Haneen, mantan agen intelijen elit, dikhianati dan tewas di dunia modern. Namun, dia terbangun di tubuh gadis lemah yang namanya sama di dunia kultivasi, murid luar Sekte Pedang Langit dengan merdian rusak yang sering di-bully.
Beruntung, Haneen membawa Sistem Agen Bayangan yang memungkinkannya mengeluarkan senjata modern seperti pistol, drone intai, dan granat di dunia yang mengandalkan pedang dan jurus.
Awalnya hanya ingin bertahan hidup, Haneen justru mengungkap jaringan korupsi besar di dalam sekte. Para tetua yang terlihat suci ternyata saling melindungi sambil mencuri sumber daya. Bersama Yan Ling, murid luar yang juga jadi korban, Haneen mulai membongkar kejahatan satu persatu.
Namun setiap kebenaran yang terungkap, mereka semakin diburu. Dari tambang ilegal hingga ruang bawah tanah rahasia, Haneen dan Yan Ling harus terus berlari sambil mencari cara untuk bertahan.
Mampukah Haneen bertahan di dunia yang mengagungkan kekuatan spiritual sambil membongkar rahasia kelam para tetua?
Akankah teknologi modern dari sistemnya cukup untuk mengalahkan kultivator tingkat tinggi yang terus memburunya? Dan yang terpenting, bisakah dia dan Yan Ling saling percaya di tengah bahaya yang mengintai setiap langkah?
Penuh Aksi, strategi cerdas, dan intrik yang tak terduga.
Ikuti perjalanan Haneen membuktikan bahwa di dunia yang kejam ini, pinter dan siap bisa mengalahkan yang kuat.
Siapkah kamu mengikuti setiap langkah berbahaya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sands Ir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Jejak Naga Merah
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari mulai terbit di ujung timur. Cahaya oranye menyinari puncak pohon hutan. Embun pagi membasahi rumput. Haneen dan Yan Ling sudah berjalan cukup jauh dari Sekte Pedang Langit.
Mereka tidak berhenti sejak semalam. Hanya istirahat sebentar untuk minum air sungai. Sekarang, kaki mereka mulai terasa berat. Tapi Haneen tidak boleh berhenti.
"Kita butuh transportasi," kata Haneen tiba-tiba. Dia berhenti di pinggir jalan setapak. "Jalan kaki terlalu lambat, kita butuh kuda atau kereta."
Yan Ling duduk di batu besar. Dia lepas sepatu bot nya, kosongkan air dari dalam. "Di depan ada jalan utama. Biasanya ada kafilah dagang lewat sana."
"Bagus," kata Haneen. Dia pakai item baru dari sistem. [Teknologi Penyamaran Tingkat Tinggi. Aktif.]
Tidak ada cahaya aneh. Tidak ada suara. Tapi Haneen merasa wajah nya berubah. Dia melihat pantulan di air sungai. Wajah nya sekarang berbeda sangat total. Bukan cuman topeng. Tapi struktur tulang, warna kulit, bahkan tinggi badan sedikit berubah.
"Wajah kita sekarang permanen sampai kita matikan," jelas Haneen pada Yan Ling. "Tidak ada batas waktu seperti topeng kemarin."
Yan Ling cek wajah nya di air. Dia juga berubah. Sekarang mereka terlihat seperti dua saudari pedagang biasa. Tidak ada aura yang mencurigakan.
"Ini lebih aman," kata Yan Ling lega. "Kita tidak perlu takut scan aura akan tembus."
"Tapi kita harus tetap waspada," ingat Haneen. "Teknologi bisa diakali kalau ada ahli tingkat dewa, kita jangan cari masalah."
Mereka melanjutkan perjalanan menuju jalan utama. Tidak lama kemudian, suara roda kereta terdengar. Debu mengepul di kejauhan.
"Itu kafilah besar," kata Yan Ling. Ada lima kereta kuda. Pengawal bersenjata lengkap berjalan di samping.
"Kita bisa meminta tumpangan," kata Haneen. "Bayar dengan batu spiritual. Mereka pasti mau."
Mereka berdiri di pinggir jalan. Mengangkat tangan. Pemimpin kafilah, seorang pria gemuk berjubah merah, berhentikan laju kereta.
"Mau apa?" tanya pria itu. Wajah nya curiga.
"Kami mau numpang ke Kota Batu Bulan," jawab Haneen sopan. "Tenang saja kami akan membayar."
Haneen lempar satu kantong kecil. Pria itu tangkap. Buka sedikit. Mata nya langsung melotot. Isi nya batu spiritual tingkat menengah. Cukup untuk sewa satu kereta penuh.
"Naik," kata pria itu cepat. Dia senyum lebar. "Nama saya Bos Li. Pemilik kafilah ini."
Mereka naik ke kereta belakang. Isinya barang dagangan. Kain, obat, dan senjata biasa.
"Kenapa banyak pengawal?" tanya Yan Ling sambil duduk di atas karung goni. Dia lihat ada sepuluh pengawal bersenjata lengkap.
Bos Li hela napas. Wajah nya jadi serius. "Zaman sekarang tidak aman. Banyak perampok. Apalagi dekat daerah Sekte Pedang Langit. Kabar nya ada kerusuhan besar di sana."
Haneen terdiam. Dia tidak ingin membahas soal sekte. "Kami cuma pedagang keliling. Tidak tahu berita terbaru."
"Lebih baik begitu," kata Bos Li. "Orang yang terlalu tahu banyak, biasanya umur nya pendek."
Kereta mulai berlaju. Kuda lari dengan stabil. Mereka akhirnya bisa mengistirahatkan kaki. Haneen mentutup mata, tapi telinga nya tetap mendengar semua obrolan pengawal.
Satu jam perjalanan. Tiba-tiba, Bos Li berteriak. "Berhenti! Ada penghalang!"
Kereta berhenti mendadak. Haneen membuka mata. Di depan jalan, ada pohon tumbang. Menghalangi jalan.
"Turun! Bersiap-siap!" teriak kepala pengawal.
Pengawal turun dengan cepat. Mereka mengeluarkan pedang dan perisai.
Haneen dan Yan Ling juga turun. Mereka tinggal di belakang kereta. Tidak mau terlalu menonjol.
"Dari mana pohon ini?" tanya Bos Li gugup. Dia lihat ke hutan kiri kanan. Sepi. Tidak ada angin.
"Penyergapan," bisik Haneen pada Yan Ling. "Lihat permukaan tanah. Ada jejak sepatu bot."
Yan Ling lihat. Benar. Tanah di sekitar pohon ada bekas injakan banyak orang. Bukan perampok biasa. Ini terorganisir.
Tiba-tiba, panah terbang dari hutan. ‘Sret! Sret!’
Dua pengawal jatuh. Panah tertancap dileher.
"Serang!" teriak suara dari atas pohon.
Puluhan orang turun dari pohon. Mereka pakai baju hitam. Ada lambang naga merah di dada.
"Serikat Naga Merah," bisik Haneen. "Kebetulan sekali."
"Mereka mencari kita?" tanya Yan Ling. Pedang nya sudah di tangan.
"Mungkin mencari sisa-sisa dari sekte. Atau memang ingin merampok kafilah ini," kata Haneen. "Kita bantu Bos Li. Tapi jangan pakai teknik sekte."
Mereka maju. Haneen pakai pistol silent. Yan Ling pakai pedang biasa.
‘Tss! Tss!’ Dua perampok itu terjatuh. Tidak ada suara ledakan. Mereka kira itu teknik angin.
Yan Ling juga ikut bertarung. Dia melawan tiga orang sekaligus. Gerakannya cepat. Tidak pakai aura spiritual, hanya memakai teknik dasar pedang. Tapi cukup untuk lumpuhkan mereka.
"Bos Li! Lindungi barang dagang!" teriak Haneen.
Bos Li kaget lihat dua wanita biasa saja tiba-tiba jadi mesin pembunuh. "I,..iya!"
Pertarungan berlangsung lima menit. Cepat. Efisien. Separuh perampok lari masuk ke dalam hutan. Sisanya lumpuh di tanah.
Haneen berjalan ke satu perampok yang masih bernapas. Dia menekan dada nya dengan kaki.
"Siapa menyuruh kalian?" tanya Haneen dingin.
Perampok itu batuk darah. "Kami... hanya mendapat perintah berjaga di jalan ini, lalu mencegat semua orang dari arah gunung."
"Gunung mana?" desak Haneen.
"Gunung Sekte Pedang Langit," jawab perampok itu. "Kata bos besar, ada dua wanita lari dari sana. Membawa bukti penting. Harus ditangkap hidup atau mati."
Haneen lihat Yan Ling. Mereka memang target nya.
"Di mana markas kalian?" tanya Haneen lagi.
Perampok itu geleng. "Aku tidak tahu. Kami cuma anggota luar. Markas ada di Kota Batu Bulan. Tapi lokasi pasti hanya kapten yang tahu."
Haneen melepas injakan nya. Dia memukul leher perampok itu, lalu pingsan.
"Kita dapat informasi," kata Haneen pada Yan Ling. "Markas mereka ada di Kota Batu Bulan."
"Kota tujuan kita," kata Yan Ling. "Kita langsung serang?"
"Tidak," kata Haneen. "Kota itu sangat besar. Banyak warga. Kalau kita serang sembarangan, akan menimbulkan banyak korban. Kita perlu mencari tahu lokasi pastinya dulu."
Bos Li datang mendekat. Wajah nya pucat. "Kalian... siapa sebenarnya?"
Haneen lihat Bos Li. Dia butuh alasan. "Kami dibayar untuk melindungi kafilah. Tugas selesai."
"Tapi..."
"Jangan bertanya," potong Haneen. "Lanjutkan perjalanan. Sebelum mereka kembali membawa bantuan."
Bos Li mengangguk cepat. Dia takut. "Baik. Baik. Ayo jalan!"
Pengawal yang masih hidup mengangkat pohon halangan. Kereta jalan lagi. Suasana jadi tegang. Tidak ada yang bicara sampai kota terlihat.
Kota Batu Bulan besar. Tembok batu yang tinggi mengelilingi kota. Gerbang utama ramai sekali. Pedagang keluar masuk.
"Kami Turun disini," kata Haneen saat kereta masih di luar gerbang. "Kami tidak mau masuk bersama kafilah."
"Terima kasih sudah membantu," kata Bos Li. Dia melempar kantong kecil. "Ini sebagai rasa terimakasih."
Haneen tangkap dan tidak tolak. Mereka butuh uang lokal. "Semoga dagangan kamu lancar."
Mereka turun, dan berJalan kaki masuk gerbang. Penjaga gerbang cuma lihat sekilas. Tidak ada scan aura. Penyamaran tingkat tinggi bekerja dengan sempurna.
Di dalam kota, suasananya berbeda dari Kota Kabut Perak. Lebih gelap. Lebih banyak preman dijalan. Toko judi ada di mana-mana. Ini kota hitam. Tempat cuci uang dan transaksi ilegal.
"Tempat sempurna untuk Naga Merah," kata Yan Ling. Dia tarik kerudung nya lebih rendah.
"Kita cari penginapan dulu," kata Haneen. "Lalu mulai cari informasi."
Mereka pilih penginapan di distrik lampu merah. Area paling ramai dan paling kotor. Di sini orang tidak peduli siapa kamu.
Haneen menyewa kamar lantai tiga. Jendela menghadap ke jalan utama.
"Malam ini kita keluar," kata Haneen. Dia membuka peta sistem. "Ada satu tempat yang mencurigakan."
"Dimana?" tanya Yan Ling. Dia membasuh wajahnya dengan air di baskom.
"Gudang tua di distrik utara," jawab Haneen. "Sistem mendeteksi ada aliran energi aneh di sana. Bukan energi kultivasi biasa. Lebih gelap."
"Markas mereka?"
"Mungkin cabang," kata Haneen. "Kita cek malam ini. Kalau benar, kita siapkan rencana serangan yang lebih besar."
Yan Ling duduk di tepi kasur. Dia lihat tangan nya. Ada luka gores kecil dari pertarungan tadi. "Haneen."
"Apa?"
"Kenapa kamu begitu yakin bisa menghancurkan mereka?" tanya Yan Ling. "Mereka organisasi besar, memiliki uang, dan koneksi."
Haneen menutup peta. Dia berjalan ke jendela. Melihat keramaian kota di bawah.
"Aku pernah menghancurkan organisasi lebih besar dari ini," kata Haneen pelan. "Di duniaku sebelumnya, Namanya pemerintah korup."
Yan Ling diam. Dia tidak tahu detail dunia lama Haneen. Tapi dia tahu itu tempat berbahaya.
"Kamu tidak sendiri," kata Yan Ling akhirnya. "Aku ada di sini."
Haneen balik badan. Senyum tipis muncul. "Aku tahu."
Langit mulai gelap. Kota Batu Bulan berubah wajah. Lampu-lampu merah menyala. Suara musik dan teriakan mabuk terdengar sampai ke kamar mereka.
Haneen mengganti pakaian dengan baju hitam ketat. Tidak ada lambang. Tidak ada ciri khas.
"Kamu sudah siap?" tanya Haneen.
"Siap," jawab Yan Ling. Dia juga sudah berganti pakaian. Pedang kecil di pinggang. Pisau di sepatu.
Mereka keluar lewat jendela, melompati atap. Menuju distrik utara.
Jalanan sepi di area gudang. Hanya ada tikus dan kucing liar. Bau ikan busuk tercium di mana-mana.
Haneen berhenti di atap gudang besar. Di bawah, ada cahaya keluar dari celah pintu. Ada suara orang yang sedang berbicara.
"Dengar," bisik Haneen.
"...pengiriman besok malam..."
"...barang dari sekte sudah aman..."
"...dua wanita itu masih menjadi buronan..."
Haneen menyipitkan mata. Mereka membahas soal mereka. Dan ada "barang dari sekte". Mungkin bukti lain yang dibawa tetua Zhao.
"Kita masuk?" tanya Yan Ling.
"Tunggu," kata Haneen. Dia mengeluarkan drone kecil lagi, terbang masuk lewat ventilasi.
Gambar muncul di retina Haneen. Ada ruang besar. Banyak kotak kayu. Dan ada peta besar di dinding. Peta itu tunjukkan lokasi markas utama Naga Merah.
"Dapat," bisik Haneen. "Lokasi markas utama ada di peta itu."
"Kita akan mengambilnya?"
"Ya. Tapi ada sepuluh orang di dalam. Semua bersenjata," lapor Haneen.
"Sepuluh lawan dua," kata Yan Ling. "Bisa kita kalahkan."
Haneen berpikir sebentar. Dia cek sistem. [Item: Gas Tidur Area Luas. Harga: 2000 IP.]
"Kita tidak perlu bertarung," kata Haneen. "Kita pakai cara halus."
Dia membeli item itu. Bentuk nya seperti granat asap tapi isi nya gas biru.
"Lempar lewat ventilasi," perintah Haneen. "Tutup hidungmu."
Yan Ling mengambil granat itu. Dia melempar tepat ke lubang ventilasi.
‘Duar!’ Suara kecil. Gas biru keluar dari ventilasi di dalam ruangan.
Lima detik. Sepuluh detik.
Suara batuk terdengar. Lalu suara tubuh jatuh. ‘Brugh. Brugh!.’
"Sudah," kata Haneen. "Kita Masuk."
Mereka turun dari atap. Menghancurkan kunci pintu belakang, lalu masuk ke dalam.
Semua orang tertidur di lantai. Napas mereka berat. Tidak akan terbangun sampai enam jam.
Haneen langsung berjalan ke arah peta di dinding. Dia mengambil peta itu, menggulung, lalu memasukkan nya ke tas.
"Ada kotak kayu, ini.." kata Yan Ling. Dia ketuk kotak besar di sudut. "Berat."
Haneen membuka dengan paksa kotak itu dan Isi nya batu spiritual. Banyak sekali. Mungkin hasil korupsi tetua Zhao yang dikirim ke Naga Merah.
"Bawa," kata Haneen. "Ini modal kita untuk perang selanjutnya."
Mereka ambil beberapa batu spiritual. Tidak semua. Nanti berat.
Saat mau keluar, sistem bunyi. [Peringatan: Aura Tingkat Dewa Terdeteksi. Jarak: 100 meter.]
Haneen berhenti. "Ada bos besar datang."
"Kita kabur?" tanya Yan Ling.
"Tidak perlu," kata Haneen. Dia lihat sekeliling. "Kita sudah dapat apa yang kita butuh. Biarkan dia temukan anak buah nya tidur."
Mereka keluar lewat jendela belakang. Berlari ke atap.
Dari jauh, mereka melihat sosok tinggi mendarat di depan gudang. Jubah merah gelap. Aura tekanan nya kuat sampai atap bergetar.
"Itu pemimpin Naga Merah," gumam Haneen. "Dia lebih kuat dari tetua Zhao."
"Kita harus berhati-hati," kata Yan Ling.
Haneen memegang peta di tangannya. "Sekarang kita punya lokasi markas mereka. Perang sebenarnya baru dimulai."
Mereka hilang di kegelapan malam. Meninggalkan gudang dan pemimpin Naga Merah yang sedang marah besar melihat anak buah nya tertidur semua.
Kota Batu Bulan tidak tahu bahwa badai baru saja datang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Bersambung…...
Jangan lupa like, komen dan share😄