Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Malam itu, Rizal seperti lelaki bodoh yang selama ini setia dengan Intan.
Ia memacu motornya sekencang mungkin, membiarkan angin malam yang menusuk tulang menghantam dadanya yang terasa kosong.
Di bawah helmnya, mata Rizal memerah, bukan karena debu jalanan, melainkan karena luka yang lebih perih dari sayatan belati.
Setiap kali ia mengoper gigi motornya, bayangan tawa Hadi dan siraman air es dari tangan Intan berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
“Sadar diri, Rizal! Kamu itu lelaki miskin!”
“Orang miskin itu cocoknya sama yang miskin!”
"AAARRGGHHH!" Rizal berteriak sekuat tenaga, namun suaranya tenggelam oleh deru mesin.
Pandangannya mulai mengabur karena air mata yang akhirnya jatuh juga.
Di sebuah persimpangan yang remang, sebuah truk bermuatan berat muncul dari arah berlawanan, mencoba mendahului kendaraan lain.
Rizal yang sedang dalam puncak emosinya terlambat menarik tuas rem.
BRAKKKK!
Suara hantaman logam yang beradu terdengar memekakkan telinga.
Tubuh Rizal terpental beberapa meter dari motornya, melayang di udara sebelum akhirnya menghantam aspal dengan keras.
Kesadaran Rizal perlahan memudar dan hal terakhir yang ia lihat sebelum dunianya menjadi gelap adalah lampu jalan yang berkedip-kedip dan kerumunan orang yang mulai berlarian mendekat.
Semetara itu di tempat lain, suasana begitu hening dan tenang.
Aisyah baru saja melipat mukenanya setelah menyelesaikan salat Tahajjud.
Di keheningan sepertiga malam itu, hatinya merasa tidak tenang.
Ada kegelisahan yang tak mampu ia jelaskan sejak ia meninggalkan restoran tadi.
Ia terus memikirkan bagaimana keadaan Rizal setelah harga dirinya dihancurkan berkeping-keping.
Tiba-tiba, keheningan itu pecah saat terdengar suara ponsel di atas nakas berdering nyaring, menggetarkan ruangan yang sepi itu.
Aisyah mengernyit, merasa aneh ada telepon masuk di jam dua pagi.
"Halo?" suara Aisyah tenang namun waspada.
"Apa benar ini Mama Aisyah?" tanya suara pria di seberang sana, terdengar formal namun terburu-buru.
"Iya, saya betul. Ada apa? Ini siapa?"
"Saya petugas kepolisian dari Satlantas Jakarta Selatan. Kami mengabarkan bahwa pemilik identitas atas nama Rizal Permana Putra mengalami kecelakaan tunggal yang cukup parah di kawasan TB Simatupang. Saat ini korban sedang dilarikan ke ruang darurat RS Medika."
"Astaghfirullah!" Aisyah menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya lemas seketika.
"Rizal..."
"Kami menemukan nomor Anda di daftar panggilan terakhir di ponselnya. Saya mohon segera menuju rumah sakit, Bu."
Ponsel itu hampir terlepas dari genggaman Aisyah.
Detak jantungnya berdetak kencang saat mendengar pria yang baru saja ia bela kehormatannya, kini bertaruh nyawa.
Dengan gerakan cepat namun tetap anggun, ia mengganti pakaian rumahnya dengan setelan formal yang sopan, mengenakan hijab instan berwarna gelap, dan menyambar kunci mobilnya.
Di dalam mobil yang membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang, pikiran Aisyah melayang pada sosok Rizal.
Ia tahu betul latar belakang pria itu. Rizal adalah sebatang kara dimana kedua orang tuanya telah lama meninggal, meninggalkan pria itu berjuang sendiri di kerasnya ibu kota dengan bermodalkan kejujuran—sesuatu yang justru dianggap kelemahan oleh orang-orang seperti Intan.
"Jangan menyerah, Rizal. Dunia belum melihat siapa kamu sebenarnya," bisik Aisyah pada kemudi.
Sesampainya di rumah sakit, aroma alkohol dan karbol menyambutnya.
Aisyah segera menuju bagian informasi dan diarahkan ke ruang tindakan.
Di sana, seorang dokter dengan gurat lelah di wajahnya menghampiri Aisyah.
"Keluarga Saudara Rizal?" tanya dokter itu.
"Saya walinya," jawab Aisyah mantap.
Ia merasa tak perlu menjelaskan status "tiri dari mantan tunangan" di saat genting seperti ini.
"Benturan di aspal cukup keras. Kaki kanannya mengalami fraktur atau patah tulang, jadi sementara harus kami gips untuk fiksasi. Selain itu, ada trauma tumpul di bagian dada yang menyebabkan pembengkakan. Kami sudah memberikan pereda nyeri dan observasi untuk memastikan tidak ada pendarahan dalam. Saat ini dia sedang beristirahat karena pengaruh obat."
Aisyah mengangguk lemah, setitik air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
Setelah mengurus semua administrasi kelas VIP untuk Rizal, ia melangkah masuk ke ruang perawatan dengan perlahan.
Suara detak monitor jantung menjadi satu-satunya musik di ruangan itu.
Aisyah mendekati ranjang tempat Rizal terbaring.
Wajah pria itu pucat, kepalanya diperban, dan kaki kanannya tampak kaku terbungkus gips putih yang tebal.
Napasnya memburu, seolah dadanya yang bengkak masih terasa sangat sesak.
Aisyah duduk di kursi samping tempat tidur sambil memandangi wajah pria yang beberapa jam lalu masih tersenyum tulus di dapurnya, pria yang dihina dan diinjak-injak harga dirinya di depan publik.
Ia mengulurkan tangannya, menyentuh ujung jemari Rizal yang terasa dingin.
"Bangunlah, Rizal..." bisik Aisyah dengan suara serak namun penuh wibawa.
"Jangan biarkan mereka menang dengan melihatmu hancur seperti ini. Kamu sudah kehilangan segalanya malam ini—cincinmu, cintamu, dan harga dirimu di mata mereka. Tapi kamu masih punya aku."
Aisyah mendekatkan wajahnya, menatap lekat kelopak mata Rizal yang masih terpejam.
"Bangun, dan aku akan membantumu berdiri di atas kepala mereka semua. Aku akan menjadikanmu pria yang tidak akan berani mereka tatap matanya. Bangunlah, Rizal... Singgasanamu sudah menunggu."
Di tengah keheningan itu, jemari Rizal yang berada di dalam genggaman Aisyah bergerak sedikit.
Sebuah rintihan tipis keluar dari bibirnya yang pecah, memanggil satu nama yang membuat hati Aisyah berdenyut antara kasihan dan tekad yang bulat.
Cahaya lampu neon di plafon rumah sakit terasa begitu menyilaukan saat Rizal perlahan-lahan membuka kelopak matanya.
Bau obat-obatan yang tajam menusuk indra penciumannya, mengingatkannya bahwa ia masih berada di dunia nyata, bukan di liang lahat yang sempat ia harapkan.
Rizal menolehkan kepalanya yang terasa berat. Di samping ranjangnya, duduk seorang wanita yang tetap terlihat anggun meski gurat kelelahan terpancar dari wajahnya.
"M-mama..." suara Rizal parau, nyaris seperti bisikan yang pecah.
Aisyah segera berdiri, mendekatkan wajahnya dengan raut lega yang tak bisa disembunyikan.
"Jangan bergerak dulu, Rizal. Tubuhmu masih sangat lemah."
Rizal mencoba menggerakkan kakinya, namun rasa sakit yang luar biasa menghujam syarafnya.
Ia melihat kakinya yang terbungkus gips putih. Ingatan tentang kecelakaan itu, tentang tawa Hadi, dan siraman air dari Intan kembali menghantamnya seperti tsunami.
"Kenapa Mama menyelamatkan aku? Lebih baik aku mati saja, Ma. Aku sudah hancur. Tidak ada lagi yang tersisa dari diriku. Harga diriku sudah rata dengan tanah."
Aisyah menatap Rizal dengan tatapan tajam saat mendengar perkataan dari Rizal.
"Rizal, dengerin Mama," suara Aisyah merendah namun penuh penekanan.
"Apa kamu kira dengan kamu mati mereka akan sedih? Tidak! Intan dan Hadi akan tertawa terbahak-bahak di atas pusara kamu. Mereka akan berpesta pora di atas kekalahanmu. Apa itu yang kamu inginkan? Menjadi bahan tertawaan selamanya?"
Rizal terisak, dadanya yang bengkak terasa sesak karena isak tangis yang tertahan.
Melihat kehancuran di wajah pria tulus itu, dinding pertahanan Aisyah sedikit luruh.
Ia membungkuk, lalu terpaksa memeluk Rizal—sebuah pelukan hangat yang memberikan perlindungan, seolah mencoba menyatukan kepingan jiwa Rizal yang retak.
"Jangan menyerah pada orang-orang rendah seperti mereka," bisik Aisyah di dekat telinga Rizal.
Aisyah melepaskan pelukannya, namun tetap menggenggam tangan Rizal dengan erat.
Ia menatap lurus ke dalam mata Rizal, memberikan sebuah tawaran yang bisa mengubah jalannya sejarah hidup mereka berdua.
"Rizal, maukah kamu menikah denganku? Mungkin rasanya aneh karena aku, seorang wanita yang jauh lebih dewasa darimu, yang melamarmu lebih dulu."
Rizal sedikit terkejut dengan ajakan menikah dengan Aisyah.
Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Ia menatap Aisyah dengan pandangan tidak percaya sekaligus curiga.
"Apa Mama juga mau merendahkan aku? Apa Mama ingin menjadikan aku pajangan hanya untuk mengejek Intan? Apa Mama ingin melakukan hal yang sama seperti yang Intan lakukan padaku?" tanya Rizal dengan nada getir yang menyayat hati.
Aisyah menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak ada keraguan di matanya.
"Tidak, Rizal. Sedikit pun tidak. Aku ingin menikahimu karena aku tahu nilai dirimu yang tidak mereka lihat. Aku ingin memberimu 'pedang' untuk membalas mereka. Dengan menjadi suamiku, kamu bukan lagi Rizal si pria miskin. Kamu akan menjadi Tuan Rumah di hidup mereka. Kamu akan menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkanmu."
Aisyah mengusap punggung tangan Rizal. "Aku butuh pria yang jujur sepertimu untuk menjaga warisan suamiku, dan kamu butuh aku untuk mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah Intan bayangkan. Kita adalah aliansi, Rizal. Bagaimana?"
Rizal terdiam sejenak dan di kepalanya kini terbayang wajah Intan yang pucat pasi saat melihatnya bersanding dengan Aisyah di pelaminan.
Sebuah api yang sempat padam di hatinya, kini mulai menyala kembali.
Ia ingin membalas apa yang diperbuat oleh Intan dan Hadi.