NovelToon NovelToon
Diremehkan Karena Miskin, Ternyata Aku Punya Sistem Analisis Nilai

Diremehkan Karena Miskin, Ternyata Aku Punya Sistem Analisis Nilai

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kebangkitan pecundang / Anak Lelaki/Pria Miskin
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.

Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.

Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.

[Sistem Analisis Nilai Aktif.]

[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]

Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.

Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.

Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?

(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7—Mengejar Jabret

Mesin RX King meraung keras.

Suara dua-tak yang nyaring dan tajam membelah malam, memantul di dinding ruko yang sudah tutup dan aspal yang masih menyimpan sisa panas siang hari. Rahmat menarik kopling, memutar gas dalam satu gerakan halus—namun tegas.

Motor melesat.

Lampu depannya membelah gelap, menangkap siluet motor matic hitam di kejauhan. Jambret itu sudah hampir mencapai perempatan besar, lampu lalu lintas di sana berkedip kuning—tanda waspada.

Rahmat menunduk sedikit, tubuhnya condong ke depan. Tangannya stabil di stang.

Angin malam menghantam wajahnya, membuat matanya sedikit menyipit.

[Ding.]

[Fitur Minor Aktif: Analisis Kecepatan Objek]

[Kecepatan Target: ±65 km/jam]

[Estimasi Arah Belok: 78% ke kiri dalam 5 detik]

Rahmat tidak ragu. Ia menggeser posisi ke kanan, membaca celah di antara dua mobil yang melambat. Mesin meraung lebih tinggi ketika ia menarik gas dalam. RPM naik, suara knalpot semakin kasar.

Lima, Empat, dua, tiga, satu!

Motor matic itu tiba-tiba menyalakan sein kiri—nyaris bersamaan dengan tubuhnya yang sudah miring. Prediksi sistem benar!

Belok kiri.

“Ketahuan,” gumam Rahmat pelan.

Ia memotong jalur sebelum perempatan, menghindari garis putih pembatas dengan presisi. Ban belakang sedikit bergeser, namun segera stabil kembali.

Jarak mereka kini tinggal beberapa meter.

Jambret itu menoleh melalui kaca spion, ia tidak menyangka ada orang yang senekat itu untuk mengejarnya, dan juga darimana ia tahu bahwa dirinya ingin belok kiri?

Jarak mereka semakin dekat, si jambret makin kesal, ia menaikkan kecepatan motor

Mata mereka sempat bertemu sepersekian detik.

Ekspresi kaget jelas terlihat.

“Apaan sih—?” pria itu mengumpat, lalu memutar gas lebih dalam. “Dasar bocah!”

Motor matic itu mencoba masuk ke sebuah gang sempit di sisi kiri jalan utama. Gang itu hanya cukup untuk satu mobil kecil. Lampu jalan di dalamnya redup. Beberapa pot tanaman dan jemuran baju tergantung rendah di kiri-kanan.

Rahmat tersenyum tipis.

RX King punya tenaga lebih besar. Torsinya terasa saat ia membuka gas di gigi dua.

Begitu masuk gang, suara mesin mereka menggema lebih keras, memantul di tembok-tembok rumah.

Jambret itu mencoba mempercepat, tapi jalan tidak rata. Ada polisi tidur kecil. Ada genangan air. Ia sedikit goyah.

Rahmat melihat celah di sisi luar.

Ia memiringkan motor, menjaga keseimbangan dengan lutut yang mencengkeram tangki. Dalam satu tarikan gas panjang, ia menyusul di sisi kanan.

Hampir bersenggolan dengan dinding.

Nyaris menyenggol pot bunga.

Namun ia lolos.

Dalam satu gerakan tegas, Rahmat memotong jalur tepat di depan motor matic itu.

Pria itu panik. Rem ditekan mendadak. Ban depan mengunci.

Motor kehilangan keseimbangan. Tubuh pria itu terpental, motor tergelincir dan menyeret aspal dengan suara kasar. Percikan kecil muncul saat besi knalpot menghantam jalan.

Hening sesaat. Hanya suara mesin RX King yang masih menyala pelan. Rahmat mematikan mesin. Turun dengan tenang.

Pria itu mengerang, lalu bangkit dengan susah payah. Wajahnya merah—entah karena marah atau karena efek alkohol. Lengan penuh tato kasar. Bau menyengat tercium bahkan dari jarak beberapa langkah.

“Heh! Lu cari mati, hah?!” bentaknya. 

Rahmat tidak menjawab. Tatapannya datar.

Pria itu tertawa sinis. “Pahlawan kesiangan? Bocah sekolah mau sok jago?”

Ia melangkah maju dengan agresif. Tubuhnya lebih besar. Bahunya lebar. Kekuatannya jelas terlihat lebih kuat, namun segalanya tidak berhasil hanya karena kekuata.

Tiba-tiba ia mengayunkan pukulan lurus, gerakan cepatnya bukan main, namun—

[Ding.]

[Analisis Gerakan: Lambat]

[Prediksi Jalur Serangan Terdeteksi : serangan ke kanan dengan tangan kiri]

Dalam persepsi Rahmat, waktu seperti melambat sedikit.

Ia melihat arah bahu bergerak lebih dulu. Rotasi pinggang. Lintasan kepalan tangan.

Rahmat memiringkan kepala hanya beberapa sentimeter.

Pukulan itu meleset, menyapu udara di samping wajahnya.

“Ha? Dia menghindar!” Kaget pria itu karena seolah-olah rahmat bisa membaca gerakan musuh. T

Tapi ini belum selesai. Sekarang giliran Rahmat yang menyerang, Rahmat memutar tubuhnya setengah lingkaran. Siku kanannya menghantam perut lawan tepat di bawah tulang rusuk.

Udara keluar dari paru-paru pria itu dengan suara tercekik.

Pria itu terhuyung dua langkah.

Rahmat tidak memberi waktu.

Ia menggeser kaki, lalu menendang bagian luar lutut lawan dengan keras.

Krak.

Bukan patah—tapi cukup membuat sendi kehilangan kekuatan.

Pria itu jatuh setengah berlutut.

“Kurang ajar—!” ia menggeram, mencoba bangkit sambil mengayunkan tangan lagi.

Rahmat masuk ke dalam jarak.

Satu pukulan pendek ke rahang.

Tidak terlalu lebar. Tidak dramatis.

Tepat.

Kepala pria itu tersentak.

Rahmat mendorong dadanya dengan telapak tangan penuh tenaga, tubuh besar itu kehilangan keseimbanga dan ambruk ke aspal, kali ini tidak bangkit lagi hanya terbaring sambil meringis.

Rahmat menang dalam waktu singkat, hening kembali turun di gas sempit itu napas Rahmat stabil bahkan tidak berkeringat sama sekali. Ia sendiri terkejut karena perbedaan kemampuan fisik yang ia punya.

Sistem berbunyi lagi.

[Ding.]

[Misi Selesai.]

[Hadiah Dikirim.]

• +5 Poin Status

• Bonus Rp15.000.000

• Fitur Permanen baru: Analisis Kecepatan Objek dan mendeteksi gerakan musuh

 

Rahmat tidak menanggapi. Matanya hanya tertuju pada tas yang tergeletak beberapa meter dari motor matic yang jatuh.

Ia berjalan mendekat, tas itu masih utuh, tali selempangnya sedikit lecet.

Langkah kaki terdengar dari ujung gang. Bukan satu orang melainkan banyak.

Suara napas terengah.

Perempuan pemilik tas itu muncul—rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat. Di belakangnya beberapa warga ikut berlari, membawa senter dan kayu seadanya.

Rahmat berdiri menghadap mereka.

Ia mengangkat tas itu.

“Ini.”

Gadis itu berhenti tepat di depannya. Tangannya gemetar saat menerima tas tersebut. Ia memeriksa isinya sekilas—dompet, ponsel, kartu identitas—semua masih ada.

“Terima kasih… aku tadi benar-benar—”

Kata-katanya terputus. Rahmat sudah memalingkan wajah terelbih dahulu, ia tidak terlihat marah dan juga bangga, hanya datar dan cool.

Seketika gadis itu tersipu, sangat jarang ada lelaki yang cuek dengannya. Secara segi penampilan gadis ini termasuk top level dengan kulit seputih susu, mata jernih, tubuh ideal, dan wangi yang nikmat. Bahkan di sekolah dia adalah idola, banyak yang mengincarnya.

Tetapi lelaki ini—yang wajahnya tidak terlalu terlihat karena gelap cuek banget dan membuat dia tertarik.

Beberapa warga mulai mengerubungi jambret yang terkapar.

“Ini yang tadi ngerampas ya?”

 “Wah, mabuk kayaknya.”

 “Siapa yang nangkep?”

Gadis itu menoleh kembali ke Rahmat. Lampu motor menyala ketika ia menekan starter. Cahaya putih menerangi wajahnya lebih jelas.

Gadis itu membelalakkan mata. “Itu kan… Rahmat?”

Rahmat? Anak pendiam itu? Yang jarang bicara di kelas, yang katanya selalu duduk di bangku belakang, nilai biasa saja, bahkan sering jadi korban perundungan?

Tapi kenapa dia terlihat sangat berbeda dari kabar yang dia dengar.

Angin malam kembali menyapu wajahnya.

Jalanan kini lebih sepi. Lampu-lampu rumah hanya terlihat sebagai kilatan cahaya yang ia lewati.

Di belakangnya, gadis itu masih berdiri mematung.

Tasnya kembali. Masih bisa merasakan sisa adrenalin di ujung jari. Tadi, saat Rahmat menghindari pukulan itu… Saat gerakannya begitu cepat. Tatapannya begitu tenang. Itu bukan tatapan anak biasa. Bukan refleks kebetulan. Itu seperti seseorang yang… sudah sangat terbiasa.

Jantung gadis itu masih berdebar. Namun bukan hanya karena kejadian tadi. Ada sesuatu yang berubah dalam caranya memandang Rahmat yang biasa dia dengar hanya dari kabar angin belaka, besok paling tidak dia harus berterima kasih dan membawakan hadiah.

Sementara itu rahmat, masih mengendarai motor. Ia teringat akan wajah gadis barusan. Ia bukan tipe yang peduli akan wajah seseorang, bahkan ia tidak mengenal gadis barusan … tapi agak familiar.

“Gadis itu ? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?”

1
Martono Tono
bagus
Manusia Biasa: Terima kasih kak sudah membaca
total 1 replies
isnaini naini
cie..cie..aq baca smbil snyum2 ini thor....
Manusia Biasa: hehe terimakasih sudah membaca kak. emang dua pemuda pemudi ini lucu cara interaksinya
total 1 replies
isnaini naini
aq ikut grogi nih al....😄
isnaini naini
astaga mat...alya sdh jungkir balik km nya lempeng...trlalu polos apa gimana sih km ini...😄
Manusia Biasa: wkwkw anakku emang gitu kak🗿 terlalu serius
total 1 replies
Jujun Adnin
lanjut
Manusia Biasa: Baik kak ditunggu updatenya ya kak, setiap hari saya usahakan 3x😁🙏
total 1 replies
isnaini naini
alya kah yg diajak nonton konser thor????
Manusia Biasa: di konser nanti bakal banyak plot terbuka, dijamin asik hehe. terima kasih sudah membaca kak
total 2 replies
Gege
apik dan epic bangeed...lanjoot Thor.. 10k kata tiap update
Manusia Biasa: siap, kak. ditunggu updatenya lagi ya
total 1 replies
Yuliani Jogja
sumpah aku ngakak Baca ini
Manusia Biasa: Terima kasih kak
total 1 replies
Yuliani Jogja
Gaz Ayo jual mamat
Manusia Biasa: gazzz
total 1 replies
Yuliani Jogja
noir plot twist banger wkwk
Manusia Biasa: wkwkwkwk emang kakak
total 1 replies
Yuliani Jogja
kann
Yuliani Jogja
putri? celebrate yang Diselamatin itu paling🤭
Yuliani Jogja
💪mantap gas terus rahmat
Gege
ide ceritanya warbyasaah...mungkin sekali update 10k kata kereen Thor..
Manusia Biasa: terima kasih kakak sudah membaca, ditunggu updatenya besok ya, saya usahin 3x setiap hari kalau gak ada kesibukan wkwk
total 1 replies
Yuliani Jogja
Karya luar biasa
Yuliani Jogja
mantapp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!