NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Seminggu setelah keputusan mereka untuk tidak mengambil alih jaringan sabotase itu, semuanya terlihat… normal.

Terlalu normal.

Tim tetap bekerja. Raven dan Lucian melacak aktivitas jaringan dengan pendekatan pasif. Aidan mencoba membuka jalur komunikasi anonim untuk mengundang pelaku berdiskusi, bukan berperang. Kael memperkuat keamanan sistem kota tanpa terlihat seperti intervensi besar.

Dan Damian.

Damian mulai lebih sering diam.

Lyra menyadarinya lebih dulu.

Bukan karena ia berubah drastis. Justru karena perubahannya kecil. Halus. Hampir tak terlihat.

Ia masih hadir di ruang kendali. Masih memberi keputusan tegas. Masih menjaga jarak profesional yang dulu menjadi ciri khasnya.

Tapi ketika semua orang pergi, ia tidak langsung menyusul seperti biasa.

Malam itu, Lyra menemukannya sendirian di ruang arsip lama. Lampu redup menyala setengah, memantulkan bayangan panjang di dinding.

“Kau bersembunyi?” tanyanya pelan.

Damian tidak terkejut. Seperti sudah tahu ia akan datang.

“Aku membaca ulang file lama Orion,” jawabnya.

Lyra melangkah mendekat.

“Untuk apa?”

Damian menutup layar datanya perlahan.

“Untuk memastikan aku tidak melewatkan sesuatu.”

“Atau untuk memastikan kau tidak menjadi sesuatu?” tanya Lyra, suaranya lembut tapi langsung.

Damian menatapnya.

Hening turun.

Ada jarak tipis di antara mereka yang tidak pernah ada sebelumnya.

“Aku memimpin sistem yang kita hancurkan,” katanya akhirnya. “Mungkin tidak se-ekstrem Orion. Tapi prinsip dasarnya sama. Kontrol untuk stabilitas.”

Lyra tidak langsung menjawab.

“Kau berubah,” katanya pelan. “Dan kau memilih berbeda sekarang.”

“Perubahan tidak menghapus masa lalu,” balas Damian.

“Tidak,” Lyra mengangguk. “Tapi ia mengubah masa depan.”

Damian memalingkan wajah sebentar, seolah memproses kalimat itu.

“Kau terdengar sangat yakin,” katanya.

“Aku tidak yakin tentang dunia,” Lyra tersenyum tipis. “Tapi aku yakin tentang pilihan.”

---

Di sisi lain kota, sesuatu mulai bergerak.

Jaringan sabotase kecil itu tidak lagi hanya mengganggu sistem. Mereka mulai menyebarkan pesan. Bukan manifesto besar. Bukan ancaman. Tapi potongan-potongan kalimat yang muncul di layar publik selama beberapa detik sebelum menghilang.

“Siapa yang benar-benar mengendalikan?”

“Stabilitas untuk siapa?”

“Apakah kamu memilih, atau dipilihkan?”

Lucian memperlihatkan rekamannya ke tim.

“Mereka belajar dari Orion,” katanya. “Tapi mereka tidak ingin jadi dia.”

Aidan memperbesar salah satu cuplikan.

“Mereka lebih pintar,” gumamnya. “Mereka tidak menawarkan solusi. Mereka hanya menanam pertanyaan.”

Kael menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Pertanyaan menyebar lebih cepat daripada jawaban.”

Semua kembali menatap Damian.

Kali ini, ia tidak terlihat ragu.

“Kita tidak mematikan pesan itu,” katanya tegas.

Lucian mengerutkan dahi. “Kau serius?”

“Kita balas dengan pesan kita sendiri.”

Raven terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil.

“Transparansi.”

Damian mengangguk.

“Kita buka data yang bisa dibuka. Kita jelaskan keputusan yang kita buat. Kita tidak sembunyi.”

Lyra merasakan sesuatu menghangat di dadanya.

Ia melihat bukan pemimpin yang takut kehilangan kontrol.

Ia melihat seseorang yang belajar melepaskannya.

---

Namun, dunia tidak selalu memberi ruang untuk pendekatan idealis.

Beberapa hari kemudian, sabotase meningkat.

Bukan lagi gangguan kecil.

Salah satu pembangkit energi kota mati selama tiga puluh menit penuh. Rumah sakit beralih ke cadangan darurat. Lalu lintas kacau. Kepanikan kecil mulai menyebar.

Media mulai mengaitkannya dengan “bayangan Orion.”

Dan kali ini, publik menuntut tindakan keras.

Lucian berdiri di ruang kendali dengan wajah tegang.

“Kita bisa melacak sumber utama sekarang. Mereka ceroboh dalam eskalasi terakhir.”

“Dan?” tanya Kael.

“Dan kita bisa mengunci seluruh jaringan dalam satu serangan balik.”

Hening.

Lyra menatap Damian.

Ia tahu tekanan itu nyata. Bukan hanya dari luar. Tapi dari dalam dirinya sendiri.

“Kalau kita tidak bertindak, kita terlihat lemah,” kata Lucian.

“Kalau kita bertindak seperti dulu, kita kehilangan kepercayaan,” balas Aidan.

Semua kembali sunyi.

Damian berdiri perlahan.

“Siapkan tim lapangan,” katanya akhirnya.

Lyra mengernyit. “Lapangan?”

“Kita tidak menyerang sistemnya,” lanjut Damian. “Kita temui orangnya.”

---

Malam itu, Lyra dan Damian bergerak bersama Kael menuju salah satu titik sumber yang berhasil dilacak.

Bukan markas besar. Bukan bunker canggih.

Sebuah gudang tua yang diubah jadi ruang kerja darurat.

Ketika mereka masuk, tidak ada pasukan. Tidak ada pertahanan berlapis.

Hanya sekelompok anak muda dengan layar-layar terbuka dan wajah-wajah yang terlihat lebih gugup daripada berbahaya.

Salah satu dari mereka berdiri.

“Kalian datang lebih cepat dari yang kami kira.”

Lyra memperhatikan nada suaranya.

Bukan kebencian.

Lebih seperti keyakinan campur ketakutan.

“Kalian hampir mematikan rumah sakit,” kata Kael datar.

“Itu tidak direncanakan,” balas anak itu cepat. “Kami hanya ingin orang sadar.”

“Sadar tentang apa?” tanya Lyra lembut.

Bahwa sistem ini rapuh. Bahwa stabilitas itu ilusi.”

Damian melangkah maju satu langkah.

“Dan setelah mereka sadar?”

Anak itu terdiam.

“Kami belum sampai sejauh itu.”

Hening turun.

Lyra melihat sesuatu di mata mereka.

Bukan ambisi menguasai.

Tapi frustrasi yang tidak tahu harus ke mana.

Damian menarik napas panjang.

“Kalian benar tentang satu hal,” katanya pelan. “Sistem memang rapuh. Karena sistem dibangun oleh manusia.”

Anak itu mengernyit.

“Tapi meruntuhkannya tanpa rencana,” lanjut Damian, “hanya akan menyakiti orang yang tidak bersalah.”

Lyra melangkah sedikit ke sampingnya.

“Kalau kalian ingin perubahan,” katanya, “datang dan bangun bersama. Bukan dari bayangan.”

Hening terasa lebih lama kali ini.

Bukan tegang.

Tapi penuh pertimbangan.

Di luar, kota masih berdiri. Lampu-lampu menyala lagi. Sistem kembali stabil.

Tapi di dalam gudang tua itu, sesuatu yang lebih penting sedang diputuskan.

Dan untuk pertama kalinya sejak Orion jatuh, Lyra merasa mereka tidak hanya memadamkan api.

Mereka mulai mengubah cara orang melihat api itu sendiri.

Damian menoleh padanya sebentar.

Tidak ada kata-kata.

Tapi ada pengakuan.

Ini lebih sulit daripada perang.

Dan mungkin… lebih berarti.

---

1
Cicih Sophiana
Lyra👍👍👍
Cicih Sophiana
Lara dan Damian seperti nya nanti berjodoh
Cicih Sophiana
apa Damian mafia?
Cicih Sophiana
cerita nya seru...cewek yg keren
Cicih Sophiana
Lyra cewek keren...👍
Cicih Sophiana
hadir ach thor...
seperti seru nih...
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
cape aku thor.. kayak aku yang berlari, sembunyi .. hampir kehilangan nyawa😭 kapan giliran dia yang dburu🤣🤣
adisty aulia
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
jebakan demi jebakan kapan mereka yang di depan
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
deg² an thorr
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
keren cerita nya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!