Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Ketua Tim Basket Yang Baru
"Saya akan mengumumkan siapa yang akan menjadi anggota tim inti terlebih dahulu. Yang pertama, sudah pasti Surya. Yang kedua saya memilih Raza, permainan kamu lumayan bagus, apalagi waktu mengecoh gerakan lawan. Selanjutnya saya memilih kamu, kamu dan kamu. Saya suka gaya permainan kalian tadi. Sepertinya kalian pernah mengikuti lomba ya? Insting kalian sangat bagus" puji sang pelatih sambil menunjuk ke arah Vano, Radit dan Tian.
"Untuk yang lain jangan berkecil hati ya, meskipun kalian menjadi tim cadangan, tapi saat perlombaan nanti kalian bertujuh akan tetap ikut semua. Sampai sini ada yang keberatan?"
"Lalu siapa pak yang akan menjadi Ketua Tim nanti nya?" tanya Surya penasaran.
"Hem.... Saya memilih..... " pelatih itu menatap kelima anggota tim inti satu persatu.
"Kamu.... Kamu layak menjadi Ketua Tim. Selamat ya, siapa nama kamu tadi?" pelatih itu menjabat tangan Vano dengan tiba-tiba. Semua mata menatap ke arahnya.
"Saya Vano pak" jawab Vano.
"Oke Vano, saya percayakan jabatan ketua kepada kamu" pelatih itu melepaskan jabatan tangannya dengan Vano lalu menatap semua anggota tim basket satu persatu.
"Anak-anak, bukan tanpa alasan saya memilih Vano menjadi ketua tim. Kalian juga sudah melihat sendiri bagaimana skill yang dimiliki Vano. Saya melihat potensi itu dalam dirinya. Apakah disini ada yang keberatan dengan keputusan saya? Surya, apa kamu keberatan?" pelatih itu menatap lekat ke arah Surya.
"Tidak Pak Wawan. Saya mengakui kehebatan Vano" jawab Surya lemah. Ia sedikit kesal karena ternyata ada yang lebih jago darinya, namun ia tetap menerima keputusan itu karena menurutnya Vano memang layak.
"Baiklah. Mungkin saya akhiri dulu sesi latihan kali ini. Jangan lupa bola nya dikembalikan ya. Besok kita berkumpul lagi sepulang sekolah. Sekian, terimakasih" pelatih bernama Wawan itupun mulai meninggalkan lapangan.
"Selamat" Surya mengulurkan tangannya ke arah Vano.
"Thanks, gw tau lo cowok gentle" Vano membalas uluran tangan Surya.
"Karena lo kalah dalam pertandingan tadi, bisa gw minta tolong elo buat jauhin Vanya?" lanjutnya. Radit dan Tian yang masih berdiri di samping Vano langsung menatap kaget kearah nya.
"Kalo yang satu itu, sorry gw nggak bisa. Tapi gw bisa janji untuk bersaing secara fair" Surya melepas jabatan tangan nya dengan Vano.
"Oke gak papa. Gw hargai keputusan lo. Thanks"
"Gw balik duluan ya, gw harap kita bisa jadi 1 tim yang kompak dalam perlombaan nanti" Surya pun mulai meninggalkan lapangan setelah berpamitan dengan anggota yang lainnya, termasuk Radit dan Tian.
"Woah, gila bro. Lagi-lagi lo jadi Ketua Tim Basket sekolah meskipun kita udah pindah. Selamat selamat"
"Selamat. Gw nggak nyangka lo masih jago aja"
Tian, Radit dan Vano melakukan tos ala mereka secara bergantian. Ketiganya lalu mulai berjalan menghampiri tiga gadis yang sedang menatap mereka dari tempat duduk penonton.
"Sayangggg, haussss" rengek Tian saat sudah di depan Lea.
"Nih. Gilak tadi ayang aku keren banget main nya" puji Lea sambil menyodorkan sebuah air mineral 300ml yang masih bersegel.
"Boong banget. Dia dari tadi muji-muji Vano asal lo tau" adu Rain. Wajah Tian seketika langsung berubah masam.
"Rain anjing! Cepu banget sih lo ah" omel Lea. Ia pun mulai sibuk merayu kekasihnya yang sedang merajuk.
"Lo nggak ngasih gw minum kaya Lea tadi? Jujur gw haus banget loh Van" Vano duduk di sebelah Vanya yang tadinya di duduki oleh Lea. Sekarang Lea sedang membujuk Tian yang sedang berjalan cepat menuju parkiran.
"Cih! Siapa lo?" Vanya beranjak pergi lalu menuju ke arah Raza yang sedang mengambil tas di pinggir lapangan.
"Maaf ya Vanya, tadi gw kalah" ucap Raza dengan nada sedih.
"Lo udah keren kok tadi. Selamat ya, lo baru gabung tapi langsung jadi anggota tim inti" puji Vanya tulus.
"Makasih Van. Gw seneng banget lo beneran dateng nonton gw. Nanti kalo lomba lo nonton kan?" tanya Raza penuh harap. Lomba Basket nanti diadakan di sekolah Vanya tepat di hari libur karena ini hanya pertandingan persahabatan antar sekolah swasta.
"Liat nanti"
"Yaudah ngga papa. Gw ngga maksa kok Van. Oh iya, gw berhasil jadi anggota tim inti, Lo mau nggak dinner sama gw?"
"Nggak! Vanya harus dinner sama gw. Gw berhasil jadi Ketua Tim" sambar Vano yang kini sudah berdiri di antara Raza dan Vanya.
"Lo apaan sih?" Vanya menatap ke arah Vano dengan wajah marah.
"Lo nggak mau ngasih gw ucapan selamat? Gw jadi Ketua Tim Basket Van" pamer Vano dengan bangga.
"Oh ya? Sayangnya gw nggak perduli. Ayo Za" Vanya menyeret Raza untuk pergi meninggalkan lapangan.
"Lah? Vanya..... Tunggu" teriak Rain karena ditinggalkan hanya berdua saja dengan Radit. Sedari tadi mereka berdua hanya diam saja melihat drama seru di depan mereka.
Raza mengulum senyumnya sambil melihat ke arah tangan yang sedang Vanya genggam erat 'Kayaknya gw harus sering-sering deket Vanya kalo dia lagi sama Vano. Mereka yang ribut gw yang untung'
Vanya membawa Raza ke parkiran motor. Dan lagi, Vanya menghempaskan tangan Raza begitu saja. Bukan nya marah, Raza malah merasa senang. Kali ini ia menghitung waktu mereka berpegangan tangan lebih lama daripada waktu mereka di Cafe dulu.
'6 menit 10 detik. Fix, nggak akan gw cuci 1 minggu nih tangan'
"Ngapain lo senyum-senyum?" Vanya menaikkan sebelah alisnya.
"Eh... Ngga kok, ngga papa. Itu tadi pertanyaan gw belum lo jawab Van. Lo mau nggak dinner sama gw?"
"Karna gw nggak suka ingkar janji, oke gw mau. Tapi sorry, malam ini gw nggak bisa"
"Yaudah ngga papa. Nanti kalo lo udah nggak sibuk kabarin gw ya" Raza memberikan senyuman terbaiknya.
"Oke. Yaudah gw balik duluan ya" Vanya sudah tidak se dingin biasanya lagi terhadap Raza. Hal itu makin membuatnya yakin untuk maju. Ia tak akan melewatkan kesempatan baik ini.
Baru saja Vanya menghidupkan motornya, Rain datang menghampiri gadis yang sudah siap dengan helm doraemon itu.
"Woi. Bener-bener lo ya main tinggal-tinggal aja. Nanti malem jadi kagak?" ucap Rain sambil menepuk pelan helm yang Vanya pakai.
"Jadi lah. Nanti gw chat di Grub. Gw duluan ya, Bye Sist" motor scoopy berwarna biru itu mulai melaju meninggalkan area parkir SMA Bhakti Wiratmadja.
*****
Vanya menatap sebuah Kost-kostan Putri berlantai 2 dengan jumlah kamar kisaran 20 pintu. 10 kamar di lantai bawah dan 10 lagi di lantai atas.
Danu memilihkan kamar paling ujung untuknya di lantai 1,kamar itu dekat sekali dengan tangga besi yang digunakan untuk menuju ke lantai 2.
Kamar berukuran 4×4 dengan fasilitas kamar mandi dalam dan juga dapur mini itu membuat Vanya sedikit melebarkan matanya.
"Hem.... sesuai ekspektasi. Tinggal dekor sedikit pasti gacor nih kamar. Sebulan 1 juta. Murah amat anjir" oceh Vanya sambil berkeliling melihat setiap inci kamar itu.
"Udah jam setengah 7, mana nih mereka berdua belum keliatan juga batang hidungnya" Vanya sudah mengirim share lokasi pada kedua sahabatnya 30 menit lalu. Bahkan barang-barang yang ia pesan sudah datang dan masih teronggok begitu saja di dekat tempat tidur. Kasur busa berukuran 140×200 itu ia berdirikan dengan menyender pada tembok berwarna hijau tosca.
Daripada menunggu kedua sahabatnya yang tak kunjung datang, Vanya menyuruh 2 bodyguard suruhan papanya untuk menata kamar.
Lemari kayu 2 pintu berukuran sedang di letakkan di ujung tembok sebrang pintu kamar. Kasur busa berukuran 140×200 itu kini di ganti dengan Springbed mahal berukuran 180×200 dengan spray bergambar doraemon.
Dinding yang semula kosong kini mulai di isi dengan hiasan dinding seperti jam tempel dinding 3D, rak dinding 3 susun, foto-foto artis China Short maupun Long drama favoritnya juga di tempel membentuk Love besar.
Dapur mini ia biarkan kosong saja karena ia akan lebih sering memesan makanan atau mungkin makan di luar. Kamar mandi juga ia dekor sedikit dengan cermin tempel dinding berukuran setengah badan dan juga rak dinding untuk menaruh peralatan skincare maupun peralatan mandinya. Belakang pintu kamar mandi dan pintu kamar kost nya ia tempeli gantungan baju.
Meja kecil setinggi lutut orang dewasa diletakkan di samping tempat tidur beserta cermin tempel dinding yang berukuran kecil. Anggap saja meja rias mini.
"Oke semuanya udah. Makasih udah di bantuin ya. Kalian balik aja jaga di sekitar kost ini. Jangan terlalu mencolok, ini kost putri soalnya" perintah Vanya.
"Baik nona, kami undur diri" pamit salah satu bodyguard.