Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Tiket Emas Kedua 2
Namun, di tengah kesombongannya, mata Zhao Wei menangkap sosok Ye Xuan di sudut kelas.
Zhao Wei merasa sangat terganggu. Sejak dia pindah ke sekolah ini, semua orang menunduk padanya karena kekayaannya. Bahkan guru-guru menutup mata atas perilakunya. Tapi yatim piatu miskin di sudut itu? Ye Xuan tidak pernah sekalipun menyapanya, tidak pernah memujanya, dan bahkan sering membuang muka seolah Zhao Wei ini hanyalah lalat yang mengganggu.
Ditambah lagi, Zhao Wei tahu bahwa di masa lalu Lin Xia sering berdekatan dengan Ye Xuan. Meski sekarang Lin Xia jelas memilihnya, harga diri Zhao Wei sebagai pria arogan menuntut agar dia menginjak Ye Xuan di depan gadis itu untuk menunjukkan dominasi absolut.
"Hei, lihat itu," Zhao Wei menunjuk ke arah Ye Xuan dengan dagunya. "Anak buangan itu dari tadi hanya diam saja. Hei, Ye Xuan! Kudengar kau bekerja jadi kuli angkut semalam. Apa kau bahkan punya uang untuk membeli sarapan pagi ini?"
Beberapa murid laki-laki di sekitar Zhao Wei langsung tertawa mengejek.
Lin Xia melirik ke arah Ye Xuan. Bukannya membela, gadis cantik itu justru melipat tangannya di bawah dada, mengangkat dagunya sedikit, dan tersenyum sinis. Dia sangat menikmati momen ini. Dia ingin melihat Ye Xuan dipermalukan agar pria itu sadar betapa rendah statusnya dibandingkan dengan Zhao Wei.
Ye Xuan tidak merespons. Dia bahkan tidak menoleh. Matanya tetap menatap awan di luar jendela. Di matanya, gonggongan Zhao Wei sama sekali tidak memiliki nilai.
Mendapat pengabaian total seperti itu, wajah Zhao Wei langsung memerah karena marah. Urat di pelipisnya menonjol. Di depan gadis pujaannya dan teman-temannya, diabaikan oleh seorang gelandangan adalah penghinaan besar!
Zhao Wei melompat turun dari meja. Dia melangkah lebar menghampiri meja Ye Xuan, diikuti oleh tatapan seluruh murid di kelas.
Brakkk!
Zhao Wei menggebrak meja Ye Xuan dengan keras menggunakan kedua tangannya.
"Apa kau tuli, hah?!" bentak Zhao Wei kasar. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Ye Xuan dengan tatapan mengancam. "Aku sedang berbicara denganmu, Sampah! Kau pikir kau siapa berani mengabaikanku? Jika aku mau, aku bisa membeli nyawamu dan nyawa seluruh keluargamu... oh tunggu, kau kan yatim piatu yang dibuang orang tuamu!"
Ruang kelas langsung mendadak hening. Beberapa murid perempuan menutup mulut mereka karena kata-kata Zhao Wei terlalu kejam, tapi tidak ada satu pun yang berani membela.
Lin Xia tersenyum penuh kemenangan di belakang sana.
"Hahhhhh..."
Ye Xuan menghela napas panjang. Dia perlahan mengalihkan pandangannya dari jendela dan menatap tepat ke mata Zhao Wei.
Tatapan itu begitu dingin, begitu dalam, dan begitu mematikan hingga membuat jantung Zhao Wei seolah berhenti berdetak selama satu detik. Itu bukan tatapan seorang remaja SMA yang ketakutan. Itu adalah tatapan seekor naga yang sedang melihat seekor semut yang merayap di atas sepatunya.
"Singkirkan tangan kotormu dari mejaku," ucap Ye Xuan dengan suara yang sangat rendah dan datar, namun memancarkan otoritas yang membuat udara di sekitarnya terasa berat.
Zhao Wei tersentak. Rasa takut yang tidak masuk akal tiba-tiba merayap di tengkuknya. Tapi harga dirinya segera mengambil alih. Mundur sekarang akan membuatnya terlihat seperti pengecut di depan Lin Xia!
"Beraninya kau memerintahku?!" raung Zhao Wei. Kemarahannya meledak. Tangan kanannya terangkat tinggi, berniat untuk mencengkeram kerah seragam Ye Xuan dan menariknya dari kursi.
Namun, sebelum jari-jari Zhao Wei sempat menyentuh kerah bajunya, pergerakan Ye Xuan meledak dalam keheningan.
Wush!
Tidak ada yang melihat dengan jelas apa yang terjadi. Ye Xuan tidak berdiri. Dia bahkan tidak mengubah postur duduknya. Tangan kirinya melesat ke atas layaknya kilatan bayangan.
Takk!
Dua jari Ye Xuan, jari telunjuk dan jari tengah mengetuk dengan sangat presisi dan tenaga ledakan yang terkendali tepat di titik meridian Jianliao, tepat di lekukan bahu kanan Zhao Wei. Itu adalah gerakan dasar dari Seni Pukulan Pemutus Meridian. Di mata orang awam, Ye Xuan hanya menepis pelan lengan Zhao Wei.
Namun bagi Zhao Wei, rasanya seolah-olah lengannya baru saja disambar petir berkekuatan puluhan ribu volt.
"A-Aaaarrgghh!!"
Zhao Wei menjerit histeris. Suaranya pecah, melengking tinggi ke seluruh penjuru kelas.
Tubuh jangkungnya langsung ambruk ke lantai. Dia berguling-guling sambil mencengkeram bahu kanannya dengan tangan kirinya. Keringat dingin langsung membanjiri wajahnya yang kini sepucat mayat. Matanya melotot lebar, urat-urat di lehernya menonjol keluar.
Seluruh saraf di lengan kanannya terasa seperti dicabik-cabik oleh pisau panas dari dalam. Rasa sakitnya begitu luar biasa hingga dia bahkan tidak bisa menarik napas dengan benar. Dia bahkan tidak bisa menggerakkan lengan kanannya sama sekali... lengan itu lumpuh total secara temporer.
"Z-Zhao Wei?!"
Lin Xia menjerit panik. Dia berlari mendekat dengan susah payah menggunakan sepatu hak kecilnya, wajah cantiknya dipenuhi kepanikan. "Kamu kenapa?! Apa yang terjadi?!"
Seluruh murid di kelas mundur beberapa langkah, menatap Zhao Wei yang masih kejang-kejang di lantai dengan raut wajah ngeri. Tidak ada yang mengerti apa yang baru saja terjadi. Zhao Wei hanya ingin menarik kerah Ye Xuan, Ye Xuan hanya menepisnya sedikit, lalu tiba-tiba anak orang kaya itu tumbang seperti kesurupan?
"A-Aarrghh... tanganku... tanganku hancur! Sakit! Tolong aku!" rintih Zhao Wei dengan air mata dan ingus yang mulai mengalir memalukan di wajahnya. Kesombongannya hancur lebur dalam hitungan detik.
Di tengah kepanikan dan kekacauan itu, Ye Xuan tetap duduk dengan tenang di kursinya. Dia mengeluarkan selembar tisu dari sakunya, mengelap perlahan dua jarinya yang tadi digunakan untuk mengetuk bahu Zhao Wei, lalu membuang tisu itu ke tempat sampah di bawah mejanya. Gerakannya sangat lambat, elegan, dan penuh dengan rasa jijik.
Lin Xia mendongak menatap Ye Xuan dengan mata membelalak lebar. Dadanya naik turun dengan cepat karena panik.
"Ye Xuan! Apa yang kau lakukan padanya?!" teriak Lin Xia dengan suara melengking. "Apa kau menggunakan sihir?! Kau melukainya?!"
Ye Xuan menopang dagunya lagi, menatap Lin Xia dengan tatapan yang sangat datar. Senyum tipis yang merendahkan terukir di bibirnya.
"Sihir?" kekeh Ye Xuan pelan. "Kalian semua melihatnya sendiri. Dia yang mencoba menyerangku lebih dulu, dan aku hanya menepis tangannya agar dia tidak mengotori seragamku. Mungkin tubuh tuan muda ini terlalu rapuh, atau dia lupa minum susunya pagi ini, hingga tulangnya keropos."
"Kau berbohong! Dia kesakitan karenamu!" Lin Xia menunjuk wajah Ye Xuan dengan jari telunjuknya yang bergetar. Citra lembutnya hancur.
"Hahhhhh... buang-buang waktu saja," gumam Ye Xuan menghela napas. Dia mengambil buku tulisnya, lalu menatap Lin Xia dengan pandangan peringatan yang sangat tajam, memancarkan hawa membunuh tipis yang dia bawa dari pertarungan semalam.
"Dengar, Lin Xia," ucap Ye Xuan dengan suara berat yang menembus gendang telinga gadis itu. "Bawa anjing peliharaanmu ini ke ruang medis sebelum dia buang air di lantai kelasku. Dan jangan pernah berani menunjuk wajahku lagi, atau kau akan menyesal dilahirkan dengan tangan itu."
Aura Ye Xuan begitu mengerikan hingga Lin Xia seketika terdiam kaku. Lidahnya terasa kelu. Kakinya sedikit gemetar. Pria di depannya ini bukanlah yatim piatu miskin yang selalu menunduk padanya. Ini adalah iblis yang sedang menyamar dalam seragam sekolah!
Tanpa berani membantah lagi, Lin Xia dibantu oleh dua murid laki-laki lainnya segera memapah Zhao Wei yang masih merintih kesakitan keluar dari kelas. Keangkuhan mereka lenyap tanpa sisa.
Ruang kelas 2-B kembali hening. Semua murid menatap Ye Xuan dengan tatapan campuran antara ngeri dan hormat. Tidak ada satupun yang berani berbisik lagi.
Ye Xuan kembali menatap ke arah luar jendela. Monolog batinnya berputar pelan dengan nada pragmatis.
"Seni Pukulan Pemutus Meridian memang luar biasa. Hanya dengan sepuluh persen tenaga, aku bisa membuat sarafnya konslet selama berjam-jam tanpa meninggalkan bekas memar sedikit pun," batin Ye Xuan. "Tapi drama anak-anak ini sangat membosankan. Keluarga Ji... kapan kalian akan mengirim target yang sepadan untuk kuuji?"