Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:
• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.
Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.
Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Araluen Autumn Festival
Istana Araluen bersinar.
Lampu kristal memantulkan cahaya keemasan di aula agung, menyapu pilar-pilar marmer dan langit-langit tinggi berlukiskan sejarah kemenangan. Musik gesek mengalun lembut—cukup tenang untuk percakapan, cukup hidup untuk menutupi rahasia.
Para bangsawan berdatangan dengan senyum terbaik mereka.
Anthenia Blackwood melangkah masuk di sisi Permaisuri Lunara.
Gaunnya sederhana dibandingkan kilau perhiasan di sekeliling—warna gelap dengan garis tegas, tanpa berlebihan. Namun justru itu yang membuatnya menonjol. Cara ia berdiri tenang, pandangan lurus, dan langkah yang tidak ragu membuat bisik-bisik menyusulnya seperti bayangan.
“Dia,” bisik seseorang.
“Putri Duke Blackwood.”
“Yang berani berdiri di aula latihan itu.”
Anthenia mendengar—dan tidak bereaksi. Ia mengingat aturan: dengarkan, ingat, jangan terlalu cepat bereaksi.
William berdiri beberapa langkah di depan, sebagai tuan rumah dan Panglima. Jubahnya gelap, lambang Aurelius berkilau redup. Matanya menyapu aula—membaca jarak, sudut, dan pergerakan. Saat pandangannya bertemu Anthenia, ia mengangguk singkat. Isyarat cukup.
Nelia menyelinap mendekat, menggenggam lengan Anthenia dengan senyum ceria. “Kau terlihat… kuat,” bisiknya.
“Terima kasih,” jawab Anthenia lembut. “Kau terlihat bahagia.”
“Aku bahagia karena kau di sini,” Nelia tersenyum.
Di sisi lain aula, Alistair Valerius menyapa tamu dengan sikap sempurna. Senyumnya hangat, matanya dingin. Di belakangnya, Heilen Valerius mengamati—diam, sabar, menunggu momen yang tepat.
“Belum,” gumam Heilen pelan ketika seorang bangsawan terlalu cepat mendekat ke Anthenia. “Biarkan panggung penuh.”
—
Gelas-gelas terangkat. Kaisar Basileus memberi sambutan singkat—tentang panen, persatuan, dan Araluen yang makmur. Tepuk tangan bergema.
Lalu musik berubah.
Seorang bangsawan muda—terlalu percaya diri—mendekati Anthenia. “Nona Blackwood,” katanya manis. “Kudengar Anda… berbakat.”
“Dalam hal apa?” tanya Anthenia sopan.
“Beradaptasi,” ia tertawa kecil.
Anthenia tersenyum tipis. “Itu kebutuhan, bukan bakat.”
William melangkah mendekat, suaranya tenang. “Maafkan kami.” Satu pandangannya cukup untuk membuat bangsawan itu mundur.
Permaisuri Lunara menatap Anthenia dari kejauhan—tenang, menilai. Dia tidak terpancing.
—
Insiden itu datang seperti angin: cepat, nyaris tak terasa.
Seorang pelayan tersandung di dekat meja minuman. Cairan tumpah—terlalu dekat dengan gaun Permaisuri.
Anthenia bergerak satu langkah ke depan, menahan meja agar tidak roboh. Gerakannya halus, nyaris tak terlihat. Musik tidak berhenti. Tamu-tamu mengira itu kecelakaan kecil.
William sudah di sana, mengamankan pelayan itu dengan satu tangan, berbisik singkat. Ksatria Aurelius muncul dari dua arah—tanpa suara.
Permaisuri tersenyum, anggun. “Tidak apa-apa.”
Namun mata Lunara—tajam—menangkap sesuatu di lantai. Sebuah botol kecil, tersembunyi di balik taplak.
William melihatnya juga.
Tatapan mereka bertemu. Bukan kebetulan.
Pelayan itu dibawa pergi. Musik berlanjut. Pesta tetap berjalan.
Di balkon atas, Heilen Valerius menghela napas tipis—bukan kecewa, melainkan tertarik. “Cepat,” gumamnya. “Terlalu cepat.”
Alistair mengerutkan dahi. “Gagal?”
“Tidak,” balas Heilen lembut. “Ini pembuka.”
—
Anthenia berdiri kembali di sisi Permaisuri. Jantungnya tenang. Tangannya tidak gemetar.
Di dunia ini, pikirnya, bahaya datang sambil tersenyum.
William mendekat, suaranya rendah. “Kau baik-baik saja?”
“Ya.”
“Ini baru permulaan.”
Anthenia menatap aula yang berkilau. “Aku tahu.”
Di bawah lampu emas Araluen, pesta berlanjut—
dan jebakan berikutnya
sedang dipasang dengan rapi.
Musik berubah menjadi alunan dansa yang lebih hidup. Pasangan mulai memenuhi lantai marmer, gaun berputar, sepatu menggesek lembut—seolah dunia ini hanya tentang kegembiraan.
Padahal tidak.
Seorang bangsawan wanita melangkah mendekati Anthenia. Beatrice Miller. Senyumnya tipis, matanya dingin.
“Putri Duke Blackwood,” sapanya manis. “Kau tampak… nyaman berada di sisi Permaisuri.”
Anthenia menatapnya tenang. “Permaisuri ramah pada semua tamu.”
“Tentu,” Beatrice terkekeh kecil. “Hanya saja tidak semua tamu mendapat kehormatan itu.”
Anthenia memiringkan kepala sedikit. “Mungkin kehormatan itu datang bersama tanggung jawab.”
Beatrice terdiam sepersekian detik—cukup lama untuk terlihat kalah satu langkah.
Di sisi lain lantai dansa, Adelaide Lavenza berbisik pada Frederick, matanya menyala iri. Frederick hanya mendengus, berusaha tampak santai—meski tangannya gemetar saat melihat William bergerak mendekat ke Anthenia.
William berhenti tepat di hadapan Anthenia. “Nona Blackwood,” katanya lantang cukup untuk didengar sekitar. “Izinkan aku meminta satu dansa.”
Aula seakan membeku.
Putra Mahkota—meminta dansa secara terbuka.
Tatapan langsung beralih. Beatrice menegang. Adelaide menggigit bibir. Alistair menatap dari kejauhan, senyumnya menipis.
Anthenia menatap William. Ia tahu—ini bukan sekadar undangan. Ini pernyataan.
“Dengan senang hati,” jawabnya.
Mereka melangkah ke lantai dansa.
William memimpin dengan tenang, jarak dijaga sempurna—sopan, nyaris dingin. Namun langkahnya mantap, ritmenya stabil. Anthenia mengikuti tanpa ragu.
“Kau membuat banyak orang tidak nyaman,” kata William pelan.
“Itu bukan niatku.”
“Justru itu masalahnya.”
Anthenia tersenyum samar. “Aku hanya berdiri.”
“Di Araluen,” balas William, “itu sudah cukup.”
Mereka berputar. Dari sudut mata, Anthenia menangkap Alistair yang bergerak—berbicara dengan seorang bangsawan tua, wajahnya penuh kepedulian palsu.
“Kau melihatnya?” bisik Anthenia.
William mengangguk tipis. “Dia sedang menanam cerita.”
“Apa ceritanya?”
“Bahwa Duke Blackwood terlalu dekat dengan kekuasaan. Dan kau… alatnya.”
Anthenia tidak terkejut. “Dan kau?”
William menatapnya. “Aku mengubah narasinya.”
Musik melambat. Tepuk tangan menyusul saat dansa berakhir.
William melepaskan dengan anggun. “Tetap di sisiku untuk sementara.”
“Itu perintah?”
“Itu perlindungan.”
—
Tak lama kemudian, suara tawa keras terdengar. Edmund de Courcy, wajahnya memerah oleh minuman, tersandung ke tengah aula.
“Aku ingin bersulang!” serunya. “Untuk Araluen—dan… keberanian baru yang muncul!”
Beberapa tawa gugup menyusul. Permaisuri menyipitkan mata.
Edmund mengangkat gelas terlalu tinggi—lalu tergelincir. Minuman tumpah, hampir mengenai Anthenia.
Hampir.
Anthenia melangkah setengah langkah ke samping, menghindar tanpa drama. Gelas jatuh, pecah.
Sunyi.
William bergerak cepat, memegang lengan Edmund. “Cukup.”
Edmund membeku—sadar sepenuhnya sekarang. “A-aku tidak bermaksud—”
“Aku tahu,” potong William dingin. “Karena jika kau bermaksud, kau sudah tidak berdiri.”
Ia memberi isyarat. Edmund dibawa pergi, kepala tertunduk.
Bisik-bisik kembali mengalir—kali ini lebih berhati-hati.
Permaisuri Lunara bangkit. “Pesta tetap berlanjut,” katanya tenang. “Mari kita nikmati musik.”
Namun tatapannya pada Anthenia jelas: kau lulus ujian pertama.
Di balkon atas, Heilen Valerius menyatukan kedua tangannya. “Bagus,” gumamnya. “Tekanan kecil tidak mematahkannya.”
Alistair mengeram pelan. “Lalu?”
Heilen tersenyum. “Sekarang… kita buat dia memilih.”
—
Anthenia berdiri di sisi William, menatap aula yang kembali riuh.
“Ini belum selesai,” katanya pelan.
William mengangguk. “Belum. Tapi kau tidak sendirian.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Anthenia merasakan sesuatu yang hampir menyerupai… keyakinan.
Di bawah cahaya emas Araluen, pesta berlanjut—
dan pilihan pertama
sudah menunggu di depan mata.
—
Musik kembali mengalun, lebih lembut—jenis musik yang mengundang percakapan rahasia.
Seorang pelayan mendekat ke Anthenia dengan kepala tertunduk. “Nona Blackwood, Permaisuri meminta Anda ke ruang teh timur.”
William langsung menoleh. “Sekarang?”
Pelayan itu mengangguk. “Bersama… Lady Heilen Valerius.”
William menyipitkan mata.
Anthenia sudah tahu.
Inilah pilihannya.
“Aku akan kembali,” katanya pelan pada William.
Ia tidak melarang. Ia tidak menahan.
William hanya berkata satu kalimat, rendah dan tegas, “Jangan bicara terlalu banyak.”
Anthenia mengangguk—lalu mengikuti pelayan itu.
—
Ruang teh timur sunyi, hangat, dan dipenuhi aroma bunga kering. Permaisuri Lunara duduk di ujung meja, anggun seperti biasa. Di sisi lain—Heilen Valerius.
Dua kutub.
Satu ruangan.
“Duduklah, Anthenia,” ujar Permaisuri.
Anthenia duduk dengan postur rapi. Tenang. Mata tidak menunduk, tidak menantang.
Heilen tersenyum lembut. “Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Putri Duke Blackwood jarang muncul di tengah istana.”
“Aku juga jarang diundang,” jawab Anthenia sopan.
Permaisuri mengangkat cangkirnya, tidak ikut campur.
Heilen menautkan jari. “Kau tahu, Araluen keras pada mereka yang… berbeda.”
“Aku belajar cepat,” kata Anthenia.
“Bagus.” Senyum Heilen menajam sedikit. “Karena aku ingin menawarimu perlindungan.”
Hening.
Permaisuri menurunkan cangkirnya. Tatapannya tajam—namun ia tetap diam. Ini ujian.
“Perlindungan?” ulang Anthenia.
“Dari gosip. Dari kecemburuan. Dari kesalahan kecil yang bisa diperbesar,” ujar Heilen lembut. “Sebagai balasan… aku berharap kau tidak terlalu dekat dengan Putra Mahkota.”
Jelas.
Sangat jelas.
Anthenia menarik napas pelan. “Dan jika aku menolak?”
Heilen tersenyum. “Maka Araluen akan menjadi… tidak ramah.”
Permaisuri akhirnya bicara. “Jawablah dengan jujur, Anthenia.”
Anthenia menatap kedua wanita itu—lalu berkata tenang, tanpa emosi berlebih.
“Aku tidak mencari perlindungan dari pihak mana pun. Aku belajar berdiri di bawah nama keluargaku sendiri.”
Heilen menatapnya lama. Senyum itu tidak runtuh—hanya mengeras.
“Pilihan berani,” katanya akhirnya. “Sering kali… mahal.”
“Aku tahu.”
Permaisuri Lunara tersenyum tipis. “Cukup.”
Pertemuan berakhir tanpa teriakan, tanpa ancaman. Justru itulah yang berbahaya.
—
Saat Anthenia kembali ke aula, ia langsung merasakan perubahan.
Bisik-bisik.
Tatapan yang lebih dingin.
Beberapa bangsawan menarik diri.
Di sudut aula, Alistair Valerius menatapnya—kali ini tanpa senyum.
William segera berada di sisinya. “Kau bertemu Heilen.”
“Ya.”
“Dan?”
“Aku menolak.”
William tidak terkejut. “Bagus.”
“Kau tidak bertanya alasannya.”
William menatapnya. “Karena jika kau menerima, aku akan kecewa.”
Anthenia menahan senyum.
—
Di balkon atas, Heilen berbicara lirih pada Alistair.
“Dia memilih jalur berbahaya.”
Alistair mengepalkan tangan. “Berarti kita tekan lebih keras.”
Heilen menggeleng pelan. “Tidak. Kita buat dia kehilangan sesuatu dulu.”
“Siapa?”
Heilen menatap ke arah Nelia yang sedang tertawa bersama Genevieve.
“Seseorang yang dia lindungi.”
—
Anthenia tidak tahu rencana itu.
Namun instingnya kembali menyala.
Ia menatap aula Araluen yang berkilau—dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa dingin.
Ini bukan lagi tentang diriku, pikirnya.
Ini tentang siapa yang akan mereka sentuh berikutnya.
Pesta berlanjut.
Musik tetap indah.
Dan di balik setiap senyum—
sebuah target telah ditandai.