Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Aku Tidak Cukup
Dunia tidak berhenti berputar hanya karena hatimu berhenti berdenyut. Itulah kenyataan paling pahit yang harus ditelan Alea Niskala setiap kali ia melangkah keluar dari pintu kosnya yang sempit. Di luar sana, Jakarta masih menderu dengan kecepatan yang sama, orang-orang masih tertawa mengejar ambisi, dan matahari tetap terbit tanpa permisi.
Segala sesuatu tampak berjalan dengan normal, kecuali dirinya yang merasa seperti sedang berjalan di bawah air; lambat, berat, dan sunyi.
Hari ini, toko buku Litera & Latte terasa lebih sesak dari biasanya. Udara dipenuhi aroma biji kopi yang dipanggang dan wangi kertas tua, namun bagi Alea, aroma yang biasanya menenangkan itu kini terasa mencekik. Sejak pertemuan janggal dengan pria bernama Aksa kemarin, fokusnya berhamburan. Pertanyaan pria itu tentang fondasi dan harga diri terus berdengung di telinganya seperti dengung lalat yang terjebak di dalam gelas, mengganggu, menetap, dan tidak bisa diabaikan.
Alea sedang merapikan rak buku di bagian Self-Improvement ketika ia mendengar suara tawa kecil yang renyah di belakangnya. Ia menoleh pelan. Sepasang kekasih sedang berdiri di depan rak novel romantis. Si pria merangkul bahu kekasihnya dengan gerakan yang begitu alami, sementara si wanita membacakan potongan dialog dengan nada menggoda yang manja.
“Lucu ya, kalau kita kayak gini juga,” bisik wanita itu sambil tertawa kecil.
“Kita lebih dari itu,” jawab si pria lembut sembari mengecup kening pasangannya.
Alea terpaku. Ia melihat bagaimana tangan pria itu menetap di bahu si wanita dengan keyakinan penuh. Sebuah gestur kepemilikan yang dulu ia anggap abadi saat Han melakukannya padanya. Ia ingat betapa ia dulu merasa aman dalam dekapan yang serupa, merasa bahwa dunia tidak akan bisa menyentuhnya selama ada tangan yang merangkulnya seerat itu.
Kenapa sekarang semua itu hilang?
Pertanyaan itu mulai bermutasi menjadi sesuatu yang lebih gelap dan merusak. Alea mengalihkan pandangannya ke bawah, menatap pantulan dirinya di kaca pembatas rak buku. Tangannya terasa kaku dan statis, seolah-olah seluruh sirkulasi darahnya telah berhenti di titik nol. Ia memperhatikan garis lelah di bawah matanya yang tidak bisa lagi disembunyikan oleh concealer, dan celemek cokelatnya yang kini terlihat seperti seragam seorang pecundang.
“Apa aku kurang cantik? Apa bicaraku terlalu membosankan hingga dia butuh hiburan dari wanita lain?”
Setiap jawaban yang muncul di kepalanya adalah vonis bersalah bagi dirinya sendiri. Ia merasa seperti sebuah produk cacat yang telah dikembalikan ke pabriknya karena tidak lagi diinginkan. Perasaan tidak cukup itu mulai merambat, dari ujung kaki hingga ke puncak kepala, membuatnya merasa kerdil. Ia merasa seolah-olah ada label gagal yang tertempel di dahinya.
Jam makan siang tiba, dan bersamaan dengan itu, pintu toko berdenting. Alea sedang menunduk menghitung kembalian di kasir dengan gerakan yang lambat ketika ia merasakan perubahan tekanan udara di ruangan itu. Sebuah aura yang berat dan dominan.
Aksa Pratama.
Alea menyerahkan uang kembalian kepada pelanggan sebelumnya dengan gerakan kaku. Ia mengangkat wajah, bertemu langsung dengan mata Aksa yang tajam. Hari ini pria itu mengenakan kemeja biru gelap dengan lengan digulung rapi hingga siku.
“Meja yang sama,” ucap Aksa tanpa bertanya. Itu bukan permintaan, itu adalah pernyataan posisi yang mutlak.
Alea mengangguk singkat, nyaris tidak terlihat. Ia membawa buku menu menuju meja pojok yang kini seolah telah menjadi wilayah teritorial pria itu. Aksa sudah duduk di sana, punggungnya tegak, menatap tajam ke arah rak buku sejarah.
“Menu yang sama, Pak?” tanya Alea. Suaranya datar, mencoba membentengi diri.
Aksa menoleh. Matanya memindai wajah Alea dengan ketelitian seorang kurator seni yang sedang memeriksa lukisan rusak. “Satu kopi hitam panas. Dan... kamu terlihat lebih berantakan hari ini dibanding kemarin.”
Alea terdiam sejenak, lalu menjawab tanpa emosi, “Saya rasa kondisi mental saya bukan bagian dari pelayanan yang harus saya jelaskan di sini, Pak.”
“Pikiranmu sedang merusak wajahmu,” sambung Aksa, suaranya sedingin es. “Kamu sedang berkelahi dengan dirimu sendiri di dalam sana. Kamu membandingkan sisa-sisa hidupmu dengan orang-orang di luar sana yang terlihat bahagia, dan kamu membiarkan dirimu kalah secara telak.”
Alea mengepalkan tangannya di samping paha, tersembunyi di balik kain celemek.
“Anda tidak tahu apa yang saya rasakan. Mudah bagi seseorang yang memiliki segalanya untuk menghakimi orang yang sedang berada di titik terendah.”
“Aku tidak menghakimi. Aku hanya menyatakan fakta yang kamu coba sembunyikan,”Aksa mencondongkan tubuhnya ke arah Alea, memberikan tekanan intimidasi. “Orang yang merasa dirinya tidak berharga akan selalu menemukan alasan untuk dihancurkan kembali. Jika kamu sendiri tidak menganggap dirimu cukup layak untuk dihormati, jangan marah jika dunia setuju denganmu dan menginjakmu lebih dalam.”
Kalimat itu menghantam Alea lebih keras daripada teriakan mana pun. Ia tidak menangis. Air matanya seolah sudah kering, menguap oleh panasnya rasa malu yang membakar hatinya. Ia merasa harga dirinya yang sudah setipis kertas kini sedang disobek-sobek oleh orang asing yang merasa paling tahu tentang hidup.
“Kopi hitam panas. Segera,”ucap Alea pendek. Ia berbalik dengan langkah mantap, menolak menunjukkan kelemahan.
Di belakang bar kopi, Alea berdiri diam di depan mesin espresso yang menderu. Ia merasa sangat statis, seolah-olah ia telah berubah menjadi patung lilin. Ia hanya merasa lelah secara eksistensial. Kata-kata Aksa kejam, brutal, dan tanpa empati, tapi yang paling menyakitkan adalah kata-kata itu mengandung kebenaran yang tidak bisa ia bantah.
“Al, pesanan meja empat sudah siap?” tanya rekan kerjanya mengejutkan lamunannya.
Alea mengangguk tanpa kata. Ia memasukkan kopi ke nampan.
“Aku memang tidak cukup,” bisiknya dalam hati sambil menatap buih kopi yang pecah satu per satu. Tapi pria itu, dia tidak berhak meletakkan cermin di depan wajahku dan memaksaku melihat kehancuran ini.
Alea mengantarkan kopi Aksa beberapa menit kemudian. Ia meletakkannya tanpa suara, tanpa kontak mata sedikit pun.
“Terima kasih,” ucap Aksa rendah, namun sebelum Alea menjauh, ia menambahkan, “Berhenti menatap mereka seolah mereka memiliki sesuatu yang tidak bisa kamu raih. Itu hanya membuatmu terlihat semakin menyedihkan.”
Alea tidak menyahut. Ia segera pergi. Sepanjang sisa hari itu, Alea bekerja seperti robot. Ia tidak lagi mencoba tersenyum kepada pelanggan. Ia hanya bergerak, membersihkan meja, dan menata buku berdasarkan abjad tanpa kesalahan sedikit pun.
Perasaan rendah diri itu kini mencapai puncaknya. Ia merasa seperti bayangan yang berjalan di antara orang-orang yang nyata.
Sore berganti malam. Alea berdiri sendirian di halte bus saat lampu-lampu jalan mulai berpijar kuning keemasan. Ia menatap pantulan dirinya di kaca halte yang kotor. Hujan rintik-rintik mulai turun. Ia merasa asing dengan wanita yang ada di kaca itu, wanita dengan mata kosong yang seolah sudah menyerah.
“Dia benar,” gumamnya pelan, suaranya nyaris hilang ditelan klakson kendaraan.
“Aku yang membuat diriku tidak berharga karena aku terus menunggu seseorang yang sudah membuangku untuk datang dan memvalidasi nilaiku.”
Alea tidak sadar, di seberang jalan yang sibuk, mobil SUV hitam itu masih ada di sana, terparkir di bawah bayangan pohon. Dari balik kaca film yang gelap, Aksa menatap sosok Alea dari kejauhan. Ia tidak merasa kasihan. Ia justru sedang menakar sesuatu. Ia ingin tahu seberapa jauh gadis itu akan tenggelam sebelum akhirnya insting bertahan hidupnya mengambil alih.
Aksa mematikan puntung cerutunya. “Tenggelamlah sedikit lagi, Alea. Sampai kamu muak dengan air yang menyesakkan itu, dan akhirnya kamu memutuskan untuk menghancurkan siapa pun yang mencoba menahanmu di bawah.”
Mobil hitam itu meluncur pergi dengan suara mesin yang halus, meninggalkan Alea yang masih terpaku menatap gerimis, tidak menyadari bahwa hidupnya baru saja ditarik masuk ke dalam orbit seorang pria yang tidak akan membiarkannya tetap menjadi korban.