Aroel Mahardika kembali ke desa setelah lima tahun pergi, diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun. Tujuannya hanya satu: menenangkan hati yang selalu gelisah. Tapi desa itu menyimpan lebih dari sekadar ketenangan.
Di Saung Langit, tempat yang pernah menjadi saksi masa lalunya, Aroel dipukul secara misterius. Tidak ada saksi, tidak ada jejak, hanya rasa sakit yang nyata. Di tengah sawah, seorang bocah kecil muncul dan menghilang dengan tatapan yang penuh teka-teki. Warga desa terlalu tenang, terlalu diam, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin mereka ungkapkan.
Siapa yang memukulnya?
Apa maksud bocah itu selalu muncul di tempat yang salah?
Dan rahasia apa yang selama ini disembunyikan oleh desa dan Saung Langit?
Setiap langkah Aroel menimbulkan pertanyaan baru, dan setiap jawaban yang ia dapat justru menimbulkan lebih banyak ketegangan. Dalam atmosfer yang menekan, emosinya meledak antara marah, takut, salah tingkah, dan penasaran. Masa lalu yang kelam, rahasia yang tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arroels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi Yang Gagal
Siang itu udara terasa berat. Langit mendung, tapi belum hujan. Lapangan yang dimaksud Aroel berada di perbatasan kebun karet tua. Tanahnya keras dan retak di beberapa bagian. Di sekelilingnya hanya pohon-pohon tinggi dan semak liar. Tidak ada rumah. Tidak ada warung. Tempat yang cukup jauh dari keramaian.
Rahman datang lebih dulu untuk memastikan area bersih. Ia berkeliling, mengecek kemungkinan titik sembunyi. Setelah yakin tidak ada pergerakan mencurigakan, ia memberi tanda pada Aroel dan Putri yang menunggu tidak jauh dari situ.
Putri berjalan pelan mendekati lapangan. Angin membuat rambutnya berantakan, tapi ia tidak peduli. Sejak pagi ia lebih banyak diam. Bukan karena takut. Ia hanya sedang mempersiapkan diri.
“Kamu masih bisa mundur,” kata Aroel tanpa menoleh.
Putri menatap punggungnya. “Kalau aku mundur, kamu tetap lanjut.”
“Iya.”
“Berarti nggak ada gunanya.”
Aroel tidak membalas.
Rahman berdiri beberapa meter di sisi kanan, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk bergerak cepat kalau situasi berubah.Waktu berjalan lambat.Sekitar dua puluh menit kemudian, suara mesin mobil terdengar dari arah jalan tanah. Satu mobil hitam muncul di ujung kebun, lalu berhenti di tepi lapangan.Tidak ada musik. Tidak ada suara keras. Pintu mobil terbuka pelan.
Tiga orang turun lebih dulu. Mereka berdiri menyebar, mengamati situasi. Setelah itu, seorang pria keluar dari kursi belakang.
Tubuhnya tidak terlalu besar, tapi cara berjalannya tenang. Seperti orang yang tahu dirinya tidak perlu terburu-buru.
“Itu dia,” gumam Rahman pelan.
Putri memperhatikan pria itu. Wajahnya biasa saja. Tidak ada tanda khusus. Justru itu yang membuatnya lebih terasa berbahaya.
Pria itu berhenti beberapa meter dari Aroel.
“Akhirnya,” katanya datar.
Aroel berdiri tegak. “Kamu lama.”
Pria itu tersenyum tipis. “Kamu yang menghilang.” Angin berhembus lebih kencang. Daun-daun kering berputar di tanah.Putri berdiri sedikit di belakang Aroel, tapi tidak bersembunyi. Ia ingin melihat langsung orang yang membuat semuanya kacau.“Kamu kelihatan sehat,” kata pria itu lagi.“Belum mati juga,” jawab Aroel.
Rahman tetap diam, matanya tidak lepas dari tiga orang yang berdiri di belakang pria itu.
“Kamu tahu kenapa aku cari kamu,” kata pria itu.
Aroel mengangguk pelan. “Karena aku keluar.”
“Bukan cuma keluar.” Pria itu menatap tajam. “Kamu pergi tanpa izin.”
Putri menahan diri untuk tidak menyela. Nada percakapan mereka bukan seperti musuh yang baru kenal. Lebih seperti rekan lama yang putus di tengah jalan.
“Aku nggak mau lagi,” kata Aroel tenang.
“Bukan pilihan kamu sendiri.”
Aroel tersenyum tipis. “Semua orang punya pilihan.”
Pria itu tertawa pendek. “Di dunia kita? Jangan naif.”Hening sebentar. Putri melihat tangan salah satu pria di belakang mulai bergerak ke pinggangnya.Rahman juga melihatnya. Tubuhnya langsung siaga.
“Kamu bikin aku rugi,” lanjut pria itu. “Wilayah goyah waktu kamu pergi. Orang-orang mulai berani melawan.”
“Itu urusan mu Herman,” jawab Aroel.
“Kamu bagian dari itu.” Ucap Herman
“Itu Dulu,Tapi sekarang Aku bukanlah bagian dari kalian” Timpal Aroel.
Kata itu membuat suasana berubah.
Pria itu melangkah satu langkah lebih dekat.Putri merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Aroel tidak mundur.
“ sekarang Apa Mau mu,Herman ..?” tanya Aroel langsung. “Kembali Kerja sama.” jawab Herman.Rahman mendesah pelan.
Aroel menggeleng. “Sudah Tidak Ada lagi Kerja sama,Aku sudah memberikan kesempatan beberapa Kali,Tapi Kau Tidak pernah menggubrisnya ” Ketus Aroel.dan Aku tidak akan pernah setuju,tambahnya.
Herman menatap Putri sekilas. “Atau aku bisa cari cara lain.”Kalimat itu jelas ancaman.Putri menatap balik tanpa berkedip.
“Jangan libatkan dia,” kata Aroel, suaranya berubah lebih tegas.
“Semua yang berdiri dekat mu, terlibat.” Nada Herman Meninggi.
Rahman melangkah sedikit maju. “Masalahnya sama kami. bukan dia.” sela Rahman.
Herman tersenyum sinis. “Aku tidak Peduli ” jawab Herman.
“Aku tidak mudah Kau gertak,Walau aku sendiri tidak tau,hal apa di antara kalian,” tiba-tiba Putri bicara.
Semua menoleh padanya.
Putri melangkah sedikit maju, sejajar dengan Aroel.
“Aku sudah diserang. Diteror. Jadi kalau ini permainan kekuasaan kalian, aku sudah masuk tanpa izin.”
Herman memperhatikannya, seolah menilai.
“Kamu tahu dia siapa?” tanyanya pada Putri.
Putri menatap Aroel sekilas, lalu kembali ke Herman. “Cukup.”
Jawaban itu tidak menjelaskan apa-apa, tapi juga tidak menunjukkan keraguan.
Herman tertawa kecil. “Menarik.”
Ia kembali fokus pada Aroel. “Terakhir kali aku tanya. ya atau Tidak ?”
Aroel menatap lurus. “Tidak.”tegasnya.
Suasana sejenak Hening.Udara terasa makin berat. salah satu anak buah herman,menggerakan tanganya kebelakang,hendak mengangkat Pistol di belakangnya.
Rahman langsung bersuara, “Jangan.”
Semuanya terjadi cepat.Salah satu orang mengangkat pistol.Rahman lebih cepat menendang tangannya. Tembakan meletus ke udara. Suaranya memantul di antara pohon-pohon.Putri refleks menunduk.
Aroel bergerak maju, mendorong pria utama itu menjauh dari garis tembak. Dua orang lain mencoba ikut campur.Situasi berubah jadi kacau dalam hitungan detik.Rahman bergulat dengan satu orang. Aroel menahan satu lagi.
Putri berdiri beberapa langkah mundur, napasnya cepat. Ia melihat pistol jatuh di tanah dekat kakinya.Ia ragu satu detik.
Lalu ia mengambilnya.
Tangannya gemetar, tapi kali ini tidak separah sebelumnya.
“Berhenti!” teriaknya.
Semua terdiam sepersekian detik.
Pistol itu tidak diarahkan ke kepala siapa pun. Hanya cukup untuk menghentikan gerakan.
Herman menatap Putri. Ekspresinya berubah sedikit.
“Kamu berani juga,” katanya pelan.
“Aku cuma nggak mau mati karena urusan kalian,” jawab Putri.Rahman berhasil melumpuhkan satu orang. Aroel berdiri kembali, menjaga jarak.
Situasi masih tegang, tapi tidak lagi liar.
Herman mengangkat tangannya pelan, memberi tanda pada anak buahnya untuk mundur.
Mereka berdiri kembali, menjaga jarak.
“Ini belum selesai,” katanya pada Aroel.
Herman menatap Putri sekali lagi. “Kamu pilih sisi yang salah.”Putri tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian mereka mundur perlahan, kembali ke mobil. Mesin dinyalakan. Mobil itu pergi meninggalkan debu dan bau bensin.Sunyi kembali turun di lapangan.
Rahman mengatur napasnya. “Itu hampir jadi perang kecil.”
Aroel menoleh ke Putri.
“Kamu nggak apa-apa?” Putri masih memegang pistol itu. Ia melihat tangannya sendiri, lalu menyerahkannya pada Rahman.
“Aku mulai capek,” katanya pelan.Bukan capek fisik.Capek karena terus berada di tengah ancaman.Aroel mendekat. “Ini baru permulaan ".
“Aku tahu,” jawab Putri.Rahman memandang keduanya. “Sekarang bukan cuma soal dia mau kamu balik. Ini soal harga diri.” Aroel mengangguk pelan.
Putri menatap lapangan kosong di depan mereka. “Kalau dia nggak berhenti?”
Aroel menjawab tanpa ragu, “Berarti kita yang bikin dia berhenti.” Angin kembali berhembus.
Pertemuan itu tidak menyelesaikan apa pun.
Tapi satu hal jadi jelas.Sekarang garis sudah ditarik.Dan tidak ada jalan kembali ke kehidupan biasa.Mereka berjalan meninggalkan lapangan itu bersama.Bukan sebagai orang yang kebetulan terjebak.Tapi sebagai pihak yang sudah memilih berdiri di sisi yang sama.
Bersambung....