaring memikirkan mata Raka yang mencari-cari. Apa yang Raka cari? Apa yang Raka inginkan?
Dan yang lebih berbahaya: apa yang Maya inginkan?
\=\=\=
Senin pagi, Maya benar-benar mengantar Raka ke kantor. Ia mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi—hasil kerja Maya semalam. Ia terlihat lebih segar, meski lingkar mata masih hitam.
"Jangan lupa makan siang," pesan Maya saat Raka turun dari motor. "Jangan cuma ngopi. Gue tahu lo begitu."
Raka tersenyum tulus. "Ibu-ibu banget, Lo May."
"Gue lebih tua dari lo dua bulan, Ra. Hormat kenapa? " tanyanya sambil tertawa.
Raka mengangkat tangan seolah menyerah, lalu berjalan ke pintu gedung kantor. Maya menatap punggungnya sampai menghilang di dalam.
Ia tidak langsung pulang memarkirkan motornya di seberang jalan, membeli kopi di warung, dan duduk menunggu. Tidak tahu menunggu apa. Mungkin hanya ingin yakin Raka benar-benar kuat.
Jam sepuluh, ponselnya bergetar.
Raka: "Lo masih di dekat sini kan?"
Maya tersedak kopi. "Siapa bilang?"
Raka: "Gue liat motor lo dari jendela lantai dua. Stiker 'Hello Kitty' di spakbor belakang. Khas."
Maya menatap gedung kantor. Di lantai dua, sebuah bayangan melambaikan tangan.
Raka: "Pulang, May. Gue baik-baik aja."
Maya: "Gue lagi nunggu temen."
Raka: "Bohong."
Maya: "Iya. Bohong. Tapi gue pulang kalau lo janji makan siang."
Raka: "Janji."
Maya tersenyum, memasukkan ponsel ke saku menyelesaikan kopinya yang sudah dingin, lalu menyalakan motor.
Di spion, ia melihat bayangan di jendela lantai dua masih berdiri. Menatap.
Maya memejamkan mata sejenak. Lalu gas motor, pergi.
\=\=
Malam itu, ibunya menelpon dari kampung
"Masih sering ke sana, Sayang?"
Maya meletakkan ponsel di speaker melepas jilbab. "Ke mana, Bu?"
"Rumah anak itu. Raka."
Ia berhenti jari-jarinya membeku di ujung jilbab.
"Maya cuma bantu, Bu. Dia temen Kinan."
"Kinan sudah tiada, Maya."
" Maya tahu."
" Ibu khawatir."
Maya duduk di tepi tempat tidur. Lampu kamar redup cahaya dari jendela yang tembus tirai tipis.
"Khawatir apa, Bu?"
Ibunya terdiam di seberang sana napasnya terdengar berat, seperti orang yang memilih kata dengan hati-hati.
"Ibu kenal kamu Maya anak baik, Tapi..."
"Tapi apa, Bu?"
"Hati yang sedih rawan. Raka sedih, kamu juga sedih. Dua orang sedih bersama..."
Maya menutup mata tidak ingin mendengar akhir kalimatnya
"Maya cuma jagain dia, Bu. Buat Kinan."
"Kalau begitu, bagus." Ibunya berhenti sejenak. "Tapi ingat, Sayang. Jagain orang lain nggak boleh bikin kamu lupa jaga diri, jangan sampai kamu jatuh."
Telepon mati. Maya terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit.
Jaga diri sendiri gak boleh jatuh
Bagaimana caranya? Ketika setiap kali ia menutup mata, ia melihat Raka menangis di pangkuan ibunya, setiap kali bangun pagi, pikiran pertamanya adalah: Apakah Raka sudah makan? ia membeli sesuatu, otomatis membeli dua: satu untuk dirinya, satu untuk Raka.
Ini bukan jagain. Ini... apa?
Maya mengambil bantal, menekannya ke wajah, dan berteriak pelan ke dalamnya. Satu. Dua. Tiga kali. Sampai dadanya tidak sesak lagi.
Lalu tidur. Dan bermimpi.
Kinan duduk di bangku taman seperti dulu. Rambutnya panjang, tertiup angin. Ia tersenyum ke arah Maya.
"Terima kasih ya, May,"
"Untuk apa?".
"Untuk cintanya."
Maya terbangun dengan jantung berdebar. Keringat dingin di punggung. Dan satu kesadaran yang menakutkan:
Mimpinya sendiri telah mengkhianatinya.
\=\=\=
Di luar jendela, fajar mulai menyingsing. Maya duduk di tempat tidur, menatap cermin di lemari. Wajahnya—wajah Kinan tidak ada di sana. Hanya Maya. Hanya ia sendiri.
"Kalau memang tulus... kenapa takut?"
Tidak ada jawaban. Hanya cahaya pagi yang semakin terang, memaksa malam untuk pergi.
Maya berdiri. Mandi. Bersiap untuk hari lain sebelum berangkat kerja kembali ke rumah kontrakan melihat Raka lagi.
Bukan karena Kinan.
Tapi karena ia tidak bisa tidak.
mampir 🤭