"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"
"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."
"Hentikan! Jangan sentuh aku!"
"Jika aku tak mau?"
"Kau tidak waras!"
Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.
Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.
Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Peluk aku
Rodrigo bangkit duduk di tepi sofa, wajahnya pucat. Tangan kirinya menekan perutnya yang masih dibalut perban. Noda merah samar merembes di balik kain putih itu. Napasnya berat, tetapi sorot matanya tetap tajam, terlalu tajam untuk seseorang yang seharusnya beristirahat.
Valeria berdiri tak jauh darinya, membawa selimut tebal.
“Peluk aku,” kata Rodrigo pelan, namun penuh tekanan.
Tubuh Valeria menegang. Selimut di tangannya bergetar halus. Valeria yang sedang membawa selimut memalingkan wajahnya. “I... itu tidak mungkin!”
“Aku ingin kau memelukku,” jawab Rodrigo penuh permohonan, suaranya merendah, seolah ia benar-benar rapuh.
“Aku tidak mungkin memeluk calon suami orang!” ujar Valeria sembari tersenyum tipis, berusaha terdengar ringan meski dadanya berdebar.
Rahang Rodrigo mengeras. “Aku tidak suka kau membahas hal itu. Sekarang hanya ada aku dan kau. Jangan pernah membahas orang lain!” tekan Rodrigo.
Valeria terdiam. Ucapan itu terasa seperti perintah, bukan permintaan. Rodrigo dengan susah payah duduk lebih tegak sembari memegangi luka tusuk di perutnya. Pria itu mendesis pelan merasakan perih. Napasnya tercekat.
Valeria terkejut. Selimut itu jatuh ke lantai.
“Ssshhhh… jangan bergerak!” katanya panik, segera berlutut di depannya. Tangannya dengan cepat menahan bahu Rodrigo agar tidak memaksakan diri.
“Sudah ku katakan kau sebaiknya tidur! Kau selalu saja seperti itu, lihatlah keadaanmu!”
Rodrigo justru tersenyum tipis, meski wajahnya memucat. “Aku tidak peduli dengan luka ini.”
“Kau harus peduli!” bentak Valeria lirih. “Lukamu belum sepenuhnya kering. Jika terbuka lagi, kau bisa—”
Ia menggigit bibirnya, tak melanjutkan kalimat.
“Bisa apa?” tanya Rodrigo pelan. Matanya menatap lurus ke dalam mata Valeria. “Kau takut aku pergi?”
Valeria memalingkan wajah. “Aku takut kau bodoh.”
Rodrigo terkekeh pelan, lalu meringis karena perutnya kembali nyeri. “Jika kau benar-benar tidak peduli, kau tidak akan membawaku ke sini. Tidak akan membersihkan lukaku. Tidak akan berjaga sepanjang malam.”
Valeria terdiam. Ia meraih selimut yang jatuh, lalu menyelimutinya dengan hati-hati.
“Aku hanya tidak ingin ada orang mati di kamar kecilku,” gumamnya.
Rodrigo mengangkat tangannya, menahan pergelangan tangan Valeria sebelum gadis itu menjauh.
“Peluk aku.”
Valeria menatap tangannya yang ditahan. “Rodrigo.”
“Sekali saja,” bisik pria itu. “Aku kesakitan.”
“Aku sudah memberimu obat.”
“Itu tidak cukup.”
Keheningan memenuhi ruangan kecil itu. Hanya terdengar suara angin yang menyapu jendela dan detak jam dinding.
Rodrigo menarik napas pelan, lalu berkata lebih lirih, “Aku tidak takut mati. Tapi aku takut sendirian.”
Kalimat itu membuat hati Valeria bergetar. Ia tahu pria ini keras kepala. Terobsesi. Selalu ingin memiliki apa yang ia inginkan. Tapi di malam itu, ada sesuatu yang berbeda ada ketakutan yang tak biasa di balik tatapannya.
“Kau memaksaku,” bisik Valeria.
“Aku memang memaksamu,” jawab Rodrigo jujur. “Karena kalau tidak, kau akan terus menjauh.”
Valeria mengepalkan tangannya. “Ini salah.”
“Mungkin,” balas Rodrigo. “Tapi aku tetap menginginkannya.”
Rodrigo mencoba berdiri lagi. Namun, tubuhnya goyah. Valeria refleks menangkapnya. Tubuh pria itu lebih berat dari yang ia bayangkan. Hangat. Terlalu dekat.
“Aku tidak akan melepaskanmu kalau kau tidak memelukku,” ancam Rodrigo pelan, hampir terdengar seperti rayuan berbahaya.
“Kau benar-benar menyebalkan,” desis Valeria.
Rodrigo hanya menatapnya, tidak tersenyum kali ini. Tatapannya serius. Intens. Seolah di dunia hanya ada mereka berdua.
Valeria akhirnya menghela napas panjang. Dengan gerakan ragu, ia duduk di sofa, tepat di samping Rodrigo.
“Ini terakhir kali,” katanya pelan.
Rodrigo tidak menjawab, hanya membuka sedikit lengannya. Tangan Valeria gemetar saat perlahan melingkari tubuh Rodrigo. Ia berhati-hati agar tidak menekan luka di perutnya. Tubuhnya kaku, punggungnya tegang.
Rodrigo menghembuskan napas panjang saat tubuh mereka bersentuhan. Tangannya yang besar perlahan membalas pelukan itu, menahan punggung Valeria dengan hati-hati. Namun penuh kepemilikan.
“Akhirnya,” bisiknya.
“Jangan salah paham,” Valeria cepat-cepat berkata. “Aku hanya tidak ingin lukamu terbuka lagi.”
Rodrigo menyandarkan dagunya di atas kepala Valeria. “Kalau begitu, peluklah lebih erat. Supaya aku tidak bergerak.”
Valeria mengangkat wajahnya, menatapnya kesal. “Kau memanfaatkan situasi.”
“Aku memanfaatkan kesempatan,” jawabnya tenang.
Valeria ingin melepaskan diri, tetapi ketika ia mencoba menjauh, Rodrigo mendesis pelan menahan sakit. Spontan ia kembali mendekat, khawatir.
“Kau ini...... benar-benar manipulatif,” gumamnya.
Rodrigo tersenyum samar. “Dan kau terlalu lembut.”
Keheningan kembali turun. Di luar, suara mobil sesekali melintas. Di dalam kamar kecil itu, hanya ada dua napas yang perlahan menyatu dalam ritme yang sama.
Rodrigo memejamkan mata. “Jika aku harus terluka seratus kali untuk berada di sini, aku akan melakukannya.”
“Jangan bicara sembarangan!” Valeria menegur, kali ini suaranya bergetar. “Kau pikir aku ingin melihatmu seperti ini?”
Rodrigo membuka mata, menatapnya lekat. “Itu berarti kau peduli.”
Valeria tidak menjawab. Tangannya yang semula kaku perlahan melembut. Ia tidak sadar bahwa pelukannya kini lebih erat, lebih tulus.
Obsesi Rodrigo terasa nyata, ia ingin memiliki, ingin menuntut, ingin memastikan Valeria tetap di sisinya. Namun perhatian Valeria pun tak bisa ia sembunyikan teguran, kepanikan, dan tangan gemetar itu adalah bukti bahwa hatinya tidak sepenuhnya dingin.
“Malam ini saja,” bisik Valeria akhirnya. “Hanya sampai kau tertidur.”
Rodrigo tersenyum tipis, matanya mulai terpejam. “Kalau begitu jangan pergi.”
Valeria tidak menjawab. Ia hanya diam, membiarkan pria itu bersandar padanya di sofa kecil kamar sederhana itu.
Di tengah dinginnya malam, di atas sofa sempit dan kamar yang terlalu kecil untuk dua hati yang sama-sama keras kepala, obsesi dan perhatian bertemu dalam satu pelukan yang gemetar.
***
Keesokan harinya.
Valeria bergerak pelan, tersadar. Ia langsung menjauh sedikit, wajahnya memerah ketika menyadari posisi mereka.
“Aku… tertidur?” gumamnya.
Rodrigo menatapnya tanpa berkedip. “Kau memelukku semalaman.”
“Itu karena kau tidak boleh banyak bergerak!” sanggah Valeria cepat, bangkit berdiri. “Lukamu bisa terbuka lagi.”
Rodrigo memperhatikan kegugupan itu dengan tatapan yang sulit dibaca. Beberapa menit hening berlalu sebelum Valeria akhirnya berkata pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Kau tidak bisa kembali ke tempatmu sekarang.”
Rodrigo mengangkat alis.
“Kau masih butuh perawatan. Tangga rumah toko ini curam, dan aku tidak mungkin membiarkanmu naik-turun setiap hari. Jadi......” Ia menarik napas panjang. “Tinggallah di sini. Sampai kau benar-benar pulih.”
Kalimat itu menggantung di udara. Rodrigo tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum.
Senyum yang tipis. Tenang. Namun matanya berkilat, bukan karena rasa syukur semata, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Lebih gelap. Lebih puas.
“Apa kau yakin?” tanyanya pelan.
Valeria menelan ludah. “Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa.”
“Bukan itu maksudku.” Rodrigo memiringkan kepala. “Apa kau yakin bisa bersamaku lagi? Dalam satu atap?”
Pertanyaan itu membuat dada Valeria sesak.
“Aku tidak bilang selamanya,” ujarnya cepat. “Hanya sampai kau sembuh.” lanjutnya.
Rodrigo terkekeh pelan, lalu meringis karena perutnya masih nyeri. “Dua tahun lalu kau pergi tanpa melihat ke belakang. Sekarang kau memintaku tinggal.”
Valeria menunduk. Jari-jarinya saling menggenggam erat. “Aku tahu,” bisiknya. “Dan mungkin kau membenciku.”
Rodrigo menatapnya lama. “Kalau aku membencimu, aku tidak akan pernah kembali.”
Jawaban itu membuat Valeria mengangkat wajahnya perlahan. “Aku pergi waktu itu karena aku takut,” lanjutnya lirih. “Takut dengan perasaanmu yang terlalu besar. Takut dengan caramu yang selalu ingin menguasai segalanya. Dan aku takut kalau aku tidak cukup untukmu.”
Rodrigo tidak menyela.
“Apa kau tahu bagaimana rasanya mengingat seseorang setiap hari selama dua tahun?” suara Valeria bergetar. “Aku membuka toko ini sendirian. Aku tidur di kamar kecil ini sendirian. Tapi setiap kali ada suara mobil berhenti di depan, aku selalu berharap itu kau dan sekaligus takut kalau itu benar-benar kau.”
Keheningan menyelimuti mereka. Rodrigo merengkuh bahu Valeria meski masih lemah. Ia mendekat, jarak di antara mereka dekat sekali.
“Valeria,” ucapnya pelan, “aku tidak kecewa karena kau pergi.”
Valeria tertegun. “Aku marah,” lanjutnya jujur. “Aku merasa ditinggalkan. Tapi kecewa? Tidak. Karena aku tahu kau tidak pernah benar-benar lepas dariku.”
“Kau terlalu percaya diri,” gumam Valeria, meski matanya mulai berkaca-kaca.
Rodrigo tersenyum tipis. “Bukan percaya diri. Aku hanya tahu cara melihatmu.”
Ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Valeria dengan hati-hati. “Dua tahun aku menunggu momen ini,” katanya pelan. “Berdiri di rumah toko ini bukan sebagai tamu yang membuatmu ketakutan, tapi sebagai seseorang yang kau izinkan masuk.”
Valeria menggigit bibirnya. “Aku tidak tahu apakah aku masih punya kesempatan.”
Rodrigo menyipitkan mata. “Kesempatan untuk apa?”
“Untuk memperbaiki semuanya,” jawabnya jujur. “Untuk tidak lari lagi.”
Rodrigo menunduk sedikit agar sejajar dengannya. “Kau pikir aku kembali hanya untuk menagih masa lalu?”
Valeria tidak menjawab. Ia diam dan mereka saling menatap.
“Aku kembali karena aku masih menginginkan masa depan,” tegasnya.
Jantung Valeria berdetak cepat.
“Tapi jangan salah,” lanjut Rodrigo, suaranya melembut. Namun, tetap tegas. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Kalau kau tinggal, kau benar-benar tinggal.”
Nada possessif itu kembali terasa. Membuat Valeria gentar. Namun anehnya juga merasa aman.
“Aku tidak berjanji akan sempurna,” bisik Valeria. “Aku masih takut. Masih khawatir. Kadang aku terbangun di malam hari dan membayangkan kau membenciku karena meninggalkanmu.”
Rodrigo menggeleng pelan. “Kalau aku membencimu, aku tidak akan bertahan dua tahun tanpa menyentuh hidupmu.” Ia menarik napas dalam. “Sekarang kau memintaku tinggal. Itu sudah cukup bagiku.”
Valeria menatapnya, mencoba membaca isi hatinya. Senyumnya memang lembut. Namun di balik itu ada kilatan kemenangan. Rodrigo telah menunggu.
Dan akhirnya, setelah dua tahun, mereka bersama, meskipun masih canggung bagi Valeria.
“Aku akan menyiapkan kamar untukmu,” kata Valeria pelan. “Kau tidak mungkin terus di sofa.”
Rodrigo tersenyum lebih lebar. “Jadi aku benar-benar tinggal?”
Valeria mengangguk kecil. “Sampai kau sembuh.”
“Sampai aku sembuh,” ulang Rodrigo, seolah kata-kata itu punya makna lain.
Valeria berbalik menuju tangga, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memanas. Namun sebelum ia melangkah lebih jauh, Rodrigo memanggilnya.
“Valeria.”
Gadis itu menoleh.
“Aku tidak kecewa,” katanya sekali lagi. “Aku hanya menunggu.”
Dan kali ini, saat mata mereka bertemu, bukan hanya obsesi yang terlihat, melainkan juga kesabaran yang panjang dan rasa cinta yang tak pernah benar-benar padam.
Di luar rumah toko kue Valeria mulai sibuk. Orang-orang berjalan membawa kopi, kendaraan berlalu-lalang, dan dunia terus bergerak.
Di dalam rumah toko kecil itu, dua hati yang pernah terpisah dua tahun akhirnya berada di bawah satu atap lagi, masih diselimuti keraguan, masih dibayangi rasa takut, tetapi juga dipenuhi kemungkinan baru yang perlahan tumbuh di antara aroma gula dan adonan roti hangat.