Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pagi yang seharusnya tenang dengan aroma kopi dan rencana kulineran itu mendadak pecah oleh suara lengkingan histeris dari halaman depan mansion Wijaya.
Suara rem mendadak dan teriakan yang sangat familiar membuat suasana sarapan di ruang makan menjadi tegang.
"PERMADI! KELUAR KAMU! LIHAT APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN PADA KARIRKU!"
Laras berdiri di depan gerbang yang dijaga ketat, rambutnya berantakan, dan wajahnya menunjukkan keputusasaan yang berubah menjadi kegilaan.
Ia sudah tidak punya malu lagi. Setelah konferensi pers semalam, semua kontrak iklannya diputus, dan ia menjadi musuh publik nomor satu.
Ia merasa tidak punya beban lagi untuk berbuat nekat.
Permadi baru saja akan berdiri dengan wajah yang memerah padam karena amarah, namun tangan lembut Rengganis menahan lengannya.
"Biar aku yang hadapi, Mas," ucap Rengganis tenang.
"Tidak, Ganis. Wanita itu gila. Biar keamanan yang menyeretnya ke kantor polisi."
Rengganis menggeleng pelan, ia berdiri dengan anggun mengenakan gaun rumahannya.
"Dia menyerang harga diriku secara publik. Aku harus menyelesaikannya secara pribadi sebelum polisi membawanya. Jangan khawatir, istrimu ini bukan wanita lemah."
Dengan langkah mantap, Rengganis berjalan keluar menuju halaman depan.
Permadi mengikuti di belakangnya dengan jarak beberapa meter, tangannya mengepal siap bertindak jika Laras mencoba melakukan kekerasan fisik.
Begitu melihat Rengganis, Laras tertawa sinis dengan mata melotot.
"Oh, lihat! Sang 'Dokter Suci' keluar dari sarangnya! Kamu puas sekarang, hah?! Kamu menghancurkan hidupku!"
Rengganis berhenti tepat di depan Laras, hanya terhalang pagar besi.
Ia menatap Laras dari atas ke bawah dengan tatapan dingin dan penuh wibawa—tatapan seorang istri sah sekaligus seorang dokter yang sedang mendiagnosa pasien gangguan jiwa.
"Aku tidak menghancurkanmu, Laras. Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri saat kamu memutuskan untuk berbohong di depan seluruh negeri," ucap Rengganis dengan nada suara yang rendah namun sangat menusuk.
"Jangan berlagak sopan! Kamu hanya wanita yang beruntung karena dijodohkan! Kalau bukan karena orang tua Permadi, dia pasti masih bersamaku!" teriak Laras sambil mencoba meraih baju Rengganis lewat celah pagar.
Rengganis tidak mundur selangkah pun. Ia justru mendekat ke arah pagar, menatap langsung ke mata Laras yang liar.
"Dengarkan baik-baik," desis Rengganis.
"Permadi adalah suamiku. Dia bukan barang yang bisa kamu klaim hanya karena masa lalu. Kamu menyebutku perampas? Faktanya, kamu hanyalah masa lalu yang dibuang karena kamu lebih memilih uang pria Kanada itu daripada cinta Permadi. Dan sekarang, saat dia sudah memiliki segalanya—termasuk aku—kamu datang mengemis?"
Rengganis tersenyum tipis, sebuah senyuman kemenangan yang sangat tenang.
"Sebagai dokter, aku sarankan kamu segera menyerahkan diri ke polisi. Karena jika suamiku yang bertindak, kamu tidak akan hanya berakhir di penjara, tapi namamu akan benar-benar terhapus dari muka bumi ini."
Laras terdiam, ia melihat ke arah belakang Rengganis di mana Permadi berdiri dengan aura yang sangat mengerikan, seolah siap menerkamnya kapan saja.
"Keamanan, bawa dia pergi. Serahkan ke pihak berwajib atas tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan," perintah Rengganis tegas tanpa menoleh lagi ke belakang.
Melihat sorot mata Rengganis yang begitu tajam dan keberadaan Permadi yang berdiri kokoh seperti gunung di belakangnya, nyali Laras menciut seketika.
Tanpa berkata-kata lagi, ia berbalik arah, masuk ke dalam mobilnya dengan terburu-buru, dan melajukan kendaraan itu dengan kecepatan tinggi hingga menimbulkan suara derit ban yang memekakkan telinga.
Laras kabur, melarikan diri dari kenyataan bahwa ia baru saja kalah telak di depan wanita yang ia rendahkan.
Petugas keamanan bersiap mengejar dengan motor patroli mereka, namun Rengganis mengangkat tangannya, memberi isyarat berhenti.
"Sudah, biarkan dia pergi," ucap Rengganis tenang. Suaranya tidak lagi bergetar.
Ia berbalik badan dengan anggun, melangkah masuk kembali ke dalam rumah seolah-olah baru saja menyelesaikan urusan sepele seperti mengusir lalat.
Di ambang pintu, Permadi berdiri mematung. Sesaat kemudian, ia mulai bertepuk tangan pelan, senyum bangga mengembang di wajah tampannya.
"Luar biasa," puji Permadi sambil menggelengkan kepala takjub.
"Istriku ternyata bukan hanya pintar di ruang operasi, tapi juga sangat berbakat membuat musuh lari tunggang langgang tanpa perlu angkat suara."
Rengganis menghela napas panjang, ketegangannya mulai mencair saat ia sampai di hadapan suaminya.
"Aku hanya lelah, Mas. Drama ini harus berakhir. Aku tidak mau sisa liburan kita habis hanya untuk meladeni wanita seperti itu."
Permadi langsung menarik Rengganis ke dalam pelukannya, mengecup kening istrinya dengan penuh rasa bangga.
"Aku baru saja melihat sisi lain dari Dokter Rengganis. Sisi singa betina yang sangat seksi."
Rengganis mencubit pinggang Permadi. "Seksi? Aku baru saja hampir meledak karena marah, dan kamu bilang seksi?"
"Sangat seksi," bisik Permadi nakal di telinganya.
"Sampai-sampai 'Kitty' makin tidak sabar menunggu hari esok."
Rengganis tertawa kecil, mendorong dada Permadi pelan.
"Ingat janji kita? Hari ini adalah hari kulineran. Ayo cepat ganti baju, aku sudah lapar membayangkan sate kambing dan martabak manis."
"Siap, Nyonya Wijaya. Apapun untukmu hari ini," jawab Permadi sambil merangkul pundak istrinya menuju kamar, siap untuk memulai petualangan kuliner mereka yang tertunda.
Setelah drama pagi yang menguras emosi, suasana di dalam mansion berubah total menjadi santai.
Tidak ada lagi setelan jas seharga ratusan juta atau gaun sutra yang membalut tubuh mereka.
Rengganis keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang paling membuat Permadi melongo: ia mengenakan daster batik selutut bermotif bunga-bunga. Rambutnya hanya dicepol asal menggunakan jepit badai.
Sementara itu, Permadi tampil sangat kasual dengan kaos oblong putih dan celana pendek di atas lutut, memperlihatkan kaki jenjangnya yang kokoh.
"Kamu serius mau keluar pakai daster, Ganis?" tanya Permadi sambil menahan tawa.
"Kenapa? Nyaman tahu! Lagipula kalau pakai begini, orang tidak akan menyangka kalau aku ini istri Sultan Wijaya yang semalam ada di TV," jawab Rengganis santai sambil memakai sandal jepitnya.
Permadi terkekeh, ia menyambar kunci mobil (kali ini ia memilih mobil yang paling 'biasa' di garasinya agar tidak mencolok) dan menarik tangan istrinya. "Baiklah, Nyonya Daster. Mari kita berburu bubur."
Tujuan pertama mereka adalah sebuah gerobak bubur ayam legendaris yang mangkal di bawah pohon rindang tak jauh dari area perumahan elit mereka.
Bau harum kaldu ayam dan bawang goreng langsung menyambut indra penciuman mereka.
"Bang, bubur dua. Yang satu kerupuknya banyak ya, sampai gunung!" seru Rengganis dengan semangat.
Mereka duduk di kursi plastik pendek (kursi bakso) di pinggir trotoar. Permadi, yang biasanya makan di restoran dengan alat makan perak, kini tampak sibuk mengelap sendok plastiknya dengan tisu.
"Coba deh, Mas. Ini enak banget," ucap Rengganis saat mangkuk bubur yang penuh dengan gunungan kerupuk tiba di depan mereka.
Permadi menyuap sendokan pertama. Matanya membelalak.
Gurihnya kaldu, tekstur bubur yang lembut, dan sensasi renyah dari kerupuk yang melimpah memberikan ledakan rasa yang jujur di lidahnya.
"Wah, ini gila. Lebih enak daripada menu sarapan di hotel bintang lima kemarin," gumam Permadi sambil terus menyuap dengan lahap.
"Kan aku bilang juga apa! Makan begini itu lebih nikmat kalau hati lagi tenang," sahut Rengganis sambil asyik mengunyah kerupuknya.
Permadi menatap istrinya yang sedang asyik makan dengan daster batiknya.
Ada rasa bahagia yang menyeruak di dadanya—melihat Rengganis kembali tertawa, melihat wajahnya yang mulai merona karena kepedasan, dan kenyataan bahwa mereka bisa menikmati hal sesederhana ini di tengah badai yang baru saja lewat.
"Ganis," panggil Permadi pelan.
"Hmm?" Rengganis menoleh dengan mulut yang sedikit penuh.
"Setelah bubur ini, kita cari apa lagi? Aku rasa 'Kitty' butuh asupan tenaga yang banyak untuk persiapan lusa," bisik Permadi dengan kerlingan mata nakal.
Rengganis tersedak kerupuk, wajahnya mendadak merah padam.
"Mas! Ini di pinggir jalan! Jangan bahas Kitty dulu!"
Ku awali hariku dengan mendoakanmu
Agar kau selalu sehat dan bahagia di sana
Sebelum kau melupakanku lebih jauh
Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh