Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. MALAM PENUH RINDU
Setelah riuh kepulangan Alaric beserta para kesatria serta jamuan yang Liora siapkan untuk semuanya, kini kediaman Duke terasa sepi.
Malam telah turun sepenuhnya ketika Liora menutup pintu kamar mandi.
Uap air masih menggantung di udara, menyelimuti kamar dengan aroma sabun herbal dan minyak bunga yang lembut. Rambut merahnya basah, jatuh di punggung dan bahu, sementara gaun tidur tipis berwarna gading membalut tubuhnya dengan sederhana, terlalu sederhana, justru itulah yang membuatnya terlihat memikat.
Liora baru saja meraih handuk kecil ketika sebuah suara pelan terdengar dari dalam kamar.
"Sudah selesai?"
Liora tersentak.
Wanita itu menoleh cepat dan mendapati Alaric berdiri di dekat jendela, punggungnya bersandar santai pada bingkai kayu gelap, lengan bersedekap, mata abu-abunya mengamatinya dengan sorot yang langsung membuat jantung Liora berdegup lebih cepat.
"Alaric?" napas Liora tertahan sesaat. "Sejak kapan kau di sini?"
"Sejak kau masuk kamar mandi," jawab Alaric ringan.
Liora mematung. "Kenapa kau tidak memberi tahu atau memanggilku?"
Senyum tipis yang terlalu Liora kenal terbit di bibir Alaric.
"Aku menikmati sensasi menunggu istriku selesai mandi. Mungkin sedikit membayangkanmu mandi," goda Alaric.
"Sejak kapan kau jadi pria mesum?" celetuk Liora seraya melipat tangan di dada.
"Sejak kau jadi istriku. Lagi pula apa salahnya mesum pada istriku sendiri, huh?" tantang Alaric.
Belum sempat Liora menjawab ...
Pintu kamar diketuk pelan, lalu terbuka sedikit. Sasa menampakkan wajahnya.
"Nyonya, aku membawakan selimut baru-" ucap Sasa namun berhenti mendadak saat melihat Duke sudah ada di dalam kamar.
"Terima kasih Sasa, taruh saja di sana," kata Liora lembut.
Sasa bergerak cepat menaruh selimut di atas tempat tidur lalu pamit segera, "Kalau begitu saya undur diri."
Tanpa menunggu jawaban, Sasa menutup pintu kembali dengan cekatan, meninggalkan keheningan yang terasa jauh lebih padat dari sebelumnya.
Liora dan Alaric kini sendirian.
Alaric melangkah mendekat, lalu duduk di sisi ranjang. Gerakannya tenang, penuh kendali, namun senyum yang terukir di wajahnya membuat Liora tahu; ini bukan ketenangan biasa.
Itu senyum berbahaya.
Liora berdiri diam, menatap suaminya tanpa berkata apa pun. Menyipitkan mata seolah berpura-pura kes atas kehadiran Alaric tiba-tiba ini.
"Kenapa kau berdiri sejauh itu?" tanya Alaric akhirnya, suaranya rendah. "Mendekatlah."
Liora ragu sesaat.
Alaric menepuk sisi ranjang dengan santai.
"Sudah cukup lima bulan aku tidak melihatmu. Jangan buat aku merasa ditolak pada malam pertama aku kembali," kata Alaric tanpa melepaskan senyum di wajah.
Nada suara Alaric bukan perintah, lebih seperti keluhan yang dibungkus godaan.
Liora menghela napas kecil, lalu melangkah mendekat.
Gaun tidur wanita itu bergerak mengikuti langkahnya, cahaya lilin memantulkan siluet tubuhnya dengan lembut.
Alaric tidak mengalihkan pandangan sedetik pun. Justru menahan napas setiap langkah Liora mendekat. Yang mana ia dapat melihat semakin jelas lekuk tubuh indah sang istri.
Begitu Liora berdiri di hadapannya, Alaric langsung meraih pergelangan tangan Liora dan menariknya ke pangkuan Alaric, tepat, tegas, namun tetap hati-hati.
Liora terkejut, namun tidak melawan. Ia justru refleks melingkarkan tangannya di bahu Alaric.
"Kasar sekali," canda Liora.
"Bukankah kau suka kalau aku kasar saat malam?" goda Alaric.
Liora memukul dada Alaric yang dibalas tawa oleh sang pria.
"Jujur aku masih belum terbiasa dengan perubahanmu ini," ucap Alaric seraya mengelus punggung Liora.
Liora menatapnya lembut. "Tidak suka?"
Alaric menggeleng pelan. "Suka. Sangat."
Alaric menghela napas, dahinya menyentuh pelipis Liora. "Hanya saja ... aku terbiasa memeluk tubuhmu yang dulu. Sekarang rasanya berbeda. Lebih ..." ia merapatkan pelukannya, "... rapuh. Dan itu membuatku ingin mengurungmu seperti ini di pelukanku setiap saat."
Liora tertawa kecil ketika kedua lengan Alaric melingkar erat di tubuhnya. Pelukan itu terasa lebih dalam, lebih menyeluruh, seolah Alaric benar-benar sedang memastikan bahwa Liora ada di sini, bersamanya.
Alaric menunduk, mencium leher istrinya dengan lembut, bukan ciuman tergesa, melainkan sentuhan penuh rindu yang ditahan terlalu lama. Menikmati aroma selepas mandi sang istri yang ia rindukan selama berbulan-bulan.
"Kau tidak tahu ... setiap hari aku ingin berlari pulang hanya karena merindukanmu," Alaric mengaku.
Liora tersenyum. "Kau pikir hanya kau saja yang rindu?"
Alaric terkekeh rendah. Tangannya bergerak menyusuri sisi tubuh Liora, berhenti di sana tanpa melampaui batas, cukup untuk membuat napas Liora sedikit goyah. Lalu Alaric menyusupkan tangannya ke balik gaun tidur Liora, mengelus paha sang istri.
Wajah Liora memerah.
Alaric melihatnya, dan senyumnya makin dalam.
"Aku harus bersabar. Aku tidak ingin menyakitimu. Tapi wajahmu benar-benar membuatku tidak bisa menahan diriku, Sayang," kata Alaric dengan helaan napas menahan diri.
Liora mengangkat tangannya, mengelus rambut Alaric. "Bagaimana keadaan wilayah timur?"
Pertanyaan itu sedikit memecah suasana, namun tidak menghilangkannya.
"Lebih gila dari yang kita bayangkan," jawab Alaric jujur. "Tapi Kaisar mengambil alih. Caelum akan membentuk unit pertahanan baru. Varkhiel terlalu dekat di timur untuk dibiarkan lengah."
Liora mengangguk, menyerap setiap kata.
Lalu Alaric menatapnya kembali, sorot matanya berubah.
"Sekarang giliranku bertanya," ujar Alaric.
Liora langsung menegang.
"Bagaimana," kata Alaric perlahan, "kau bisa menendang Marquess?"
Liora mengerucutkan bibir dan menjawab, "Dia memegang bahuku tiba-tiba. Di istana setelah aku menemui permaisuri."
Wajah Alaric mengeras seketika. "Dia menyentuhmu?" konfirmasinya.
Liora mengangguk. "Jadi aku spontan menendangnya lalu kabur."
"Di mana kau tendang?" tanya Alaric.
"Tulang keringnya," jawab Liora cepat.
"Seberapa keras?" tanya Alaric kembali.
"Cukup keras kurasa," jawab Liora.
Alaric tersenyum puas. "Bagus. Itu baru istriku. Mungkin lain kali kau bisa menendang di bagian tengah pria."
Liora mendengus kecil. "Kau terlihat terlalu senang aku melakukan kekerasan kepada orang lain."
"Karena itu pria," jawab Alaric tanpa ragu.
Liora terdiam sejenak, lalu berkata, "Besok Permaisuri mengadakan pesta minum teh bersama para sosialita. Aku akan hadir. Kau izinkan?"
Alaric menatapnya lama. "Kau yakin akan datang?"
"Aku tidak takut lagi dengan segala cacian mereka," jawab Liora mantap. "Kau lihat secantik apa aku sekarang."
Alaric tertawa kecil atas kepercayaan diri istrinya ini lalu berkata, "Kalau begitu datanglah. Dan jangan lupa berikan mereka rasa racun yang pernah mereka berikan padamu. Pakai perhiasan dan gaun terbaik, percantik dirimu. Banggakan kau adalah Duchess-ku."
Liora tersenyum lebar lalu mencium pipi Alaric, "Akan aku lakukan. Aku akan menunjukan siapa istri Duke Alaric Ravens yang dulu sering mereka rendahkan."
Alaric memeluknya erat, lalu mencium Liora dengan dalam, bukan tergesa, bukan kasar, tapi penuh kepemilikan dan rindu yang akhirnya menemukan rumahnya kembali.
Liora menikmati lumayan sang suami di bibirnya. Tak pernah merasa semendebarkan ini ketika Alaric menyentuhnya.
Alaric memindahkan Liora ke atas ranjang dengan hati-hati, merendahkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar.
"Aku mungkin tidak bisa menahan diriku malam ini. Kau keberatan?" izin Alaric.
Liora menggeleng.
Mendapatkan izin seperti itu jelas membuat Alaric lepas kendali.
Dan malam pun menutup pintu rapat-rapat bagi dunia luar.
Rindu yang tertahan berbulan-bulan akhirnya menemukan pelampiasan, bukan dalam kata, tapi dalam kehadiran, dalam keheningan yang penuh makna.
Malam menjadi saksi.
Bahwa bagi Alaric Ravens, tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada ... wanita lain selain Liora.
besok tunjukkan kecantikan dan kuasa mu Liora
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣